Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 19 - Rumor II



Hanya dalam waktu singkat, rumor menyebar dengan cepat bagai api. Semuanya berkat orang bayaran, tanpa orang bayaran rumor tidak akan menyebar secepat ini.


Hampir seluruh siswa SMA Daeil mengetahui rumor tentang Lucy dan sebagian orang tidak mempercayai rumor tersebut. Orang-orang yang tidak mempercayai rumor tersebut adalah orang-orang yang tidak peduli sekitar, jadi meski ada orang bayaran mereka tetap gagal membuat mereka yakin.


Pada jam istirahat, Arya juga mendengar rumor tentang Lucy. Dia segera menjadi marah. Dia sangat ingin menemukan orang yang menyebarkan rumor buruk itu dan menamparnya hingga mati.


Pada saat ini, Arya sedang menuju kelas Lucy. Dia yakin kalau gadis tercintanya itu sedang dalam keadaan yang tidak baik.


Andai saja mereka berada di kelas yang sama di tahun ketiga ini, dia pasti sudah mengambil tindakan dan rumor sampah seperti ini tidak akan menyebar.


Tiba di kelas Lucy, Arya melihat Lucy duduk seorang diri di bangkunya yang penuh dengan makian. Dia termenung, memikirkan apa yang baru saja terjadi.


"Lucy..."


Suara Arya datang dari samping. Suaranya begitu lembut dan menenangkan.


Mengangkat kepalanya, Lucy menatap Arya dengan tatapan yang agak redup. Jelas, dia tertekan dengan rumor yang ada.


Meski terlihat baik-baik saja di luar, tapi faktanya Lucy terluka di dalam.


Segera, matanya berkaca-kaca saat bibirnya yang mungil gemetar.


"Kemarilah."


Arya merentangkan kedua tangannya, siap memeluk Lucy.


Melihat ini, Lucy segera berdiri dari bangkunya dan menjatuhkan dirinya dalam pelukan hangat Arya. Suasana hatinya yang awalnya buruk kini sedikit membaik.


Ruang kelas Lucy kosong saat ini, jadi tidak perlu khawatir ada yang mengintip.


"Apa yang terjadi? Kenapa bisa ada rumor sampah seperti ini?"


Arya bertanya dan Lucy secara alami menjelaskan secara singkat. Dia mengatakan bahwa rumornya tersebar begitu saja tanpa sepengetahuannya. Tapi dia segera menyimpulkan bahwa orang yang menyebarkan rumor buruk tentangnya adalah Rui.


Arya segera menggertakan giginya karena marah dan mengutuk Rui dengan keras.


"Lucy, biarkan aku menyelesaikan masalah ini. Tenang saja, hanya butuh beberapa saat."


"Tunggu! Jangan berbuat berlebihan. Biarkan saja, aku akan menjelaskan semuanya dan rumornya pasti hilang. Percaya padaku, Arya."


Lucy segera menghentikan Arya saat pemuda tersebut hendak pergi. Dia tahu jika Arya yang menyelesaikan masalah rumor itu, maka dia yakin kalau Arya akan menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan segalanya.


"Apakah kamu yakin? Bagaimana jika Rui tidak mendengarkanmu?"


Arya bertanya dengan dingin, membuat Lucy merasa tidak nyaman.


Segera, Lucy memasang ekspresi serius.


"Percayalah padaku. Ini hanya masalah kecil."


Lucy tersenyum, membuat Arya mengangguk meski dia agak khawatir kalau masalah rumor ini tidak sesederhana yang terlihat.


*****


Di kantin, Lucy melihat sekeliling sambil mencari Rui.


Setelah beberapa saat mencari, dia akhirnya menemui Rui sedang duduk bersama tiga gadis lainnya. Mereka tertawa riang sambil tertawa saat mereka membicarakan seseorang.


Tentu saja, mereka sedang membicarakan Lucy. Rui dan tiga lainnya merupakan salah dari sedikit orang yang membenci Lucy dengan berbagai macam alasan.


"Apakah kalian wajahnya tadi? Dia benar-benar terkejut!"


Rui berkata demikian sambil tertawa dengan ekspresi bahagia. Dengan rumor buruk yang menimpa Lucy, reputasinya sebagai yang paling cantik di seluruh SMA Daeil segera runtuh.


