
Setelah waktu yang cukup lama, Arya berhenti menangis ketika dia kelelahan secara mental dan tertidur dalam bantal pangkuan Rosa.
Ini juga sudah larut, jadi memang sudah waktunya tidur.
Arya yang tertidur itu memiliki ekspresi nyaman dan tenang dengan matanya yang sembab.
Rosa menatap wajah tidur Arya. Dia mengelus kepala Arya dengan lembut.
"Kamu tidak perlu memikirkan yang sudah terjadi, Nak. Semua hanya masa lalu. Semua sudah tidak ada artinya sekarang. Sekarang, kamu hanya perlu memikirkan dirimu dan adikmu."
Rosa berkata dengan nada dalam.
Ketika sedang menikmati mengelus kepala Arya, Rosa terkejut karena mendengar dering handphone Arya.
Rosa mengambil handphonenya dan melihat jika yang menelepon adalah Lucy. Sepertinya kekasih putranya ini memiliki sesuatu yang penting untuk dikatakan. Namun, karena keduanya sedang bertengkar, Arya jadi dingin pada Lucy.
"Halo, Lucy?"
"Ah! Arya, di mana kamu sekarang?! Kenapa kamu mengabaikanku seharian ini?! Tidakkah kamu pikir aku mengkhawatirkanmu?!"
Suara panik dan terisak Lucy terdengar dari seberang.
Rosa tersenyum masam mendengarnya. Gadis ini benar-benar panik, sepertinya.
"Lucy, tenang. Ini Mama."
"Mama? Apakah Arya ada di sana, Ma?" Lucy terkejut.
"Ya, Nak. Arya ada di sini, dia sedang tidur di pangkuan Mama sekarang. Jika ada yang ingin kamu katakan pada Arya, besok saja, ya? Atau, jika kamu tidak keberatan, kamu bisa mengatakannya pada Mama. Nanti akan Mama sampaikan pada Arya saat dia sudah bangun."
Lucy diam cukup lama dan tidak menjawab Rosa. Dia ingin bercerita pada Rosa , namun dia sendiri belum mengetahui masalah macam apa yang dialami Arya, jadi dia bingung harus bercerita atau tidak.
Diam lama, suara helaan napas terdengar dari Lucy.
Gadis itu kemudian menceritakan apa yang mengganggu pikirannya selama beberapa hari terakhir.
Rosa mendengarkan dengan seksama. Dia kemudian mengatakan beberapa hal penghibur pada Lucy dan mengatakan masalah yang sedang Arya hadapi saat ini.
Lucy yang mengetahui jika masalah Arya berhubungan dengan Rosa dan Vicky jadi terkejut. Dia tidak menyangka jika Vicky begitu bajingan.
Setelah mengobrol cukup lama, Lucy dan Rosa memutus telepon.
Menghela napas panjang, Rosa memijat dahinya yang terasa sakit. Sekarang, karena Arya membahas lagi tentang Vicky, berbagai macam ingatan buruk melintas di benaknya.
Namun, begitu dia melihat wajah tampan Arya, semua ingatan buruk itu menghilang dan digantikan perasaan hangat di hatinya.
*****
Pagi hari, di halaman rumah Rosa, tampak Arya dan ibunya sedang mengobrol.
Hari ini, sudah keempat harinya Arya berada di rumahnya, bersama ibunya dan hari ini dia berniat kembali ke kota Century. Selama empat hari terakhir, dia selalu melekat pada Rosa, guna menebus rasa bersalahnya.
Setiap pagi, Arya akan bangun pertama dan membereskan rumah dan merapikan apa yang perlu dirapikan. Jadi ketika Rosa bangun, semua sudah tertata rapi pada tempatnya.
Saat Rosa berbelanja juga Arya akan ikut dan menemani ibunya. Bahkan ketika Rosa memasak di dapur, dia ikut membantu.
Mungkin, jika bukan karena Arya dan Andhika, yang menerangi gelapnya hidup Rosa, mungkin saja dia sudah bunuh diri sejak lama karena tidak tahan dengan sikap sang suami.
"Kapan kamu akan berangkat study tour-mu, Arya? Jika tidak salah, itu seharusnya dalam waktu dekat ini, kan?"
"Ya, Ma. Itu lusa depan. Ngomong-ngomong, bolehkah aku tidak ikut study tour? Aku ingin di rumah saja bersama Mama dan Andhika."
