Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 12 - Rumah Sakit



Ketika Arya membuka matanya, dia merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Tapi ketika dia menoleh ke samping, dia melihat seorang wanita cantik bersama seseorang yang seusia dengannya.


Arya memandangi wanita tersebut cukup lama karena dia terkejut. Dia tidak tahu mengapa tapi kini Yuki sedang berada di dekatnya bersama Niko yang masih babak belur.


"Tante?"


Arya bergumam bingung, menyebabkan Yuki tersadar dari lamunannya.


"Arya, kau baik-baik saja?! Apakah ada yang sakit?! Tunggu, aku akan panggilkan dokter!"


Yuki bertanya dengan panik dan pergi memanggil dokter tanpa Arya bisa mengatakan sepatah kata pun.


Melihat ini, Arya tersenyum masam sementara Niko tertawa canggung.


"Bagaimana aku bisa ada di sini, Niko?"


"Oh, apakah kau tidak ingat? Brent membawamu ke rumah sakit karena kau pingsan dan babak belur."


Niko menjelaskan sedikit mengapa Arya bisa berada di rumah sakit. Dia sama sekali tidak mengingat mengapa dia bisa berada di rumah sakit.


Yang terakhir dia ingat adalah dia membunuh Roy dan kelompoknya di gudang terbangkalai di ujung kota. Dan setelah itu, dia tidak ingat apapun.


Mendengar penjelasan Niko, Arya mengetahui kalau Brent membawanya ke rumah sakit karena babak belur dan pingsan. Setelah dicek, ternyata dirinya mengalami luka yang cukup parah.


Dua tulang rusuknya patah dan satu retak. Selain itu, ada luka benjol di kepalanya, jadi dia sepertinya harus dirawat inap selama beberapa hari.


Selain itu, dari penjelasan Niko, dia menyadari kalau yang memanggil Niko dan Yuki adalah Brent.


Brent saat itu panik dan secara gegabah menelepon Niko untuk memberitahu kalau Arya masuk rumah sakit.


Niko yang mendapat kabar ini langsung ke rumah sakit, karena seharusnya Arya baik-baik saja karena dia baru saja ke rumahnya semalam.


Ketika Niko ingin pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Arya, Yuki secara tidak sengaja mendengar obrolan Brent dan Niko melalui telepon. Dia juga terkejut karena Arya masuk rumah sakit, jadi dia ingin menjenguknya juga.


Ketika Arya mengetahui semua ini, alisnya berkedut. Dia mengutuk Brent karena terlalu gegabah menelepon Niko. Kini dia harus memikirkan alasan yang bagus untuk diberikan pada Yuki dan Niko tentang mengapa dia bisa masuk rumah sakit.


"Oh, ya. Apakah kau benar-benar berkelahi dengan Roy dan kelompoknya?"


Niko tiba-tiba bertanya.


"Huh? Siapa yang mengatakan itu?"


"Brent, dia bilang kau berkelahi melawan Roy dan kelompoknya seorang diri. Bukankah itu berlebihan?"


"Te-tentu saja tidak. Lihat ini, aku menang melawan mereka semua."


Arya menggerakkan tubuhnya, menunjukan kalau dia baik-baik saja. Tapi ketika dia bergerak sedikit saja, dia langsung mengerang.


"Lihat, kau tidak baik-baik saja. Aku yakin kau kalah melawan mereka. Tidak mungkin kau menang melawan selusin orang lebih."


Niko menghela nafas, mengasihani Arya. Tapi di dalam, dia berterima kasih pada Arya.


Setelah itu, Yuki kembali ke kamar tempat Arya dirawat bersama dokter.


Dokter kemudian memeriksa luka Arya selama beberapa saat sebelum dia menghela nafas.


"Dokter, bagaimana kondisi Arya?"


Dokter kemudian menjelaskan secara singkat tentang keadaan Arya.


Mendengar penjelasan dokter, Yuki terkejut. Dia mendengar dari dokter kalau dua tulang rusuknya patah dan satu retak. Memerlukan beberapa minggu untuk Arya benar-benar sembuh.


Setelah dokter pergi, Yuki menatap Arya dengan mata berkaca-kaca. Suaranya gemetar saat dia bertanya dengan pelan.


"Kenapa kamu begitu bodoh? Pergi berkelahi dengan Roy seorang diri. Lihat dirimu sekarang, dipenuhi luka bahkan kau mengalami patah tulang."


"Tenang saja, Tante. Ini hanya patah tulang dan akan sembuh seiring berjalannya waktu."


Arya tersenyum terpaksa, mencoba menghibur Yuki meski itu tidak menenangkannya.


"Bagaimana bisa itu baik-baik saja?!"


Yuki memarahi Arya.


Kemudian, Arya mendengarkan Yuki mengomel selama satu jam penuh.


Esok harinya, Brent datang menjenguk Arya. Dia ditelepon oleh Niko karena Arya menyuruhnya untuk datang ke rumah sakit.


Brent awalnya ragu, tapi mengingat sosok mengerikan Arya saat membunuh, dia langsung merinding dan bergegas ke rumah sakit.


"A-apakah ada yang bisa aku bantu, Arya?"


Brent bertanya dengan suara gemetar. Wajahnya pucat dan dahinya dipenuhi keringat dingin. Dia tidak menatap Arya ketika bertanya karena takut.


Pemandangan Arya membunuh Roy masih melekat jelas diotaknya, membuatnya takut meski Arya tidak berbuat apapun padanya.


"Brent, kau melihat apa yang kulakukan di gudang di ujung kota kemarin. Rahasiakan itu atau nyawamu taruhannya."


