
Arya kemudian mengantarkan Lucy pergi ke kelasnya terlebih dahulu untuk mengambil pakaian ganti karena seragam yang Lucy kenakan kotor sebab gadis tersebut dilempari berbagai macam minuman dan makanan yang nodanya cukup sulit untuk dibersihkan.
Setelah berganti, Arya mengajak Lucy ke tempat yang sepi untuk menenangkan diri, yaitu ke atap.
Di atap sekolah, mereka bebas berekspresi karena tempat ini sepi dan jarang ada yang berkunjung ke sini. Selain itu, mereka yang ingin pergi ke atap tidak akan berani jika ada Arya di sana.
Pada saat ini, Arya memeluk erat Lucy saat gadis itu menangis di dalam pelukannya.
Arya berusaha menenangkannya dengan berbagai macam cara dan sebagai hasilnya, Lucy menjadi lebih tenang.
Dia perlahan mengangkat kepalanya dan menatap Arya dengan mata merah.
"Arya, mengapa mereka semua jahat padaku? Aku tidak melakukan kesalahan apapun dan aku juga tidak melakukan apa yang mereka rumorkan, jadi mengapa mereka begitu kejam? Apa salahku?"
Lucy menatap Arya dan air matanya yang sudah hampir kering mulai terlihat lagi di sudut matanya.
"Kamu tidak melakukan kesalahan apapun. Mereka hanya iri denganmu. Tenang saja, aku akan pastikan masalah ini selesai dalam beberapa hari."
"Um, aku percaya padamu kalau kamu bisa menyelesaikan masalah ini. Tapi aku mohon padamu, jangan gunakan kekerasan ataupun membunuh siapapun. Aku ingin kamu menyelesaikan masalah ini dengan cara yang damai."
Lucy berkata, sedikit memohon pada Arya.
Dia mengetahui kalau Arya merupakan seorang pembunuh dan dia ingin Arya berhenti membunuh karena itu merupakan tindakan keji.
Selain itu, dia juga tidak ingin Arya menyelesaikan masalah rumor ini dengan kekerasan. Dia ingin Arya menyelesaikan masalah dengan cara damai.
Lucy meminta hal semacam ini karena dia tahu bagaimana cara penyelesaian masalah yang akan Arya lakukan, yaitu dengan kekerasan dan ancaman.
Arya terdiam mendengar ini. Dia hanya bisa mengangguk dengan pasrah untuk saat ini.
Kemudian, hari ini berlalu dengan cepat. Arya dan Lucy tetap berada di atap dan tidak kembali ke kelas sampai waktu sekolah selesai.
*****
Esok harinya, Lucy yang memasuki kelasnya mendapat tatapan jijik dari gadis lainnya sementara beberapa pria mendekatinya dengan tatapan vulgar.
"Hei cantik, mau bermalam denganku?"
"Tidak, jangan bersamanya. Ayo, bersamaku saja dan akan kupastikan kau puas!"
"Tidak, tidak, tidak. Mereka berdua lemah di ranjang, biarkan aku saja yang menemanimu. Katakan harganya dan akan kubayar."
Tiga orang pria muda mendekatinya dan melontarkan kata-kata tak tahu malu itu di depan kelas yang ramai.
Mereka semua merupakan orang bayaran Rui. Selain itu, mendekati Lucy juga merupakan keinginan mereka sendiri. Bahkan jika Rui tak memerintah mereka, mereka akan dengan sendirinya mendekati Lucy.
Lucy segera mundur selangkah dan mengerutkan dahinya, menatap jijik tiga pria tersebut.
"Hei, kau pikir kau akan pergi ke mana?"
Saat Lucy mundur, dia menabrak seseorang.
Mengangkat kepalanya, dia melihat seorang pria yang cukup tampan dengan anting dan tatapan tajam menatapnya dengan penuh nafsu sambil menjilat bibirnya.
Lucy segera merinding dan berkeringat dingin melihat ini. Dia tiba-tiba dikelilingi empat orang pria dengan niat buruk.
"Jangan harap kau bisa pergi setelah melihatku."
Pemuda dengan anting itu meraih pergelangan tangan Lucy dan menariknya ke atas, membuat Lucy meringis kesakitan.
