
Setelah meminta bantuan pada Lylia, Arya pergi ke atap untuk menenangkan diri. Bagaimanapun, dia baru saja berkelahi dengan seseorang hingga mematahkan anggota tubuhnya. Ini adalah pertama kalinya dia mengalami perkelahian mengerikan semacam ini.
Perkelahian tadi membuatnya agak takut dalam lubuk hatinya terdalam. Ini membuatnya sedikit tidak nyaman.
Arya ingat jelas bagaimana tangannya memukuli Guru James hingga berdarah. Dia merasa agak mual sekarang, jika mengingat tangannya yang penuh darah. Tapi, dia ingat ambisinya untuk menjadi pembunuh, untuk membunuh semua orang-orang yang sudah menyinggungnya di masa lalu, ataupun mereka yang sudah menghina ibunya.
Oleh karena itu, Arya menahan mualnya dan menguatkan tekadnya. Jika dia melihat darah sedikit saja sudah mual, bagaimana bisa dia menjadi seorang pembunuh?
Menghela napas panjang, Arya mendapatkan sedikit ketenangannya. Dia kemudian mulai memikirkan cara menjelaskan pada Erwin tentang diskorsingnya dirinya selama tiga minggu.
Arya sangat bersyukur karena mendapat hukuman ringan. Tapi dia yakin jika Erwin tahu skorsing ini, kakeknya itu pasti marah dan mengadu pada ibunya.
Mengabaikan tentang Erwin, Arya menutup matanya dan bernapas dengan pelan, mencoba untuk mendapatkan ketenangannya sepenuhnya. Dia juga mencoba menghilangkan amarahnya. Jujur saja, dia masih marah pada Guru James.
Ketika Arya sedang menikmati ketenangannya, suara derit pintu terdengar dari belakang. Ini membuatnya mengerutkan dahinya, sedikit tidak senang.
Segera setelah itu, suara tawa empat orang terdengar. Mereka tertawa dengan riang dan terdiam ketika menyadari keberadaan Arya. Kelihatannya, empat orang ini merupakan tahun ketiga.
"Itu... Siapa dia?" Salah seorang bertanya.
"Mungkinkah dia itu Arya? Sepertinya itu dia!"
"Hm? Arya? Arya tahun pertama yang berkelahi itu? Yang sedang dibicarakan saat ini?"
"Ya, kau benar! Itu Arya yang sedang dibicarakan saat ini! Aku tidak sangka dia ada di sini! Aku ingin mencoba berkelahi dengannya sekali, aku ingin lihat apakah dia benar-benar akan mematahkan tanganku atau tidak!"
"Wah, sungguh ide konyol. Tapi itu sepertinya patut dicoba. Hei, kau! Anak haram, kemarilah!"
Salah seorang memanggil Arya dengan nada memerintah.
Rumor tentang Arya yang berkelahi dengan Guru James sudah menyebar ke seluruh SMA Daeil. Bahkan rumor tentang sikap bajingan Vicky sudah menyebar, bersamaan dengan rumor jika Arya adalah anak dari istri kedua.
Ada banyak rumor tentang Arya yang sedang hangat dibicarakan orang-orang. Bahkan, ada beberapa orang yang melebih-lebihkam rumor itu.
Hampir seluruh siswa SMA Daeil mempercayai rumor tentang Arya yang berkelahi dengan Guru James. Tapi, tetap saja ada yang tidak percaya. Mereka yang percaya pada rumor itu menjadi takut pada Arya. Tapi mereka yang tidak percaya hanya akan mencibir, seperti empat pemuda ini.
Arya perlahan membuka matanya saat sudut mulutnya berkedut. Amarahnya yang sudah dia tenangkan segera meluap lagi. Dia sedang mencoba menghilangkan amarahnya, tapi usahanya baru saja digagalkan karena ada empat sampah yang tiba-tiba datang.
Tapi, itu berita bagus. Dengan begini, Arya tidak perlu menenangkan amarahnya. Dia hanya perlu melampiaskannya saja pada empat orang tadi.
Berbalik, Arya mengepalkan tangannya dengan keras.
*****
Setelah Lylia selesai membahas masalah Guru James dengan kepala sekolah, dia segera meninggalkan ruangan kepala sekolah dan mencari Arya. Dia berkeliling ke setiap sudut sekolah, tapi tidak dapat menemukannya. Pada akhirnya, dia menyimpulkan jika Arya ada di atap.
Bagaimanapun, Arya terkadang pergi ke atap untuk menyendiri.
Ini menjadi kebiasaan Arya, jadi Lylia sebagai kekasihnya mengetahui dengan jelas.
