Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 151 - Lucy Meledek Arya



Pada esok harinya, Arya dan seluruh siswa SMA Daeil akhirnya melakukan perjalanan menuju salah satu tempat tujuan study tour mereka.


Tempat yang mereka kunjungi kali ini adalah sebuah bangunan bersejarah yang sudah berdiri sejak seribu tahun lebih yang lalu. Bangunan ini memiliki banyak ukiran yang unik serta memiliki banyak aksara kuno yang sebagian banyak masih belum dapat diterjemahkan karena banyak faktor.


Selain itu, bangunan ini memiliki kisah yang menarik dan menakjubkan. Di mana, bangunan ini dirumorkan dibangun dalam waktu satu hari satu malam. Kisah ini sering dijadikan dongeng anak-anak sebelum tidur. Namun, rumor tersebut tidak ketahui faktanya hingga kini.


Setelah selesai dengan bangunan bersejarah tersebut, para siswa mendapat izin untuk berkeliling dan harus kembali tepat waktu dan mereka hanya diperbolehkan untuk berkeliling di sekitar bangunan bersejarah ini dan tidak boleh pergi terlalu jauh.


Selagi diizinkan berkeliling, Arya dan Lucy tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan dan segera pergi berduaan. Mereka berjalan di sekitar bangunan bersejarah ini sambil berpegangan tangan dengan mesra tanpa merasa malu dengan sekitar.


"Lucy, bagaimana menurutmu tentang bangunan ini? Katanya ini dibangun satu hari satu malam, lho." Arya bertanya, sedikit tertarik dengan rumor tentang bangunan bersejarah ini.


"Hm, menurutku bangunan ini cukup menarik dan memiliki kisah yang menarik juga, tentunya. Kalau benar ini dibangun dalam waktu satu hari satu malam, maka aku akan sangat kagum dengan orang yang membuat bangunan ini."


Sembari berjalan berdua, mereka membicarakan sedikit tentang bangunan bersejarah ini.


*****


Setelah melewati hari yang cukup melelahkan, akhirnya hari pertama study tour selesai dengan lancar.


Kini, Arya sedang berada di dalam kamar hotelnya dan berbaring di atas kasur king size-nya dengan malas. Setelah seharian berpegian, tubuhnya lelah dan dia berniat istirahat sebentar sebelum pergi membersihkan tubuhnya.


"Ini baru hari pertama tapi sudah sangat melelahkan. Bagaimana dengan hari kedua dan seterusnya? Ugh, seharusnya aku di rumah saja bersama mama."


Arya bergumam, menghela napas dan bangkit dari kasurnya. Dia segera masuk ke kamar mandi dan suara gemericik air segera terdengar.


Di sisi lain, Lucy yang baru saja selesai membersihkan diri memiliki wajah yang segar dan kecantikannya bertambah. Dia kini sedang berjalan di koridor dan menuju kamar nomor 30, yang merupakan tempat Arya berada.


Tiba di sana, Lucy mengeluarkan kunci cadangan dari kantungnya dan langsung membuka kamar nomor 30, lalu masuk.


"Arya, aku datang..."


Lucy berkata, namun suaranya perlahan menghilang. Dia tidak melihat Arya di dalam sana.


Dia kemudian melihat sekeliling, lalu mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.


"Oh, dia sedang mandi, ya? Aku kira dia pergi."


Lucy menghela napas lega, lalu duduk di sofa dan bersandar di sana.


Tak lama kemudian, Lucy mendengar suara derit pintu dan segera menoleh, langsung memerah karena terkejut.


Di dalam pandangannya, Arya keluar dari kamar mandi dengan wajah segar, namun pada saat ini, kekasihnya itu tidak mengenakan baju dan hanya memakai celana selutut saja. Rambutnya yang basah itu meneteskan air.


Terlebih lagi, dengan Arya telanjang dada, dia menunjukkan ototnya yang sudah hampir sempurna itu. Otot di tangannya kencang dan berisi, perutnya juga sudah mulai menbentuk dan dadanya yang bidang itu membuat Lucy tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Arya.


Dia terpesona oleh keindahan di depan matanya ini.


