Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 86 - Kamu Sudah Punya Pacar?



"Lucy... Kamu baik-baik saja?"


Seorang gadis menepuk ringan bahu Lucy dari belakang. Dia merupakan teman dekat Lucy dan dia jelas mengetahui jika Lucy menyukai Arya. Dia juga sangat terkejut melihat Arya dan Lylia.


Lucy, yang bahunya ditepuk terkejut, menoleh ke belakang dengan tatapan sedih. Hatinya benar-benar hancur saat ini. Bertengkar dengan Arya sudah sangat menyakiti hatinya, namun sekarang dia harus melihat Arya berpegangan tangan dengan gadis lainnya membuatnya benar-benar hancur. Dia sangat ingin menangis dengan keras sambil berlari ke arah Arya, menamparnya dan menanyakan alasannya berpacaran dengan Lylia.


Namun, Lucy sadar jika dia melakukan itu semua, dia hanya akan mempermalukan dirinya sendiri. Jadi, dia hanya bisa menahan sakit, sedih dan amarahnya dalam diam.


Lucy juga tidak menyangka jika Lylia akan menjadi pacar Arya. Bagaimanapun, pertemanannya dengan Lylia cukup baik dan mereka akrab satu sama lain. Lylia bahkan mengetahui jika dia mencintai Arya.


Namun, melihat Lylia bersama Arya, Lucy merasa dikhianati oleh temannya sendiri. Ini membuatnya kesal dan marah pada Lylia.


Terisak, Lucy menggelengkan kepalanya pada gadis yang menepuk bahunya tadi sebelum berlari keluar meninggalkan kelas.


Arya yang melihat Lucy pergi menyadari sesuatu terjadi pada Lucy.


Hal pertama yang dia lihat ketika dia masuk kelas adalah Lucy, hanya demi bisa melihat ekspresi sedih dan terkejutnya. Dia berniat melakukan balas dendam atas pengkhianatan Lucy, namun apa yang dia dapat berbeda dari apa yang dia harapkan


Bukannya merasa senang, Arya justru merasakan sakit yang luar biasa pada hatinya, seakan dia baru saja ditusuk oleh pedang. Ini sangat berkebalikan dengan apa yang dia inginkan.


"Arya, ada apa?"


Lylia bertanya, menatap Arya dengan cemas saat dia melihat wajah Arya tampak kesakitan.


"Tidak... Tidak apa-apa..."


Arya berkata dengan berat, penuh dengan rasa sakit.


*****


Ketika jam pelajaran selesai, seluruh siswa meninggalkan sekolah dan kembali ke rumah masing-masing. Di dalam kelas, hanya tersisa beberapa orang saja, di antaranya Arya, Lylia serta Lucy dan dua orang gadis dan pria.


Kedua gadis dan pria itu tidak lama kemudian meninggalkan kelas, menyisakan Arya dan dua gadis cantik itu.


Lylia mengambil tasnya dan dia secara tidak sengaja menatap ke arah Lucy dan mata mereka bertemu.


Lucy segera mengerutkan dahinya dan melotot pada Lylia, mendengus dan berbalik lalu meninggalkan kelas.


Lylia tersenyum pahit. Dia jelas menyadari jika Lucy marah padanya. Semuanya jelas karena dirinya berpacaran dengan Arya sekarang. Dia tahu fakta jika Lucy mencintai Arya, namun karena dia sudah menjadi pacar Arya sekarang, dia yakin Lucy menganggapnya jahat.


Tapi, Lylia tidak merasa bersalah atas semua ini.


Hubungan Arya dan Lucy sedang tidak baik dan keduanya juga bukan pasangan kekasih. Jadi, bagi Lylia, tidak masalah untuknya menjadi kekasih Arya.


Menghela napas pelan, Lylia menghampiri Arya yang sedang membereskan bukunya.


"Arya, kamu mau pulang bersamaku? Sopirku sudah menjemput, jadi..."


"Maaf, Lylia. Aku ada urusan hari ini, jadi aku tidak bisa menemanimu."


Arya berkata dengan dingin, bahkan tidak menatap Lylia. Dia segera pergi setelah selesai berkemas.