"Ugh, aku benar-benar membenci Lucy. Dia merasa paling cantik dan menggoda siapapun ke manapun dia pergi. Dia benar-benar menjijikan!"


"Huh, kau benar. Dia adalah wanita penggoda!"


Tak ada satu pun kata yang baik yang keluar dari mulut Rui dan lainnya. Mereka semua mengutuk dan menghina Lucy.


Lucy yang berjalan menuju mereka terkejut akan hal ini. Dia sedikit marah dan ingin berteriak memarahi Rui tapi dia segera menghela nafas, menenangkan dirinya agar tidak menimbulkan masalah lainnya.


Mengabaikan ucapan mereka, Lucy berdiri di belakang Rui dengan tatapan dingin untuk sesaat.


"Oh, lihat siapa yang datang. Lucy, kau benar-benar tidak tahu malu! Kau sangat berani muncul bahkan setelah semua yang terjadi!"


Salah seorang gadis yang melihat Lucy di belakang Rui segera mengutuknya dengan keras, membuat orang-orang di kantin menoleh dan memfokuskan pandangan pada Lucy dan Rui.


Lucy hanya mengabaikan sekeliling dan fokus pada Rui.


"Rui, aku hanya ingin memberitahumu kalau rumor yang tersebar dan foto yang kau ambil itu bukan seperti yang kau pikirkan. Pria paruh baya itu adalah pamanku yang sedang memberiku uang belanja dan Arya juga ada di sana jika kau tahu. Jadi, jangan menyimpulkan secara acak dan menyebarkan rumor tak mendasar!"


Lucy menjelaskan dengan lembut namun matanya sama sekali tidak menunjukan kelembutan.


Selain itu, dia juga sangat yakin kalau Rui adalah orang yang menyebarkan rumor buruk tentangnya karena Rui memiliki fotonya dan pamannya, maka seharusnya dia yang menyebarkan rumornya.


Rui mengerutkan dahinya dengan tidak senang. Dia menatap tajam Lucy dan tersenyum sinis, mengejeknya.


"Lucy, Lucy. Apakah kau pikir hanya dengan beberapa kata-kata murahan darimu bisa membuat orang-orang percaya? Dengar, semua orang di sini sudah tahu kalau kau itu sebenarnya adalah seseorang yang akan membuka kakinya untuk pria manapun asalkan dibayar!"


Suara Rui menggema di kantin, membuat semua orang berbisik satu sama lain. Mereka segera setuju dengan Rui dan meneriakinya.


"Pergilah! Dasar kau j*l*ng!"


"Dasar murahan! Pergi, jangan menginjakkan kaki di sekolah ini lagi! Kau hanya membuat nama sekolah ini tercoreng!"


"Lucy, katakan harganya dan mari habiskan malam yang indah bersama!"


Semuanya berteriak, penuh celaan dan hinaan. Tidak hanya itu, mereka mulai melemparkan makanan di nampan mereka ke Lucy.


Lucy linglung saat diteriaki dan dia segera sadar saat merasakan seragam sekolahnya basah dengan air soda dan beberapa makanan basah juga mengotori seragamnya.


Tubuh lembut Lucy gemetar saat dia merasakan kesedihan bercampur amarah. Dia mengigit bibir merahnya dan tangannya terkepal keras.


Rui hanya diam-diam tersenyum sinis, menikmati kemalangan Lucy.


"Akh!"


Tiba-tiba, suara seseorang mengerang kesakitan terdengar dari belakang, membuat orang-orang terdiam dan menoleh ke sumber suara. Mereka semua terkejut ketika melihat seseorang jatuh ke tanah dengan mata putih sepenuhnya, kehilangan kesadaran.


Melihat kepala orang itu, sebuah kaki menginjak kepalanya.


Melihat ke atas, wajah ganas Arya terlihat. Matanya yang tajam menyapu semua orang.


"Kalian semua, jika ada yang mengeluarkan suara sedikit saja, maka jangan harap kalian bisa berbicara lagi!"


Suara dingin Arya terdengar. Dia perlahan berjalan menuju Lucy dengan langkah yang mantap.


Semua orang segera membuka jalan untuknya, takut mendapat masalah.


"Lucy, kemari. Kau tidak pantas berada di tengah-tengah kerumunan sampah seperti mereka."


Suara Arya lembut namun itu juga penuh ancaman.