Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 95 - Kekejaman Arya



Arya yang emosinya sudah mereda sedikit itu segera kembali marah. Dia menyingkir dari tubuh Guru James, pindah ke samping dan meraih lengan Guru James, memelintirnya dengan kuat.


Guru James berteriak dengan suara serak ketika dia merasakam tangannya akan patah.


"Berhenti... Berhenti...!" Guru James berkata dengan sekuat tenaga dengan suaranya yang lemah itu.


Arya menutup telinga, mengerahkan kekuatannya lebih banyak, memelintir tangan Guru James hingga mengeluarkan bunyi retak.


Jelas, tangan Guru James yang Arya pelintir itu sudah patah.


Guru James berteriak kesakitan. Suaranya menggema di seluruh sudut kelas


Setiap siswa ngeri melihatnya. Mereka semua tidak menyangka jika Arya akan mematahkan tangan seseorang hanya karena beberapa hinaan.


"Seseorang, hentikan Arya! Dia sudah berlebihan!"


"Cepat! Jika kita tidak menghentikannya, Guru James bisa mati!"


"Lucy, Lylia, lakukan sesuatu!"


Setiap siswa panik, gadis-gadis menangis dan beberapa pingsan sementara para pria berteriak meminta bantuan.


Lucy dan Lylia yang dimintai bantuan itu terdiam, tidak tahu harus berbuat apa. Mereka berdua belum pernah melihat Arya semarah ini.


Segera, lima orang pemuda dengan memberanikan diri maju dan segera menghentikan Arya.


"Jangan mendekat! Jika tidak, akan kupatahkan lengannya yang lain!"


Arya segera berteriak pada lima orang itu. Dia jelas menyadari jika mereka berniat menghentikannya, jadi dia segera mengancam. Dia tidak akan pernah melepaskan orang yang menghina ibunya. Baginya, sudah cukup ibunya mendapat hinaan dari orang-orang dan Alice, istri pertama Vicky.


Lima orang tadi membeku di tempat. Mereka saling memandang dan ekspresi mereka terlihat bermasalah. Jika mereka menghentikan Arya, mereka takut Arya benar-benar mematahkan tangan Guru James. Jika mereka tidak menghentikan Arya, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Arya menatap lima pemuda itu lalu mengalihkan pandangannya ke Guru James lagi, memelintir tangannya yang satu lagi, mematahkannya tanpa ragu.


Semua orang tercengang, beberapa gadis pingsan sementara lima pemuda yang ingin menghentikan Arya menggertakkan giginya, merasa dibohongi oleh Arya.


Guru James berteriak, suaranya serak hingga akhirnya matanya memutih, kehilangan kesadarannya.


Arya terengah-engah ketika dia menatap Guru James dengan kejam. Matanya sama sekali tidak menunjukan rasa bersalah ketika dia baru saja mematahkan kedua tangan seseorang. Baginya, ini adalah pembelaan atas penghinaan ibunya.


Tapi, bagi orang lain, ini tidak lain adalah penyiksaan. Mereka semua tidak menyangka jika ada seseorang yang akan bertindak begitu kejam karena dihina.


Sejak saat itu, semua orang tidak berani menatap Arya terlalu lama.


Arya kemudian bangkit dan menuju meja guru, mengambil kursi lipat di sana dan melipatnya. Dia segera kembali pada Guru James yang tergeletak tak sadarkan diri.


Dia segera mengangkat tinggi kursi lipat itu menggunakan dua tangannya, lalu menghantamkannya pada lutut Guru James, membuat suara yang mengerikan. Jelas, kaki Guru James patah.


"Cepat, Pak Guru! Arya berkelahi dengan Guru James!"


Seseorang tiba-tiba berteriak panik ketika dia memasuki kelas, diikuti oleh dua orang guru pria. Tampaknya ada yang mengadu pada guru jika Arya berkelahi.


Tiga orang yang baru saja masuk kelas terkejut melihat Arya dan Guru James.


Guru James dalam keadaan parah, dimana dia tergeletak dengan wajah penuh memar, hidung berdarah, kedua tangannya terpelintir dan lututnya terlihat aneh ketika itu sedikit bengkok.


Di sisi lain, Arya berdiri di dekat Guru James dengan terengah-engah, satu tangannya yang berdarah memegang kursi lipat. Dia menatap Guru James dengan erat.


Belum lagi mereka melihat para siswa ketakutan, serta para gadis menangis dan pingsan, dua guru itu semakin terkejut dan bingung.


"Pak Guru, hentikan Arya!"


Salah seorang dari lima pemuda tadi berteriak, membuat dua orang guru itu tersadar dari kebingungan mereka dan segera menghentikan Arya.


Arya menoleh dan mengeluarkan ancaman yang sama seperti saat dia mengancam lima pemuda tadi. Tapi, ancamannya kali ini gagal dan dia berakhir dia jegal oleh enam orang.


*****


Semua guru yang mengetahui Guru James menjadi seperti ini dikarenakan menyinggung Arya segera berkumpul untuk rapat, membahas tentang bagaimana cara mereka menghukum Arya karena perbuatannya yang berlebihan ini.


