
Besok pagi harinya, semua orang sudah terbangun dari tidurnya dan hanya menyisakan Nia yang masih tertidur. Bagaimanapun, tadi malam gadis itu kabur dari rumah dan berlari dari rumahnya hingga rumah Lucy di saat hujan deras.
Jadi, dia jelas kelelahan dan agak tidak enak badan.
Di ruang tamu, Arya dan David duduk berhadapan.
Arya baru saja selesai menceritakan tentang Nia yang kabur dari rumah, membuat David terkejut dan dia mengerutkan dahinya dengan erat.
"Kenapa kalian tidak membangunkanku tadi malam? Jika kalian membangunkanku, mungkin saja aku bisa melakukan sesuatu."
David menghela nafas.
Arya hanya memasang senyum masam di wajahnya. Dia tidak tahu harus menangis atau tertawa. Tadi malam, Lucy berteriak terkejut dan teriakannya cukup kencang untuk membangunkan seseorang. Tapi, meski teriakannya kencang, David tetap tidak bergeming dan tetap tidur pulas.
Jika Arya membangunkannya sekalipun, apa yang bisa David lakukan?
Menghela nafas, Arya tidak mengatakan apapun lagi dan hanya diam.
David juga tidak mengatakan apapun lagi. Dia menatap layar handphonenya.
Hari ini adalah akhir pekan, jadi baik Arya dan David tidak perlu melakukan aktivitas seperti biasanya.
Tidak lama kemudian, seorang gadis berambut hitam panjang datang ke ruang tamu. Lucy memiliki ekspresi khawatir dan cemas. Dia agak pucat saat ini.
"Kak, bisakah kamu membelikan obat untuk Nia? Dia agak demam."
"Oh, baiklah. Tunggu sebentar."
David bangkit dari duduknya dan mengambil jaket sebelum membeli obat untuk Nia.
Tampaknya, gadis kecil itu benar-benar jatuh sakit.
Lucy kemudian duduk di sebelah Arya. Dia sengaja meminta David untuk pergi membeli obat karena ada hal yang dia ingin katakan pada Arya.
"Arya, Nia tidak hanya demam. Ada beberapa memar pada tubuhnya. Apa yang sebenarnya terjadi padanya?"
Lucy berkata demikian. Nadanya sedih dan bahunya gemetar.
Setelah memeriksa Nia dari dekat, Lucy melihat adanya memar pada tubuh Nia, seakan dia dipukul oleh seseorang.
Arya sebenarnya sudah mengetahui hal ini sejak tadi malam. Tapi, karena kondisi Nia yang tidak memungkinkan untuk ditanyakan, dia membiarkan Nia beristirahat lebih dulu.
"Siapa yang tahu? Kita tunggu saja dia bangun dan setelah itu, mari kita tanyakan apa yang terjadi."
Lucy mengangguk. Ekspresi khawatirnya sedikit membaik dan dia berharap bahwa Nia tidak mengalami masalah serius.
Meski dia dan Nia baru kenal untuk waktu yang singkat, tapi Nia memberikan kesan yang baik pada Lucy.
Sikap Nia juga baik, penurut dan ceria. Jadi, Lucy secara alami senang dan menganggap Nia sebagai adiknya.
Jika boleh jujur, Lucy selalu menginginkan seorang adik sejak dulu.
Melihat Lucy yang masih khawatir, Arya menghela nafas pelan.
"Lucy, dengarkan aku. Nia sepertinya mengalami masalah dengan keluarganya. Sepertinya kali ini dia kabur dari rumahnya karena masalah dalam keluarganya."
Arya menjelaskan. Melihat Lucy seperti ini membuatnya merasa agak bersalah karena tidak menceritakannya.
Dia awalnya berniat menunggu Nia bangun dan menanyakan masalahnya hingga kabur dari rumah. Tapi, karena Lucy sangat khawatir, dia memilih menceritakannya.
Lucy terkejut dengan ini. Dia kemudian meminta Arya untuk melanjutkan penjelasannya.
Arya menjelaskan secara singkat. Dia tidak tahu banyak tentang masalah yang dihadapi Nia, tapi dia memiliki beberapa tebakan.
Setelah mendengar penjelasan Arya, Lucy jadi mengetahui bahwa Nia tampaknya mengalami kesulitan ekonomi dalam keluarganya. Dia mengetahui ini setelah mendengar bahwa Nia tinggal di rumah kecil yang agak kumuh dan tidak terawat.