Menaiki tangga menuju atap, Lylia segera membuka pintu dan berhasil terkejut saat dia melihat Arya terengah-engah dengan empat orang tergeletak disekitarnya. Empat orang ini memiliki wajah memar serta hidung berdarah. Mereka semua mengerang kesakitan, memegangi perut dan kaki mereka.
Arya yang terengah-engah itu perlahan menstabilkan napasnya. Dia kemudian mengangkat kepalanya dan agak tertegun melihat kedatangan Lylia.
"Arya, orang-orang ini..."
Arya menjelaskan sedikit sebelum menendang salah satu dari keempatnya, menyuruh mereka semua pergi.
Keempat orang itu segera bangkit dan berlari, meninggalkan Arya dan Lylia. Mereka semua tampak tertatih-tatih ketika berlari.
Kembali pada Arya, dia segera duduk dan menghela napas panjang. Dia tidak menyangka jika dia akan menang melawan empat orang sekaligus. Ini merupakan pengalaman baru baginya.
Lylia yang melihat Arya berkelahi lagi menghela napas panjang, merasa jika kekasihnya ini terlalu hobi berkelahi. Mendekati Arya, dia duduk di sebelahnya.
Lylia kemudian mengulurkan satu tangannya, membelai pipi Arya sementara tangannya yang lain mengeluarkan serbet putih. Dia mengelap seluruh keringat di wajah Arya dengan gerakan menyayangi, penuh perhatian dan lembut.
Arya terkejut dengan ini, tapi dia diam dan menikmatinya. Melihat wajah Lylia, dia merasa panas pada wajahnya, membuatnya memerah. Jantungnya berdegup kencang.
Tidak peduli seberapa sering dia melihat wajah Lylia, dia selalu terpesona dan selalu mengagumi kecantikannya.
"Baiklah, sudah selesai. Jangan berkelahi lagi, oke? Kamu sudah berkelahi terlalu banyak hari ini."
"Maaf, aku terpaksa melakukannya karena mereka menghina ibuku."
"Yah, itu memang tidak bisa dihindari. Ngomong-ngomong, masalah Guru James sudah aku atasi, jadi kamu bisa tenang, Arya."
"Terima kasih, Lylia. Kamu selalu bisa diandalkan."
"Um, sama-sama. Tapi Arya, tolong jangan membuat masalah lagi. Jika kamu membuat masalah lagi, aku mungkin tidak bisa membantumu lagi."
"Ah, baiklah. Sekali lagi, terima kasih banyak, Lylia."
Arya berkata dengan lembut, membuat Lylia tersenyum gembira. Jarang baginya dapat melihat senyuman Arya, jadi ini momen yang langka.
Memandangi langit, Arya diam cukup lama. Ekspresi terkadang berubah, kadang benci, kadang sedih.
Lylia memperhatikan ini jelas bertanya-tanya, apa yang sedang dipikirkan Arya?
"Lylia, aku benci ini..."
Arya berkata dengan pelan, masih memandangi langit biru.
Lylia tertegun sejenak dan bingung.
"Benci? Benci siapa? Guru James, atau empat orang tadi?"
"Aku membenci ayahku, Lylia. Dia merupakan orang terburuk yang pernah kukenal. Dia merupakan seorang bajingan tak tahu malu, yang selalu menyakiti keluarganya."
Arya menoleh pada Lylia, matanya menunjukan kesedihan dan rasa sakit. Dia perlahan menyandarkan kepalanya pada bahu Lylia, memeluk gadis itu.
Lylia terkejut dengan ini, berteriak keras dalam hatinya. Dia tidak siap dengan pelukan tiba-tiba ini, tapi ketika mengetahui bahwa Arya sedang dalam kesedihan, dia segera menenangkan dirinya dan mengelus kepala Arya dengan lembut.
Arya merasa nyaman ketika memeluk Lylia. Dia kemudian mulai menceritakan masalah keluarganya.
Arya bercerita tentang ayahnya yang memiliki dua orang istri. Dia juga mengatakan jika dia memang anak dari istri kedua, dia juga mengatakan segala hal yang terjadi dalam keluarganya, tanpa menutupi sedikitpun dari Lylia.
Lylia sangat terkejut ketika mendengar seluruh cerita Arya. Dia awalnya tidak mempercayai ucapan Guru James tentang ayah Arya yang beristri dua, tapi setelah mendengar Arya, dia kini mempercayai semuanya.
Dengan gerakan lembutnya, Lylia mengelus kepala Arya dan memeluknya dengan erat, membiarkan Arya melepas stresnya.