Brent segera mengangguk dengan cepat seperti anak ayam mematuk nasi. Dia tidak berani membantah Arya sedikitpun.


Jadi, kedatangan Brent menjadi tanda tanya bagi Arya.


Kemudian, Brent menjelaskan bahwa dia secara tidak sengaja melihat Arya menghalangi jalan Roy dan kelompoknya kemarin. Dia melihat keduanya memiliki permusuhan dan menjadi curiga.


Karena rasa curiganya, dia mengikuti Arya tapi dia sempat kehilangan jejaknya sampai akhirnya dia mendengar suara teriakan dari sebuah gudang terbangkalai.


Dan akhirnya, dia melihat Arya membunuh Roy dan kelompoknya.


Ketika Arya mendengar penjelasan Brent, dia berdecak kesal pada diri sendiri. Dia terlalu ceroboh hingga tidak menyadari bahwa ada yang mengikutinya.


Arya lalu mengibaskan tangannya, menyuruh Brent pergi.


Brent pun dengan senang hati pergi.


Beberapa saat kemudian, Yuki datang dengan membawa sekantong plastik berisi buah apel.


"Tante? Apakah Tante ada perlu?"


"Tidak juga. Aku hanya ingin berkunjung dan melihat kondisimu. Apakah itu salah?"


Yuki menatap Arya dengan kecewa, seakan Arya berbuat kesalahan besar.


Arya segera melambaikan tangannya dan tersenyum, berharap Yuki berhenti menatapnya seperti itu. Itu membuatnya tidak nyaman.


"Bagaimana kondisimu?"


"Aku sudah cukup membaik. Memarku juga mulai menghilang dan rasa sakit dari rusukku sudah menghilang banyak."


"Wow, apakah kamu monster? Kenapa kamu begitu cepat sembuh?"


"Ugh, itu seharusnya menjadi kabar baik kalau aku cepat sembuh. Aku tidak ingin berlama-lama di rumah sakit."


Yuko tertawa kecil saat melihat Arya mengeluh.


"Oh, ya. Kamu mau apel?"


Yuki bertanya sambil menunjukan apel yang dia bawa.


Arya segera mengangguk dan kemudian, Yuki mulai mengupaskan apel untuk Arya. Dia memotongnya kecil agar sesuai untuk satu suapan.


"Arya, terima kasih."


"Hm? Tante berterima kasih untuk apa? Aku tidak melakukan apapun."


"Tidak, kamu melakukan sesuatu dan aku harus berterima kasih padamu. Kemarin, kamu menceritakan kalau Niko diganggu oleh Roy. Dan sekarang, kamu terbaring di rumah sakit karena berkelahi dengan Roy. Aku yakin kamu melakukannya untuk Niko, makanya aku berterima kasih padamu."


Yuki menjelaskan sambil mengupas apel. Dia yakin kalau Arya berkelahi dengan Roy dan kelompoknya karena ingin membalas perbuatan mereka pada Niko.


Arya yang mendengar ini membuka mulutnya, ingin menjelaskan tapi pada akhirnya dia hanya tersenyum penuh makna.


"Ini, apelmu."


Ketika Yuki selesai mengupas apelnya, dia mengambil sepotong kecil dan memberikannya pada Arya, menyuapinya.


Arya tentu saja terkejut. Dia tidak berharap Yuki akan melakukan hal ini padanya. Dia sangat yakin kalau dia baru bertemu Yuki beberapa kali dan seharusnya mereka tidak sedekat ini.


Tapi melihat Yuki yang hendak menyuapinya dengan santai, Arya merasa bahwa mereka berdua tiba-tiba menjadi akrab tanpa disadari.


"Tante, aku bisa memakannya sendiri."


"Tidak boleh! Kamu masih sakit, jadi jangan melawan."


Seakan tidak mendengar Arya, Yuki langsung memasukkan potongan apel itu ke mulut Arya, membuatnya mau tak mau menerimanya dan memakannya.


Wajahnya sedikit memerah dan jantungnya berdebar ketika dia disuapi Yuki. Tentu, sebagai seorang pemuda yang sehat, disuapi oleh wanita cantik seperti Yuki merupakan sebuah keberuntungan yang tidak bisa terjadi setiap saat.


Setelah itu, Arya yang dipaksa pasrah dan menikmati disuapi oleh Yuki.


Meski dia terlihat enggan, dia sebenarnya menikmati momen ini.


'Ugh, disuapi seperti ini mengingatkanku padanya.'


Arya berpikir demikian ketika dia mengingat sosok gadis yang dicintainya.


Dia memang seorang pembunuh, tapi dia masih bisa merasakan manisnya cinta.


"Oh, ya. Ngomong-ngomong biaya rumah sakit biar Tante saja yang bayar. Kamu tidak perlu khawatir."


Ketika Arya sedang melamun memikirkan orang yang dicintainya, Yuki tiba-tiba berkata demikian dan membuatnya terkejut, membangunkannya dari lamunannya.


"Apa? Tunggu sebentar, kenapa Tante yang membayar biaya rumah sakitku?"


"Karena aku tidak enak hati padamu. Kamu berkelahi dengan Roy karena Niko, bukan? Anggap saja ini sebagai permintaan maaf karena sudah membuatmu berkelahi hingga mengalami patah tulang seperti ini."


Yuki menjelaskan, membuat Arya terkejut.


Dia sebenarnya berkelahi bahkan membunuh Roy dan kelompoknya sebagian besar karena kesal padanya. Tapi apa yang dikatakan Yuki ada benarnya, jadi dia hanya menerimanya dengan senyum lembut dan berterima kasih.