Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 91 - Rencana Lery dan Tommy



Setelah selesai mengungkapkan perasaannya pada Lucy dengan gaya narsisnya itu, William bangkit dari berlututnya dan tersenyum lebar, menatap Lucy.


"Putri, aku sangat bahagia karena kau telah menerima perasaanku, ini sungguh tidak disangka-sangka."


William membusungkan dadanya, merasa bangga.


Lucy hanya mengangguk ringan sebelum buang muka, berdecal kesal dan merasa jijik.


Selanjutnya, William meninggalkan beberapa kata lagi di depan para teman-teman sekelasnya dengan narsis sebelum akhirnya meninggalkan kelas. Bukannya dia tidak mau bersama Lucy, tapi Lucy sendiri yang menolak dengan alasan dia sedang agak sibuk.


Semua orang menghela napas panjang sesaat setelah William pergi. Mereka semua segera menghampiri Lucy dan membanjirinya dengan seribu pertanyaan.


Lucy terdiam mendengar banyaknya pertanyaan yang masuk ke telinganya, membuatnya pusing. Dia kemudian hanya memberikan penjelasan singkat.


"Aku melakukannya karena aku mau, jadi itu tidak masalah, kan?"


Setelah memberikan penjelasan samar seperti itu, Lucy segera mengambil tasnya dan meninggalkan kelas dengan cepat, tidak ingin mendengar pertanyaan lagi.


Di sisi lain, Arya yang masih duduk di bangkunya mengepalkan tangannya dengan keras. Rasa amarah dalam hatinya benar-benar sulit dipadamkan. Wajahnya sekarang merah karena marah. Dia berjanji dalam hatinya, jika orang pertama yang akan dia bunuh adalah William!


"Arya... Arya... Hei, Arya!"


Arya yang sedang marah dalam hatinya terkejut saat dia mendengar seseorang memanggilnya dari samping. Menoleh, dia melihat Lylia menatapnya dengan ekspresi cemas dan khawatir.


Lylia kemudian mengulurkan tangannya dan menangkupkannya di wajah Arya, membelai wajah kekasihnya itu dengan lembut.


"Arya, ada apa denganmu? Apa yang sedang kamu pikirkan hingga membuat ekspresi mengerikan seperti ini?" Lylia bertanya.


Arya linglung sejenak ketika dia tanpa sadar menikmati belaian Lylia. Amarah dalam hatinya yang bagaikan hutan kebakaran itu seketika padam, seolah-olah hujan turun dan membasahi hutan tersebut.


Mendapatkan kembali kesadarannya, Arya meraih tangan Lylia yang membelai pipinya.


"Aku teringat kenangan buruk, Lylia. Aku mengingat suatu hal yang seharusnya tak kuingat." Kata Arya penuh omong kosong.


"Benarkah? Kamu terlihat sangat marah tadi."


"Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya marah sesaat tadi, jadi tenang saja."


"Um... Baiklah kalau begitu."


Lylia mengangguk ringan, sedikit ragu dengan ucapan Arya. Dia merasa apa yang dikatakan kekasihnya itu adalah kebohongan.


Menghela napas pelan, Lylia memasang senyum lembut seperti biasanya. Dia kemudian berkata.


"Arya, ayo pulang."


"Ah, ya. Ayo pulang."


Arya kemudian berdiri dan menggendong tasnya. Keduanya kemudian meninggalkan kelas dan melewati koridor yang sudah sepi itu.


Berjalan berdampingan, Lylia memeluk tangan Arya dengan erat. Dia memiliki ekspresi bahagia di wajahnya, bersenandung dengan nada indah. Ini adalah hal yang sangat membahagiakan baginya.


Arya yang tangannya dipeluk Lylia itu sedikit memerah. Dia sudah sering mendapat perlakuan seperti ini sejak beberapa hari terakhir. Meski sudah sering, dia masih belum terbiasa. Mungkin itu karena dia tidak mencintai Lylia. Jika saja dia mencintainya, mungkin semuanya akan berbeda.


Menggelengkan kepalanya, Arya berusaha menenangkan pikirannya yang masih terkejut tentang Lucy menerima William tadi.


"Arya, hari ini adalah hari yang sangat baik, kan? Lucy akhirnya memiliki seorang kekasih. Dia sepertinya sudah melupakanmu. Arya, apakah kamu tahu? Lucy terkadang main mata denganmu. Dia terkadang menatapmu saat jam pelajaran. Dia benar-benar keterlaluan. Kamu sudah menjadi kekasihku, jadi seharusnya dia tidak main mata seperti itu! Benar bukan, Arya?"


