Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 39 - Aku Sangat Ingin Membunuhmu



Arya dan Dio akhirnya tiba lima ratus sebelum rumah sakit.


Sebelum tiba di rumah sakit, Arya memang sengaja meminta Dio untuk menjauh dari rumah sakit tersebut sejauh lima ratus meter.


Dio hanya bisa menurut karena dia diancam sementara Vicky merasakan sesuatu yang buruk akan menimpanya. Kedua kaki dan tangannya diikat dan mulutnya dibungkam. Jadi, apa yang bisa dia lakukan?


Arya melihat keluar mobil dan mendapati bahwa jalanan cukup sepi. Dia kemudian menyuruh Dio untuk diam dan tetap memakai sabuk pengaman agar tidak pergi ke manapun serta mengangkat kedua tangannya.


Seandainya Dio ingin kabur, dia harus membuka sabuk pengaman terlebih dahulu dan pada saat itu dia harus menggerakkan tangannya. Ketika saat itu tiba, Arya bisa membunuhnya kapan saja.


Melirik Vicky, Arya menatapnya dengan dingin dan dia membuka bungkaman mulut ayahnya itu.


"Apa yang kau lakukan, Arya?!"


Vicky langsung marah. Dia tidak tahu mengapa tapi dia tiba-tiba mendapat perlakuan seperti ini dari anaknya. Dia jelas marah dan meminta penjelasan.


"Harusnya aku yang bertanya. Kenapa kau membuat hidupku jadi begini, Vicky?"


Arya bertanya dengan nada dalam.


Vicky tertegun dan kehilangan kata-katanya untuk beberapa saat sebelum akhirnya dia meminta dilepaskan ikatan kaki dan tangannya.


Namun, apa yang dia dapat dari Arya bukanlah kebebasan namun pukulan keras pada bagian perutnya.


Vicky mengerang kesakitan dan menatap Arya dengan ketidakpercayaan dan marah.


"Gunakan saja mulutmu. Kaki dan tangan tidak bisa menjawabnya." Kata Arya dingin sambil mengepalkan tinjunya.


Vicky yang marah itu tak menjawab, membuat Arya semakin kesal. Pemuda tersebut lalu menjegal Vicky dengan cara duduk di atas perutnya dan mulai memukulnya dengan keras.


Bugh! Bugh! Bugh!


Arya mulai memukuli Vicky dengan penuh amarah.


Setiap pukulannya mengandung seluruh kekuatannya dan wajahnya terlihat sangat mengerikan. Kedua matanya menunjukan kebencian yang tidak bisa dihilangkan.


Dio yang melihat ini merinding. Dia sangat ingin melarikan diri tapi dia tahu, jika dia benar-benar melakukannya, nasibnya tidak akan beda jauh dari Vicky.


"Jawab aku Vicky! Kenapa, kenapa, kenapa, kenapa, kenapa, kenapa, kenapa kau membuat hidupku menjadi seperti ini?! Jawab aku, Vicky!!!"


Arya berteriak marah sambil terus memukuli Vicky tanpa henti.


Wajah Vicky perlahan dipenuhi dengan memar dan luka lebam berwarna ungu. Hidungnya juga mimisan dan sepertinya, hidungnya patah.


Vicky yang dipukuli tanpa henti jelas tidak bisa melakukan apapun selain menahan semua kebenciannya.


"Kenapa...? Kenapa kau membuat hidupku jadi begini...?"


Arya perlahan mulai berhenti memukul Vicky. Dia mencengkeram kerah baju Vikcy sekuat tenaga dan nadanya terdengar menyedihkan.


Perasaannya campur aduk. Arya bingung antara harus merasa bersalah atau puas karena akhirnya bisa memukul Vicky untuk menghilangkan sebagian rasa bencinya.


Arya hanya bisa menyalahkan Vicky atas apa yang telah terjadi selama ini. Jika bukan karena Vicky, dia tidak akan menjadi pembunuh.


Jika bukan karena Vicky, Rosa tidak akan menderita, kesulitan dan merasakan sakit hati setiap hari.


Jika bukan karena Vicky, masa kecilnya jelas akan bahagia.


Semuanya adalah salah Vicky. Jika dia tidak menikahi Rosa, jika dia tidak menikah lagi dengan wanita lain, maka semuanya tidak akan pernah terjadi, termasuk Arya tidak akan pernah menjadi seorang pembunuh.


Melihat Arya berhenti memukulinya, Vicky sama sekali tidak merasakan simpati dan merasa bersalah pada pemuda tersebut. Dia lalu menyerang balik dengan cara membenturkan kepalanya ke kepala Arya dengan keras.


Arya yang lengah itu terkejut dan merasakan sakit pada dahinya. Dia kemudian menyingkir dari tubuh Vicky dan tangannya meraih ke balik pakaiannya, siap mengambil belatinya.


"Dasar anak tidak berbakti! Dio lakukan sesuatu!"


Vicky mengumpat dan melirik ke arah Dio yang terlihat pucat.


Dio kebingungan untuk sesaat. Dia memejamkan matanya sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk membantu Vicky.


Namun, ketika dia melihat ke belakang, mata Dio melebar.


Yang dia lihat saat ini adalah Arya yang memegang belati berdarah dengan perut Vicky memiliki luka sayatan sepanjang dada hingga pusarnya.


Jelas, luka sayatan itu disebabkan oleh Arya.


