
Setelah membeli handphone, Arya dan Andhika berbelanja banyak barang-barang. Mereka membeli beberapa untuk diri mereka sendiri, namun sebagian banyak adalah barang-barang dan keperluan yang kemungkinan Rosa sukai.
Mereka juga bermain di game center selama dua jam penuh, dengan Andhika bermain sepuasnya di sana sebelum keduanya pergi ke restoran cepat saji, membeli beberapa makanan.
Setelah puas bermain dan berbelanja, Arya dan Andhika kembali ke rumah dengan membawa banyak sekali kantong belanjaan.
Masuk ke dalam rumah, Arya menyapa Rosa dan terkejut karena sang ibu tiba-tiba memeluknya dan terisak.
"Ma, ada apa?! Apakah Vicky mengatakan hal buruk pada Mama?! Apakah ada yang mengganggu Mama?!" Arya bertanya, agak panik dan tidak senang.
"Tidak, Nak. Tidak ada yang mengganggu Mama. Biarkan Mama seperti ini sebentar, Nak."
Rosa menggeleng dalam pelukan Arya.
Andhika yang melihat Rosa menangis juga terkejut, menanyakan hal yang sama seperti yang Arya tanyakan namun dia tidak mendapat jawaban.
Arya memeluk sang ibu tercinta, menatap Lucy yang tidak jauh darinya seakan meminta penjelasan. Namun, Lucy menggeleng dan tersenyum penuh makna, yang membuatnya bingung.
Setelah beberapa saat menangis dalam pelukan Arya, Rosa melepas pelukannya dan menyeka air matanya. Dia menatap Arya dengan rumit, tapi dia berusaha tersenyum.
"Bagaimana jalan-jalanmu, Nak? Apakah itu menyenangkan?"
"Iya... Itu menyenangkan. Tunggu, itu bukan hal yang penting sekarang! Kenapa Mama tiba-tiba menangis?" Arya kembali bertanya, masih kebingungan.
Rosa menggeleng dan tidak mengatakan apapun lagi, membuat Arya semakin penasaran.
Tidak lama setelah itu, jam makan malam tiba dan keluarga Arya segera makan malam dengan makanan yang Arya beli di restoran cepat saji sebelum pulang tadi.
Selama makan malam, Rosa duduk di sebelah Arya dan menyuapinya dengan penuh perhatian dan kasih sayang, membuat Arya kewalahan.
Dia tidak tahu kenapa, tapi ibunya menjadi begitu perhatian padanya malam ini.
*****
Malam hari, sekitar jam sebelas malam lewat, Rosa yang masih terjaga di kamarnya beranjak dari kasurnya dan menuju ruang keluarga untuk mengambil air sekaligus melihat apakah Arya sudah tidur atau belum.
Melihat jika ruang keluarga masih memiliki lampu yang menyala, Rosa menghela napas lega karena mengetahui jika Arya masih terjaga.
"Arya, kamu belum tidur?"
Suara Rosa terdengar, agak mengejutkan Arya yang melamun sambil duduk di sofa itu.
"Aku belum bisa tidur, Ma. Lucy sudah tidur?" Tanya Arya, karena Lucy tidur bersama Rosa.
Rumahnya hanya memiliki dua kamar, satu digunakan dirinya dan Andhika, sementara lainnya Rosa dan Lucy.
"Hmph, kamu lebih memilih bertanya tentang Lucy sudah tidur atau belum, daripada bertanya "Kenapa Mama belum tidur?", hm?"
Rosa mendengus, agak tidak senang karena putranya terdengar lebih menyayangi kekasihnya daripada dirinya.
Arya tersenyum masam, meminta maaf dengan lembut.
Rosa terkekeh dan duduk di sebelahnya, lalu menepuk pahanya dengan pelan.
Arya terkejut melihatnya. Dia sepertinya mengerti maksud Rosa.
Menuruti permintaan sang ibu, Arya membaringkan tubuhnya dan menggunakan paha Rosa sebagai bantal kepalanya.
Bantal pangkuan semacam ini begitu menenangkan dan nyaman, memberikan kehangatan pada Arya, membuatnya seketika mengantuk.
Rasanya begitu hangat dan nyaman, seakan seluruh beban yang Arya tanggung di pundak dan hatinya terangkat begitu saja. Kehangatan seorang ibu benar-benar luar biasa. Tidak yang bisa mengalahkan kasih sayang seorang ibu.
"Arya, maafkan Mama, ya?"
"Maaf? Maaf untuk apa, Ma?" Arya agak terkejut.
"Maaf untuk semuanya. Dulu, saat kamu meminta izin pada Mama untuk tinggal bersama kakekmu, Mama menolak dan pada akhirnya kita bertengkar. Mama juga sempat mengatakan hal buruk padamu. Mama sangat menyesal karena sudah mengatakan hal itu dan membandingkanmu dengan ayahmu. Mama pikir Mama tidak akan bisa melihatmu lagi, karena kamu sudah membenci Mama atas apa yang telah Mama katakan padamu."
