Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 142 - Arya Mendapat Masalah



Beberapa hari kemudian.


Sekitar jam sepuluh malam, Arya yang sedang berada di rumah Lucy itu duduk di sofa ruang tamu. Dia menundukkan kepalanya ketika ekspresi bermasalah terlukis di wajahnya.


Pikirannya mengembara ke sana kemari, memikirkan berbagai macam masalah yang baru saja dia hadapi tiga hari yang lalu.


Ketika Arya sedang tenggelam dalam pikirannya, suara langkah kaki mendekat terdengar.


Arya mengangkat kepalanya dan mengetahui jika yang datang adalah David. Dia duduk di seberangnya.


"Jadi, masalah macam apa yang kau hadapi kali ini, Arya?" David bertanya, sedikit sakit kepala.


Selama tiga hari ini, baik dia dan Lucy jelas mengetahui jika tingkah laku Arya sedikit berbeda. Dia jadi banyak diam dan selalu menyendiri tiga hari ini dan Arya juga terlihat kurang selera makan.


Bahkan, Arya gampang marah dan emosinya tidak stabil selama tiga hari ini. Kemarin, dia juga bertengkar dengan Lucy.


Sebenarnya, akan lebih tepat jika Arya membentak Lucy daripada bertengkar dengannya.


Lucy mengkhawatirkan kondisi Arya karena dia jarang makan dan banyak diam, karena itu dia terus-menerus menempel pada Arya dan memintanya untuk makan dan menceritakan masalahnya jika memungkinkan.


Namun, respon yang Lucy dapatkan adalah bentakan dari Arya. Ini membuatnya kesal, karena dia memiliki niat baik namun dibalas dengan buruk. Selain itu, dia juga sedang dalam masa sensitif karena sedang datang bulan.


Sampai hari ini, keduanya belum saling meminta maaf dan mereka tidak banyak bicara satu sama lain hari ini.


Mengetahui semua itu, David tentu sakit kepala.


"Tidak ada, Kak. Tidak ada masalah sama sekali." Arya menggeleng.


"Bohong sekali. Lihat wajahmu, semua tertulis di sana. Arya, katakan pada kakakmu ini, masalah apa yang kamu hadapi saat ini?"


Arya menatap David yang begitu serius itu. Dia merenung sejenak, sebelum menghela napas panjang dan menceritakan masalahnya. Kakaknya selalu menjadi tempatnya mencurahkan semua masalahnya. Dia lebih suka bicara pada David lebih dulu daripada Lucy.


Setelah penjelasan singkat, David tidak bisa menutupi keterkejutannya. Matanya gemetar, menunjukkan jika dia benar-benar terkejut.


"Arya, benarkah itu? Apakah itu yang dikatakan istri pertama ayahmu? Ayahmu tidak akan sebrengsek itu, kan?"


"Aku juga tidak tahu, Kak. Aku juga penasaran tentang kebenarannya. Alice bilang jika semua anggota keluargaku tahu masalah ini, tapi kenapa mereka tidak menceritakannya padaku? Kenapa kakek dan mama merahasiakannya dariku? Kenapa mama menyimpan semua rasa sakit itu sendirian? Aku ini anaknya, kenapa dia tidak menceritakannya padaku? Kenapa... Kenapa aku begitu tidak berguna hingga membuat mama menderita seorang dirinya...?"


Arya perlahan menundukkan kepalanya lagi, wajahnya ditutupi oleh kedua tapaknya, menyembunyikan ekspresi wajahnya. Suaranya gemetar dan penyesalan mendalam terdengar darinya.


David menatap dengan simpati. Dia membuka mulutnya dan mengatakan beberapa hal menghibur.


"Arya, tenang. Mereka pasti punya alasan mereka sendiri, oke? Mama tidak mau membebanimu, makanya dia tidak cerita. Bersabarlah, semua pasti terungkap ketika waktunya tiba."


"Tapi, Kak. Bagaimana bisa aku sabar, sementara aku baru saja mengetahui penderitaan mama lebih menyakitkan daripada yang aku bayangkan... Vicky, semua gara-gara bajingan itu! Aku seharusnya membunuhnya saat itu!"


Arya mengangkat kepalanya, menunjukkan matanya yang penuh kebencian dan niat membunuh yang mengerikan ketika mengingat wajah ayahnya.


David diam-diam ngeri melihatnya, dia menelan ludah tanpa sadar dan menghela napas untuk menenangkan diri.


"Bunuhlah ayahmu itu, lagipula kamu memang bukan anak yang berbakti."