"Arya, bisakah kamu membantu Nia. Maksudku..."
"Tenang saja, aku akan membantunya setelah mengetahui permasalahannya."
Sebelum Lucy selesai dengan kalimatnya, Arya sudah menyela.
Toko rotinya selalu ramai, jadi Lucy pikir tidak masalah jika Arya membantu sedikit.
Tentu saja, jika Arya menolak untuk membantu dia tidak akan memaksanya. Lagi pula, semuanya terserah pada Arya mau membantu atau tidak.
Setelah itu, sekitar lima menit kemudian, Nia terbangun dari tidurnya dan segera mencari Arya dan Lucy. Dia terlihat tidak enak badan dan kepalanya terasa pusing. Tubuhnya juga agak demam.
Melihat Nia, Arya mengerutkan dahinya saat dia melihat memar di wajah gadis tersebut.
Lucy segera menghampiri Nia dan mengajaknya duduk di sofa.
"Nia, kamu baik-baik saja? Apakah kamu merasa pusing atau semacamnya?"
"Tidak, Kak Lucy. Aku baik-baik saja."
Nia mengangguk sambil tersenyum yang dipaksakan.
Lucy menghela nafas melihat senyumnya. Dia kemudian duduk di sebelah Nia.
Nia kemudian mengalihkan pandangannya ke Arya yang menatapnya dengan serius. Dia memahami tatapan Arya, pemuda ini jelas menunggu penjelasan.
Nia perlahan membungkuk sedikit lalu berkata.
"Kalian berdua, aku sangat menyesal karena telah merepotkan kalian. Tadi malam, aku kabur dari rumah dan aku tidak bisa memikirkan tempat lain selain ke sini. Maafkan aku karena trlah merepotkan kalian."
Nia mengangkat kepalanya setelah mengatakan ini.
"Tidak apa-apa, Nia." Lucy menjawab dari samping.
Arya hanya diam dan menatap Nia dari atas hingga bawah. Dia mencari apakah ada luka memar lain di tubuh Nia
"Nia, katakan padaku. Kenapa kamu kabur dari rumah? Katakan juga, kenapa ada memar di tubuhmu? Seingatku, tadi malan saat aku mengantarkanmu pulang, kamu tidak memiliki luka memar itu."
Nada Arya serius dan sikapnya benar-benar berbeda dari biasanya.
Lucy yang duduk di sebelah Nia diam-diam juga menunggu penjelasan Nia.
Nia tersentak mendengar ini. Dia terdiam dan dia menundukkan kepalanya dengan sedih. Matanya berkaca-kaca dan dia ragu-ragu untuk bercerita.
Bagaimanapun, masalah ini menyangkut keluarganya, jadi itu adalah privasinya dan jika memungkinkan, dia tidak ingin orang lain mengetahuinya.
Arya hanya mendengus dingin melihat Nia yang tidak menjawab, sementara Lucy menghela nafas tanpa daya.
Mendekati Nia, Lucy meraih bahunya.
"Nia, tolong ceritakan pada Kakak, kenapa kamu kabur dari rumah? Jika kamu memang memiliki masalah, tolong ceritakan pada Kakak dan Kak Arya. Jangan menyimpan semuanya sendirian, kamu bisa stres karena itu."
Lucy membujuk dengan lemah lembut, bersikap seperti seorang kakak yang sedang membujuk adiknya.
Nia mengangkat kepalanya dan menatap Lucy dengan rumit. Dia kemudian merenung sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk bercerita.
"Tadi malam... Setelah aku pulang, ayahku bertanya dari mana saja aku. Aku menjawab jujur kalau aku habis dari rumah temanku. Ayahku tiba-tiba marah mendengar ini dan memukulku."
Nia berkata dengan lemah dan bahunya gemetar saat dia mengingat kejadian tadi malam.
Lucy melebarkan matanya, sangat terkejut.
Adapun Arya, ekspresinya menggelap dan dia dipenuhi amarah saat ini.
"Ah, tolong jangan salah paham! Ayahku mabuk tadi malam, jadi dia tidak bisa berpikir jernih dan emosinya jadi tidak stabil!"
Nia segera menjelaskan lagi dengan agak panik. Dia takut kedua orang ini salah paham dengan kata-katanya.
Lucy yang awalnya terkejut menjadi lebih lega, tapi dia masih cukup terkejut dan agak marah pada ayah Nia.
"Lanjutkan." Kata Arya dingin.
Nia mengangguk dan segera menceritakan semua beban pikirannya.