
Arya pergi mencari udara segar sambil menjernihkan pikirannya. Dia berkeliling ke beberapa tempat dengan motornya sampai akhirnya dia berhenti di sebuah taman ketika hari sudah sore.
Di bangku taman, Arya duduk dan menatap langit yang sudah mulai menguning. Dia menghela nafas panjang saat perasaan bimbang terus menghantuinya.
Arya sangat ingin menjadikan Lucy kekasihnya, tapi dia ragu jika dia bisa menjaganya dengan baik. Dia takut kehilangan salah satu orang yang paling berharga dalam hidupnya.
Menundukkan kepalanya, Arya merenung lama sebelum akhirnya dia memutuskan untuk mengabaikan rasa takut kehilangannya dan menjadikan Lucy kekasihnya agar hubungan mereka jelas dan pasti.
Meski sudah mengambil keputusan, Arya tetap duduk di bangku taman. Dia sedang berpikir kata-kata manis macam apa yang akan dia ucapkan nanti. Selain itu, dia yakin David sudah pulang dari bekerja.
Jika David tahu bahwa dia belum menyelesaikan masalahnya dengan Lucy, Arya yakin kalau kakak dari Lucy itu akan marah padanya dan dia jelas akan menerima bogem mentah darinya.
Setelah berpikir sejenak tentang kata-kata manis yang akan dia ucapkan nanti, Arya akhirnya kembali ke rumah Lucy.
Tiba di rumah Lucy, Arya masuk dan langsung di sambut oleh David.
"H-hai, Kak..."
Arya menyapa dengan canggung. Keringat dingin membasahi punggungnya saat matanya bertemu dengan mata David.
"Jadi, bagaimana hasilnya? Kamu sudah menyelesaikan masalahmu dengan Lucy, kan?"
"Ten-tentu saja sudah. Bagaimana mungkin aku..."
Sebelum Arya bisa menyelesaikan kata-katanya, sebuah tamparan keras mengenai pipinya hingga mendorong wajah Arya ke samping.
Tamparan itu sangat keras hingga membuat pipi Arya langsung merah.
David yang berada di dekat Arya terkejut ketika melihat pemuda itu ditampar secara tiba-tiba.
Perlahan, David menoleh dan melihat seorang gadis dengan rambut hitam dan wajah familiar sedang menatap Arya dengan marah dan penuh kebencian.
Jelas, gadis itu adalah adiknya, Lucy.
Seperti yang sudah Lucy rencanakan sebelumnya. Dia benar-benar menampar Arya ketika pemuda itu kembali.
Arya yang dia tampar jelas terkejut dan merasa marah. Dia memelototi orang yang menamparnya dan segera, matanya yang melotot tadi menjadi lebih lembut.
"Kamu bajingan! Brengsek! Tidak bertanggung jawab! Playboy! Buaya darat! Tidak berperasaan!"
Sudut mata lucy dipenuhi air mata dan dia segera menjatuhkan dirinya dalam pelukan Arya dan memukuli dada pemuda tersebut sambil mengutuknya berkali-kali.
Namun, pukulan yang dia berikan sama sekali tidak terasa sakit bagi Arya. Pukulannya terasa lembut dan hangat baginya.
Arya awalnya marah karena ditampar, tapi setelah Lucy menjatuhkan diri ke pelukannya, dia jadi melembut.
"Maaf, ayo kita pindah dan bicara sebentar. Ada yang ingin kukatakan padamu."
Arya memeluk Lucy dan mengelus kepalanya dengan lembut.
David yang melihat ini mendengus ringan.
Dari apa yang dia lihat, Arya dan Lucy belum menyelesaikan masalahnya dan masih bertengkar. Dia mau tak mau menggelengkan kepalanya sebelum berbalik, meninggalkan Arya dan Lucy.
Kembali pada Arya dan Lucy, keduanya pergi ke kamar Lucy karena Arya memiliki sesuatu untuk dikatakan padanya.
