Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 13 - Introgasi Polisi



Satu minggu kemudian, Arya yang terbaring di rumah sakit akhirnya sembuh total.


Selain itu, selama satu minggu ini dia juga dirawat oleh Yuki dengan penuh kasih sayang.


Setidaknya, dalam sehari Yuki berkunjung sebanyak dua kali. Setiap dia berkunjung, dia selalu membawakan Arya buah tangan. Ini membuatnya merasa tidak enak hati pada Yuki.


Karena mereka sering bertemu di rumah sakit, Arya dan Yuki jadi semakin akrab. Keduanya mengobrol lebih sering dan berbagi beberapa rahasia kecil.


Mengetahui kalau Arya sudah sembuh total, para dokter terkejut.


Meski dokter awalnya mengatakan kalau dia harusnya sembuh dalam beberapa minggu, tapi kenyataannya sangat berbeda dari apa yang diberitahu oleh dokter.


Faktanya, hanya dalam satu minggu ini Arya sudah sembuh total. Dua tulang rusuk yang patah sudah kembali normal, begitu juga yang retak.


Para dokter yang mengetahui ini terkejut. Mereka belum pernah melihat seseorang yang patah tulang sembuh hanya dalam satu minggu.


Ya, sebenarnya Arya juga tidak tahu mengapa dia bisa sembuh secepat itu. Tapi yang pasti, dia memiliki kemampuan penyembuhan yang cepat. Bahkan dari kecil dia jarang sakit. Andai dia sakit juga hanya perlu satu atau dua hari, dia akan sembuh.


Kemampuan penyembuhannya ini membuatnya terkejut sendiri tapi karena itu adalah hal baik, dia merasa bangga memilikinya.


Di rumahnya, Arya perlahan membuka pintu dan masuk.


Di ruang tamu, Erwin sudah duduk dengan tatapan tajam yang mengarah pada Arya.


"Kemana saja kamu selama satu minggu ini?"


Erwin bertanya dengan dingin.


Selama satu minggu, Arya berada di rumah sakit. Karena hal itu, dia tidak pulang ke rumahnya.


Selain itu, dia juga tidak memberi tahu Erwin kalau dirinya masuk rumah sakit karena dia tidak ingin membuatnya khawatir.


Pada akhirnya, Arya tidak memberi alasannya menghilang selama satu minggu ini dan dia berakhir dimarahi Erwin selama hampir satu jam.


*****


Esok harinya, di depan rumahnya, Niko yang tampak bersemangat berpamitan pada ibunya. Dia sepertinya sudah sembuh dan sedang dalam suasana hati yang bagus.


"Ibu, aku pergi dulu."


"Iya, tapi sebelum itu, bolehkah Ibu bertanya padamu?"


"Tentu saja, silahkan bertanya apapun yang Ibu mau."


"Kalau begitu, bolehkah Ibumu ini menikah lagi?"


Kedua pipi Yuki merona ketika dia berkata demikian. Matanya berkaca-kaca seakan memohon diizinkan untuk menikah lagi.


Suami Yuki telah meninggal tujuh tahun yang lalu, jadi menikah lagi bukanlah sesuatu yang tidak bisa dia lakukan.


Ketika kata-kata itu jatuh, Niko langsung terkejut bukan main. Kepalanya tiba-tiba merasa pusing karena mendapat pertanyaan yang tidak dia harapkan.


Selama ini, dia melihat ibunya baik-baik saja tanpa terlihat seperti merindukan sosok suami. Tapi hari ini, pagi ini, dia tiba-tiba meminta izin untuk menikah lagi.


Niko tentu senang mendengar ini, tapi dia ragu dengan calon ayah barunya.


"Ji-jika itu membuat Ibu bahagia, maka tidak masalah." Niko menjawab dengan terbata-bata.


"Baguslah! Kalau begitu, Ibu akan menikahi temanmu, Arya. Boleh, kan?"


"Apa?!"


