Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 134 - Kalung Liontin Rose



Mendengar jika ibunya memaksanya untuk menyebutkan harga kalung berlian itu dan menggantikan uangnya, Arya merasa sakit hati. Dia membeli kalung ini sebagai hadiah untuk ibunya, bukannya dia menginginkan uang ibunya.


Tersenyum pahit, alis Arya terkulai saat rasa kecewa menghampirinya. Dia ingin memberikan hadiah untuk sang ibunda tercinta, namun itu sepertinya tidak diterima dengan baik.


Selain itu, jika Arya mengatakan harga kalung berlian ini, dia takut Rosa terkejut. Dia sendiri telah memesan kalung berlian ini dari jauh hari, baik model ataupun bentuk liontinya, itu semua dibuat berdasarkan permintaan Arya.


Bahkan, berlian yang digunakan merupakan berlian asli dan murni. Jadi harganya tentu tidak murah.


Arya mengeluarkan beberapa puluh juta hanya untuk kalung ini. Dia sudah sangat berharap jika Rosa menerimanya.


Terlebih lagi, dia memberi nama kalung ini dengan sebutan Kalung Liontin Rose.


Melihat Arya membuat ekspresi kecewa, Rosa jadi agak bersalah. Bukannya dia tidak mau menerima kalung itu, tapi dilihat dari betapa indah dan cantiknya kalung itu, Rosa tahu harganya pasti sangat mahal.


Dia sendiri tidak tahu berapa penghasilan yang Arya dapat dari toko rotinya, tapi jika Arya bisa membeli kalung berlian, maka penghasilannya cukup banyak.


"Baiklah, Mama terima kalung itu. Kemari, bantu Mama memakainya."


Rosa tidak tega melihat wajah kecewa dan sedih Arya, jadi dia segera berkata demikian meski berat hati.


Mata Arya berbinar mendengarnya. Dia tersenyum lebar.


Bangkit, Rosa berbalik dan memperlihatkan punggungnya pada Arya. Dia merapikan rambutnya dari tengkuknya, agar Arya lebih mudah memakaikannya kalung.


Arya yang berdiri di belakang Rosa tersenyum bahagia. Dia kemudian memasangkan kalung tersebut pada leher putih dan indah Rosa.


Beberapa saat kemudian, Kalung Liontin Rose telah terpasang dan melingkar di leher Rosa.


Dia meraih kalung tersebut, meletakkannya di telapaknya dan menatapnya dengan senyum bahagia.


Dia sangat senang karena putranya begitu perhatian padanya.


Selama ini, sejak dia menjadi istri Vicky bertahun-tahun yang lalu, Rosa sangat jarang mendapat perhiasan semacam ini. Jangankan perhiasan, kasih sayang dan perhatian dari suami saja sulit dia dapatkan.


Namun, sekarang, entah itu perhiasan, perhatian ataupun kasih sayang, dia mendapatkan semuanya melalui Arya dan Andhika. Keduanya merupakan putranya yang paling dia banggakan dan paling dia sayangi dan cintai.


"Terima kasih, Nak. Mama sangat menyukai kalung ini."


"Tidak masalah, Ma. Aku memilih kalung itu sesuai dengan nama Mama, yang mewakilkan bunga mawar. Kalung itu sendiri kuberi nama Kalung Liontin Rose."


"Kalung Liontin Rose, ya? Itu terdengar bagus. Sekali lagi terima kasih, Arya."


Arya mengangguk.


*****


Tiga hari kemudian, sekitar jam sepuluh pagi.


Di halaman rumah Arya. Tampak Rosa, Andhika Lucy dan Arya sedang mengobrol sedikit.


Adapun mengapa mereka di halaman, itu karena Arya dan Lucy akan kembali ke kota Century setelah lima hari di kota Bern bersama Rosa dan Andhika.


"Arya, apakah tidak masalah kamu pulang sendiri? Mama antar saja, ya? Pakai mobil." Rosa mencoba membujuk Arya.


Jarak antara kota Bern ke kota Century setidaknya memakan waktu tiga jam perjalanan. Perjalanan selama itu pasti melelahkan, jadi Rosa berusaha membujuk Arya agar anaknya tidak terlalu lelah.


"Tidak perlu, Ma. Lebih baik Mama di rumah saja, supaya tidak lelah."


Arya menolak dengan lembut, membuat Rosa sedikit bermasalah.


Kemudian, setelah mengobrol sedikit lebih lama, Arya dan Lucy berpamitan pada Rosa dan Andhika. Walau cuma lima hari, tapi keduanya merasa sangat bahagia bisa berkumpul bersama, menghabiskan waktu bersama dan saling melepas rindu.


Terutama Lucy, sejak orang tuanya meninggal, dia selalu mendambakan sosok seorang ibu lagi. Jadi, menemui Rosa kali ini menghilangkan sedikit banyak kerinduannya pada sang ibu yang telah wafat.


"Nak, apakah tidak masalah jika kamu pulang sendiri? Bukankah lebih baik Mama antar saja?" Rosa kembali membujuk Arya.


Arya tersenyum masam mendengarnya. Dia perlahan menggeleng.


"Ma, kalau Mama mengantarku, nanti Mama jadi lelah. Selain itu, Mama juga masih harus membereskan rumah, bukan? Itu pasti membuat Mama semakin lelah."