Arya langsung meraih kedua tangan Lucy dan mengusap punggung tangannya. Kedua berdiri berhadapan dan saling menatap.
Lucy terkejut dengan ini dan sepertinya, Arya akan membuat hubungan keduanya menjadi jelas.
"Lucy, aku..."
Arya berkata dengan ragu-ragu.
'Ayo katakan! Katakan padanya kalau kau mencintainya dan ingin menjadikan dia sebagai kekasihmu!'
Arya menyemangati dirinya sendiri dalam hati.
"Lucy, aku..." Arya masih terdengar ragu dan dia terdiam cukup lama.
Pada akhirnya, dia menundukan kepalanya dan membenamkan wajahnya ke pundak Lucy, menyembunyikan ekspresi sedihnya
"Sudah aku duga, aku tetap terpaku pada masa lalu."
Lucy tidak terlalu terkejut ketika mendengar ini. Dia sudah menduga kalau hal ini akan terjadi, makanya dia tidak terlalu berharap agar tidak sakit hati lagi.
Lucy perlahan mengelus kepala Arya dengan gerakan menyayangi.
"Um, tidak masalah jika kamu tidak bisa menjadikanku kekasihmu. Asalkan aku bisa terus bersamamu setiap saat, itu sudah cukup bagiku."
Arya terkejut dengan ini. Dia mengangkat kepalanya dan menatap Lucy dengan tidak percaya.
"Benarkah itu...? Tapi, bukankah kamu ingin..."
"Stt..." Lucy meletakkan jari telunjuknya di bibir Arya, memintanya agar diam.
"Ya, apa yang aku katakan tadi benar apa adanya. Awalnya aku memang ingin agar hubungan kita jelas dengan cara kita berpacaran. Tapi, setelah aku pikir-pikir kembali, jika kita benar pacaran nantinya, aku yakin tidak akan ada perubahan diantara kita. Kita akan tetap berpegangan tangan kemanapun kita pergi. Kita akan tetap selalu ciuman setiap pagi dan sebelum tidur. Juga, kita akan tetap tidur bersama setiap hari. Selain itu, "pacaran" hanya sebuah status. Setelah semua yang kita lalui, bukankah kita lebih terlihat seperti suami istri daripada sekedar teman dan pacar?"
Lucy tersenyum manis.
Arya tersipu malu saat mendengar kata "suami istri".
Tapi segera, dia merasakan bahwa dirinya tidak berguna dan tidak bisa diandalkan.
Memeluk Lucy dengan erat, Arya meminta maaf dengan tulus.
"Maaf." Kata Arya menyesal.
Arya segera melebarkan matanya, terkejut. Dia mendorong pundak Lucy dan menatapnya dengan kebingungan. Dia hanya berharap kalau telinganya salah dengar.
"Bisakah kamu mengatakannya sekali lagi? Sepertinya aku salah dengar."
"Tidak, kamu tidak salah dengar. Aku memang memintamu untuk tidur di luar malam ini."
"Ta-tapi, Lucy..."
Arya ingin mengatakan sesuatu tapi dia segera terdiam.
Lucy tersenyum yang bukan senyuman, membuat Arya merinding dan berkeringat dingin hanya dengan melihat senyum itu.
*****
Malam harinya, di teras samping rumah Lucy, terlihat seorang pemuda sedang berbaring di kursi panjang. Ya, pemuda itu adalah Arya.
Dia benar-benar tidur di luar sesuai dengan perintah Lucy.
Sebelumnya Arya sudah mencoba membujuk Lucy, tapi gadis itu sama sekali tidak mendengarkannya dan tetap menyuruhnya untuk tidur di luar.
Adapun David, dia hanya tertawa terbahak-bahak saat Arya memohon padanya untuk membujuk Lucy.
David sama sekali tidak merasa kasihan pada Arya. Sebaliknya, dia malah sangat mendukung ide Lucy untuk menyuruh Arya tidur di luar.
