
Di SMA Daeil, di dalam kelas 3-3, Arya yang sedang mengikuti pelajaran di kelas tampak melamun. Dia bersandar pada bangkunya dan menatap ke bawah saat pikirannya berkeliaran.
Saat ini, dia sedang bimbang. Dia ingin membunuh seseorang, tapi dia ragu-ragu, merasa bahwa jika dia membunuh orang tersebut, maka dia kemungkinan besar akan menyesal seumur hidupnya.
Inilah alasannya bimbang. Orang yang ingin dia bunuh kali ini berbeda dari orang-orang yang sudah dia bunuh di masa lalu. Di masa lalu, Arya akan membunuh orang-orang yang sudah menyinggungnya, ataupun mereka yang menyakiti orang terdekatnya. Tapi kali ini, orang yang ingin dia bunuh merupakan orang yang sangat dekat dengannya.
Hubungan Arya dengan orang itu juga sangat rumit dan seharusnya, dia tidak boleh membunuh orang itu, tidak peduli seberapa dia membencinya.
Tapi, ketika mengingat semua perlakuan dari orang itu padanya dan orang-orang tercintanya, Arya merasa harus membunuh orang ini agar kehidupannya menjadi lebih tenang.
"Baiklah, Arya. Tolong jawab pertanyaan di papan tulis ini."
Guru yang sedang mengajar berkata demikian dan menatap Arya.
Tidak ada respon dari Arya, karena pikirannya sedang berkeliaran.
Lucy yang duduk di sebelahnya menghela nafas dan memanggil namanya beberapa kali hingga pemuda itu sadar.
"Arya, jika kau tidak niat belajar, kembalilah ke rumahmu daripada membuat pelajaran tertunda."
Guru itu menghela nafas pada Arya. Dia mungkin terdengar serius, tapi sebenarnya dia hanya bercanda.
Arya yang mendengar ini langsung membereskan bukunya dan memasukkannya ke dalam tas. Dia kemudian pergi keluar kelas, melakukan apa yang diperintahkan oleh gurunya itu.
Semua orang terkejut dengan ini, termasuk guru tadi.
Guru itu tidak tahu harus tertawa atau menangis melihat ini. Dia kemudian menyuruh Lucy untuk meminta Arya kembali.
Tanpa disuruh sekalipun, Lucy sudah pergi menyusul Arya lebih dulu.
"Arya, tunggu!"
Lucy memanggilnya dari belakang.
Arya berhenti dan menoleh, melihat Lucy mengejarnya.
"Tunggu, ke mana kamu akan pergi? Ini masih jam pelajaran!"
"Lucy, aku sedang tidak enak badan. Aku absen dulu untuk hari ini."
Arya berbalik, mengabaikan Lucy. Dia sepenuhnya masih bimbang dan tidak bisa menentukan pilihan antara harus membunuh orang itu atau tidak.
Lucy khawatir dengan kondisi Arya dan mengikutinya tapi Arya menghentikannya dan menyuruhnya kembali ke kelas.
"Tidak biasanya Arya begini. Pasti ada yang mengganggu pikirannya sehingga dia tidak bisa berpikir jernih."
Lucy mengerutkan dahinya sambil memegang dagunya, berpikir tentang sikap Arya yang agak aneh.
Biasanya, ketika Arya mulai mengabaikan semua ucapannya, maka Arya sedang kesal, marah atau bingung akan suatu hal.
Jika sudah seperti itu maka Arya tidak akan bisa berpikir dengan jernih.
Sebagai teman masa kecilnya serta orang yang mencintainya, Lucy sudah sangat hafal dengan sikap Arya yang seperti ini.
*****
Di parkiran motor, Arya menyalakan motornya dan kembali ke rumah Lucy. Dalam perjalanan kembali, dia menelepon David dan memintanya untuk menemuinya di rumah.