"Lucy, bisakah kamu berhenti menatapku seperti itu?"


Arya tersenyum masam. Dia agak terkejut melihat Lucy berada di dalam kamarnya, namun dia segera ingat jika dia memberikan kunci cadangan pada Lucy.


Sekarang, Arya merasa kurang nyaman karena ditatap terlalu lama oleh Lucy.


"Arya, boleh aku menyentuhnya?"


Lucy bertanya dengan wajah berharap.


Arya mengangguk, tersenyum masam.


Lucy kemudian mengulurkan tangannya dan menyentuh perut Arya yang berotot namun belum sepenuhnya jadi itu. Dia bisa merasakan jika itu agak keras, namun kehangatan yang biasa dia rasakan tetap sama.


"Arya, bisakah kamu tidak terlalu berotot? Ini jadi keras, tahu?"


Lucy tersenyum meledek pada Arya, masih mengusap perut Arya dengan gerakan lembut.


Arya berkedut mendengarnya, agak kesal. Dia susah payah membentuk tubuhnya agar dipuji oleh Lucy, namun yang dia dapat adalah ledekan, membuatnya sakit hati.


"Kalau begitu, jangan pedulikan. Aku membentuk tubuhku agar aku bisa berkelahi tanpa hambatan. Jika kamu tidak suka, tarik tanganmu dan jangan menyentuhnya."


Arya meraih tangan Lucy yang mengusap perutnya, menariknya dan memeluknya.


Dengan tangan lainnya, Arya memeluk pinggang ramping Lucy. Ketika dia memeluknya, dia bisa merasakan pinggang ramping Lucy.


Lucy juga sepertinya baru mandi, aroma tubuh dan rambutnya yang wangi bisa membuat Arya mabuk dengannya.


Tanpa basa-basi, Arya mencium bibir Lucy dan langsung memasukkan lidahnya.


"Ja-jangan tiba-tiba begitu... Aku tidak siap..."


Lucy berkata, memerah dan matanya lembab namun menunjukkan kenakalan.


"Siapa yang menyuruhmu mengejekku? Aku susah payah membentuk tubuhku, tapi kamu malah mengejekku."


Arya tersenyum, mempererat pelukannya.


Setelah itu, tidak ada yang tahu berapa banyak Arya dan Lucy berciuman hari itu.


*****


Hari ketiga study tour, Arya dan Lucy pergi mengunjungi sebuah rumah adat dan mempelajari kebudayaan yang berasal dari kota Vant. Di sana mereka berdua belajar banyak, terutama tentang kebudayaan kota Vant yang begitu unik dan sangat menarik untuk dipelajari.


Bahkan seorang Arya yang malas belajar saja berminat mempelajari kebudayaan kota Vant, karena sangat disayangkan jika dia tidak mempelajarinya ketika kebudayaan itu sendiri begitu menarik.


Setelah selesai dengan rumah adat dan kebudayaan, Arya dan Lucy mengunjungi museum terbesar di kota Vant. Di sana mereka jadi mengetahui banyak hal, salah satunya adalah sejarah berdirinya kota Vant yang ternyata pernah mengalami masa-masa kelam sebelum akhirnya menjadi kota yang indah dan ramai penduduk.


Selain itu, museum juga merupakan tempat berkumpulnya benda-benda bersejarah, jadi hampir setiap siswa SMA Daeil tampak kagum saat mereka melihat satu per satu benda-benda bersejarah tersebut.


Setelah selesai dengan mempelajari kebudayaan kota Vant dan museum di sana, Arya kembali ke hotel bersama siswa lainnya.


Dia beristirahat di dalam kamarnya, duduk di sofa dan menonton TV. Dia cukup lelah hari ini meski perjalanan hari ini tidak terlalu lama.


Tanpa disadari, Arya telah berada di kamar hotelnya selama dua jam. Itu memang waktu yang cukup lama, tapi dia tidak khawatir karena study tour hari ini telah berakhir. Jadi dia memiliki waktu luang yang banyak.


Melirik jam dinding, Arya melihat itu sudah jam lima sore lebih. Dia kemudian pergi membersihkan diri sebelum pergi mencari makan malam bersama Lucy.