Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 105 - Permintaan David



Beberapa hari kemudian, di SMA Daeil, Lucy yang sudah absen selama hampir satu minggu itu akhirnya kembali bersekolah. Dia saat ini sedang menuju kelasnya, berjalan melewati koridor sambil membalas sapaan orang-orang di sekitar, yang sebenarnya dia tidak mengenali siapa saja yang menyapanya.


Sepertinya, karena beberapa hal dia menjadi terkenal.


Tentu saja, karena Lucy sendiri menjadi seorang gadis tercantik nomor dua di seluruh SMA Daeil ini, jadi wajar banyak yang mengenalnya, meski Lucy sendiri tidak mengenal mereka.


Ketika hampir tiba di kelasnya, Lucy membeku. Dia melihat sepasang kekasih baru saja meninggalkan kelasnya.


Pasangan kekasih itu jelas Arya dan Lylia. Keduanya baru saja keluar dari kelas sambil berpegangan tangan dan saling tertawa ketika mereka mengobrolkan beberapa hal.


Lucy yang melihat ini dari kejauhan merasakan sakit di dadanya. Dia kemudian menatap punggung keduanya sampai mereka berdua benar-benar jauh dari kelas, dia baru memasuki kelasnya.


Ketika jam istirahat makan siang tiba, Arya dan Lylia yang baru saja selesai menyantap makan siang mereka duduk dan mengobrol santai di kantin.


Mereka mengobrolkan banyak hal, terutama Arya yang menceritakan beberapa hal lucu yang pernah dia alami dalam hidupnya.


Lylia tertawa beberapa kali sebagai tanggapan. Dia sebenarnya sedang ragu tentang memberitahu Arya masalah kepindahannya bulan depan. Dia sangat ingin memberitahu Arya, tapi setiap kali dia ingin membahas hal ini, dia selalu saja melihat senyum hangat Arya, membuatnya tidak sanggup mengatakan kepindahannya.


Pada akhirnya, Lylia berniat tutup mulut tentang kepindahannya.


Ketika sedang mengobrol santai, Arya tiba-tiba menerima telepon dari seseorang. Dia melihat layar handphonenya, mengetahui jika yang menelepon adalah David.


Arya segera menerima telepon itu.


"Arya, apakah kau sibuk setelah pulang sekolah nanti?"


"Tidak, Kak. Aku sepertinya luang setelah pulang sekolah nanti."


"Baguslah. Aku perlu bantuanmu, Arya. Aku sedang mencari pekerjaan saat ini dan mungkin aku akan kembali malam hari nanti. Jadi, bisakah kamu mengantarkan Lucy pulang dan menemaninya sampai aku kembali? Lucy akan sendirian di rumah jika kamu tidak datang."


Arya terkejut mendengar ini. Dia segera mengerutkan dahinya dengan tidak senang.


"Kak, aku memiliki hubungan buruk dengannya. Kakak tahu itu, kan? Juga, bukankah Kakak sendiri mengatakan jika aku tidak menghilangkan kesalahpahamanku pada Lucy, kamu tidak akan membiarkanku menemuinya lagi? Kak, kamu melanggar kata-katamu!"


"Baiklah, Arya. Cukup. Saat itu aku sedang dalam emosi yang buruk, oke? Jadi, aku benar-benar meminta bantuanmu kali ini. Kita saudara, benar?"


Dari sisi lain telepon, Arya bisa mendengar David berkata dengan lembut dan jelas membujuknya.


Arya berdecak kesal, menolak beberapa kali sebelum akhirnya pasrah dan memenuhi permintaan kecil kakaknya itu.


Mematikan teleponnya, Arya menghela napas panjang.


"Jadi, siapa yang meneleponmu, Arya? Aku mendengar nama Lucy disebutkan tadi."


Lylia yang berada di hadapan Arya bertanya dengan senyuman dingin ketika dagunya terpangku pada tangannya yang bertumpu pada meja.


Arya menelan ludah tanpa sadar. Ini adalah pertama kalinya dia melihat senyum dingin Lylia.


"Lylia, yang meneleponku tadi adalah kakak Lucy. Dia memintaku untuk mengantarkannya pulang, karena kakaknya sedang pergi mencari pekerjaan."


"Oh, jadi kamu menuruti permintaannya? Kamu akan pergi mengantarkan orang yang pernah kamu cintai?"


"Lylia, dengarkan aku..."


"Huh, aku tidak mau dengar. Aku sakit hati di sini."


