Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 88 - William Mendekati Lucy



Saat jam istirahat makan siang, di kantin yang penuh dengan siswa yang berlalu lalang membawa nampan, terlihat dua orang sedang makan siang dengan santai di sebuah meja. Satu pria dan satu wanita, Arya dan Lylia.


Di saat santai seperti ini, biasanya Lylia akan mengajak Arya mengobrol banyak. Arya juga sudah cukup terbiasa dengan ini, jadi terkadang dia membalas meski menggunakan nada dingin.


Menatap Lylia, Arya melihat sekeliling sejenak dan berkata.


"Lylia, bisakah aku meminta bantuanmu?"


"Bantuan apa? Katakan saja, Arya."


Arya membuka mulutnya, tapi dia menutupnya kembali, ragu dengan apa yang ingin dia katakan pada Lylia.


Lylia dengan sabar menunggu jawaban dari Arya, dia menatap kekasihnya itu dengan senyum lembut.


Menghela napas pelan, Arya membuang keraguan dalam hatinya dan berkata dengan serius.


"Lylia, aku memiliki sesuatu yang harus kubeli. Aku kekurangan dana, jadi jika memungkinkan, pinjami aku beberapa juta. Akan aku kembalikan secepatnya."


Suara Arya pelan, namun jelas.


Lylia tanpa pikir panjang mengangguk setuju. Dia tersenyum lembut dan berkata.


"Tidak masalah, akan aku berikan, jadi kamu tidak perlu mengembalikannya."


"Terima kasih, Lylia."


Arya tersenyum tipis, merasa senang karena semuanya berjalan lancar. Ini bukan pertama kalinya dia meminjam uang dari Lylia, jadi meski dia agak ragu, dia tetap mengatakan jika dia ingin meminjam uang.


Lylia sendiri begitu penurut dan tidak pernah menanyakan untuk apa semua uang yang Arya pinjam. Dia mencintainya dan mempercayainya, jadi tidak peduli apa, dia akan memberikannya.


Lylia tersenyum manis melihat Arya tersenyum tipis. Dia jarang melihat senyumannya, jadi dia ingin menikmati momen seperti ini sebaik mungkin.


Melanjutkan obrolan mereka, Arya dan Lylia terkadang tertawa bersama.


Arya sedang dalam suasana hati yang baik saat ini, karena dia berhasil mendapat uang dari Lylia. Dia banyak bicara sekarang.


Di kejauhan, seorang gadis menatap Arya dan Lylia yang tertawa bersama dengan tatapan sedih dan putus asa. Dia sangat ingin berada di posisi Lylia, di mana dia bisa tertawa dan berbagi cerita dengan Arya.


"Lucy, berhentilah memikirkan Arya. Dia sudah menjadi kekasih Lylia!"


Tiba-tiba, sebuah suara datang dari samping, membuat gadis yang menatap Arya dan Lylia terkejut dan segera menoleh.


Gadis ini tidak lain adalah Lucy.


Dia jelas merasa sedih karena melihat Arya bersama wanita lain. Dia mengetahui perasaan Arya yang sebenarnya, namun dia tetap tidak bisa menahan perasaan sedih ketika melihat orang yang dia cintai bersama Lylia.


Ini terlalu menyakitkan baginya, apalagi Lylia terlihat sangat bahagia bersama Arya, membuatnya sangat iri.


Tersenyum masam, Lucy berkata pada temannya.


"Maaf, aku tidak sengaja melihat mereka tadi. Aku tidak memikirkan Arya, kok. Aku hanya sedang melamun tadi."


"Lucy, jangan berbohong padaku. Meski kita baru kenal beberapa bulan, tapi aku sangat tahu jika kamu masih menyukai Arya. Lucy, kamu harus berhenti memikirkan Arya dan mulai memikirkan dirimu sendiri. Kamu harus mulai mencari kekasihmu sendiri, agar fokusmu tidak teralih pada Arya."


Gadis di samping Lucy menasehatinya dengan sungguh-sungguh. Dia terkadang merasa kesal dengan sikap Lucy yang seperti ini. Sudah dua bulan sejak Arya dan Lylia mulai berpacaran, namun Lucy yang belum bisa melupakan Arya benar-benar suatu kesetiaan yang luar biasa. Namun, baginya, kesetiaan luar biasa ini ditujukan untuk orang yang salah.


"Itu benar, Lucy. Setidaknya cari pasanganmu sendiri, temukan pria yang lebih baik daripada Arya, balas dia dengan membuatnya menyesal karena lebih memilih Lylia daripada dirimu yang sangat setia ini." Gadis di hadapan Lucy menambahkan.


"Tapi... Tapi aku tidak berniat pacaran untuk sekarang. Aku sedang ingin fokus belajar."


