Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 22 - Hanya Seratus Juta? Murah!



Saat Lucy tiba di kelasnya, dia terkejut karena suasana kelasnya sangat sunyi dan ada sedikit ketakutan di mata beberapa siswa.


Ini membuat Lucy kebingungan.


Biasanya, seluruh teman sekelasnya akan menatapnya dengan jijik ataupun dengan vulgar. Tapi saat ini, mereka semua gemetar ketakutan dan menatap Lucy, segera mendekatinya.


"Lucy, maafkan aku! Aku hanya diperintahkan Rui!"


"Lucy, aku tidak bermaksud menyebarkan rumor buruk tentangmu. Aku termakan rumor murahan, mohon maafkan aku!"


"Lucy, aku bersalah di sini! Tolong maafkan aku!"


Lucy segera dikerumuni hampir seluruh teman sekelasnya. Mereka semua meminta maaf sambil meringis.


Beberapa gadis bahkan sampai menangis saat meminta maaf padanya.


Lucy sangat terkejut dengan ini. Dia linglung selama beberapa saat sebelum akhirnya menyadari sesuatu.


'Arya pasti melakukan sesuatu!'


Lucy berseru dalam hatinya.


Dia sangat yakin kalau Arya melakukan sesuatu tanpa sepengetahuannya.


Jika tidak, mereka semua tidak akan bersikap demikian padanya.


Selain itu, Arya yang biasanya selalu menjemputnya setiap hari tiba-tiba tidak menjemputnya, membuat Lucy semakin yakin kalau Arya adalah penyebab semua ini terjadi.


Mendengus dingin, Lucy menatap semua orang dengan jijik dan berkata.


"Kalian meminta maaf dengan mudah setelah semua yang terjadi? Apakah kalian bodoh atau tidak memiliki otak? Kalian semua menyebarkan rumor buruk tentangku, mencoret mejaku, melempariku dengan sampah dan semacamnya. Kalian bahkan meneriakiku murahan beberapa hari yang lalu! Dan sekarang, kalian meminta maaf dengan mudahnya? Kalian bermimpi!"


Nada Lucy sedingin es, membuat wajah semua orang menjadi suram.


Setelah mengatakan hal tersebut, Lucy merasa lega dan segera berbalik, mencari Arya.


*****


Di ruang BP, Arya sedang duduk dengan tatapan dingin sementara di hadapannya adalah Rui yang menangis dengan pipi bengkak dan merah karena ditampar Arya berkali-kali.


Di sebelah Rui, duduk seorang wanita berusia empat puluh tahun lebih. Wanita tersebut menenangkan Rui dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Wanita tersebut terus-terusan mengelus kepala Rui sambil berbisik padanya.


Wanita tersebut memiliki wajah yang mirip dengan Rui, jadi secara alami dia adalah ibunya.


Perlahan, Ibu Rui mengalihkan pandangannya ke Arya dengan tatapan tajam dan penuh kebencian.


"Bocah, apakah kau tahu apa yang telah kau perbuat pada putriku?!"


"Huh, putrimu pantas mendapatkannya!"


Arya mendengus dingin, menyebabkan Ibu Rui menggertakkan giginya karena marah.


Sementara itu, tidak jauh dari tempat Arya duduk, terlihat seorang wanita berusia empat puluhan berkeringat dingin sambil melirik Arya, meminta bantuannya agar bekerja sama.


Wanita tersebut merupakan Guru BP.


"Arya, bisakah kamu menceritakan alasanmu menampar Rui?"


Guru BP bertanya dengan hati-hati saat wajahnya berkedut. Dia sangat muak dengan Arya karena pemuda tersebut sudah sangat sering membuat masalah dari tahun pertamanya. Dia sangat sering meladeni Arya di ruang BP ini, jadi dia tidak asing dengan pemandangan semacam ini.


Tapi yang menjadi masalah adalah kali ini Arya membuat masalah dengan Rui, yang orang tuanya merupakan salah satu pengusaha ternama di kota Century.


Ini membuat kepalanya sakit dan dia ingin sekali memukul Arya sekali saja jika diizinkan.


