
Ketika tiba di sekolah, rasa takut yang sudah Lucy lupakan tiba-tiba kembali tanpa dia ketahui alasannya. Dia berjalan melewati koridor, menuju kelasnya sambil membalas sapaan beberapa siswa lainnya. Dia merupakan tercantik kedua di SMA Daeil, jadi wajar dia memiliki banyak penggemar.
Ketika tiba di kelas, perasaan takut yang Lucy rasakan menghilang saat dia melihat teman-teman dekatnya.
"Ah! Lucy, kamu sudah sembuh?"
"Lucy, akhirnya kamu kembali! Kamu sudah sembuh, kan? Sakit apa kamu, hingga absen selama hampir dua minggu?"
"Lucy, kamu tidak masuk rumah sakit, kan? Aku ingin menjengukmu, tapi guru bilang kamu tidak bisa diganggu."
Banyak dari gadis, yang merupakan teman Lucy menghampirinya dan menyambutnya dengan hangat. Mereka semua memiliki ekspresi khawatir karena sebelumnya, mereka mendapat kabar jika Lucy jatuh sakit.
Lucy tersenyum masam. Dia tidak tahu harus tertawa atau menangis menghadapi teman-temannya ini.
Ketika sedang asik mengobrol, suasana kelas tiba-tiba sunyi ketika dua orang memasuki kelas, satu pria dan satu wanita.
Keduanya tidak lain adalah Arya dan Lylia. Mereka bergandengan tangan dan saling tertawa ketika mengobrolkan beberapa hal menyenangkan.
Lucy yang melihat ini merasa sakit hati, tapi dia menahannya. Dia merasa iri dengan Lylia, karena bisa merasakan sikap lembut dan kasih sayang Arya. Namun, dia tidak bisa berbuat apapun.
Mengabaikan tatapan di sekitar, Arya dan Lylia menuju bangku masing-masing.
Kembali pada Lucy, dia bertanya pada temannya.
"Apakah Arya dan Lylia sering datang bersama?"
"Eh? Ya, Arya dan Lylia akhir-akhir ini selalu datang bersama. Ada siswa kelas sebelah bilang jika Lylia pernah keluar dari rumah Arya di pagi hari. Sepertinya mereka semakin mesra, bahkan Lylia menginap di rumah Arya." Gadis yang ditanyai menjawab demikian.
Lucy terkejut, melebarkan matanya yang menjadi lembab itu. Ini sangat menyakitkan baginya.
Jika Lylia menginap di rumah Arya, mungkin saja keduanya sudah pernah ciuman, ataupun tidur bersama sambil berpelukan.
Lucy segera pucat, tidak dapat menerima berita jika Lylia pernah menginap di rumah Arya.
Beberapa menit kemudian, bel berdering, menandakan jam pelajaran sudah dimulai.
Semua murid duduk di bangkunya ketika guru memasuki kelas.
Guru wanita yang tampak berusia dua puluh tiga, atau dua puluh empat itu berdiri di depan papan tulis. Dia secara alami adalah Friska.
Tersenyum tipis, Guru Friska menyapu tatapannya ke seluruh siswa di kelasnya.
Para pria tersenyum gembira ketika mata mereka bertemu Guru Friska. Bagaimanapun, Guru Friska merupakan yang tercantik ketiga di SMA Daeil.
"Baiklah, semuanya. Sebelum pelajaran dimulai, saya memiliki sedikit pengumuman untuk kalian semuanya."
Semua orang penasaran mendengar ini.
"Pengumumannya singkat saja. Salah satu teman kalian, teman wanita, akan pindah ke Amerika Serikat dalam waktu dekat. Ayo, coba kalian tebak. Siapa yang akan pindah?"
Guru Friska menunjukan senyum tipis, mencoba bersikap misterius.
Para siswa saling memandang, bertanya-tanya. Siapa yang akan pindah?
Melihat tidak ada yang menjawab pertanyaannya, Guru Friska terkikik dan berkata.
"Jawabannya adalah Lylia! Dia sebentar lagi akan pindah, lho!"
Semua orang terkejut, segera menatap Lylia dengan bingung dan tidak percaya.
Jika Lylia pindah, maka gadis tercantik di SMA Daeil akan hilang. Jika itu terjadi, maka posisi tercantik pertama akan ditempati oleh Lucy.
"Lylia, kau akan pindah? Kenapa?"
"Lylia, ini hanya bercanda, kan?"