Vicky merasakan sakit luar biasa pada dada dan perutnya. Dia berteriak kesakitan namun tidak ada yang menolongnya.


Dalam pikirannya, dia hanya ingin membunuh Vicky. Tapi, mengingat bagaimana ibunya menderita karena Vicky, Arya menahan diri untuk tidak membunuhnya dan hanya ingin menyiksanya hingga titik terendah.


"Bajingan! Kau benar-benar anak tidak tahu terima kasih!"


"Lalu, apakah aku harus peduli?"


Arya mencibir dan sekali lagi, belatinya bergerak dan menyebabkan luka sayatan lainnya di tubuh Vicky.


Vicky kembali mengerang kesakitan. Suaranya sangat keras dan darah mengalir seperti sungai mengalir.


Dio memejamkan matanya dan tidak ingin melihat keadaan Vicky. Dia merinding dan wajahnya sepucat kertas. Tubuhnya gemetar dan dia berharap bahwa dirinya tidak bernasib sama seperti Vicky.


Vicky yang telah mendapat dua luka sayatan di tubuhnya menjadi pucat seakan darah tidak mengalir di tubuhnya. Nafasnya terengah-engah dan suaranya serak karena berteriak. Matanya juga mulai meredup tapi meski begitu, dia tidak menunjukan tanda-tanda bahwa dia sekarat.


Sayatan yang Arya berikan tidak terlalu dalam, jadi kecil kemungkinannya itu menyebabkan kematian.


"Hei Vicky, saat ini aku sangat ingin membunuhmu. Tapi mengingat apa saja yang telah kau perbuat selama hidupmu, kau tidak layak mendapat kematian cepat dan mudah."


"Arya, Nak, dengarkan Papa."


Vicky yang merasa bahwa dia telah mencapai batasnya akhirnya memohon dengan pasrah. Matanya ketakutan dan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.


Saat ini, dia hanya ingin hidup. Tidak masalah baginya untuk menyembuhkan diri lebih sebelum memasukkan Arya ke penjara.


Mengabaikan ucapannya, Arya menguatkan pegangannya pada belatinya dan menatap dingin Vicky.


Arya kemudian meletakkan belatinya di mulut Vicky.


Vicky terkejut ketika merasakan darah masuk ke dalam mulutnya, apalagi itu adalah darahnya sendiri. Jantungnya berdetak kencang karena ketakutan. Dia merasakan bahwa Arya akan melakukan sesuatu yang gila.


Menggertakkan giginya, Arya menyayat mulut Vicky menggunakan belatinya.


Vicky segera mengerang kesakitan dan air matanya tumpah sederas darahnya tumpah. Setiap sudut mulutnya robek lebar dan mengeluarkan darah.


Arya menatapnya dingin dan jijik.


Hanya dalam hitungan detik, Vicky kehilangan kesadarannya.


Arya berdecak melihat Vicky kehilangan kesadaran. Namun, dengan begini dia bisa mempercepat proses penyiksaannya meski dia tidak bisa mendengar jeritan kesakitan Vicky.


Memasukkan belatinya ke dalam mulut Vicky, Arya memotong lidah ayahnya itu semudah memotong sayuran. Bagaimanapun, belatinya sudah diasah semalaman, jadi itu sangat tajam.


Dio hanya diam menonton, gemetar ketakutan. Dia tidak berani melihat ke belakang, takut jika Arya membunuhnya. Dia sendiri tidak menyangka jika putra dari sahabatnya akan menyiksa ayahnya sendiri.


Di sisi lain, Arya bersimbah darah. Dia terengah-engah dan wajahnya agak pucat namun matanya tetap dingin dan penuh kebencian. Dia menatap sudut mulut Vicky yang robek, melihat lidahnya terpotong.


Mengambil tas hitamnya, Arya mengambil golok kecil dan melepaskan ikatan pada kaki dan tangan Vicky.


Segera, Arya memotong sepuluh jari tangan dan kaki Vicky yang tidak sadarkan diri.


Setelah itu, Arya meminta Dio untuk ke rumah sakit yang jauhnya hanya lima ratus meter dari tempat mereka berada.


Dio tidak berani melihat ke belakang dan hanya menatap lurus jalanan.


Di kursi belakang, semuanya penuh dengan darah.


Arya hanya diam dan menatap Vicky.


Keadaan Vicky benar-benar mengerikan.


Ada luka sayatan di tubuhnya, lidahnya terpotong, mulutnya robek dan semua jarinya hilang.


Tiba di rumah sakit, Arya langsung mengenakan masker dan jaket yang kebetulan ada di mobil Dio.


Dia kemudian menggendong Vicky ke dalam rumah sakit untuk mendapatkan perawatan secepatnya.


Ini adalah rencananya. Dia tidak ingin Vicky mati terlalu cepat, makanya dia langsung membawa Vicky ke rumah sakit agar mendapat perawatan dan bisa hidup meski harus kehilangan lidah serta seluruh jari tangan dan kakinya. Dia ingin Vicky tersiksa selama sisa hidupnya.


Setelah menyelesaikan semua masalah di rumah sakit, Arya langsung kembali ke mobil Dio.


Menghela nafas panjang, Arya menatap kedua tangannya yang bersimbah darah. Perasaannya untuk saat ini tidak bisa dijelaskan.


Setelah itu, Arya meminta Dio kembali ke rumahnya.