"Hanya bercanda~. Oh ya, ngomong-ngomong Arya sudah keluar dari rumah sakit. Undang dia untuk mampir ke rumah, ya."


Niko semakin terkejut ketika mengetahui bahwa yang ingin ibunya nikahi tidak lain adalah temannya sendiri. Meski dia mendengar kalau ibunya hanya bercanda, tapi dia langsung menjadi kesal dan suasana hatinya yang bagus tadi tiba-tiba menjadi suram.


Di perjalanannya ke sekolah, Niko terus-menerus mengutuk Arya. Dia tidak tahu apa yang temannya itu lakukan sehingga ibunya mau menikahinya.


Ini membuat kecurigaannya semakin kuat.


Selama satu minggu terakhir, Yuki selalu mengunjungi Arya di rumah sakit, jadi dia curiga kalau Arya melakukan semacam trik agar ibunya jatuh cinta padanya.


Selain itu, karena penampilan Yuki yang cantik, Niko yakin bahkan Arya sekalipun akan tergugah.


Saat tiba di sekolah, Niko langsung mencari Arya untuk meminta penjelasan.


Setelah berkeliling sedikit, Niko akhirnya menemukan Arya sedang duduk di kelasnya dan mengobrol bersama seorang gadis cantik.


Tanpa ragu, dia mendekatinya.


"Arya, apa yang kau lakukan pada ibuku hingga dia mau menikahimu?"


Niko berhenti tepat di depan Arya dan langsung bertanya dengan dingin sambil mengarahkan jari tengahnya ke Arya.


Mendengar ini, gadis cantik di dekat Arya terkejut dan matanya melotot pada Arya. Matanya dipenuhi kecemburuan dan kecurigaan.


Berbeda dari gadis itu, Arya malah tertawa kecil dan tersenyum lalu berkata dengan santai.


"Benarkah? Kalau begitu baguslah. Aku akan langsung datang nanti malam."


Arya menatap Niko tanpa rasa bersalah. Lagi pula, Yuki adalah seorang wanita yang memiliki kecantikan kelas atas, jadi jika dia benar-benar ingin menikahinya, maka Arya tentu tidak akan menolak.


Meski Arya terdengar bercanda tapi candaannya tidak lucu dan membuat Niko dan gadis tadi kesal bukan main.


Tiba-tiba, Arya merasakan pipinya terasa sakit.


Melirik ke samping, dia melihat gadis tersebut yang dari tadi diam mencubit pipinya dan menariknya dengan keras. Tampaknya gadis itu menggunakan seluruh tenaganya.


"Arya, ingat. Kamu sudah memiliki aku! Apakah kamu masih perlu wanita lain?"


Gadis tersebut bertanya dengan tersenyum tapi matanya menunjukkan amarah.


Merinding, Arya segera memucat dan berkeringat dingin. Dia dengan cepat melambaikan tangannya dan berkata.


"Ratuku, jangan bercanda begitu. Aku hanya mencintaimu, jadi bagaimana bisa aku memerlukan wanita lain?"


Ketika Arya berkata demikian, gadis tersebut memerah dan mengalihkan pandangannya. Tangannya yang mencubit Arya perlahan mengendur dan dia menariknya kembali.


Melihat gadis itu tersipu, Arya hanya memandangi dengan senyuman hangat dengan tangannya yang menopang dagunya.


Merasa diabaikan, Niko mengutuk Arya sekali sebelum dia akhirnya berbalik dan pergi ke kelasnya sendiri.


Gadis tersebut, yang sedang memerah karena dipuji oleh Arya bernama Lucy.


Dia merupakan teman masa kecil Arya dan juga merupakan seorang gadis yang dicintainya olehnya. Keduanya bahkan sudah saling mencintai sejak kecil.


Selain itu, Lucy juga memiliki kecantikan kelas atas, bahkan di seluruh SMA Daeil ini, dia merupakan gadis yang paling cantik dari seluruh gadis yang ada di sekolah ini.


