
Melihat Arya berpikir, Emily terkekeh kecil dan berbaring di kasurnya. Dia menatap Arya dengan lekat sambil menunggunya menceritakan sebuah cerita.
"Emily, kamu mau cerita macam apa?"
"Cerita apa saja, Kak. Yang terpenting seru dan menyenangkan."
"Baiklah, aku punya satu di sini."
Arya tersenyum hangat, mengelus kepala Emily dan mulai bercerita.
Dia kemudian menceritakan tentang film di bioskop yang dia tonton bersama Rosa, Lucy dan Andhika beberapa hari yang lalu. Dia menceritakan tentang kisah dua orang yang saling jatuh cinta namun cinta mereka adalah cinta beda alam. Di mana sang pria adalah manusia dan sang wanita adalah hantu penasaran yang selalu bergentayangan.
Keduanya saling jatuh cinta dalam satu pandangan. Walau beda alam, mereka tidak peduli. Mereka berdua benar-benar tidak terpisahkan. Kisah romantis mereka juga sangat menyentuh dan menggembirakan namun sayangnya akhir dari cerita itu adalah ending yang menyedihkan. Di mana sang wanita, yang merupakan hantu penasaran, akhirnya tenang dan ke alam baka.
Mendengar cerita Arya, Emily tersentuh dan matanya berkaca-kaca.
"Kak, aku bilang cerita yang seru, bukan cerita yang sedih!"
Emily menyeka matanya, membuat Arya tersenyum masam.
Menatap Arya, Emily membuka selimut yang dia kenakan dan menepuk kasur di sebelahnya.
"Kak, kemari. Peluk aku sampai tertidur, ya?"
Arya mengangguk mendengarnya. Dia memasuki selimut dan berbaring, meraih pinggang ramping Emily dan memeluknya dengan hangat. Pelukan itu berbeda dari yang biasa dia lakukan bersama Lucy. Itu hanya pelukan ringan namun hangat.
Emily meringkuk dalam pelukan Arya, membenamkan wajahnya ke dadanya dan menikmati kehangatan yang menenangkan.
Setelah lima belas menit dalam diam, Emily yang membenamkan wajahnya di dada Arya mengangkat kepalanya dan menatap lurus mata Arya.
Dia melihat jika kakaknya masih terjaga, terlihat melamun seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kak." Panggilnya lembut.
Arya tersentak dan menunduk, menatap Emily.
"Ada apa, Emily?"
"Um..." Emily ragu.
Dalam hatinya, Emily memiliki suatu permintaan tapi dia takut untuk mengatakannya. Dia takut Arya marah padanya.
"Tidak jadi, Kak."
"Ada apa, Emily? Kamu memiliki sesuatu yang ingin kamu katakan?"
"I-iya... Tapi, aku takut kamu marah, Kak."
"Kenapa aku harus marah?" Arya tertawa kecil.
"Benarkah kamu tidak akan marah, Kak?"
"Tentu tidak, Emily. Kamu adalah adikku, jadi kenapa aku harus marah ketika kamu punya permintaan?"
Emily tiba-tiba merasa sakit hati saat mendengar jika dia adalah adik bagi Arya. Rasanya menyesakkan dan tidak nyaman karena sepertinya, dia tidak lebih dari seorang adik bagi Arya.
Mengatupkan giginya, Emily tiba-tiba menangkupkan kedua tangannya di wajah Arya lalu mencium bibirnya dan menekankan bibirnya di sana, tidak ingin melepaskannya.
Arya melebarkan matanya ketika merasakan bibir lembut Emily menekan bibirnya. Dia sangat terkejut dan lupa cara bernapas selama beberapa detik.
Setelah merasa puas, Emily menarik bibirnya dan menghembuskan napas hangat. Matanya lembab seakan air bisa jatuh dari sana. Dia menyentuh bibirnya saat perasaan hangat dari ciuman pertamanya melekat erat dalam benaknya.
"Emily, kamu..."
Arya menatap Emily dengan matanya yang gemetar. Wajahnya agak memucat dan perasaan tidak nyaman memenuhi hatinya.
"Apa? Kamu bilang kamu tidak akan marah, karena aku memiliki permintaan. Aku "adik"mu, kan?"
Emily memotong, menekankan kata adik.
"Tapi meski kita sepupu, kita boleh menikah secara hukum! Jika kita boleh menikah, kita tentu bisa menjadi pasangan kekasih. Kak, aku..."
"Cukup. Emily, cukup. Sekarang, tidur. Ini sudah malam..."
Arya tidak membiarkan Emily melanjutkan kata-katanya. Dia menarik kepala Emily ke dadanya, memaksanya diam. Dia tahu apa yang akan dikatakan olehnya dan dia tidak mau mendengarnya.
