Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 40 - Berhenti Menyiksa Dirimu Sendiri



"Dio, jika kau ingin melaporkanku, laporkan saja. Tapi lakukan hal itu saat aku sudah lulus nanti, jadi hukumanku akan jauh lebih lama di penjara nanti."


Ketika tiba di rumah Dio, Arya yang sudah berada di atas motornya, dengan tatapan dinginnya berkata demikian pada Dio.


Baginya, tidak masalah jika dia masuk penjara asalkan semua kebenciannya pada Vicky sudah dia hilangkan sebagian besar dengan cara menyiksa ayahnya sendiri hingga titik terendah.


Dio dengan cepat mengangguk dan tidak mengatakan apapun. Dia tidak ingin berurusan dengan Arya lagi, selamanya. Selain itu, dia takut jika dia melaporkan Arya pada polisi dan pemuda itu dipenjara, dia takut suatu saat nanti dia malah dibunuh oleh Arya karena sudah memasukkannya dalam penjara.


Arya lalu pulang ke rumahnya, bukan rumah Erwin, tapi rumah Lucy. Dia tiba di sana sudah hampir tengah malam.


Melihat Arya pergi, Dio terjatuh duduk dan menghela napas lega karena pemuda itu akhirnya menghilang dari pandangannya. Setelah itu, dia mengajak keluarganya pindah jauh agar tidak terlibat dengan Arya di masa depan.


*****


Di dalam rumah, tepatnya di ruang tamu, David yang mondar-mandir itu memiliki ekspresi khawatir di wajahnya. Dia terlihat pucat dan keringat dingin menetes dari pipinya.


Dia sangat mengkhawatirkan Arya karena kemarin, adik laki-lakinya itu mengatakan padanya jika dia akan membunuh ayahnya.


Dan hari ini, sepertinya Arya benar-benar melakukannya.


Arya pergi tanpa sepengetahuannya pagi ini. David jelas mengetahui ke mana perginya pemuda tersebut.


David sangat cemas akan hal ini. Dia hanya berharap bahwa Arya tidak benar-benar membunuh ayahnya.


Setelah menunggu selama beberapa saat, pintu rumah akhirnya diketuk oleh seseorang.


David segera membuka pintu karena dia yakin kalau itu adalah Arya.


Benar saja, yang mengetuk pintu adalah Arya. Dia terlihat pucat dan cahaya matanya redup serta tubuhnya dipenuhi bau darah dan noda darah disekujur tubuhnya.


David terkejut melihat ini dan dia merasakan sakit pada dadanya. Dia kemudian memeluk erat Arya saat matanya berkaca-kaca dan nadanya gemetar.


"Jadi kau benar-benar membunuhnya, Arya?"


"Entahlah, Kak. Aku tidak tahu apakah aku benar-benar membunuhnya atau tidak."


Dengan suara rendah dan putus asa, Arya menjawab. Dia perlahan melepaskan pelukan David dan berjalan dengan terhuyung-huyung, menuju kamar Lucy.


Mengetuk pintu kamar Lucy dengan pelan, Arya merasa kepalanya sakit dan suatu perasaan menyakitkan memenuhi dadanya.


Lucy lalu segera membuka pintu kamarnya dan terkejut melihat Arya yang bersimbah darah di sekujur tubuhnya.


Lucy linglung sampai tiba-tiba Arya menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Lucy dan gadis itu menangkapnya.


Tubuh Arya lebih besar daripada miliknya, jadi dia segera memindahkan Arya ke atas kasur, tetap memeluknya dengan hangat.


"Arya, kamu kenapa?"


"Tak apa, biarkan aku begini, sebentar saja."


Arya membenamkan wajahnya di pundak Lucy, menyembunyikan raut wajahnya dari gadis cantik itu.


Saat ini, perasaannya campur aduk.


Sedih, bingung, menyesal, puas, bahagia, lega dan marah. Semua bercampur aduk dalam hatinya, membuatnya bingung apakah yang telah dia lakukan pada Vicky adalah hal yang benar atau salah.


Dia hanya ingin melampiaskan seluruh kebencian dan amarah yang dia pendam, namun Arya tidak menyangka jika perasaannya akan seperti sekarang setelah apa yang dia lakukan.