Lalu, kenapa Arya tidak pulang ke ruang kakeknya saja? Jawabannya sederhana.
Kunci motornya diambil dan disimpan oleh Lucy dan gadis itu tidak mau mengembalikannya padanya.
Sepertinya Lucy benar-benar ingin membuatnya tersiksa dengan cara membiarkannya tidur di luar.
Pada saat ini, Arya sedang berusaha untuk tidur. Tapi sayangnya, nyamuk-nyamuk selalu saja berterbangan di sekitar telinganya, membuat pemuda tersebut merasa risih sehingga tidak bisa tidur.
"Argh! Biarkan aku tidur, nyamuk-nyamuk sialan."
Arya mengutuk di malam yang sunyi itu.
Tiba-tiba, ketika Arya sedang mengutuk, suara pintu berderit terbuka terdengar. Dia langsung menoleh ke pintu dan terkejut ketika melihat Lucy yang membuka pintu.
Dia segera berpura-pura tidur dan membalikkan tubuhnya, memunggungi Lucy.
Lucy perlahan datang menghampiri Arya yang berpura-pura tidur itu. Dia kemudian jongkok di sebelah Arya, menatap punggungnya.
"Arya, ayo bangun kembali ke kamar. Temani aku tidur, ya?"
Lucy berkata dengan manja. Dia sebenarnya agak menyesal karena menyuruh Arya tidur di luar.
Lucy takut jika dia tidak mengajak Arya masuk, Arya malah jatuh sakit dan ini semua akan menjadi salahnya.
Arya yang dipanggil oleh Lucy tidak merespon. Dia hanya membuat suara mendengkur palsu.
"Arya, ayo kembali ke kamar. Istrimu ini sudah tidak marah lagi, kok."
Lucy berdiri dan berbisik di telinga Arya, sedikit menggodanya.
Arya terkejut dan langsung memerah. Meski begitu, dia tetap tidak merespon.
Lucy hanya menghela nafas pasrah dan berbalik, hendak kembali ke kamarnya.
"Hmph, lakukan sesukamu! Jika kamu memang tidak mau menemaniku tidur, maka tidurlah kamu di sini bersama nyamuk-nyamuk itu!"
Lucy mendengus. Dia agak kesal karena Arya mengabaikannya.
Arya yang mendengar Lucy yang kesal itu segera membuka matanya. Dia lalu meraih lengan gadis itu dan menariknya ke dalam pelukannya.
"Lucy, aku mencintaimu. Maukah kamu menjadi kekasihku?"
Arya tahu ini sudah terlambat, tapi dia tetap ingin mengucapkannya.
Pernyataan tiba-tiba dari Arya membuat Lucy terkejut dan linglung.
"E-eh? M-maksudmu..." Pikiran Lucy jadi kosong dan dia jadi tidak bisa berbicara dengan benar.
"Mau atau tidak. Aku tidak akan mengatakannya dua kali."
"T-tentu saja aku mau!"
Lucy segera menjawab dengan penuh kebahagiaan saat wajahnya memerah.
Arya terkekeh dan melepaskan pelukannya, menatap Lucy yang tersipu malu. Ekspresi gadis tersebut sangat bahagia sehingga sulit menjelaskannya dengan kata-kata.
"Baguslah kalau begitu."
Arya lalu menggendong Lucy ala tuan putri dan membawanya ke kamar.
Keduanya berbaring di ranjang dan mengenakan selimut yang sama.
Mereka berdua saling menatap dengan bahagia, terutama Lucy.
Arya kemudian memeluk Lucy dengan sangat erat sambil membisikkan kata-kata manis dan mengungkapkan betapa dirinya mencintai Lucy.
Lucy yang mendengar bisikan dari Arya memerah dan membenamkan wajahnya ke dada pemuda tersebut.
Melihat Lucy yang membenamkan wajahnya ke dadanya, Arya tersenyum bahagia dan terus membisikkannya dengan kata-kata manis hingga gadis tersebut tertidur dalam pelukannya.