David jelas menolak diawal, tapi dia segera menyetujui permintaan Arya dan kembali ke rumah, meninggalkan pekerjaannya karena pemuda itu memaksa, dengan alasan ada sesuatu yang penting yang ingin dia bicarakan dengannya.
Di rumah Lucy, Arya dan David terlihat sedang duduk saling berhadapan di ruang tamu.
Arya memiliki ekspresi bermasalah di wajahnya dan dia hanya diam sejak David menemuinya. Dia terlihat frustasi.
Ini membuat David bertanya-tanya, apa yang membuat Arya begitu frustasi?
Arya seharusnya tidak perlu frustasi, karena sejauh yang dia ketahui, kehidupan Arya saat ini sangatlah tenang dan bahagia. Dia memiliki Lucy di sisinya dan dia juga memiliki toko rotinya yang selalu ramai dan dia juga bisa mendapatkan uang puluhan juta setiap bulannya.
Dari faktor itu saja, David bisa mengetahui kalau Arya sangat berkecukupan. Jadi, seharusnya hampir tidak ada suatu hal yang membuatnya frustasi.
Meski begitu, David tidak langsung bertanya pada Arya. Dia berpikir dan merenung cukup lama. Dia memikirkan kemungkinan macam apa yang bisa menyebabkan Arya frustasi seperti sekarang.
Jika Arya sudah seperti ini, sebagai kakaknya, David tentu ingin membantu sebaik mungkin. Dia tidak ingin melihat Arya ataupun Lucy mengalami stres dan frustasi.
Tiba-tiba, David mengingat sesuatu dan matanya segera melebar. Dia baru saja menemukan titik permasalahan yang membuat Arya frustasi.
"Arya, ini tentang ayahmu, bukan?"
David memberanikan diri bertanya. Dia memiliki keyakinan bahwa masalah yang Arya hadapi saat ini berhubungan dengan ayahnya.
Singkatnya, Arya memiliki hubungan yang buruk dengan ayahnya.
Oleh karena itu, jika ada hal yang membuatnya frustasi, maka itu akan menjadi ayahnya sebagai sumber masalah.
Arya menggertakan giginya, merasa agak marah dan mengangguk sebagai jawaban.
"Jadi, masalah macam apa yang kau hadapi dengan ayahmu?"
Selain itu, dia juga kakak bagi Arya, jadi dia ingin membantu adiknya menyelesaikan masalahnya.
Menghela nafas, Arya mengangkat kepalanya dan menatap David dengan serius.
"Kak, aku yakin kau mengetahui sikap ayahku seperti apa, jadi aku tidak akan bertele-tele. Singkat saja, aku ingin membunuh ayahku."
Dengan nada dinginnya, Arya mengejutkan David.
Dia melebarkan matanya dan tatapan ketidakpercayaan melintas di mata David. Dia tidak pernah mengharapkan hal semacam ini.
Membunuh ayah sendiri, kegilaan macam apa itu?
David membeku untuk beberapa saat dan nafasnya menjadi lebih cepat. Keringat dingin menetes dari pipinya dan dia menghela nafas beberapa kali agar tenang.
"Baiklah, berikan aku waktu sebentar."
David merasa sakit kepala. Dia terdiam cukup lama saat berbagai macam pertanyaan melintas di benaknya.
Dia tidak ingin Arya membunuh ayahnya, jadi dia memutar otaknya dengan keras, memikirkan cara agar pemuda itu mengurungkan niatnya.
*****
Sekitar jam dua pagi, Lucy yang sedang tertidur itu perlahan membuka matanya. Dia terbangun karena merasakan kehangatan di sebelahnya menghilang.
Melihat ke samping, Lucy menyadari bahwa Arya tidak ada di sebelahnya.
Biasanya, Arya akan tidur bersamanya dan memeluknya agar dirinya merasa hangat. Tapi saat ini, kehangatan itu menghilang.