Pada titik ini, kelas seketika sunyi. Salah satu siswa yang mengatakan Arya dan Lylia putus itu segera gemetar ketakutan. Dia takut Arya tersinggung karena ucapannya dan dia berakhir dipukuli.
Namun, hal itu tidak terjadi.
Arya sendiri mendecakkan lidahnya mendengar ucapan orang tadi, agak tersinggung tapi dia mengabaikannya. Dia sedang merasa sakit hati sekarang, jadi dia tidak memiliki mood untuk meladeni hal sepele.
Kemudian, Lylia maju ke depan kelas dan menjelaskan alasan dia pindah.
Lucy yang mendengar kepindahan Lylia merasa begitu bahagia dan sangat bersemangat. Jika Lylia pindah, maka dia akan jauh dari Arya, memungkinkannya untuk mendekati Arya lagi dan berusaha mendapatkan hatinya kembali.
Lucy benar-benar bahagia karena kepindahan Lylia. Dia sangat ingin memeluk Arya sekarang.
*****
Dua minggu kemudian.
Waktu berjalan begitu cepat dan hari ini merupakan hari terakhir Lylia berada di kota Century sebelum dia pindah ke Amerika Serikat.
Tiga hari sebelumnya, Lylia sudah menginap di rumah Arya. Selama dua hari terakhir, keduanya hanya bermesraan dan menghabiskan waktu berdua dan hari ini, keduanya berniat pergi kencan seharian penuh, berniat menciptakan kenangan manis sebelum berpisah.
Pagi-pagi sekali, ketika matahari baru menyinari dunia dengan cahayanya, Lylia sudah terbangun dari tidurnya. Dia menatap Arya yang berada di sebelahnya dengan senyuman lembut.
Dia menatap wajah Arya cukup lama sambil bersenandung dengan nada menyenangkan. Dia sangat menikmati hal semacam ini.
Beberapa saat kemudian, Arya membuka matanya dengan berat. Dia menatap Lylia dengan mata mengantuk dan menariknya ke dalam pelukannya.
Lylia agak terkejut, tapi dia membiarkan Arya memeluknya. Dia membenamkan wajahnya dan mengusapkan dahinya ke dada Arya, mencoba mencari kehangatan lebih.
Arya juga begitu. Dia melingkarkan kakinya di sekitar kaki Lylia, mencoba memberikan kehangatan.
Lylia perlahan merasa mengantuk lagi saat merasakan kehangatan pelukan Arya. Dia menutup matanya lagi dan tertidur kembali.
Beberapa jam kemudian, Arya dan Lylia bangun dari tidurnya dan bersiap. Keduanya lalu pergi kencan setelah semuanya siap.
Pertama-tama, mereka pergi ke taman hiburan tempat mereka kencan beberapa minggu lalu. Di sana merena mencoba wahana yang belum sempat mereka mainkan sebelumnya. Salah satunya adalah rumah hantu.
Arya awalnya menolak karena dia takut dengan sesuatu berbau horor ataupun hantu, karena dia pernah dipaksa menonton film horor oleh Lucy dulu hingga memberinya rasa trauma.
Namun, Lylia memaksa yang membuatnya mau tak mau menuruti kekasihnya ini.
Setelah keluar dari rumah hantu, Arya tidak bisa berhenti gemetar dan ekspresi takut terlukis di wajahnya. Dia memeluk erat tangan Lylia dan tidak ingin melepaskannya.
"Arya, kamu benar-benar takut hantu, ya?"
Lylia tertawa meledek saat Arya lebih tenang.
"Ugh, aku benci rumah hantu..."
"Begitu, ya? Aku baru tahu jika kamu punya rasa takut, Arya."
"Apa maksudmu? Kamu pikir aku tidak memiliki kelemahan?"
"Ya, aku pikir begitu, karena kamu sangat sering berkelahi tanpa peduli dengan siapa kamu berkelahi. Bahkan ketika kamu menghajar Guru James dengan kejam saat itu, kamu tidak terlihat takut ataupun bersalah."
Arya terdiam.
Selesai dengan taman hiburan, keduanya pergi ke bioskop untuk menonton film.
Lylia merasa bersalah karena mengajak Arya ke rumah hantu saat di taman hiburan tadi, jadi dia memilih film dengan genre yang santai dan menyenangkan. Dia juga memilih film drama.
Kemudian, ketika hari menjelang sore, Arya dan Lylia pergi ke taman bunga dan bermain kejar-kejaran di sana. Mereka juga berfoto untuk menciptakan banyak kenangan manis.