Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 98 - Pelukan Hangat



Ketika dia kembali ke kamarnya, Arya terkejut dan kehilangan kata-katanya hingga dia lupa bernapas. Dia melihat Lylia sedang berbaring di kasurnya sambil memeluk guling yang dia pakai tadi.


Ini membuatnya wajahnya memanas dan merah cerah, jantungnya berdetak kencang. Dia tidak pernah mengharapkan jika ada seorang gadis secantik Lylia akan berbaring di kasurnya. Terlebih lagi, ekspresi Lylia benar-benar terlihat nyaman dan bahagia ketika gadis itu menunjukkan senyum manis.


Menyadari kembalinya Arya, Lylia terkejut setengah mati hingga mengeluarkan teriakan aneh. Wajahnya seketika memerah hingga telinga, dia jelas merasa sangat malu.


Dia berbaring di kasur Arya karena setiap aroma tubuh Arya ada di sana, karena itu dia berbaring. Dapat menghirup seluruh aroma khas tubuh Arya merupakan suatu kebahagiaan tersendiri baginya.


Awalnya, Lylia hanya ingin berbaring sebentar, tapi karena dia ketagihan dengan aroma khas Arya, dia jadi tidak mau berpindah dari sana dan berakhir seperti sekarang.


Arya perlahan mendapat kesadarannya kembali, berdeham pelan dan berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak kencang bagai genderang perang.


"Ji-jika kamu lelah, kamu bisa berbaring di sana, Lylia. Itu tidak masalah, jangan hiraukan aku." Wajah Arya semakin memerah ketika dia berkata.


"Ti-tidak... Aku... Aku tidak... Maksudku... Ah...."


"Ah, Lylia!"


Lylia tidak bisa berbicara dengan benar ketika wajahnya memanas dan merah, bahkan asap terlihat keluar dari atas kepala Lylia. Dia merasa pusing dan matanya berputar-putar sebelum akhirnya terjatuh ke belakang, pingsan karena terlalu malu.


Arya terkejut karena Lylia tiba-tiba pingsan. Dia segera mendekati gadis itu dengan panik.


*****


Setelah hampir sepuluh menit, Lylia akhirnya membuka matanya setelah pingsan karena menahan rasa malu yang luar biasa.


Ketika Lylia membuka matanya, hal pertama yang dia lihat adalah wajah tampan Arya. Dia terkejut dan segera menoleh ke samping, hanya untuk semakin terkejut.


Ketika Lylia menoleh ke samping, dia menabrak sesuatu dan itu adalah perut Arya. Wajahnya terbenam di perut Arya selama beberapa saat.


"Lylia, kamu sudah sadar? Syukurlah, kamu mengejutkanku karena tiba-tiba pingsan."


Arya menghela napas lega ketika dia merasakan Lylia menabrak perutnya.


Pada saat ini, Lylia sedang berbaring di bantal pangkuan Arya di atas kasur.


Lylia perlahan menatap Arya dengan malu-malu.


"Aku... Aku tidak bermaksud berbaring tadi... Hanya saja... Hanya saja..."


"Lylia, jangan memaksakan diri. Aku tahu kamu lelah, makanya kamu berbaring, kan?"


"Ti-tidak, maksudku bukan itu..."


"Lalu, apa maksudmu yang sebenarnya?"


"Yah, itu... Aku merindukanmu karena tidak bertemu denganmu selama satu hari ini. Aku juga sedang ingin memelukmu. Kemarin... Saat aku memelukmu di atap, aku mencium aroma tubuhmu, aromanya menenangkan dan membuatku nyaman. Jadi, saat aku melihat kasurmu, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak berbaring dan mencium aromamu..."


Lylia menjelaskan dengan terbata-bata, wajahnya memerah hingga telinga dan suaranya yang manis itu benar-benar imut ketika dia malu-malu.


Arya terdiam mendengar penjelasan Lylia, merasa gadis ini sangat agresif. Dia benar-benar tidak menyangka jika itu adalah alasan Lylia berbaring di kasurnya.


Dia benar-benar tertipu oleh tampilan luar Lylia yang lembut itu, padahal sebenarnya gadis ini sangat agresif jika sudah menjadi kekasihnya.


Menghela napas ringan, Arya mengelus kepala Lylia dengan lembut. Dia kemudian meminta gadis itu untuk bangkit dari bantal pangkuannya.


Lylia menurut dan mengubah posisinya dari berbaring ke duduk. Dia memperhatikan Arya dengan matanya yang indah.


Tiba-tiba, Arya membuka kedua tangannya seakan dia mau memeluk Lylia.