"Tenang saja, Lucy. Kamu bisa belajar sambil pacaran. Bagaimana dengan ini, aku lihat William akhir-akhir ini mendekatimu. Bagaimana jika kamu pergi kencan dengannya sekali, lalu kamu putuskan. Apakah pacaran dengannya, atau tidak."


"Ya, itu benar, Lucy. Meski William agak narsis, tapi setidaknya dia orang yang baik dan ramah. Dia juga lebih tampan dari Arya, jadi kupikir tidak ada masalah dengan itu. Ugh, aku iri denganmu, Lucy. William itu tampan, tahu?"


Dua orang teman Lucy menasehatinya dengan serius, membuat Lucy tidak bisa berkata-kata.


Adapun William, pemuda itu memang mendekatinya akhir-akhir ini, namun dia tidak terlalu meladeninya. Dia hanya akan bertukar sapa sesekali. Juga, dia berusaha sebaik mungkin untuk menjauh darinya.


Tiba-tiba, sebuah suara datang dari belakang.


Lucy dan dua temannya menoleh dan melihat seorang pemuda berwajah tampan menghampiri mereka dengan senyuman di wajahnya.


Dua gadis itu terpesona oleh ketampanan pemuda itu, namun Lucy tidak. Dia berdecak kesal dan suasana hatinya sedikit memburuk.


Pemuda tampan itu tidak lain adalah William, orang yang baru saja dibicarakan dua teman Lucy tadi.


Lucy tidak menyangka jika membicarakannya sebentar saja akan membuatnya muncul tiba-tiba seperti ini.


"Bolehkah aku bergabung dengan kalian?" Kata William.


"Tidak, pergilah."


"Ah! Tentu saja boleh!"


"Silakan, William. Duduk di mana kau suka!"


Lucy menyuruh William pergi, namun dua temannya berkata lain. Suara mereka begitu keras, menutupi suara Lucy.


William mengucapkan terima kasih lalu duduk di hadapan Lucy. Dia mengobrol dengan dua orang teman Lucy sebentar lalu menatap Lucy dengan lembut.


"Bagaimana kabarmu hari ini, Lucy?" Tanya William.


"Buruk, sangat buruk karena seseorang tiba-tiba datang dan mengganggu."


Lucy melirik William dengan tajam, nadanya lebih dingin daripada es. Dia tidak ingin bersikap lunak lagi pada William. Dia benar-benar ingin membuatnya menjauh dari dirinya, makanya dia bersikap demikian.


Dua teman Lucy tersenyum masam mendengar jawaban Lucy. Mereka jelas sadar jika Lucy sedang menyindir William.


William tidak mengatakan apapun tentang itu. Dia tetap tersenyum.


"Oh, ya. Lucy, apakah kau memiliki waktu setelah pulang sekolah? Jika bisa, aku..."


"Aku sibuk, jadi lain kali saja."


Lucy segera menjawab tanpa menunggu William selesai.


William tersenyum masam kali ini. Dia kemudian mengatakan "tidak apa-apa" pada Lucy lalu mengobrol lagi dengan dua teman Lucy lainnya.


Setelah kurang lebih lima menit, William pergi sambil melambaikan tangannya.


Kembali pada Lucy, dia sejak tadi memiliki ekspresi tidak senang di wajahnya. Moodnya benar-benar jadi buruk karena kedatangan William.


Kedua teman Lucy saling memandang dan menghela napas.


"Lucy, ayolah. Lihat William, dia sepertinya benar-benar menyukaimu. Dia ingin serius denganmu. Kenapa kamu tidak coba kencan sekali saja?"


"Ya, itu benar, Lucy. Seharusnya kamu tidak menolak William terlalu cepat, atau kamu akan menyesal suatu saat nanti. William memiliki banyak penggemar, kamu tahu?"


Keduanya kembali menasehati Lucy.


Lucy mengerutkan dahinya dengan tidak senang. Dia berdecak kesal dan sudut matanya dipenuhi kedutan.


"Aku tidak menyukai William, jadi kenapa aku harus berkencan dengannya? Juga, jika dia memiliki banyak penggemar, kenapa dia tidak berpacaran dengan salah satunya?"


"Lucy, kamu harus melakukannya agar kamu melupakan Arya."


"Semua tidak ada hubungannya dengan Arya, mengerti? Dia sudah menjadi kekasih Lylia, jadi aku jelas tidak memiliki kesempatan. Aku sadar tempatku, jadi jangan memaksaku lagi!"


Lucy tidak tahan dengan ocehan temannya, dia menatap tajam mereka dan dengan nada dinginnya, dia berdiri dan meninggalkan mereka berdua.


Keduanya menghela napas tanpa daya melihat kepergian Lucy. Mereka sudah berusaha membantu Lucy, namun jika Lucy tidak mau, maka mereka tidak memiliki hak untuk memaksanya terlalu jauh.