"Tidak, Nak. Pergilah study tour dan nikmati waktumu. Sebentar lagi kamu juga akan lulus, kan? Nah, ketika kamu lulus nanti, kembalilah ke sini dan kuliah di sini, oke? Jika kamu ingin mengajak Lucy dan Lucy juga mau kuliah di sini, tidak masalah. Kita bisa tinggal berempat di rumah ini, jadi cepatlah lulus agar Mama bisa memiliki teman di rumah."
Rosa menunjukkan senyum lembut pada Arya, membuat Arya semakin tidak ingin ikut study tour. Dia hanya ingin menghabiskan waktu bersama ibunya untuk menebus apa yang telah terjadi.
Namun, karena Rosa telah berkata demikian, maka dia harus menurutinya.
Menatap Rosa, Arya membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu namun dia menelan kembali kalimatnya, langsung menundukkan kepalanya karena ragu.
Rosa tersenyum masam melihatnya. Ini sudah kesekian kalinya Arya bersikap seperti itu, membuatnya penasaran tentang apa yang sebenarnya yang ingin Arya katakan padanya.
"Arya, jika kamu ingin mengatakan sesuatu pada Mama, katakan saja. Jangan ragu begitu, Nak." Rosa sangat penasaran.
"A-aku sebenarnya memiliki sebuah permintaan, Ma. Ta-tapi aku takut Mama marah jika aku mengatakannya. Bisakah Mama berjanji untuk tidak marah jika aku mengatakan permintaanku?"
Arya mengangkat kepalanya dan menatap Rosa dengan rumit.
Rosa tertawa kecil dan berkata.
"Katakan saja permintaanmu, Arya. Mama tidak akan marah, terlepas dari apa yang ingin kamu minta."
Mendengar itu, Arya agak terkejut. Dia merenung sejenak untuk memikirkan kata-kata yang bagus dan ekspresinya perlahan berubah menjadi serius saat dia menatap mata Rosa.
"Ma, ini mungkin terdengar sedikit kurang ajar untuk Mama, tapi aku mohon, untuk kali ini saja, aku ingin Mama memenuhi permintaanku ini."
Melihat betapa seriusnya Arya, Rosa mengerutkan dahinya dan ekspresinya jadi serius juga. Sepertinya, apa yang akan Arya minta berhubungan dengan masa depan dirinya dan keluarganya.
Menarik napas dalam-dalam, Arya melanjutkan kalimatnya.
"Ma, aku mohon pada Mama, jika di masa depan ada seorang pria yang ingin menjadi suami kedua setelah Vicky, tolong tolak pria itu, Ma. Aku tidak akan pernah ingin ada pria ketiga di dalam keluarga kita. Hanya ada aku dan Andhika saja sudah cukup di keluarga ini. Aku yakin Andhika juga berpikiran sama denganku. Jika Mama menikah lagi, aku takut kejadian yang sama terulang kembali. Aku tidak ingin Mama sakit hati lagi karena suami yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, aku mohon padamu, Ma. Jangan menikah lagi."
Nada Arya serius di awal kalimatnya. Namun, nadanya perlahan melembut dan diakhiri dengan nada sedih.
Dikarenakan sikap tidak bertanggung jawab dari Vicky membuat kesan dan persepektif Arya terhadap sikap seorang "suami" pada "istri"nya berubah drastis. Dalam benaknya, sosok suami yang menjadi pasangan ibunya hanyalah pria yang tidak bertanggung jawab.
Dia tidak akan pernah terima jika ada pria lain yang berdiri di sisi ibunya selain dirinya dan Andhika.
Jika di masa depan Rosa menikah lagi, maka itu akan menjadi pembunuhan terkejam dan tersadis yang pernah Arya lakukan dalam hidupnya.
Mendengar permintaan Arya, Rosa terkejut dan diam. Dia tidak menyangka jika itu adalah permintaan putranya.
Menghela napas pelan, Rosa menggeleng.
"Apa yang sebenarnya kamu pikirkan, Nak? Mana mungkin Mama menikah lagi! Aku sudah cukup tua dan di rumah ini, selain dirimu dan Andhika, apakah kita perlu pria lain? Mama hanya mencintaimu dan Andhika, jadi aku tidak akan pernah menikah lagi."
Rosa menunjukkan senyum lembut dan hangatnya pada Arya, membuatnya merasa lega atas jawaban yang diberikan Rosa.
Namun, siapa yang menyangka jika di masa depan, Rosa akan memakai gaun pengantin untuk kedua kalinya dalam hidupnya?