Lucy perlahan beranjak dari kasurnya dan pergi mencari Arya sambil menggosok matanya. Dia berjalan menuju ke ruang TV namun tidak menemukan pemuda itu sampai akhirnya, dia mendengar sesuatu seperti pisau yang sedang diasah.
Suara itu berasal dari ruang tamu dan Lucy yang penasaran itu menuju sumber suara dan terkejut.
Di ruang tamu, Arya terlihat sedang duduk di sofa sambil mengasah belatinya agar lebih tajam. Tatapannya dingin dan penuh kebencian.
Wajah Lucy langsung menggelap seakan awan mendung menutupi wajahnya. Dia perlahan menghampiri Arya.
Arya menoleh ke samping ketika mendengar langkah kaki. Tatapannya yang dingin dan penuh kebencian itu berubah menjadi lebih lembut dan dia agak terkejut melihat Lucy yang tampak bermasalah itu.
"Lucy, apakah kamu mimpi buruk?"
Arya berdiri dan mendekati gadis tersebut. Ekspresi Lucy tidak baik dan suram, jadi dia pikir gadis ini mimpi buruk, makanya dia terbangun dari tidurnya dan mencari dirinya.
Lucy tidak menjawab. Ekspresinya tetap menggelap dan dia menjatuhkan dirinya ke pelukan Arya.
Arya agak terkejut tapi dia segera memeluk gadis kesayangannya itu sambil mengelus kepalanya. Tampaknya Lucy benar-benar bermimpi buruk, makanya dia ketakutan.
Perlahan, Lucy mengangkat kepalanya dan menatap Arya dengan air mata memenuhi sudut matanya. Dia menangis dan bahunya gemetar.
Arya tersenyum masam melihat ini, merasa bahwa gadis ini mengalami mimpi buruk yang parah.
Tapi, hal selanjutnya yang Lucy katakan membuatnya terkejut.
"Jangan... Jangan membunuh lagi... Aku tidak mau kamu membunuh lagi. Kumohon, berhenti membunuh..."
Lucy terisak tangis dan tangannya mencengkeram pakaian Arya.
Arya tidak bisa membantu tetapi terdiam.
Sebagai seseorang yang mencintainya sekaligus orang yang mengetahui fakta bahwa Arya adalah pembunuh, Lucy jelas sangat paham dengan Arya ketika dia ingin membunuh seseorang.
Jika dia ingin membunuh seseorang, maka dia akan mengasah belatinya agar lebih tajam, membuatnya menjadi lebih mudah untuk membunuh.
Arya menghelas nafas pelan, menyeka air mata Lucy dan membelai pipinya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Lucy, aku tidak akan membunuh siapapun."
"Tidak, kamu berbohong! Aku tahu jika kamu sudah mengasah belatimu, kamu pasti akan pergi membunuh! Kumohon padamu, jangan membunuh lagi..."
Lucy membantah. Dia terlihat sangat sedih.
Setiap kali Arya membunuh seseorang, Lucy merasa sakit pada dadanya. Hatinya hancur berkeping-keping. Dia selalu ingin Arya untuk berhenti membunuh, tapi sayangnya Arya sudah memilih jalan sebagai seorang pembunuh, jalan yang dipenuhi darah, kematian dan kegelapan yang membuat sisi kemanusiaannya perlahan terkikis.
Arya memeluk erat Lucy, menarik kepalanya ke dadanya dan membisikkan beberapa kata-kata manis agar dia tenang.
"Lucy, ayo kembali ke kamar. Aku berjanji, aku tidak akan membunuh siapapun."
Arya berkata demikian ketika Lucy sudah tenang.
"Kamu berjanji?"
"Ya, aku berjanji. Jika aku melanggar janjiku, maka kamu boleh menamparku, memukulku atau apapun yang kamu inginkan."
Arya menyakinkan Lucy.
Gadis itu mengangguk dengan ragu dan keduanya kembali ke kamar untuk tidur.