Emily terisak ketika Arya memotong kalimatnya. Dia mencengkeram erat dada Arya, hatinya terasa begitu sakit. Ini adalah pertama kalinya dia merasa begitu sakit, bahkan rasanya lebih menyakitkan daripada dibully oleh teman-temannya dulu.
"Kak, kamu harus bertanggung jawab... Itu adalah ciuman pertamaku..."
Arya meringis mendengarnya, merasa bersalah pada gadis polos seperti Emily. Dia tetap diam dan tidak menjawab, memeluk erat Emily yang menangis di dadanya.
Setelah waktu yang cukup lama, Emily yang menangis itu akhirnya diam karena tertidur. Menangis begitu lama dan mendapat penolakan dari Arya membuatnya lelah secara mental, jadi otaknya memaksanya untuk tidur.
Arya yang masih memeluk Emily menatapnya dengan rumit. Dia tidak pernah menyangka jika Emily, adik sepupunya, yang selalu dia perlakukan sama seperti Andhika, memiliki perasaan cinta padanya.
Jika bukan karena Emily yang hendak mengungkapkan perasaannya tadi, Arya tidak akan pernah tahu jika Emily menganggapnya bukan sebagai kakak saja, melainkan sebagai lawan jenis.
Menghela napas panjang, Arya mengelus kepala Emily.
"Maaf, Emily. Aku memiliki Lucy di sisiku, kekasihku. Bahkan, dalam waktu dekat aku berniat untuk menikah dengannya, jadi kamu harus mencari pria lain. Aku tidak pantas untukmu, Emily. Aku bukan sosok yang baik dan lembut seperti yang kamu bayangkan. Aku hanya seorang pembunuh berdarah dingin, Emily. Aku kejam dan tidak berperasaan. Aku tidak cocok untuk gadis sebaik dan seramah dirimu, Emily."
Setelah mengatakan itu, Arya mencium dahi Emily dengan ringan sebelum melepaskan pelukannya dan pergi kembali ke kamarnya.
Ketika Arya kembali ke kamarnya, dia segera mendapat pelukan erat dari Lucy, yang sejak tadi menunggunya di sana.
Arya agak terkejut dan mundur selangkah, namun dia segera memeluk Lucy dengan erat. Dia membenamkan wajahnya ke pundak Lucy, menyembunyikan wajah rumit dan penuh masalah.
"Arya, ada apa?" Lucy menyadari jika Arya agak berbeda, makanya dia bertanya.
"Tidak apa-apa, Lucy."
Arya mengangkat kepalanya, mencium bibir Lucy dan mendapat balasan dari gadis itu.
"Aku mencintaimu, Lucy. Aku sangat mencintaimu."
Arya berkata, mencium Lucy lagi tanpa membiarkannya membalas.
*****
Keesokan paginya, ketika Arya membuka matanya, hal pertama yang dia lihat adalah Lucy yang tengah tertidur dalam pelukannya. Gadis itu meringkuk di pelukannya, tidur dengan damai.
Arya tersenyum hangat melihatnya. Dia mengelus kepala Lucy sebentar, sebelum kejadian tadi malam melintas di benaknya.
Dia ingat jelas jika tadi malam, Emily menciumnya dan hendak mengungkapkan perasaannya. Hal ini membuat Arya merasa bersalah pada Emily dan Lucy. Emily menciumnya, jadi bagaimana mungkin dia tidak merasa bersalah pada keduanya?
Dia menyayangkan karena Emily harus kehilangan ciuman pertamanya dengan seseorang sepertinya, seseorang yang kejam dan tidak berperasaan. Dia juga merasa bersalah pada Lucy, karena dia seakan berselingkuh dari kekasihnya itu.
Kini, Arya mulai memikirkan Emily.
"Bagaimana caraku berinteraksi dengannya nanti? Ini pasti akan menjadi canggung." Arya menghela napas.
Mengabaikan hal yang yang tidak perlu, Arya memfokuskan perhatiannya pada Lucy. Dia mempererat pelukannya dan melingkari kakinya di sekitar kaki Lucy, memberinya kehangatan lebih.
Lucy perlahan terbangun karena tindakan Arya. Dia mengangkat kepalanya dan menatap Arya dengan matanya yang mengantuk.
"Maaf, karena aku kamu jadi terbangun, ya?"
Arya bertanya, namun Lucy tidak menjawab.
Gadis itu justru mencium bibir Arya dengan ringan sebelum kembali meringkuk dalam pelukan Arya, membenamkan wajahnya ke dada Arya dan kembali tidur.
Arya terkejut, lalu tersenyum masam.
"Kamu benar-benar suka bermain api dia pagi hari, ya, Lucy." Arya mengelus kepala Lucy dan membiarkannya tidur lagi.