
William diam sejenak ketika mendengar kebisingan yang terjadi. Dia kemudian melanjutkan pidatonya. Dirinya mengatakan jika dia meminta pada seluruh teman sekelasnya untuk menyorakinya saat dia mengungkapkan perasaannnya nanti.
Semua orang agak ragu awalnya, tapi mereka segera setuju.
Lylia yang duduk di bangkunya perlahan menghampiri Arya dengan senyuman.
"Arya, bagaimana menurutmu?"
"Tentang apa?"
"Tentang William. Dia bilang dia akan mengungkapkan perasaannya pada pujaan hatinya, lho. Menurutmu, siapa gadis yang beruntung sehingga bisa mendapat hati William?"
"Huh, beruntung apa? Aku malah merasa kasihan padanya. Dia malah mendapat pria narsis seperti William."
Arya tertawa mengejek.
Lylia tersenyum masam dengan ini. Dia kemudian mengambil sebuah bangku di dekatnya dan menariknya, duduk di sebelah Arya.
Setelah beberapa saat, William terlihat merapikan pakaiannya dan memakai parfum yang paling harum yang di miliki. Dia mengambil cermin dan berkaca, menyisir rambutnya dengan rapi.
"Oh, ya ampun. Lihat ini, wajahku terlalu tampan. Oh, sungguh, ketampanan ini menggangguku, selalu saja ada gadis yang menyukaiku karena wajahku."
William berkaca dan mulai memuji dirinya sendiri.
Banyak dari para pria yang mendengar ingin langsung mengutuk, merasa jijik. Bahkan beberapa gadis hampir muntah karenanya.
Setelah menunggu kurang lebih sepuluh menit, William yang berdiri di depan kelas menatap lurus pintu masuk kelas.
Dari luar kelas, terdengar dua suara tawa gadis. Perlahan, suara itu mendekat dan semakin jelas.
Ketika dua gadis itu masuk, salah satunya memiliki rambut hitam panjang serta wajah cantik.
Adapun gadis lainnya, dia berdiri di belakang gadis berambut hitam itu. Dia kemudian menepuk pundak Lucy dan mendorongnya ke depan.
William tersenyum lembut ketika melihat gadis yang dia mintai tolong tadi melakukan tugasnya dengan baik.
Lucy, yang didorong dari belakang terkejut dan kebingungan. Dia melihat sekeliling dan merasakan bahwa semua orang menatapnya dengan terkejut juga.
Tanpa Lucy sadari, dia sudah didorong hingga berdiri tepat di hadapan William.
"Tunggu! Apa-apaan ini?! Pujaan hati William adalah Lucy?!"
"Tidak mungkin! Itu tidak boleh terjadi! Lucy, apapun yang terjadi, tolak saja William itu!"
"Ya, itu benar, Lucy! Kau tidak cocok dengan William! Kau hanya akan sengsara bersamanya!"
Para pria segera mengeluarkan semua keluhan mereka. Tentu saja, mereka tidak terima jika Lucy, gadis paling cantik kedua di seluruh SMA Daeil menjadi kekasih William yang narsis itu.
Sementara para pria mengeluh, para gadis justru mengutuk para pria. Mereka semua mendukung Lucy bersama William, karena Lucy cantik dan William tampan, jelas merupakan pasangan serasi.
Di sisi lain, Arya yang berada di bangkunya memiliki ekspresi tidak senang dan suram di wajahnya. Matanya dipenuhi kebencian dan dia tidak berhenti mengutuk William dalam hatinya.
Dia juga terkejut mengetahui bahwa pujaan hati William adalah Lucy. Ini membuatnya marah hingga tangannya terkepal dengan keras, mengeluarkan suara tulang retak.
Meski sudah dua bulan berpacaran dengan Lylia, Arya masih menyukai Lucy. Jadi saat dia mendengar William akan mengungkapkan perasaannya pada pujaan hatinya, di awalnya mengejek. Tapi setelah mengetahui siapa pujaan hati William, dia tidak bisa menahan amarahnya.
Jika bukan karena dia berpacaran dengan Lylia saat ini, dia mungkin sudah membuat William babak belur.
Lylia yang menonton di sebelah Arya menyadari perubahan ekspresi kekasihnya itu. Dia mendekat dan menggenggam tangan Arya yang terkepal itu dengan lembut.
"Arya, kamu baik-baik saja?" Lylia bertanya, cemas.
"Ya, aku baik-baik saja."
