
"Kepsek, Kepsek! Kemari sebentar, aku ingin mengatakan sesuatu padamu..."
Sebuah suara yang agak gemetar dan terbata-bata terdengar.
Tuti yang merasa dipanggil menoleh dan melihat jika yang memanggil adalah anak muridnya, yaitu Rem. Gadis itu terlihat takut dan wajahnya pucat. Matanya memandang kiri dan kanan.
Mendekatinya, Tuti menatap Rem dengan melankolis. Melihat wajahnya yang pucat dan suaranya yang gemetar, dia yakin jika gadis ini seper mengalami trauma yang cukup berat.
"Ada apa, Rem? Apakah kamu ingin sesuatu untuk dimakan? Kamu sudah bertemu teman-temanmu?"
Tuti bertanya dengan lembut.
Mendengarnya, Rem menjadi sedikit lebih tenang. Dia menatap Tuti dan membuka mulutnya, namun kata-katanya tersangkut di tenggorokannya. Dia ragu antara harus berkata yang sebenarnya atau tidak.
"Apa yang ingin kamu katakan, Rem? Jika ada yang ingin kamu sampaikan, katakan saja." Tanya Tuti dengan lembut, tersenyum hangat agar Rem merasa lebih tenang dan tidak ketakutan lagi.
Mendengar itu, Rem menghembuskan napas panjang dan mengumpulkan keberaniannya, lalu berkata.
"Kepsek, ini mungkin hanya perasaanku saja. Ta-tapi sepertinya aku melihat Arya membunuh para penculik itu... Sa-saat dia datang, dia bersama seorang pria. Begitu mereka datang, mereka langsung menembak para penculik itu..."
Rem berkata dengan terbata-bata. Tubuhnya gemetar dan matanya menunjukkan ketakutan yang hebat.
Tuti melebarkan matanya, lalu mengerutkan dahinya dengan curiga. Dia jelas tidak mempercayai ucapan Rem.
"Rem, ada baiknya kamu jangan asal bicara. Mana mungkin Arya berani melakukan hal kejam seperti itu? Kembalilah bersama teman-temanmu dan tenangkan dirimu. Kamu mungkin terlalu takut karena diculik, jadi kamu berhalusinasi."
Tuti menasehati Rem, menghela napas karena apa yang dikatakan gadis ini tidak masuk akal.
"Ta-tapi Kepsek! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri! Saat Arya tiba, dia memegang dua pisau yang berdarah! Tubuh Arya juga terdapat bercak darah! Meski aku hanya melihat sesaat, aku sangat yakin jika aku tidak salah lihat! Selain itu, aku dengar suara tembakan beruntun..."
Rem kembali berkata, berusaha menyakinkan Tuti. Selain itu, dia memang sempat melihat Arya bersimbah darah dan memegang belati meski hanya sesaat. Suara tembakan beruntun yang dia dengar juga membuatnya semakin yakin jika Arya benar-benar membunuh.
Awalnya Rem berniat untuk tidak mengatakan apapun tentang apa yang dia lihat, tapi berhubung dia takut, dia mengatakannya pada Tuti agar menjadi lebih tenang.
Alis Tuti semakin berkerut saat dia mulai mempertimbangkan ucapan Rem. Bagaimanapun, dia tidak mempercayai jika Arya membunuh para penculik itu. Namun ketika mengingat kondisi Arya yang terluka cukup parah, dia memiliki sedikit keyakinan pada Rem.
Ketika Tuti sedang berpikir tentang harus mempercayai Rem atau tidak, seorang pria berusia empat puluhan datang menghampiri mereka. Pria tersebut adalah Kepala Kepolisian yang bertanya pada Luois tadi.
"Gadis, bisakah kamu ulangi apa yang baru saja kamu katakan?" Tanya Kepala Kepolisian dengan senyum tipis.
Dia sempat mendengar obrolan singkat antara Tuti dan Rem tadi.
Mendengar suara Kepala Kepolisian, baik Tuti dan Rem terkejut dan segera menoleh.
Rem agak ragu sesaat sebelum mengatakan apa yang dia katakan pada Tuti tadi pada Kepala Kepolisian.
Kepala Kepolisian itu terkejut mendengar apa yang dikatakan Rem. Dia mengerutkan dahinya saat beberapa kecurigaan melintas dalam benaknya.
"Gadis, apakah yang kamu katakan benar? Apakah kamu benar-benar melihat ada yang membunuh selain orang-orang di sana?" Kepala Kepolisian bertanya dengan serius. Dia menunjuk ke arah Luois dan rekan-rekannya.
Menoleh ke arah yang ditunjuk, Rem menatap Luois dan ketika dia sudah mengenali Luois, dia segera menatap Kepala Kepolisian itu lagi dan mengangguk. Dia samar-samar ingat wajah Luois yang datang bersama Arya saat datang menyelamatkannya tadi.
"Y-ya, aku ingat jika salah satu pria di sana datang bersama temanku yang bernama Arya. Mereka datang menyelamatkan kami sebelum polisi datang. Begitu mereka datang ke lokasi penculikan, mereka langsung menembak para penculik itu... Ju-juga, aku sempat melihat jika Arya membawa pisau berdarah di tangannya..."