Lylia merasa kecewa dengan sikap Arya. Kekasihnya itu benar-benar tidak menatapnya ketika pergi, mengucapkan salam pun tidak.


*****


Setibanya di rumahnya, Lucy masuk dan berjalan dengan terhuyung-huyung, tatapan matanya kosong dan wajah pucat. Matanya juga sembab, habis menangis.


Mengetahui Arya berpacaran dengan Lylia, Lucy segera lari ke kamar mandi saat di sekolah tadi. Dia menangis di toilet sangat lama.


"Oh, Lucy? Kamu sudah pulang... Ada apa denganmu?!"


Ketika Lucy melewati ruang tamu, David, kakak dari Lucy yang sedang duduk di sofa hendak menyambut kepulangan adiknya dari sekolah. Namun, saat dia melihat kondisi Lucy, dia langsung berdiri karena terkejut.


Lucy berhenti melangkah, menoleh ke arah David dengan lemas.


David semakin terkejut, dia segera menghampiri Lucy.


"Lucy, apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis? Apakah ada yang mengganggumu di sekolah? Katakan pada Kakak."


David berkata dengan lembut, berusaha membuat Lucy merasa tenang. Dia sebenarnya tidak ahli dalam hal semacam ini.


Lucy terisak ketika dia berkata.


"Arya... Arya punya pacar... Dia meninggalkanku, dia meninggalkanku bersama wanita lain. Dia sangat kejam padaku!"


Dengan susah payah, Lucy berkata demikian.


David terdiam dan sudut matanya berkedut hebat saat dia tahu siapa yang membuat adik kecilnya menangis.


Menghela napas berat, David berkata.


"Lucy, benarkah itu? Apakah Arya benar-benar memiliki seorang pacar?"


Lucy mengangguk.


"Oh, ya ampun. Lucy, aku tidak yakin jika aku tidak mendengarnya langsung dari Arya. Malam ini, aku akan menyuruh Arya kemari, oke? Aku akan menanyakan beberapa hal padanya."


David berkata serius dan nadanya terdengar sedikit kesal. Dia tahu jika hubungan Arya dan Lucy sedang tidak baik. Dia juga tahu alasan kenapa hubungan mereka bisa memburuk.


David, sebagai kakak Lucy, jelas sudah membantu adiknya itu untuk menjelaskan kesalahpahaman Arya pada Lucy. Namun, dia gagal.


Arya benar-benar tidak mempercayainya.


Lucy pun hanya mengangguk dan menyeka air matanya berkali-kali. Namun tetap saja, air matanya tidak berhenti.


David pun menenangkan Lucy selama beberapa menit, mengelus kepalanya hingga adiknya itu tenang.


*****


Pada malam harinya, seperti yang sudah David rencanakan, dia menyuruh Arya datang ke rumahnya dengan alasan ada beberapa hal yang ingin dia sampaikan pada Arya.


Arya cukup bingung awalnya, namun mengingat yang memintanya datang adalah David, dia menurut dan pergi ke rumahnya.


Tiba di sana, Arya disambut seperti biasa oleh David.


David mengajak Arya ke ruang TV dan keduanya mengobrol cukup lama di sana.


David menanyakan kabar Arya serta keluarganya dan Arya menjawab jika semuanya baik. Setelah mengobrol cukup lama, David akhirnya mulai serius.


Dia menatap Arya dengan ekspresi serius, tatapannya mengunci Arya.


Arya agak terkejut, jadi dia secara reflek menjadi serius juga.


"Arya, bolehkah aku bertanya sesuatu?"


"Tentang apa, Kak? Jika aku bisa jawab, maka tanyakan saja."


David terdiam sejenak dan ekspresi berpikir terlihat di wajahnya. Dia kemudian menghela napas pelan dan menggelengkan kepalanya.


"Yah, itu nanti saja. Bagaimana jika kita bermain game dulu? Kita sudah lama tidak main game bersama, kan?"


"Ah, baiklah. Itu sepertinya ide bagus."


Dengan begitu, keduanya bermain game dengan asyik, mereka bersenang-senang dengan game yang mereka mainkan.


Setelah waktu yang tidak diketahui, David menghentikan gamenya dan menatap Arya.


"Arya, aku akan langsung pada intinya. Apakah kau sudah punya pacar?"