Bukan hanya karena kecantikannya, tapi Lucy juga memiliki lekuk tubuh yang sempurna.


Rambutnya yang hitam panjang sangat serasi dengan wajahnya yang cantik dan putih seperti salju.


Dua puncak kembarnya juga cukup besar, lebih besar dari rata-rata gadis seusianya. Bibirnya yang mungil dan berwarna merah alami itu juga terlihat menggoda. Kulitnya yang putih seperti salju juga memiliki kelembutan bagaikan sutra.


Pinggang Lucy juga ramping tanpa lemak berlebih.


Dengan kecantikan seperti ini, Arya jelas merupakan seseorang yang diberkati dengan wanita cantik.


Karena kecantikan yang dimiliki Lucy, banyak pria yang mencoba mendekatinya, tapi mereka semua gagal karena hati Lucy sudah benar-benar jadi milik Arya seorang.


Ketika Arya sedang mengobrol dengan Lucy, bel berbunyi, menandakan bahwa pelajaran akan dimulai.


Ketika pelajaran dimulai, seorang guru pria berusia empat puluhan memasuki kelas dan memberikan sebuah pengumuman bahwa sekolah akan diliburkan untuk beberapa bulan ke depan.


Untuk alasan mengapa sekolah diliburkan adalah karena hilangnya tiga belas orang siswa. Diantaranya adalah Roy dan kelompoknya.


Mereka menghilang secara tiba-tiba dan tidak dapat ditemukan ataupun dihubungi. Mereka sudah tidak terlihat selama seminggu, membuat para orang tua mereka khawatir.


Para orang tua sudah melaporkan ini pada pihak SMA Daeil dan sekolah langsung mengambil tindakan dan bekerja sama dengan pihak kepolisian. Tapi, meski sudah mencari selama satu minggu, hasilnya nihil dan Roy beserta kelompoknya tidak ditemukan dimanapun.


Para polisi menduga bahwa hilangnya Roy dan kelompoknya adalah karena kasus penculikan. Dan saat ini, pihak kepolisian dan SMA Daeil masih berusaha mencari penculiknya.


Melihat belum ada hasil meski sudah seminggu, para orang tua siswa yang hilang merasa kecewa dengan kinerja para polisi dan pihak SMA Daeil. Mereka marah dan melampiaskan semuanya pada kepala sekolah, membuat kepala sekolah sakit kepala dan mengambil keputusan untuk meliburkan sekolah selama beberapa bulan ke depan hingga masalah hilangnya tiga belas orang siswa ini terselesaikan.


Para siswa yang mendengar ini merasa pengumuman senang bukan main. Mendapat libur selama beberapa bulan merupakan suatu kebahagian bagi para siswa. Mereka segera bersorak bahagia. Tapi meski begitu, mereka juga cukup terkejut karena hilangnya tiga belas orang siswa ini. Tapi setelah mengetahui yang hilang adalah Roy dan kelompoknya, mereka mengabaikannya.


Bagaimanapun, Roy dan kelompoknya adalah sekelompok pembuat onar dan banyak yang membenci mereka.


Setelah pengumuman singkat, para siswa diizinkan pulang ke rumah masing-masing dan diperingatkan untuk berhati-hati agar tidak terjadi kasus penculikan seperti ini lagi.


Ketika para siswa lainnya diizinkan pulang, Arya yang hendak keluar kelas tiba-tiba dipanggil seorang guru dan diperintahkan untuk ke ruang kepala sekolah secepatnya.


Mendengar ini, Arya tidak terlalu terkejut. Dia sudah menduga kalau ini akan terjadi.


Bagaimanapun, dia pernah terlibat dengan Roy dan kelompoknya beberapa kali di masa lalu. Dan beberapa hari terakhir, dia juga terlibat olehnya. Tentu beberapa orang mencurigainya dan ingin menanyakan beberapa hal.