Arya membuat nada selembut mungkin. Dia sedikit enggan menolak tawaran Rosa namun dia juga tidak mau ibunya kelelahan karena mengantarnya pulang ke kota Century.


Mendengar itu, Rosa kembali terlihat bermasalah namun dia segera tersenyum dan berkata.


"Baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan, ya."


Rosa pasrah, dia tidak memaksa Arya lagi.


Mendengar itu, Arya mendengus pelan dan bersalaman dengan Rosa dan Andhika sebelum pergi. Lucy juga melakukan hal yang sama.


"Kak, kamu kapan pulang lagi? Kalau Kakak pulang lagi, kita jalan-jalan lagi, ya?"


Tersenyum, Arya mengelus kepala Andhika.


"Baiklah, jika aku pulang lagi, aku akan mengajakmu dan Mama ke pantai."


"Benarkah, Kak? Janji, ya!"


"Ya, aku janji. Setelah pulang study tour, aku akan segera pulang dan kita semua akan pergi ke pantai."


Andhika mengangguk, penuh semangat.


Dia menunjukkan jari kelingkingnya.


Arya juga melakukan hal sama, keduanya membuat janji jari kelingking, menunjukkan jika perjanjian telah dibuat.


Rosa dan Lucy tersenyum hangat melihat adik kakak ini.


Rosa kemudian menatap Lucy dan berkata.


"Lucy, hati-hati di jalan, ya. Ingatkan Arya untuk tidak terlalu kebut dalam berkendara."


"Um, tenang saja, Ma. Aku tidak akan membiarkan Arya terlalu kebut dalam berkendara."


"Baguslah. Oh, ya. Mama juga minta tolong, ya. Jaga Arya dan tolong ingatkan dia untuk makan jika sudah waktunya. Ingatkan juga dia untuk belajar."


Lucy mengangguk.


Setelah itu, keduanya saling bertukar pelukan dengan hangat.


Rosa mencium pipi Lucy dan mengelus kepalanya sebentar dan menatap Arya.


"Nak, hati-hati di jalan, ya. Jangan nakal selama kamu bersama kakekmu. Jaga kakekmu dan ingatkan dia untuk tidak telat makan. Kakekmu itu sudah tua, jadi tidak baik telat makan."


"Ya, Ma. Aku selalu melakukan itu jika kakek telat makan." Arya mengangguk.


"Kemari, Nak. Menunduk, kamu sudah terlalu tinggi. Mama sudah tidak bisa mengelus kepalamu lagi dengan mudah seperti dulu."


Arya tersenyum lembut, menundukkan kepalanya dan membiarkan ibunya mengelus kepalanya. Rosa bahkan memberikannya ciuman di pipi beberapa kali.


"Ma, aku pergi dulu, ya." Arya dan Lucy berkata serempak.


Rosa dan Andhika mengangguk dan setelah itu, Arya dan Lucy pergi dan kembali ke kota Century.


*****


Setelah menempuh perjalanan yang lama, Arya dan Lucy akhirnya tiba di kota Century. Mereka berdua langsung menuju rumah Erwin terlebih dahulu untuk memberi kabar dan meminta izin.


"Kakek, aku pulang."


Arya masuk ke dalam dan menemukan Emily sedang menonton TV di ruang tamu. Dia menatap Arya dan Lucy sejenak lalu buang muka sambil mendengus dingin.


Dia masih merajuk karena Arya mengejeknya karena dia seorang single dan tidak memiliki kekasih.


"Emily, di mana Kakek?"


"Tidak tahu, cari saja sendiri."


Emily tidak menatap Arya saat berkata, membuat Arya merasa sedikit jengkel namun dia mengabaikannya dan mencari Erwin ke belakang.


Sementara Arya pergi mencari Erwin, Lucy yang mendengar ketidaksenangan Emily terhadap Arya mendekati Emily dan duduk di sebelahnya.


"Emily, kenapa kamu bersikap begitu pada Arya? Apakah Arya membuat kesalahan?"


Lucy bertanya dengan lembut.


Mendengar itu, Emily sedikit terkejut dan menatap Lucy selama beberapa detik. Dia agak terkejut karena Lucy tiba-tiba bertanya. Bagaimanapun, mereka tidak terlalu dekat dan baru mengenal beberapa hari yang lalu.


"Tidak apa-apa. Aku hanya kesal pada Kak Arya. Dia mengejekku single dan tidak memiliki kekasih. Memangnya apa salahnya jika aku tidak memiliki kekasih?"


Emily terdengar tidak senang. Dia buang muka setelah selesai dengan kalimatnya.


"Tidak ada yang salah tentang itu, Emily. Kakakku bahkan belum pernah memiliki kekasih sama sekali meskipun dia sudah dua puluh tiga tahun."


Lucy tertawa kecil, namun Emily tidak menanggapi. Dia menatap layar TV.


Melihat itu, Lucy mendengus pelan dan menatap Emily. Dia tiba-tiba terkejut ketika melihat ke dalam mata Emily.


Di dalam matanya, tampak kecemburuan, iri dan ketakutan. Lucy berpikir sejenak, lalu mengangguk sambil tersenyum lembut.


"Emily, kamu takut aku merebut Arya, benar?"