Lylia terkejut dan melihat sekeliling, seakan memeriksa apakah ada orang lain disekitar mereka.


Menyadari jika hanya ada mereka berdua di kamar itu, Lylia dengan senang hati menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Arya. Dia benar-benar merindukan kekasihnya ini meski dia hanya tidak bertemu selama setengah hari.


Mendapati Lylia dalam pelukannya, Arya melingkari tangannya di punggung Lylia dengan kaku dan canggung. Dia tidak tahu kenapa, tapi mendengar Lylia ingin memeluknya membuatnya merasa lucu.


Saling berpelukan, Arya bisa merasakan seluruh tubuh Lylia menempel padanya, membuatnya merasa hangat. Hatinya juga dipenuhi rasa bahagia yang tidak bisa dijelaskan, membuatnya merasa aneh pada dirinya sendiri.


Perasaan semacam ini hanya dia rasakan ketika bersama Lucy, tapi ketika mengingat gadis itu, Arya hanya merasakan sakit.


Menggelengkan kepalanya, Arya melupakan kenangan buruknya dengan Lucy. Dia mencoba fokus pada Lylia.


Lylia yang berada dalam pelukan Arya itu melingkari tangannya di punggung kekasihnya itu dengan erat. Dia membenamkan wajahnya ke dada bidang Arya, menghirup aroma khas Arya dengan bahagia.


Selama sepuluh menit ke depan, keduanya terus berpelukan dengan erat, berbagi kehangatan dan kebahagiaan.


*****


Waktu berjalan dengan cepat, tanpa terasa dua minggu telah berlalu. Jadi, masa skorsing Arya hanya tinggal satu minggu lagi sebelum akhirnya dia bisa bersekolah seperti biasanya.


Tapi, meski waktu skorsingnya hanya tinggal satu minggu, Arya sama sekali tidak merasa senang. Dia justru kesal karena sebentar lagi dia harus kembali bersekolah. Dia malah lebih senang jika masa skorsingnya satu atau dua bulan saja, jadi dia bisa bermalas-malasan sepuasnya.


Ngomong-ngomong, selama dua minggu Arya diskors, Lylia selalu datang berkunjung setiap pulang sekolah. Gadis itu pasti akan meminjamkan Arya buku catatannya dan membantunya belajar.


Oleh karena itu, Arya sangat berterima kasih pada Lylia, karena jika bukan karena Lylia, dia tidak akan belajar sedikitpun selama masa skorsingnya ini.


Selama dua minggu ini juga Arya merasa ada perubahan dalam dirinya, di mana dia terkadang merasa sangat bahagia saat berada di dekat Lylia. Dia juga merasa selalu ingin bersama Lylia, selalu memikirkannya bahkan pernah memimpikan gadis itu dalam tidurnya.


Perasaan seperti ini membuat Arya merasa aneh pada dirinya. Sejak dia bercerita tentang keluarganya pada Lylia, dia merasa nyaman dan bahagia berada di sisinya. Juga, Lylia adalah pendengar yang baik, jadi dia sangat merasa dipedulikan olehnya.


Hubungannya dengan Lylia juga semakin dekat, sangat dekat malah. Keduanya sekarang sudah tidak ragu untuk berpegangan tangan ketika keluar kencan. Keduanya sempat pergi kencan satu minggu yang lalu.


Tapi, apa yang membuat Arya kewalahan adalah Lylia terlalu agresif untuk dia tangani. Lylia tidak akan pernah puas jika dia belum memeluknya selama sepuluh menit. Juga, setiap kali keduanya berpelukan, Lylia pasti mengendus dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh Arya.


Ini benar-benar tidak terbayangkan.


Pada saat ini, Arya dan Lylia sedang berduaan di dalam kamar. Keduanya duduk di karpet ambal, saling berseberangan.


Arya tampak sedang menyalin buku catatan Lylia, sementara Lylia yang berada di hadapannya terus-menerus menatap Arya dengan penuh kasih ketika dia meletakkan dagunya di tangannya yang bertumpu pada meja.


"Ugh, bagaimana cara penyelesaiannya?"


Arya menggerutu ketika dia melihat pertanyaan yang tidak dia pahami di bukunya.


"Arya, mau kubantu?"


Arya mengangguk, menunjukkan ekspresi meminta bantuan.


Lylia tersenyum manis mendengar ini. Dia segera pindah ke sebelah Arya, mulai menjelaskan pertanyaan yang tidak Arya pahami.


Setelah penjelasan singkat, Arya tersenyum ketika dia memahami pelajaran sekolahnya itu. Matanya berbinar ketika dia mulai menulis dengan semangat.