Lylia mendengus dingin, buang muka dengan cara yang imut bagi Arya.


Arya tertawa kecil, lalu membujuk Lylia selama kurang lebih setengah jam sebelum akhirnya kekasih kesayangannya itu mengizinkannya mengantarkan Lucy pulang.


*****


Pada saat jam pulang sekolah tiba, Arya sudah berada di parkiran motor. Tentunya, dia bersama Lucy.


Namun, semuanya tidak berjalan lancar. Lucy malah tidak naik ke motor Arya. Dia justru berdiri tidak jauh dari pemuda itu, menundukkan kepalanya dengan bibir mengerucut. Jelas, dia sedang cemberut.


"Hei, cepatlah naik. Saya masih memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan."


Arya berkata, sedikit kesal. Dia ingin segera pulang dan istirahat di rumah. Tapi, gadis ini malah tidak mau naik motornya dan malah berlama-lama.


"Tidak mau, kamu galak padaku. Aku tidak mengenalmu, karena Arya yang kukenal tidak akan galak padaku."


Lucy berkata, sepenuhnya cemberut. Dia menendang ringan kerikil di dekat kakinya dan tidak mau mengangkat kepalanya untuk menatap Arya.


Arya yang melihat Lucy cemberut ini merasa aneh. Sudah cukup lama dia tidak melihat wajah cemberut Lucy yang menggemaskan.


"Lucy, ayo naik. Aku akan mengantarmu pulang. Kamu pasti lelah, kan?"


Arya mencoba bersikap lunak. Dia melembutkan nadanya meski dia benci ini. Namun, jika dia tidak melakukannya, Lucy pasti tidak akan naik motornya dan dia tidak akan pulang dengan cepat.


Lucy agak terkejut dengan ini. Dia tidak berharap Arya akan mengubah sikapnya begitu cepat. Mengangkat kepalanya, Lucy menatap Arya.


"Baiklah, aku akan naik tapi kamu harus menemaniku sampai kakak pulang, oke?"


"Anda bermimpi! Jika Anda tidak mau pulang, maka jadilah!"


Arya menggertakkan giginya, mengubah sikapnya menjadi dingin dan formal. Dia segera menancap gas motornya dan meninggalkan Lucy.


Lucy tercengang, membeku di tempat. Dia tidak menyangka jika Arya akan meninggalkannya hanya karena dia menggodanya sedikit.


"Arya, kamu benar-benar menyebalkan!"


Lucy mengutuk, menghentakkan kakinya beberapa kali. Dia benar-benar kesal saat ini.


"Lucy, kau belum pulang?"


Sebuah suara terdengar dari belakang.


Lucy menoleh dan melihat seorang pemuda tampan.


Wajah Lucy segera menjadi suram mengetahui yang memanggilnya adalah William.


"Apa pedulimu?" Kata Lucy dingin.


William tersenyum masam. Dia tidak tahu mengapa, tapi sepertinya Lucy sangat membencinya.


"Ngomong-ngomong, apakah kau sudah dijemput? Jika belum, bagaimana jika aku antar, Lucy?" William menawarkan.


Lucy tertegun sejenak, lalu mengerutkan dahinya dengan curiga.


Setelah berpikir cukup lama, Lucy hanya bisa pasrah dan menerima tawaran William meski dia malas. Dia tidak punya pilihan lain.


Dengan sikap Arya yang sekarang, Lucy yakin pemuda itu tidak akan kembali menjemputnya. Jika dia berjalan kaki, itu akan memakan waktu lama untuk sampai di rumah.


*****


Setelah pergi cukup jauh, Arya menepi sejenak. Dia menghela napas pelan. Dia kemudian putar balik, hendak menjemput Lucy kembali. Bagaimanapun, dia sebenarnya hanya bercanda. Dia melakukan ini agar Lucy menurutinya.


Namun, ketika Arya kembali, dia tidak melihat Lucy di parkiran motor. Dia melihat sekeliling dengan rasa sedikit bersalah dan cemas.


Tiba-tiba, telinganya secara tidak sengaja mendengar suara motor dinyalakan tidak jauh dari tempatnya. Dia juga mendengar suara seorang gadis yang familiar baginya.


Arya segera menuju sumber suara, mendapati ternyata Lucy pergi bersama orang lain.


Arya mengerutkan dahinya dengan ini, merasa curiga. Dia memiliki firasat buruk tentang ini, jadi dia segera mengikuti Lucy bersama orang tersebut secara diam-diam.