Arya terdiam mendengar Lylia berkata demikian. Di titik ini, dia merasa dirinya disambar oleh petir. Hatinya terasa sangat sakit, membuatnya tanpa sadar mengigit bibirnya.


Mendengar Lylia berkata jika Lucy sudah melupakannya, dia merasa sakit hati. Dia tidak menyangka jika Lucy akan semudah itu melupakannya.


Lylia menyadari perubahan pada ekspresi Arya, namun dia tidak mengatakan apapun. Hanya menghela napas ketika hatinya dipenuhi kesedihan dan kepahitan.


*****


"Akhirnya, aku selesai melakukan tugas dari mereka berdua!"


William mengangkat kedua tangannya yang terkepal, menghirup udara dan menghembuskannya dalam sekali hembusan, merasa lega ketika dia menyelesaikan tugasnya.


Setelah meninggalkan kelas sesaat setelah mengungkapkan perasaannya pada Lucy, dia pergi menuju halaman belakang sekolah. Dia berjalan dengan santai pada awalnya, tapi ketika dia berjalan semakin dekat dengan halaman belakang sekolah, dia semakin memperlambat langkahnya. Ekspresi leganya juga perlahan berubah menjadi gugup dan takut.


"Ugh, apakah aku harus benar-benar ke sana? Kenapa aku yang tampan ini harus menuruti perintah mereka berdua?"


William menggerutu ketika rasa kesal melintas di benaknya. Menelan ludah dalam tegukan, dia memantapkan langkahnya dan menuju halaman belakang sekolah dengan berani.


Tiba di halaman belakang sekolah, William melihat dua orang sedang bersantai sambil mengobrol di sana. Dia kemudian dengan ragu-ragu menghampiri keduanya.


Melihat kedatangan William, dua orang itu menghentikan obrolan mereka dan menatap lurus pemuda narsis itu.


Seorang pemuda berkata. Pemuda ini secara alami adalah Lery, sementara lainnya adalah Tommy. Keduanya sedang menunggu kedatangan William saat ini.


"Y-ya... Aku sudah melakukan apa yang kau perintahkan."


"Lalu, bagaimana? Apakah gadis itu menerimamu?" Tommy bertanya.


"Dia menerimaku, tapi aku tidak tahu dia tulus atau tidak..."


"Huh, siapa peduli dengan tulus atau tidaknya! Yang terpenting dia sudah menerimamu sebagai kekasihnya!"


Lery tertawa kejam saat dia membayangkan sesuatu yang jahat.


Kembali pada William, dia sebenarnya mengungkapkan perasaannya pada Lucy bukan berdasarkan cinta, melainkan berdasarkan perintah Lery dan Tommy.


Dia awalnya tidak mengenali siapa keduanya, tapi suatu hari keduanya tiba-tiba menghalanginya saat jam istirahat makan siang dan mengajaknya ke halaman belakang sekolah.


William awalnya menolak, tapi setelah menerima satu pukulan dari Lery, dia menurut.


Setelah dibawa ke halaman belakang sekolah saat itu, William langsung diperintahkan untuk mendekati Lucy dan mengambil hatinya, menjadikannya kekasihnya.


William tentu saja menolak pada awalnya, karena dia sendiri tidak menyukai Lucy. Tapi, siapa yang sangka hanya karena penolakannya sekali itu, dia dihajar hingga babak belur.


Setelah dihajar, dia menjadi penurut dan mengikuti semua perintah Lery dan Tommy. Dia hanya meminta satu hal pada keduanya, yaitu jangan memukul wajahnya, karena wajahnya adalah wajah tampan. Dia sangat mementingkan wajahnya daripada apapun.


Menghela napas pelan, William menggelengkan kepalanya, mencoba melupakan kenangan buruk yang terjadi.


Menatap Lery, dia bertanya, "Untuk apa kau menyuruhku menjadi kekasih Lucy?"


William penasaran dengan ini. Sejak awal dia diperintahkan Lery, dia tidak pernah tahu alasannya disuruh menjadi kekasih Lucy. Dia ingin bertanya saat itu, tapi karena dia takut, dia diam.


Lery menatap William dari atas hingga bawah, menyeringai kejam.


"Tentu saja, aku menyuruhmu melakukan itu semua untuk balas dendam. Kau tahu Arya, kan? Dia satu kelas denganmu."