Arya hanya mengangguk dan segera pergi ke ruang kepala sekolah.


Melihat Arya pergi, Lucy segera mengerutkan dahinya. Dia segera mengikuti Arya dan menghalanginya.


"Lucy, ada apa?"


"Tidak ada, tapi aku ingin menanyakan satu hal padamu."


Lucy memasang ekspresi serius di wajahnya. Dia perlahan mendekati Arya, berjinjit dan menangkupkan tangannya di dekat telinganya lalu berbisik pada Arya.


"Tiga belas orang siswa yang hilang ini, kamu tidak membunuh mereka, kan?"


Lucy bertanya dengan suara rendah agar orang lain tidak mendengarnya.


Seperti yang dia katakan, Lucy merupakan satu dari sekian orang yang mengetahui kalau Arya adalah seorang pembunuh. Dia juga mengetahui kalau Arya sudah membunuh sejak tahun pertama SMA.


Lucy sudah pernah beberapa kali menyuruh Arya untuk berhenti membunuh, tapi dia gagal membujuknya.


Tapi meski begitu, Lucy masih tetap mencintai Arya meski dia seorang pembunuh.


Lucu juga bertekad, bahwa suatu hari nanti dia akan membuat Arya berhenti membunuh untuk selamanya.


Mendengar suara manis Lucy di telinganya, Arya hanya menjawab dengan dingin.


"Ya, aku membunuh mereka."


Mengatakan demikian, Arya langsung melewati Lucy dan mengabaikannya.


*****


Di ruangan kepala sekolah, seorang wanita paruh baya sedang duduk di meja kerjanya sambil mengobrol dengan seorang polisi yang duduk tidak jauh darinya.


Tidak lama kemudian, suara ketukan pintu terdengar dan Tuti, sebagai kepala sekolah segera menyuruh yang mengetuk untuk masuk.


Kemudian, sosok Arya memasuki ruangan kepala sekolah. Dia menyapu seluruh ruangan dengan matanya yang tajam sebelum tatapannya berhenti di seorang pria berusia empat puluhan, yang merupakan seorang polisi.


Tuti lalu mengenalkan Arya kepada polisi tersebut dan begitu juga sebaliknya.


Setelah perkenalan singkat, polisi tersebut berdiri dan menyapa Arya tapi yang terakhir mengabaikannya.


"Jangan bertele-tele, katakan saja apa yang ingin kau katakan dan semuanya selesai."


Arya berkata dengan acuh tak acuh, membuat polisi tersebut berkedut kesal tapi dia menahannya.


Polisi tersebut terbatuk ringan kemudian berkata.


"Baiklah, seperti yang diketahui kalau kau pernah terlibat dengan Roy dan kelompoknya. Roy dan kelompoknya hilang selama satu minggu ini, apakah kau mengetahui sesuatu?"


"Tidak, aku tidak mengetahui apapun."


"Baiklah, tapi aku mendapat informasi kalau selama Roy dan kelompoknya hilang, kau juga absen selama satu minggu juga. Kemana kau pergi?"


"Aku dirawat di rumah sakit karena berkelahi dengan Roy dan kelompoknya. Aku awalnya diajak mereka ke gang dekat sekolah dan mereka tiba-tiba memukuliku hingga babak belur dan aku berakhir dirawat di rumah sakit."


Arya menjelaskan dengan singkat. Tentu saja, dia berbohong saat ekspresinya dingin, membuat polisi tersebut bingung, apakah Arya berbohong atau tidak.


"Jika kau berkelahi dengan mereka sebelumnya, kau seharusnya bilang. Di mana kau berkelahi dengan mereka?"


Polisi tersebut bertanya dan Arya segera memberitahu tempat dia dipukuli oleh Roy dan kelompoknya di gang dekat sekolah.


Polisi tersebut mempercayai Arya untuk sementara dan dia segera melakukan penyelidikan di gang tersebut.