Arya berkata tanpa menoleh pada Lylia. Matanya yang tajam menatap William dengan kebencian.
Menyadari ini, Lylia mengigit bibirnya, hatinya terasa sakit.
Menatap William, Lucy mengerutkan dahinya dengan tidak senang.
William bagaimanapun menyadari ketidaksenangan Lucy, tapi dia mengabaikannya.
Berlutut dengan satu kaki, William meraih lengan Lucy dengan lembut.
Para gadis berteriak kegirangan melihat ini. Mereka semua juga berharap dapat hal yang sama seperti Lucy sekarang.
Adapun para pria, semuanya mengutuk William dengan keras.
Lucy yang mengetahui niat William segera menarik tangannya dan tidak membiarkan William menyentuhnya sedikitpun.
William tersenyum pahit, namun dia tetap berlutut, tidak berniat bangkit. Jika dia melakukan itu, dia hanya akan mempermalukan dirinya.
"Oh, Lucy. Kau begitu cantik bagaikan seorang putri kerjaaan yang sedang menunggu pangeran berkuda putih menjemputnya. Lucy, oh Lucy. Dengan ini, aku, William sang pangeran berkuda putih, menyatakan perasaannya padamu. Maukah kau menjadi kekasihku, sang putri yang menunggu pangeran?"
William tersenyum. Wajahnya dipenuhi kepercayaan diri yang luar biasa dan matanya yang penuh kebanggaan itu menatap lurus mata Lucy.
Lucy mengerutkan dahinya dengan jijik, hampir muntah mendengar semua omong kosong William.
Para gadis agak terdiam ketika mendengar pernyataan William, sementara para pria sudah muntah di pojokan.
Semua orang merasa jijik dengan ucapan William. Mereka yang awalnya berniat membantunya dengan bersorak kini terdiam, kebingungan antara harus membantunya atau tidak.
Adapun Arya, dia hampir muntah seperti yang lain. Lylia yang biasanya lembut kini juga memiliki ekspresi jijik.
Kembali pada Lucy, dia masih menatap William dengan jijik. Dia jelas ingin menolak William, namun dia tiba-tiba teringat sesuatu.
Mengalihkan pandangannya ke Arya, Lucy tersenyum penuh makna padanya.
Arya bagaimanapun terkejut. Hatinya segera dipenuhi firasat buruk.
Berdeham, Lucy berkata dengan nada enggan.
"Ya... Mungkin kita bisa kencan sekali atau dua kali. Um, kupikir itu bukan masalah besar."
Lucy berkata, membuat seisi kelas tercengang, merasa tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.
"Tidak mungkin! Lucy menerima William?!"
"Lucy, pikirkan baik-baik! Kau tidak akan bahagia bersamanya!"
"Lucy, jangan sembarangan! William mungkin tampan, tapi sikap narsisnya menjijikan! Kau hanya akan malu berpacaran dengannya!"
Semua teman sekelas berkata, baik pria maupun para gadis.
Lucy tersenyum pahit dengan ini dan mengutuk dalam hati.
'Kalian pikir aku mau dengan pria menjijikan sepertinya? Aku melakukan ini untuk melihat reaksi Arya, itu saja!'
Lucy melakukan semua ini karena Arya.
Dia memiliki rencana yang menurutnya bagus.
Rencananya mudah saja. Karena Arya berpacaran dengan Lylia dan membuatnya sakit hati, Lucy juga ingin melakukan hal yang sama. Dia mengetahui jika Arya masih menyukainya, jadi dia berpikir jika dirinya berpacaran dengan orang lain, maka Arya akan cemburu dan kembali padanya, meninggalkan Lylia.
Ini adalah rencana yang terpikirkan olehnya secara singkat saat William menyatakan perasaannya tadi. Dia ingin membuat Arya cemburu, dengan harapan pemuda itu meninggalkan Lylia dan kembali bersamanya, merebutnya dari William.
Mengalihkan pandangannya pada Arya, Lucy menatapnya dengan penuh harapan.
Arya mengerutkan dahinya melihat Lucy menerima perasaan William. Api amarah dalam hatinya berkobar bagai hutan yang kebakaran. Pada saat ini, dia sangat ingin membunuh William dan memarahi Lucy habis-habisan.
Dia masih menyukai Lucy, tapi melihatnya berpacaran dengan pria lain membuatnya sangat sakit hati, seakan dia ditusuk oleh pedang.