Mendengar pertanyaan Guru BP, Arya menjelaskan semuanya dengan singkat namun jelas.


Rui sempat membantah beberapa kali tapi dia langsung terdiam saat melihat tatapan dingin Arya.


Ada pun untuk Ibu Rui, dia juga membantah Arya dan membela putrinya dengan sangat berlebihan.


Kemudian, karena inti masalah ini ada pada Lucy, gadis tersebut akhirnya dipanggil ke ruang BP dan dia juga memberikan penjelasan yang sama seperti yang Arya berikan tadi.


"Gadis kecil, jangan berani-beraninya berbohong! Kau pasti iri dengan Rui, makanya kau melakukan ini semua dan bekerja sama dengan pacarmu!"


Ibu Rui mengalihkan pandangannya ke Lucy dan meneriakinya.


Lucy mengerutkan dahinya dan ingin membantah, tapi dia segera dihentikan oleh Arya.


"Maaf saja, tapi putrimu sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan Lucy, jadi mengapa Lucy harus merasa iri dengan Rui?"


"Huh, bocah kecil bodoh! Kau sungguh tidak tahu kelebihan Rui, lihat wajahnya. Dia cantik, berpendidikan, sopan dan yang terpenting, dia memiliki orang tua yang kaya dan bisa memberikan apa yang dia inginkan!"


Ibu Rui memuji Rui dengan penuh sanjungan.


"Tapi sekarang, wajah cantik putriku rusak karena kau! Kau menampar wajah putriku hingga begini! Apakah kau tahu berapa banyak biaya yang dibutuhkan untuk merawat wajah cantiknya?!"


Ibu Rui berkata dengan marah.


Wajah Arya dan Lucy menjadi suram mendengar ocehan wanita ini.


Terutama Lucy, dia marah karena Ibu Rui menyinggung tentang orang tua sedangkan ayah dan ibu Lucy sendiri sudah meninggal cukup lama, membuat Lucy ingin meneriakinya dengan meluapkan semua amarahnya.


Tapi sebelum Lucy mengeluarkan suaranya, suara Arya terdengar lebih dulu.


"Kau pikir hanya dirimu saja yang kaya? Aku juga memiliki uang yang banyak jika kau ingin tahu!"


"Baiklah, katakan saja harganya dan akan kubayar. Tapi tentu saya, semuanya ada syaratnya."


"Katakan saja syaratnya, tidak perlu bertele-tele!"


"Syaratnya cukup mudah. Seandainya aku bisa membayar ganti rugi yang kau minta, maka aku ingin Rui membuat permintaan maaf pada Lucy di depan umum dan mengatakan semuanya dengan jujur."


Arya tersenyum mengejek.


"Sepakat! Aku terima syaratmu. Untuk uang ganti ruginya, aku ingin seratus juta!"


Ibu Rui dengan sengaja meminta ganti rugi yang banyak, berharap kalau Arya terkejut dan mengakui bahwa dia sebenarnya hanya beromong kosong.


Lucy dan Guru BP terkejut dengan ini sementara Rui hanya tertawa puas secara diam-diam.


Beralih pada Arya, dia tidak menunjukan keterkejutan. Wajahnya tetap tenang dan perlahan, senyum meremehkan menghiasi wajahnya.


"Hanya seratus juta? Murah!"


Arya segera berdiri dari tempatnya dan keluar dari ruang BP.


Baginya, uang seratus juta memang banyak tapi itu masih dalam kemampuannya. Semenjak dia memiliki toko roti, dia mendapat puluhan juta bahkan seratus juta dalam sebulan.


Jadi ketika Ibu Rui meminta seratus juta darinya, dia segera menyetujuinya.


Kembali di ruang BP, Lucy memiliki ekspresi rumit di wajahnya. Dia tidak menyangka kalau masalah rumornya bisa menjadi masalah yang besar hingga menyebabkan Arya harus ganti rugi sebanyak seratus juta.


