
Di teras rumah, terlihat dua orang sedang duduk bersebelahan, saling bersandar dan menatap bulan serta bintang yang bertaburan di langit.
Keduanya secara alami adalah Arya dan Lylia.
Mereka benar-benar puas setelah kencan selama satu hari ini. Mereka baru saja pulang dari kencan mereka dan memilih duduk di teras rumah sambil mengobrolkan beberapa hal ringan namun menyenangkan.
"Arya." Panggil Lylia lembut.
Arya segera menoleh dan melihat jika Lylia tersenyum manis padanya. Gadis itu tiba-tiba mencium pipinya dengan mesra selama beberapa saat.
"Aku mencintaimu." Katanya dengan rona merah dan ekspresi bahagia.
Arya tersipu dengan ini. Wajahnya merah dan jantungnya berdebar kencang.
"Aku juga mencintaimu, Lylia."
Arya membalas dengan lembut.
Keduanya saling mengungkapkan perasaan mereka dengan penuh kasih, membuat bulan dan bintang yang menjadi saksi bisu itu iri ketika melihat pasangan ini sangat penuh akan cinta.
"Baiklah, ini sudah saatnya aku pergi. Lihat, sopir sialan itu sudah menjemput saja."
Lylia berdiri, mengutuk sopir yang menjemputnya terlalu cepat.
Arya tersenyum tanpa daya melihatnya. Dia merasa agak kasihan pada si sopir.
Menatap Arya, mata Lylia gemetar dan lembab. Berat rasanya jika harus pergi meninggalkan pria yang dia cintai.
Melangkahkan kakinya, Lylia pergi menjauh tapi dia dihentikan oleh Arya.
"Tunggu, Lylia. Tunggu."
Lylia menoleh dan menatap Arya dengan ekspresi rumit.
"Lylia, setelah kamu pindah ini, bagaimana dengan hubungan kita? Kita masih akan menjadi pasangan kekasih, kan?"
Lylia tertegun, tidak tahu harus menjawab apa. Jika disuruh melakukan hubungan jarak jauh, dia sangat mau. Tapi jika dia harus putus dengan Arya, maka rasanya sangat sakit.
"Aku tidak tahu. Aku serahkan semuanya padamu, Arya. Aku siap untuk melakukan hubungan jarak jauh. Tapi jika kita harus putus..."
Lylia tidak menyelesaikan kalimatnya. Dia perlahan menangis dan menjatuhkan diri ke dalam pelukan Arya.
"Aku tidak ingin ini... Aku hanya ingin bersamamu, Arya. Aku ingin tetap bersamamu, aku tidak ingin pindah..."
Lylia terisak.
Arya memeluknya dengan erat, tidak ingin melepaskannya.
Setelah Lylia agak tenang, dia mengangkat kepalanya dan menatap Arya.
Arya menyeka sudut mata Lylia yang masih basah itu. Dia membelai pipi sang kekasih dengan lembut.
"Arya, apa keputusanmu? Kamu ingin hubungan jarak jauh, atau putus?
Arya ragu menjawab. Dia benar-benar bimbang saat ini.
Jika Arya harus melakukan hubungan jarak jauh, dia siap namun dia memiliki firasat buruk akan hal ini.
Tapi jika harus putus, rasanya sangat sakit baginya. Dia tidak ingin putus dengan Lilia tapi dia harus memilih satu di antara dua pilihan.
Hubungan jarak jauh atau putus.
Mengabaikan firasat buruknya, Arya menepuk bahu Lylia dan menatapnya dengan serius.
"Lylia, mari kita lakukan hubungan jarak jauh. Ayo kita lakukan itu. Meski kita terpisah akan jarak, cinta kita akan tetap sama, kan?"
Arya mencoba tersenyum.
Lylia terkejut dan mengedipkan matanya beberapa kali. Dia kemudian segera tersenyum lebar dan melemparkan dirinya ke pelukan Arya, memeluknya dengan erat hingga sesak.
"Ya, ayo lakukan hubungan jarak jauh! Aku pastikan meneleponmu atau mengirimkanmu pesan setiap harinya, aku janji!" Kata Lylia penuh kebahagiaan.
Arya tersenyum hangat dan menepuk kepala kekasihnya itu.
Melepaskan pelukannya, Lylia menatap Arya dengan mata berbinar, wajah merona dan senyum nakal.
"Arya, aku punya permintaan. Bisakah kamu mengabulkannya?"
"Permintaan apa, Lylia? Katakan saja dan akan aku kabulkan!"
"Cium aku."
Arya terdiam.
"Apakah kamu tidak bisa mengabulkannya? Hmph, kamu jahat!"
Lylia mendengus, buang muka dengan tidak senang. Meminta untuk dicium benar-benar memalukan baginya, terutama dia adalah seorang gadis. Jika Arya menolak, mungkin dia tidak akan mau menatapnya lagi.
Menggelengkan kepalanya, Arya menepuk bahu Lylia.
"Tunggu sebentar!"
