Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 135 - Menemani Emily



"Emily, kamu takut aku merebut Arya, kan?"


Lucy tiba-tiba bertanya, memasang senyum lembut.


Emily terkejut dan langsung menatap Lucy dengan wajah memerah.


"A-apa maksudmu, Lucy?! Tidak mungkin aku takut Kak Arya direbut!" Emily tergagap.


"Benarkah? Tapi matamu mengatakan jika kamu takut Arya akan direbut darimu. Tenang saja, aku tidak akan merebut Arya darimu. Dia bukan milikku sepenuhnya, dia adalah milik semua orang."


"Kamu tidak akan merebut Kak Arya, Lucy? Benarkah itu? Apakah aku tetap boleh berada di sisinya?" Kata Emily, menatap Lucy dengan rumit.


"Tentu, Emily. Bagaimanapun, Arya adalah kakak sepupumu. Jadi, tentu kamu tetap boleh bersama dan terus berada di sisinya."


Mata Emily berbinar mendengarnya. Rasa bahagia memenuhi hatinya. Beban di hatinya akhirnya terangkat begitu mendengar jika dia tetap boleh berada di sisi Arya.


Emily benar-benar takut Arya direbut oleh Lucy. Jika itu terjadi, dia mungkin akan kehilangan kakak sekaligus teman baginya.


Dulu, saat SMP Emily dibully habis-habisan, dia tidak memiliki teman sama sekali. Dia tidak tahu alasan mengapa dia dibully tapi yang pasti, Emily pernah mendengar jika orang-orang membullynya karena itu menyenangkan.


Semenjak Emily dibully, dia sama sekali tidak memiliki teman dan Arya adalah satu-satunya temannya saat dia sedang terpuruk dalam trauma karena bullying yang dia alami.


Setiap kali Emily bercerita tentang kesedihannya karena dibully, Arya selalu mendengarkannya dan selalu memperhatikannya dengan baik. Arya merupakan sosok kakak yang selalu bisa diandalkan.


Bukan hanya kakak, tapi Arya juga teman bagi Emily.


Namun, ketika melihat kemesraan Arya dan Lucy beberapa hari yang lalu, Emily merasa jika Arya telah direbut oleh Lucy dan tidak akan pernah kembali padanya. Jika sudah seperti itu, maka Emily akan kehilangan sosok kakak dan teman.


Oleh karena itu, selama Arya dan Lucy pergi ke kota Bern, dia berpikir keras bagaimana caranya agar dia bisa tetap bersama Arya. Namun, semua usahanya sia-sia karena ternyata Lucy tidak mempermasalahkan jika dia berada di sisi Arya.


Menatap Lucy, Emily berkata dengan ragu.


"Um... Lucy, bolehkah aku meminjam Kak Arya nanti malam?"


Lucy terkejut mendengarnya, hampir mengutuk dalam hati.


'Apa maksudmu meminjamnya di malam hari? Apakah kamu memiliki rencana busuk, Gadis Kecil?' Pikir Lucy, menahan kedutan.


Dia tidak pernah menyangka jika gadis ini malah meminta jantung padahal sudah diberi hati.


"Tentu, aku akan memberi kalian waktu berdua untuk mengobrol."


Lucy mengangguk, namun nadanya penuh penekanan dan matanya menunjukkan peringatan.


Pada saat yang sama, Arya yang mencari kakeknya menemukannya di dapur, sedang menyantap makanannya.


"Oh, kamu sudah pulang?"


Erwin berkata dengan mulut penuh makanan, agak terkejut melihat Arya sudah pulang.


"Ya, Kek. Aku sudah pulang. Baru saja tiba."


"Baguslah. Bagaimana kabar ibumu?"


"Mama sehat, Andhika juga sehat. Oh, ya. Mama bilang padaku untuk menyampaikan jika Kakek tidak boleh terlambat makan."


"Tenang saja, aku tidak akan terlambat makan." Erwin terkekeh.


Arya mendengus ringan, tersenyum. Dia sangat bahagia jika kakeknya sehat dan bugar seperti biasanya.


"Kek, mungkin tiga minggu lagi aku akan mengadakan study tour. Aku akan pergi selama sepuluh hari paling lama."