'Arya... Tolong aku...'
Lucy diam-diam memanggil nama Arya dalam hatinya sambil memohon agar orang yang dia cintai datang menolongnya.
Seakan Arya bisa mendengar panggilan dari dalam hati Lucy, pemuda tersebut sudah terlihat di belakang pemuda dengan anting itu.
Tanpa peringatan, Arya mencekik leher pemuda dengan anting itu, membuatnya terkejut dan merasakan sulit bernafas. Wajahnya menjadi agak pucat dan keringat menetes di pipinya.
"Kau layak mati karena berani menyentuh wanitaku."
Dengan nada dingin dan mengancam, Arya menambahkan kekuatan pada cekikannya.
Dia sudah menduga hal ini.
Dia dan Lucy berbeda kelas, ditambah dengan adanya rumor buruk tentang Lucy, sudah pasti akan ada beberapa orang yang akan mendekati Lucy dengan niat buruk.
Oleh karena itu, Arya segera menuju kelas Lucy dan mendapati pemandangan yang membuatnya marah.
"Ma... Maafkan aku... Kumohon... Lepaskan..."
Pemuda dengan anting memohon tapi Arya mengabaikannya.
"Arya, sudah cukup..."
Suara lemah lembut Lucy terdengar, membuat Arya menoleh padanya sesaat sebelum akhirnya melepaskan cekikannya.
Kemudian, mata Arya melihat ketiga pria yang sebelumnya menggoda Lucy diam-diam sebelum dia datang.
Ketiga pria itu segera merinding. Mereka semua tahu betapa menakutkannya Arya.
Mereka awalnya yakin kalau Arya tidak akan datang, tapi sekarang sepertinya mereka akan kehilangan nyawa mereka.
"Lucy, pergilah. Aku memiliki sesuatu untuk dibicarakan di sini."
Arya maju dan melewati Lucy, tidak menatapnya. Tatapannya fokus pada tiga pria tadi.
Lucy ragu-ragu dan berniat menghentikan Arya, tapi saat dia melihat tatapan dingin pemuda tersebut, dia menyerah dan mengurungkan niatnya.
Lucy melihat jelas betapa dinginnya tatapan Arya saat ini, jadi jika Arya sudah memiliki tatapan yang sangat dingin, dia tidak akan bisa menghentikannya.
Selain itu, dia juga kesal dan marah pada tiga pria yang menggodanya itu. Jadi, dia pikir tidak masalah jika mereka menerima beberapa pukulan dari Arya.
Berbalik, Lucy pergi keluar kelas dan suara erangan kesakitan segera terdengar.
*****
Di kelas ini, Arya merupakan rajanya dan semua yang berada di kelas 3-3 takut padanya, jadi sangat mudah untuknya menggunakan kelas ini secara bebas.
Bahkan saat ini, dia menutup kelas tersebut dan melarang siapapun masuk agar dia bisa bersama Lucy tanpa ada yang menggangu.
"Lucy, sepertinya aku tidak bisa menyelesaikan masalah ini dengan cara yang damai. Aku harus menggunakan kekerasan untuk membuat mereka diam."
Arya berkata, sedikit menyesal.
Lucy hanya diam mendengar ini, membuat Arya tidak tahu harus bagaimana.
"Lucy, apakah kau percaya padaku kalau besok aku akan bisa menyelesaikan masalah ini?"
Lucy tetap diam, membuat Arya semakin kewalahan.
Selama beberapa saat ke depan, Lucy tetap diam.
*****
Pagi harinya, Arya saat ini sedang dalam perjalanan menuju rumah Lucy untuk menjemputnya agar mereka bisa berangkat ke sekolah bersama.
Ini sudah menjadi kebiasaan bagi Arya, jadi dia tidak keberatan akan hal ini.
Tiba di rumah Lucy, Arya segera masuk. Dia bukannya tidak sopan, tapi rumah Lucy sudah dianggap rumahnya sendiri.
"Lucy, apakah kamu sudah siap?"
Arya mencari Lucy ke kamarnya dan dia berhasil dibuat terkejut.
Matanya melebar saat dia melihat Lucy berdiri di depan cermin sambil menangis. Dia terlihat sangat menyedihkan saat wajahnya bermasalah dengan rambut acak-acakan. Bahkan dia masih mengenakan pakaian tidurnya.