Rem menjelaskan dengan takut.
Tuti merasa sakit kepala mendengar dialog antara Rem dan Kepala Kepolisian. Dia bingung harus merespon seperti apa. Juga, dia penasaran dengan ucapan Rem yang menuduh jika Arya membunuh. Dia ingin mengetahui faktanya.
Setelah beberapa pertimbangan, Kepala Kepolisian meminta Rem menunjukkan di mana Arya berada dan Rem segera menurutinya.
Tampaknya meski baru saja mengalami penculikan dan terluka, Arya dan Lucy masih bisa bermesraan jika mereka mau.
Melihat Arya, Kepala Kepolisian itu mengerutkan dahinya saat melihat perban di pinggang dan bahu Arya.
"Selamat malam, Nak. Bolehkah aku tahu, apakah kamu yang bernama Arya?" Kepala Kepolisian mendekati mobil dan berkata dengan ringan.
Arya terkejut mendengar itu. Dia mengerutkan dahinya lalu keluar dari mobil dengan susah payah. Luka di pinggang dan bahunya sangat menyakitkan jika dia bergerak sedikit saja.
"Arya, jangan banyak bergerak dulu! Kamu masih terluka!"
Lucy dengan panik berkata, namun dia diabaikan oleh Arya.
Arya keluar dari mobil dan melihat jika ada seorang pria berseragam polisi dengan Tuti datang ke mobilnya. Jauh dari Tuti juga terlihat Rem, namun Arya tidak mengenal siapa gadis ini.
Lucy kemudian keluar dari mobil.
"Apakah ada yang mencariku?" Arya bertanya pada Tuti, lalu melirik Kepala Kepolisian sejenak.
"Ya, Arya. Ini adalah Kepala Kepolisian kota Vant. Dia datang untuk menyelamatkan para korban penculikan namun ternyata para korban sudah terselamatkan, jadi Kepala Kepolisian hanya bertugas menyelidiki sekitar pelabuhan." Tuti menjelaskan sedikit.
"Lalu, apa hubungannya denganku?"
Arya berkata dengan dingin, menatap Kepala Kepolisian dengan mata tidak senang. Ayahnya merupakan polisi dan ayahnya adalah orang yang paling Arya benci di dunia ini, jadi dia menganggap semua polisi adalah sama seperti ayahnya. Wajar jika dia tidak senang.
"Memang seharusnya ini tidak ada hubungannya denganmu, Arya. Namun ada beberapa hal yang ingin Kepala Kepolisian tanyakan padamu."
Tuti menjelaskan kembali, menghela napas dalam hati.
Setelah Tuti selesai dengan penjelasannya, Kepala Kepolisian berdeham pelan dan menatap Arya dengan serius. Dia kemudian bertanya.
"Apakah kau salah satu korban penculikan juga, Nak?"
"Siapa? Aku? Korban penculikan?" Arya berkata, main-main.
"Nak, jangan bercanda. Aku perlu mengetahui kau adalah korban penculikan juga atau bukan, jangan mempersulit keadaanmu. Kau terluka, jadi sepertinya kau benar-benar korban penculikan juga, ya?"
"Lalu, jika aku adalah korban penculikan juga, apa yang ingin kau lakukan?"
Arya menatap tajam Kepala Kepolisian, memandangnya dengan jijik. Melihat Kepala Kepolisian mengingatkannya pada ayahnya, yang sangat membuatnya muak.
Kepala Kepolisian agak berkedut mendengar Arya. Dia memiliki rasa kesal dalam hatinya karena bocah ini sama sekali tidak serius ketika ditanya dan malah menjawab sesuka hati.
"Nak, tolong bersikap dewasa. Jika kau korban penculikan, kami akan menghubungi orang tuamu atau walimu. Jika kau bukan korban penculikan, apa yang kau lakukan di sini dan kenapa kau bisa terluka seperti sekarang?"
Arya diam dan tak menjawab, memasang ekspresi acuh tak acuh.
Tuti dengan penasaran menunggu jawaban dari Arya. Dia sendiri hanya tahu jika Arya terluka karena menyelamatkan Lucy, namun dia tidak tahu bagaimana Arya bisa berada di sini.
Setelah menunggu lama, Arya tetap tak merespon dan Kepala Kepolisian mulai kesal.
Tuti menyadari jika Kepala Kepolisian sudah kesal pada Arya, jadi dia segera berkata pada Arya, mencoba membujuknya.
"Arya, tolong kerjasamanya. Kepala Kepolisian ingin mengetahui alasanmu bisa berada di sini dan alasamu bisa terluka, agar proses penyelidikan di kepolisian lebih mudah. Tolong jangan keras kepala untuk sekali ini saja, Arya."
"Itu benar, Nak. Ada baiknya kau bekerjasama dengan baik agar semuanya menjadi lebih mudah. Selain itu, aku mendapat laporan dari temanmu jika kau datang dan membantu menyelamatkan para gadis yang diculik. Apakah itu benar? Oh ya, satu lagi. Aku juga dapat laporan dari temanmu jika kau datang dan membunuh beberapa penculik itu, apakah itu juga benar?"
Kepala Kepolisian sudah kehabisan kesabaran, jadi dia langsung pada intinya.