"Nyonya, bisakah Anda tidak mempersulit murid Arya? Bagaimanapun, dia masih muda dan sering membuat kesalahan. Saya harap Anda bisa memaafkan Arya."


Guru BP mendekati Ibu Rui dan berkata dengan hati-hati sambil meminta maaf, mewakili Arya.


Meski Arya sering membuat masalah dan membuatnya sakit kepala, tapi Arya memiliki hubungan yang cukup baik dengan kepala sekolah, jadi dia tidak ingin membuat Arya dalam kesulitan. Dia takut Arya meminta bantuan kepala sekolah dan jabatannya sebagai guru mungkin terancam.


Ibu Rui hanya diam dan mengabaikan Guru BP, membuatnya berkedut tapi dia berkata apa-apa.


*****


Sekitar satu jam kemudian, Arya kembali dengan membawa koper yang cukup besar di tangannya. Dia memasuki ruang BP dengan senyum licik saat dia melemparkan koper tersebut ke hadapan Ibu Rui.


"Ini uangmu, ambil dan enyahlah dari sini!"


Arya menyilangkan tangannya dan mendengus dingin.


Ibu Rui terkejut sesaat sebelum akhirnya dia tertawa, menertawai kebodohan Arya.


Yang dia tidak ketahui adalah bahwa yang ada di dalam koper tersebut sebenarnya adalah uang berjumlah seratus juta.


Mengambil koper tersebut, Ibu Rui membukanya dengan perlahan.


Matanya yang awalnya tenang segera melebar saat dia melihat uang yang memenuhi koper tersebut.


"Ini... Ini..."


Rui yang berada di sebelah ibunya menjadi terbata-bata. Dia jelas sangat terkejut.


Guru BP yang penasaran akhirnya melirik dan ikut terkejut.


Hanya Lucy yang memiliki ekspresi bersalah.


"Tidak mungkin! Ini pasti uang palsu!"


Ibu Rui tidak menerima hal ini. Dia menutup kembali koper itu dan menyingkirkannya dari hadapannya.


Dia tidak mengharapkan ini terjadi.


Awalnya, dia hanya berniat untuk mempermalukan sekaligus menggertak Arya karena sudah membuat pipi Rui menjadi bengkak dan merah karena ditampar.


Tapi sekarang, dia menyesali keputusannya. Dia tahu bahwa uang yang Arya bawa adalah uang asli.


"Jadi, kau tidak ingin uang ini? Tidak masalah, aku bisa mengambilnya kembali."


"Tidak! Uang ini milikku!"


Ibu Rui mengambil kembali koper tersebut sebelum Arya bisa mengambilnya kembali.


Setelah ditunjukan uang sebanyak itu, bagaimana Ibu Rui bisa menolak? Dia jelas menerimanya meski merasa malu!


Arya hanya tertawa mengejek melihat wanita yang tidak tahu malu ini.


Kemudian, Ibu Rui meraih lengan Rui sementara tangan lainnya membawa koper tersebut dan dia pergi keluar ruang BP sambil menyeret Rui.


"Jangan lupa syarat yang kita sepakati tadi! Rui masih harus meminta maaf di depan umum dan mengakui semua perbuatan buruknya!"


Arya meraih lengan Rui dan menariknya.


Ibu Rui mengalihkan pandangannya ke Arya dengan marah tapi pada akhirnya, dia menelan amarahnya.


Esok harinya, Rui tiba-tiba meminta maaf di depan umum dan memberi tahu semua perbuatan buruknya pada Lucy.


Banyak dari para siswa lainnya yang mempercayai rumor buruk tentang Lucy tanpa dibayar Rui terkejut saat mengetahui bahwa ternyata semua rumor itu palsu dan hanya buatan. Mereka menyesal dan meminta maaf pada Lucy.


Bukan hanya itu, Rui juga meminta maaf pada Lucy dan dia juga mengumumkan kepindahannya ke sekolah lain.


Tentu saja, setelah semua perbuatan buruknya terungkap, Rui merasa sangat malu, menyebabkan dia harus pindah sekolah dan dia juga menyalahkan Arya atas semua yang terjadi.