Arya tahu penyebabnya mengapa Lucy menangis. Ini membuatnya merasa marah pada dirinya sendiri karena dia tidak bisa menyelesaikan masalah rumor itu dalam sekejap.
"Lucy..."
Memanggilnya dengan lembut, Arya memeluk Lucy.
Gadis tersebut terkejut dengan pelukan tiba-tiba. Dia sepertinya tidak menyadari keberadaan Arya sampai dia benar-benar memeluknya.
"Arya... Apa salahku? Kenapa mereka jahat padaku?"
Lucy bertanya, menanyakan pertanyaan yang sama seperti kemarin.
Arya diam kali ini. Dia tahu kalau dia berbicara, itu akan sia-sia karena Lucy pasti tidak akan mendengarkannya disaat dia sedih seperti ini.
Tentu saja, Lucy sangat sedih dan kecewa.
Hanya dalam beberapa hari, reputasinya sebagai yang paling cantik di SMA Daeil segera runtuh. Dia mendapat sebuah rumor buruk yang menghancurkan nama baiknya.
Selama beberapa hari ini, dia selalu mendapat tatapan jijik dan vulgar dari hampir semua orang. Dia juga sempat dilempari makanan dan minuman saat berada di kantin. Bangkunya juga dicoret dengan berbagai macam kutukan dan umpatan.
Bahkan yang paling membuatnya takut adalah digoda dan dikelilingi oleh empat orang pria secara langsung seperti kemarin.
Terlebih lagi, yang membuat Lucy sangat kecewa adalah teman-temannya. Dia memiliki banyak teman, terutama para gadis tapi sayangnya mereka semua mengkhianatinya.
Teman yang Lucy percaya dengan mudahnya ikut menyebarkan rumor buruk tentangnya dan ikut menatapnya dengan jijik.
Ini benar-benar membuat Lucy sedikit trauma.
"Lucy..."
Suara Arya tiba-tiba terdengar namun Lucy tidak menanggapi.
Tidak mendapat tanggapan, Arya meraih kedua pipi Lucy dan mengangkat kepalanya dengan perlahan.
Tatapan mereka saling bertemu, dengan Arya menatapnya sedih sementara Lucy menatapnya dengan mata merah karena menangis.
Arya dengan lembut menyeka air matanya dan berkata.
"Lucy, kamu tidak bersalah. Mereka yang bersalah karena seenaknya mengatakan hal buruk padamu dan menyebarkan fitnah."
Dia dengan nadanya lembutnya berkata sambil mengusap pipi Lucy yang basah.
Perlahan, Arya memiringkan kepalanya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Lucy.
Lucy terkejut dengan gerakan Arya tapi dia tidak menghentikannya.
Dengan suasana yang sepi, suara jantung berdegup kencang dapat terdengar dari keduanya.
Perlahan, Arya menempelkan bibirnya ke bibir Lucy dengan gerakan lembut dan pelan agar gadis itu tidak terkejut dan merasa tidak nyaman.
Lucy sudah tahu apa yang akan Arya lakukan, tapi tetap saja dia melebarkan matanya karena terkejut.
Ini merupakan ciuman pertamanya, jadi dia agak tidak terbiasa dengan ini.
Dengan perasaan canggung, Lucy perlahan menutup matanya. Dia merilekskan tubuhnya yang tegang dan perlahan, dia merosot dan memeluk Arya dengan erat.
Setelah itu, baru dia bisa merasakan bagaimana ciuman pertamanya terjadi.
Bibir Arya terasa hangat dan menenangkan.
Semua perasaan sedih dan kecewa yang Lucy rasakan tadi menghilang begitu saja.
Baru saja Lucy menikmati momen berharganya, Arya tiba-tiba menarik kembali bibirnya, membuat gadis tersebut sedikit kecewa.
"Apakah kamu sudah merasa lebih baik?"
Arya bertanya dengan wajah merah. Dia sedikit mengalihkan pandangannya.
Lucy perlahan mengangguk. Namun segera, dia tiba-tiba menyadari mengapa Arya memerah.
Kemudian, wajah Lucy ikut memerah.