Arya pergi ke dalam rumahnya, ke kamar mandi, menggosok giginya hingga bersih dan memastikan bau mulutnya segar, baru dia kembali pada Lylia.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Menggosok gigiku."
"Hm? Untuk apa? Arya, kamu aneh." Lylia tertawa kecil, merasa lucu.
Arya memerah mendengar tawanya. Ini adalah pertama kalinya dia ciuman, jadi setidaknya dia ingin memastikan aroma mulutnya segar sehingga pengalaman pertamanya ciuman dengan Lylia tidak akan meninggalkan kesan buruk.
"Be-berhenti tertawa, atau aku akan menciummu!"
"Coba saja, jika kamu berani." Goda Lylia.
Lylia kemudian menangkupkan tangannya di wajah Arya, membelainya dengan lembut.
Arya memeluk pinggang ramping Lylia, menariknya ke dalam pelukannya.
Keduanya saling menatap. Wajah mereka begitu dekat hingga mereka bisa merasakan napas satu sama lain. Rona merah mewarnai wajah mereka.
Mendekatkan wajahnya ke wajah Lylia, Arya mengerucutkan bibirnya dengan mata perlahan tertutup.
Lylia melakukan hal yang sama.
Perlahan, kedua bibir saling menyatu. Mungkin karena ini pertama kalinya keduanya berciuman, ketika bibir mereka menyatu itu agak meleset namun bukan masalah.
Arya yang merasakan bibir Lylia yang begitu lembut, hangat dan nikmat itu merasa sangat bahagia. Dia tidak berniat melepaskan bibirnya sebelum kehabisan napas.
Lylia merasakan jantungnya berdebar kencang ketika perasaan bahagia memenuhi hatinya. Dia sangat senang karena akhirnya bisa ciuman dengan pria yang dia cintai. Bibir Arya benar-benar membuatnya ketagihan, karena kehangatannya yang membuatnya tidak ingin melepaskan diri.
Ketika keduanya memisahkan diri, itu adalah ketika mereka kehabisan napas karena ciuman yang mereka lakukan. Itu hanya ciuman dangkal dan ringan, namun dilakukan begitu lama.
Setelah berciuman, keduanya memerah dan jantung mereka berdebar, namun tidak ada yang mengalihkan pandangannya. Keduanya saling menatap untuk waktu yang lama sambil terengah-engah.
Wajah Lylia yang merah cerah dengan matanya yang lembab dan memohon itu benar-benar tampak menggoda.
Tanpa mengatakan apapun, keduanya menyatukan bibir mereka sekali lagi.
Untuk kedua kalinya, bulan dan bintang menjadi saksi bisu Arya dan Lylia yang berciuman dengan mesra, meski itu adalah ciuman pertama mereka.
Jika bulan dan bintang bisa berbicara, mungkin mereka akan mengeluh karena kemesraan Arya dan Lylia yang sangat manis dan harmonis.
*****
Esok paginya, Arya yang baru dari tidurnya merasa sakit kepala. Bukan hanya kepalanya saja yang sakit, tapi hatinya juga. Tadi malam benar-benar perpisahannya dengan Lylia.
Melihat jam di dinding, ini sudah setengah tujuh pagi. Hari ini adalah hari Rabu, jadi Arya harus pergi ke sekolah. Namun, karena moodnya sedang buruk, dia menarik kembali selimutnya dan hendak tidur kembali.
Namun, sebelum Arya bisa memejamkan matanya, pintu kamarnya tiba-tiba didobrak oleh seseorang.
Arya terkejut dan segera duduk, terkejut melihat yang mendobrak pintu adalah Erwin.
"Arya, bangun! Ini sudah hampir jam tujuh, kau harus pergi ke sekolah sekarang atau kau akan terlambat!"
Erwin mengoceh.
Arya mendecakkan lidahnya. Dia memutar matanya dengan malas dan kembali berbaring, memunggungi kakeknya.
"Aku sedang tidak enak badan hari ini, jadi biarkan aku istirahat di rumah." Kata Arya malas.
Sudut mata Erwin berkedut. Dia tahu jika Arya tidak sakit, hanya saja cucunya ini sedang dalam mood yang buruk karena kekasihnya pergi dan pindah jauh.
Erwin tahu tentang kepindahan Lylia, jadi dia tahu jika Arya sebenarnya sedikit sedih. Namun, itu bukan alasan untuk tidak masuk sekolah.
"Arya, bangun sekarang atau Kakek akan menelepon ibumu!"
Arya terkejut mendengarnya. Dia segera duduk, melempar selimutnya ke samping dan beranjak dari kasurnya.
Dia segera memasuki kamar mandi, membersihkan dirinya lalu pergi ke sekolah.
Arya tahu jika Erwin tidak bercanda tentang menelepon ibunya. Jika Rosa tahu dia membolos sekolah, maka dia akan dimarahi habis-habisan.
Rosa begitu mengerikan saat marah, jadi Arya tidak ingin mencari masalah tidak perlu.