"Ya, aku jelas mengetahui siapa Arya. Dia pacar Lylia."


"Um, kau benar. Tapi itu bukan permasalahannya. Ngomong-ngomong tentang Arya, kau ingat jika dia pernah berkelahi denganku di hari pertama masuk sekolah, kan?"


"Itu... Aku kurang yakin, tapi aku pernah mendengar rumornya." William menjawab ragu.


"Benar, rumor itu memang benar apa adanya! Oleh karena itu, saat aku berkelahi dengan Arya, aku dikalahkan olehnya! Ini benar-benar membuatku kesal! Aku adalah Lery, yang terkuat sekaligus penguasa sekolah ini! Tapi, karena bocah bernama Arya itu, aku jadi dipermalukan dan diolok-olok oleh semua orang hanya karena aku kalah berkelahi sekali!"


Pada titik ini, nada Lery yang tenang berubah jadi marah. Dia menyimpan dendam membara pada Arya.


Dia pernah berkelahinya saat hari pertama masuk. Semua perkelahian itu terjadi saat Lery sedang mencoba mendekati Lylia. Tapi siapa yang sangka jika Lylia malah melarikan diri ke Arya yang kebetulan ada di sana saat itu?


Karena Lylia melarikan diri saat, Lery jadi kesal dan marah. Dia berakhir ingin menampar Lylia tapi dia dihentikan oleh Arya saat itu, membuatnya semakin marah dan berakhir berkelahi dengan Arya.


Sebenarnya, agak kurang tepat jika mengatakan dia kalah dari Arya. Dia hanya dipermalukan olehnya di depan orang banyak, membuatnya malu setengah mati.


Karena dia, Lery, yang terkenal sebagai penguasa sekolah itu dipermalukan oleh adik kelas yang berada di tahun pertamanya, dia jadi bahan olok-olok banyak orang. Oleh karena itu, dia menyimpan dendam membara pada Arya.


"Jadi... Karena kau dipermalukan oleh Arya, kenapa kau malah menyuruhku mendekati Lucy? Bukankah dia tidak ada hubungannya dengan perkelahianmu dan Arya?"


William bertanya, kebingungan. Dari apa yang dia dengar, seharusnya Lucy tidak ada hubungannya sama sekali dengan semua ini.


Lery hanya diam mendengar ini. Dia mengalihkan pandangannya ke Tommy.


Tommy mengangguk dengan ringan, berdeham pelan.


"William, meski Lucy tidak ada hubungannya dengan ini, tapi dia merupakan objek balas dendam yang sangat bagus. Aku dengar dari orang-orang jika Arya dan Lucy adalah teman masa kecil, jadi seharusnya mereka memiliki hubungan yang sangat baik. Oleh karena itu, bisakah kau membayangkan apa yang akan terjadi jika teman masa kecilmu diperkosa tepat di depan matamu?"


Di titik ini, Tommy menjelaskan dengan santai tapi ketika dia mencapai akhir, nadanya dipenuhi kejahatan. Dia menyeringai lebar dan matanya menunjukkan tatapan aneh yang mengerikan.


William tanpa sadar merinding melihat tatapan Tommy. Dia sangat terkejut mengetahui rencana dua orang ini. Mereka jelas berniat memperkosa Lucy!


William tiba-tiba merasa bersalah pada Lucy. Dia tidak tahu apa-apa, tapi karena beberapa alasan, gadis itu jadi terlibat. Sekarang, semuanya sudah terlambat dan dia tidak bisa menghindari nasibnya yang malang ini.


Menghela napas berat, William bertanya lagi.


"Jadi, maksud kalian, kalian berencana melecehkan Lucy? Apa untungnya kalian melakukan itu? Dendam kalian seharusnya diarahkan pada Arya, bukan Lucy!"


"William, kau sebaiknya jangan banyak bertanya. Kami melakukan ini karena kami ingin membuat Arya berlutut dan meminta ampunan pada kami ketika kami melecehkan Lucy di depan matanya. Itu adalah balas dendam terbaik, kau tahu?"


William terdiam mendengar penjelasan Tommy.


Setelah itu, ketika dia hendak pergi meninggalkan halaman belakang sekolah, dia mendapat ancaman dari Lery dan Tommy. Dia diancam akan dibunuh jika dia membocorkan rencana mereka. Juga, dia mendapat perintah baru, dimana dia harus mengajak Lucy kencan sebagai dalih dimulainya rencana keduanya.