Selama lima belas menit, Arya terus memeluk erat Lucy dan membenamkan wajahnya di pundaknya. Dia menangis tanpa suara hingga akhirnya tertidur karena lelah secara mental.


Kemudian, karena Arya tertidur, Lucy membaringkannya dan menyelimutinya.


Melihat ke tubuhnya, Lucy melihat beberapa noda darah melekat pada pakaiannya karena memeluk Arya tadi. Dia lalu melihat Arya yang tertidur itu dengan tatapan melankolis.


Lucy lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan noda darah di pakaiannya lalu menemui David di ruang tamu.


Lucy terkejut ketika melihat kakaknya duduk di sofa dengan ekspresi bermasalah dan mata yang merah, seperti habis menangis.


David sendiri jelas merasa sedih, merasa bahwa dirinya telah gagal sebagai seorang kakak. Dia tahu semua masalah yang Arya alami sejak dia kecil, namun dirinya tidak bisa membantu banyak hingga akhirnya Arya memilih jalan yang salah sebagai seorang pembunuh.


Jika saja David bisa membantunya, mungkin Arya tidak akan menjadi pembunuh.


Oleh karena itu, perasaan bersalah dan gagal sebagai seorang kakak menghantuinya.


"Kak, apa yang terjadi pada Arya? Kenapa dia terlihat begitu sedih dan menyesal? Arya biasanya tidak akan terlihat seperti ini jika dia membunuh seseorang. Siapa yang dia bunuh kali ini?"


Lucy bertanya dengan khawatir. Dia tidak hanya khawatir pada Arya, tapi juga khawatir pada David.


Dia jarang melihat keduanya dalam keadaan yang menyedihkan seperti ini.


Arya dan kakaknya itu terlihat sedih di saat bersamaan, membuatnya merasa curiga, seakan ada yang dirahasiakan dari dirinya.


Selain itu, tidak biasanya Arya akan merasa sedih ketika dia baru saja membunuh seseorang. Lucy sudah hafal dengan ini.


Jika Arya sampai merasa sedih, maka orang yang dia bunuh kali ini tidak sesederhana yang dia pikirkan.


David menyeka matanya dan menoleh ke Lucy.


"Entahlah, aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Biarkan saja dia. Mungkin Arya... Tidak, lupakan saja. Kembalilah ke kamarmu dan temani dia."


David menghela nafas panjang dan mengalihkan pandangannya ke langit-langit.


'Aku ingin mengatakan pada Lucy kalau Arya baru saja membunuh ayahnya, tapi aku sudah berjanji padanya untuk tidak menceritakan hal ini pada siapapun, terutama Lucy.'


David memijat kepalanya yang terasa sakit. Dia mengira kalau Arya benar-benar membunuh ayahnya.


Yang tidak dia ketahui adalah fakta bahwa sebenarnya Arya tidak membunuh ayahnya, hanya saja dia menyiksanya hingga titik terendah.


Lucy membuka mulutnya, ingin mengatakan sesuatu tapi dia segera menggelengkan kepalanya, mengabaikan semua pemikirannya dan menuruti ucapan David.


Dia kembali ke kamar, menatap Arya dengan memelas dan menghela nafas sebelum dia mengambil kain yang dicelupkan dalam air hangat.


Lucy menggunakan kain hangat itu untuk membersihkan noda darah di tangan dan beberapa tempat lainnya


Lucy juga menggantikan pakaian Arya agar pemuda tersebut tidur dengan nyaman dan menyemprotkan banyak parfum agar aroma darah di tubuh Arya hilang, digantikan aroma harum.


Setelah semua itu, Lucy duduk di sebelah Arya dan mengelus kepalanya. Matanya berkaca-kaca saat dia menggigit bibirnya.


"Kenapa? Kenapa kamu tidak berhenti membunuh? Berhenti menyiksa dirimu sendiri. Kamu hanya menyiksa dirimu terus seperti ini..."


Air mata mengalir dari kedua mata indah Lucy.


Dia benar-benar muak dengan ini semua.


Lucy sangat mengetahui jika setiap kali Arya membunuh, pasti akan ada sedikit perubahan dalam diri pemuda tersebut.


Dia tahu, semakin banyak Arya membunuh, maka pemuda ini akan semakin kehilangan sisi kemanusiaannya dan Lucy tidak menginginkan hal itu terjadi pada Arya.