Suara sarkastik terdengar dari Lucy, yang menampakkan diri setelah percakapan Arya dan David selesai. Dia menguping sejak tadi, namun dia hanya mendapat sedikit informasi. Yang dia dengar, hanya tentang Arya yang merasa tidak berguna sebagai anak.


Mendengar itu, Arya dan David terkejut, menatap Lucy yang berdiri tidak jauh dari keduanya.


"Lucy, jaga ucapanmu. Jangan bicara begitu ketika Arya sedang mendapat masalah!"


"Masalah? Masalah apa? Jika dia memang memiliki masalah, ceritakan padaku, bukan membentakku!"


Lucy menyilangkan tangannya, mendengus kesal. Dia memiliki niat baik karena Arya sedang menghadapi masalah yang tidak diketahui, namun niat baik malah dibalas dengan bentakan. Tentunya dia tidak senang, ditambah dia sedang datang bulan, emosinya jadi tidak stabil dan dia mudah marah.


"Lucy, aku akan menceritakan padamu masalahku jika aku sudah mendapatkan kebenarannya. Selama itu, tunggulah dengan sabar." Kata Arya, menghela napas.


"Oh, jadi kamu akan menemukan kebenarannya dari ayahmu? Kamu akan menemui ayahmu dan membunuhnya, setelah itu menceritakan semuanya padaku? Kamu akan kembali ketika kamu berlumuran darah, setelah itu datang kepadaku, begitu?"


"Lucy, cukup! Jangan buat aku marah, pikiranku sedang kacau." Arya menajamkan tatapannya.


"Huh, omong kosong. Aku yakin, setelah semua orang tidur, kamu akan pergi ke tempat ayahmu dan membunuhnya berserta istri dan anak-anaknya. Jangan pikir aku tidak tahu jalan pikirmu."


Lucy sepenuhnya mengabaikan Arya, seakan ucapannya tadi hanya angin lewat.


"Lucy, cukup!"


"Apa? Aku hanya mengatakan fakta! Kamu akan membunuh ayahmu setelah ini! Bunuhlah dia dan semua rahasiamu akan kubongkar pada mama!"


"Lucy!"


"Tidak dengar! Tidak dengar! Tidak dengar! Arya setelah ini akan membunuh ayahnya, dia akan membunuh ayah kandungnyanya sendiri."


"LUCY!!!"


Arya yang sudah tidak tahan itu berteriak sekuat tenaga hingga suaranya serak. Dia benar-benar marah kali ini. Dia tidak pernah sangka jika kekasihnya sangat ahli dalam memancing amarah.


Lucy tersentak mendengar teriakan Arya, namun dia segera mengerutkan dahinya.


"Apa? Kenapa kamu harus marah? Apakah kamu tidak menerima fakta jika kamu akan membunuh ayahmu nanti?"


Lucy kembali mengoceh. Dia juga sedang marah pada Arya. Dia dibentak namun dia diam dan menunggu permintaan maaf. Namun setelah menunggu, dia sama sekali tidak mendapat permintaan maafnya, membuatnya semakin kesal dan marah pada Arya.


Arya menggertak giginya, wajahnya merah karena marah. Dia bangkit dari duduknya, menghampiri Lucy sambil mengangkat tangannya untuk menampar Lucy.


Lucy memejamkan matanya ketika tamparan Arya hampir mendekat. Namun, rasa sakit tidak kunjung datang.


Lucy membuka matanya dan melihat jika Arya menahan tangannya di jalurnya. Wajah Arya terlihat mengerikan, namun dia segera menghela napas dengan kasar sebelum menurunkan tangannya dan pergi meninggalkan Lucy dan David.


Lucy yang baru saja hendak ditampar agak takut. Dia menatap pintu yang baru saja dibanting oleh Arya.


"Lihat, Lucy. Kamu membuatnya marah."


"Aku hanya mengatakan fakta, jadi seharusnya Arya tidak marah begitu." Lucy mencibir, menatap David sejenak sebelum mengalihkan pandangannya.


"Lucy, dengarkan aku! Jangan bicara begitu tanpa kamu ketahui isi pikiran Arya! Kamu tidak tahu masalah apa yang dia hadapi!" David ikut marah. Entah kenapa, tapi adik perempuannya ini benar-benar menjengkelkan malam ini.


"Aku tidak tahu masalah Arya karena Arya tidak bercerita!"


"Lakukan sesukamu, Lucy. Aku tidak akan membantumu ketika Arya kembali nanti. Kamu harus minta maaf sendiri. Jika Arya memaafkanmu, maka jadilah. Jika tidak, aku tidak peduli."


David menghela napas panjang, meninggalkan Lucy yang terkejut karena kata-katanya itu.