Sebagian banyak guru meminta Arya dikeluarkan saja dari sekolah, karena jika perbuatannya tersebar luas, nama baik SMA Daeil mungkin akan tercoreng. Namun, ada beberapa guru yang membela Arya dikarenakan Guru James yang memprovokasinya.


Banyak para guru berdebat tentang masalah Arya dan Guru James. Tapi, pada akhirnya, keputusan berada di tangan Tuti sebagai kepala sekolah. Dia memutuskan jika Guru James akan menerima perawatan dan dikeluarkan dari SMA Daeil sementara Arya harus mengganti rugi, yaitu membayarkan biaya rumah sakit Guru James selama guru tampan itu dirawat di rumah sakit. Juga, Arya akan diskors selama tiga minggu.


Arya yang berada di ruang kepala sekolah itu menundukkan kepalanya ketika dia duduk di sofa. Dia merenungi cara membayar biaya rumah sakit Guru James. Dia yakin dengan cedera yang diderita Guru James, dia akan dirawat cukup lama, membuatnya kebingungan tentang bagaimana membayarnya.


Namun tiba-tiba, Arya teringat sesuatu. Matanya segera berbinar ketika dia ingat jika dia memiliki kekasih yang kaya raya serta mudah dimanfaatkan. Ya, dia memikirkan Lylia.


Mengangkat kepalanya, Arya menatap Tuti di meja kerjanya.


"Jadi, aku akan diskorsing selama tiga minggu dan harus membayar biaya rumah sakit keparat James itu?"


"Ya, itu benar. Kau telah menyebabkan dia mengalami cedera parah, yang mana seharusnya kau dikeluarkan dari sekolah ini. Tapi, mengingat pertemananku dengan ayahmu, aku akan membantumu kali ini."


"Begitu, ya? Baiklah, terima kasih banyak atas bantuanmu, Kepsek."


Arya mengangguk penuh pengertian.


*****


Setelah meninggalkan ruang kepala sekolah, Arya segera pergi ke kelasnya, menemui Lylia. Ketika memasuki kelas, dia mendapati banyak tatapan dari para siswa. Semuanya menatapnya takut dan ngeri.


Mengabaikan sekitar, Arya mendekati Lylia dan mengajaknya pergi ke tempat sepi.


"Lylia, ikut aku sebentar. Ada yang ingin kubicarakan denganmu."


Lylia hanya mengangguk, sedikit takut pada Arya. Pemandangan Arya yang tangannya dipenuhi darah serta bagaimana cara Arya mematahkan anggota tubuh Guru James masih menempel erat di benak Lylia.


Dengan ragu-ragu, Lylia mengikuti Arya dari belakang.


Ketika keduanya berada di halaman belakang sekolah, Arya melihat sekeliling dan mengetahui jika di sana sepi dan sunyi. Dia kemudian berbalik dan menatap Lylia dengan ekspresi serius.


"Lylia, aku memerlukan bantuanmu."


"Ba-bantuan apa?" Lylia merinding tanpa alasan.


"Ini tentang hukumanku. Aku dihukum skorsing selama tiga minggu dan harus membayar biaya rumah sakit Guru James sampai dia benar-benar pulih. Aku tidak masalah diskorsing, tapi permasalahannya adalah aku tidak bisa membayar biaya rumah sakit itu. Jadi... Bisakah kamu membantuku kali ini?"


Lylia terdiam, menatap Arya dengan terkejut.


"Maksudmu, kamu membutuhkan bantuanku untuk membayar biaya rumah sakit Guru James?"


"Ya, seperti itu yang kumaksud. Apakah itu memungkinkan, Lylia?"


Arya bertanya, tapi Lylia tidak segera menjawab.


Gadis itu mengerutkan dahinya dan ekspresi berpikir terlihat di wajahnya. Dia diam cukup lama saat berbagai macam pertimbangan melintas dibenaknya.


Dia ingin membantu Arya, tapi mengingat cedera Guru James tidak ringan, guru tampan itu pasti akan dirawat cukup lama di rumah sakit. Belum lagi perawatannya harus baik, jadi jelas memerlukan rumah sakit yang bagus dan baik. Semakin bagus suatu rumah sakit, maka akan semakin mahal biayanya.


Arya yang memperhatikan ekspresi Lylia menjadi gugup, takut Lylia menolak. Lylia adalah harapannya satu-satunya. Jika gadis ini menolak, dia jelas akan mendapat masalah lainnya.


Menghela napas panjang, Lylia menunjukan senyum masam.


"Arya, aku bisa membantumu, tapi ini akan sedikit memakan waktu. Tapi, aku pastikan untuk membantumu sepenuhnya."


"Terima kasih banyak, Lylia!"


Setelah mengetahui Lylia setuju membantunya, Arya sangat gembira hingga dia ingin memeluk Lylia, namun dia tidak berani melakukan itu.


Setelah itu, Lylia pergi ke ruang kepala sekolah untuk membahas masalah Guru James.