Rosa akhirnya bisa mengatakan apa yang tertunda setelah sekian lama. Rasanya sangat melegakan karena dia bisa meminta maaf dengan lugas pada putranya.
Arya terkejut mendengarnya, tidak menyangka jika ibunya akan mengatakan hal seperti itu. Dia memang pernah bertengkar dengan Rosa dulu dan ibunya memang sempat mengatakan beberapa hal buruk padanya, menyamakannya dengan sang ayah.
Arya sempat marah karena hal itu, tapi dia segera tenang. Bahkan, dia sempat menyesal tinggal bersama Erwin. Jika dia tetap di kota Bern, dia akan menghabiskan waktunya bersama sang ibu.
Menggelengkan kepalanya, Arya berkata dengan nada yang sangat lembut, bagai sutra.
"Mama, tolong jangan mengatakan hal semacam itu. Semua adalah salahku karena aku memaksa untuk tinggal bersama kakek. Aku yang seharusnya minta maaf, bukan Mama."
Arya mengulurkan tangannya, menyeka air mata Rosa yang hampir tumpah.
Rosa menahan air matanya, menikmati kehangatan tangan putranya yang terasa kasar itu. Dia yakin, tangan yang kasar inilah yang telah mencukupi segala kebutuhannya selama satu tahun ini.
Dia agak merindukan tangan Arya yang halus dan mulus seperti dulu, tapi mengingat kerja kerasnya, semua penyesalannya menghilang.
Setelah itu, baik Arya dan Rosa saling meminta maaf dan saling memaafkan. Mereka mengobrol sedikit sambil menunggu rasa kantuk mereka datang.
"Oh, ya. Nak, kamu dan Lucy sangat dekat dan kalian memiliki rencana untuk menikah di masa depan, benar? Bolehkah Mama tahu, kapan kira-kira kalian akan menikah?"
"Eh?" Arya terkejut, wajahnya memerah.
Menatap Arya yang masih berbaring di pangkuannya, Rosa menunggu jawabannya. Dia sangat ingin tahu kapan Arya merencanakan pernikahannya dengan Lucy.
Melihat keseriusan Rosa, Arya tersenyum masam dan menjawab.
"Jika Mama merestui, maka itu akan menjadi secepatnya. Aku berencana menikah dengan Lucy setelah lulus sekolah ini. Apakah itu boleh, Ma?"
"Setelah lulus? Bukankah itu terlalu cepat?" Rosa terkejut.
"Itu... Tidak boleh, ya?"
"Bukannya tidak boleh, Nak. Hanya saja, bukankah lebih baik kamu kuliah dulu dan mendapat pekerjaan, baru menikah? Kamu tinggal bersama kakekmu selama tiga tahun ini dan setelah lulus kamu ingin langsung menikah? Kapan kamu akan menghabiskan waktu bersama Mama dan Andhika lagi?" Rosa berkata, agak gemetar dalam nadanya.
"Mama tidak bisa membayangkan hidup tanpamu, Nak. Jika kamu sudah menikah, kamu akan memiliki keluargamu sendiri dan meninggalkan Mama. Jika itu terjadi, Mama akan merasa sangat kesepian. Mama sudah tidak muda lagi, Nak. Satu-satunya yang Mama inginkan saat ini adalah hidup bersama anak-anak yang sangat Mama sayangi ini. Jadi, bisakah kamu menunda pernikahanmu? Jika memungkinkan, bisakah kamu menikah di usia dua puluh dua atau dua puluh tiga? Selama kamu belum menikah, temani Mama, ya?"
Rosa berkata dengan suara yang gemetar dan matanya menunjukkan sedikit ketakutan dan kesepian.
Arya terdiam mendengarnya. Dia paham maksud Rosa.
Diam cukup lama, Arya menghela napas berat dan berkata dengan senyuman lembutnya.
"Ma, jangan khawatir. Jika itu memang keinginan Mama, maka tidak masalah aku menunda pernikahanku. Aku akan menghabiskan waktu bersama Mama selama beberapa tahun lebih dulu, baru menikah. Selain itu, bahkan jika aku sudah menikah, aku akan selalu menjadi anak Mama dan tidak akan pernah meninggalkan Mama. Di mana Mama berada, maka aku akan berada di sana juga. Aku tidak akan pernah meninggalkan Mama. Aku berjanji, Ma."
Arya menatap Rosa dengan serius. Nadanya penuh akan keyakinan yang tidak tergoyahkan.
Rosa tersentuh dalam hatinya, sangat bahagia karena putranya telah berjanji tidak akan meninggalkannya. Bukannya dia tidak merestui pernikahan Arya dan Lucy, hanya saja dia belum rela jika harus berpisah dari putranya.
Menyeka air matanya, Rosa mengecup dahi Arya dengan penuh kasih.
"Terima kasih, Nak. Mama sangat bahagia bisa memiliki putra seperti dirimu."