"Ya, Kek. Ngomong-ngomong, besok aku boleh menginap di rumah Lucy, kan? Menurut perjanjian yang kita buat, aku harus berada di rumah selama dua minggu penuh di sini dan ini sudah dua minggu lebih. Jadi..."


"Ya, kamu boleh menginap di sana. Namun, ingatlah untuk kembali ke sini. Kamu hanya boleh menginap di sana tiga hari selama satu minggu."


"Hm? Bukankah itu tidak sesuai perjanjian kita? Yah, biarlah." Arya agak terkejut dengan perubahan perjanjian tiba-tiba dari Erwin, namun dia tidak mempermasalahkannya.


Setelah kembali ke kota Bern dan menghabiskan waktu bersama Rosa dan Andhika, dia merasa jika lebih baik baginya untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya daripada bersama kekasihnya.


Setelah itu, Arya dan Erwin mengobrol sedikit sebelum Arya pergi ke kamarnya untuk meletakkan barang bawaannya.


Ketika Arya sedang berberes, Lucy masuk ke dalam kamarnya dan mengatakan padanya untuk menemui Emily karena gadis itu punya sesuatu untuk dibicarakan dengannya.


Arya mengangguk dan segera menemui Emily di ruang tamu.


"Emily, kamu mencariku?"


"Eh? Iya, aku memiliki hal yang ingin dikatakan padamu, Kak."


"Oh, apa itu?" Arya duduk di sebelah Emily.


"Itu... Malam ini, bisakah kamu datang ke kamarku? Temani aku tidur, ya."


Nada Emily manja dan memohon. Dia menatap Arya dengan matanya yang lembab, seakan jika Arya menolak, dia akan menangis.


Arya agak terdiam, agak terkejut. Dia tidak tahu mengapa, tapi adik sepupunya ini tiba-tiba bersikap manja padanya. Dia tidak mempermasalahkannya, karena Emily pada dasarnya manja padanya. Tapi, itu sudah cukup lama.


Ketika Emily manja seperti biasanya, Arya agak canggung untuk menanggapinya.


"Tapi, kenapa tiba-tiba begini? Juga, bukankah ada Lucy yang menemanimu malam nanti? Aku masih berada di rumah hari ini."


"A-aku tahu itu... Tapi, Lucy bilang dia akan berada di kamarmu. Dia memberi kita waktu untuk mengobrol berdua."


"Um... Baiklah jika begitu. Tapi, aku tidak bisa menemanimu sampai pagi. Paling banyak, aku hanya bisa menemanimu sampai tertidur. Tidak masalah?"


"Tidak masalah, kupikir." Emily mengangguk, sedikit enggan.


*****


Malam harinya, sekitar jam sembilan malam.


Seperti yang sudah dibicarakan oleh Arya dan Emily, Arya datang ke kamar Emily untuk menemaninya tidur karena adik sepupunya itu mulai bersikap manja lagi padanya. Ini agak merepotkan baginya, tapi dia tetap melakukannya karena dia menyayangi adiknya itu.


Masuk ke dalam kamarnya, Arya melihat Emily duduk di tepi kasur dengan wajah memerah.


Emily menatap Arya sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke bawah. Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang tanpa dia ketahui alasannya. Dia sudah pernah meminta ditemani tidur seperti ini dulu, tapi jantungnya tidak pernah berdetak secepat ini sebelumnya. Dia bahkan merasa gugup ketika melihat Arya semakin mendekat.


"Sudah mau tidur, Emily?"


"Be-belum. Bisakah kamu menceritakan sesuatu padaku, Kak? Ceritakan aku suatu dongeng atau apapun itu agar aku bisa tertidur." Emily menggeleng.


"Cerita, ya? Sepertinya itu akan agak sulit."


Arya tersenyum masam. Dia tidak pandai dalam menceritakan suatu dongeng, jadi dia kurang yakin jika dia bisa melakukannya.


Arya kemudian memikirkan beberapa cerita yang pernah dia dengar ataupun dia lihat dalam sebuah film.


Melihat Arya berpikir, Emily terkekeh kecil dan berbaring di kasurnya. Dia menatap Arya dengan lekat sambil menunggunya menceritakan sebuah cerita.