
Melihat sekeliling, Viktor merasakan sakit kepala. Dia baru saja terbangun dari mimpi buruknya.
Di mimpinya, dia melihat Arya membunuh ayahnya dan mengejarnya. Tapi beruntung, itu semua hanya mimpi.
"Akhirnya kau bangun juga."
Sebuah suara datang tidak jauh darinya. Melihat ke depan, Viktor terkejut dan segera berkeringat dingin.
Di melihat Arya dan segera menjadi histeris.
'Ini bukan mimpi! Ini bukan mimpi!'
Viktor berteriak ketakutan dalam hatinya.
Dia tidak tahu mengapa, tapi suaranya tidak bisa keluar.
Menggerakkan tubuhnya, Viktor menyadari bahwa dirinya terjebak. Dia merasakan bahwa tangan dan kakinya terikat di sebuah bangku dan mulutnya yang tidak bisa mengeluarkan suara juga ternyata karena dia dibungkam oleh kain.
Selain itu, dia juga menyadari kalau dia sedang berada dalam kamarnya sendiri.
Dia menjadi sangat ketakutan sekarang. Dia sadar bahwa sepertinya, Arya akan melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan pada ayahnya.
"Viktor, apakah kau ingin mencoba kematian? Sekali saja, sebagai pengalaman baru yang tidak pernah kau rasakan sebelumnya."
Arya bertanya dengan main-main sambil tersenyum dan menyentuh dagu Viktor menggunakan belatinya.
Viktor menengang dan menelan ludahnya tanpa sadar. Keringat dingin menetas di pipinya.
Arya lalu mendapat ide dan membuka bungkaman yang berada di mulut Viktor.
"Arya! Maafkan aku! Lepaskan aku, aku akan melakukan apapun yang kau suruh!"
Viktor segera memohon dengan cepat.
"Benarkah?"
"Ya, aku bersumpah!"
"Baiklah. Tapi aku benci dengan jarimu. Jadi aku akan mematahkan semuanya. Jika kau tidak berteriak, maka aku akan melepaskanmu."
Viktor langsung mengangguk dengan cepat. Ia tidak peduli dengan jarinya patah asalkan dia bisa selamat, maka itu tidak masalah.
Arya kemudian pergi ke belakang Viktor dan meraih lengan Viktor yang terikat dan memegang jari telunjuknya dan...
Jari pertama, dipatahkan
Viktor segera merasakan sakit dan ingin berteriak sekuat mungkin, tapi dia mengigit lidahnya agar suaranya tidak keluar.
Jari kedua, dipatahkan
Jari ketiga, dipatahkan
Sampai pada jari keempat, Viktor sudah tidak bisa menahan rasa sakit dan berteriak kencang. Dia merasa akan gila jika semua jarinya dipatahkan.
Selama hidupnya, baru kali ini dia merasakan sakit yang begitu luar biasa.
"Ah, sayang sekali. Kau gagal, jadi sepertinya aku harus membunuhmu."
Arya kembali ke hadapan Viktor dan berkata dengan nada main-mainnya.
"Tidak, kumohon! Biarkan aku hidup! Aku berjanji, aku tidak akan menghubungi atau menganggu Lucy lagi! Aku berjanji!"
Arya melotot dan mengcengkeram leher Viktor dengan sekuat tenaga.
"Jangan pernah sebut nama Lucy dengan mulut busukmu itu, atau kau akan mati."
Dengan nada dinginnya, Arya melepaskan cengkeramannya dan Viktor segera terbatuk beberapa kali.
Dia terengah-engah dan air matanya menetes.
"Arya, kumohon. Lepaskan aku. Aku tahu, aku salah... Kumohon, lepaskan aku..."
Viktor pasrah. Dia hanya bisa memohon dan memohon. Adapun dengan berteriak minta tolong, dia yakin Arya akan langsung membunuhnya pada saat dia berteriak.
Arya lalu mengambil palu martil di meja tidak jauh dari tempatnya. Dia menemukan martil ini setelah berkeliling di rumah Viktor sambil menunggunya bangun dari pingsannya.
"Viktor, rapatkan gigimu."
Arya mengambil ancang-ancang untuk memukul Viktor menggunakan martil itu.
Viktor yang melihat terkejut dan membuka mulutnya, ingin mengatakan sesuatu tapi mulutnya segera terpukul oleh martil dengan keras. Suara martil yang menghantam gigi Viktor terdengar keras, mematahkan sebagian giginya.
Menarik martilnya, Arya melihat darah di martilnya. Tapi meski begitu, dia terlihat kecewa.
Gigi Viktor patah setidaknya empat dan darah mengalir dari mulutnya. Ini sangat menyakitkan. Dia sangat ingin menghilang dari hadapan Arya. Dia menangis menahan rasa sakit yang luar biasa.
Dia tidak pernah mengharapkan ini. Pada masa SMP, dia memiliki pertemanan dengan Arya meski tidak terlalu akrab. Sekarang, orang yang dulu memiliki pertemanan dengannya akhirnya akan membunuhnya.
Melihat mulut Viktor, Arya sadar bahwa semua giginya belum patah semuanya.
Sekali lagi, Arya mengayunkan martilnya ke mulut Viktor.
*****
Membuka matanya, Viktor merasakan sakit pada mulut dan jarinya. Dia mengangkat kepalanya dan melihat Arya yang menatapnya dengan dingin.
Pada saat ini, semua giginya patah dan darah yang sangat banyak mengalir dari mulutnya. Saat dia berbicara juga menjadi tidak jelas dan terbata-bata.
Wajahnya sudah pucat sepenuhnya dan cahaya matanya hilang, tidak memiliki semangat sedikitpun.
Dia benar-benar berharap Arya membunuhnya saja daripada menyiksanya seperti ini.
"Ar-ya... Kumohon le-paskan a-ku." Viktor memohon untuk terakhir kalinya.
"Lepaskan? Baiklah."
"Ter-imaka-sih."
Viktor tersenyum tipis mengetahui bahwa Arya akan melepaskannya.
Tapi kemudian, senyum tipis itu berubah menjadi kesakitan dan perlahan, cahaya mata Viktor hilang sepenuhnya. Nafasnya berhenti ketika Arya menusuk lehernya menggunakan kedua belatinya.
Arya mendengus dingin saat melihat tubuh Viktor yang lemas tak bernyawa. Dia lalu pergi menuju dapur dan mulai menuangkan bensin yang sudah dia beli ke tabung gas LPG. Ia menuangkan bensin itu sampai ke depan pintu keluar dan membakarnya.
Setelah membakarnya, Arya dengan segera pergi menjauh menggunakan motornya.
Setelah dia cukup jauh dari rumah Viktor, ledakan terdengar.
Rumah Viktor mulai terbakar dan membuat para tetangga keluar dari rumahnya, memeriksa ledakan tersebut.
Para tetangga yang melihat rumah Viktor yang terbakar itupun dengan segera memadamkan apinya. Ada juga beberapa orang yang merekam kebakaran itu.
Hari berikutnya, kebakaran itu masuk berita dan ditemukan dua jasad dengan luka tusukan di bagian leher, perut dan seorang pemuda yang giginya patah semua.
Diduga kedua jasad tersebut dibunuh oleh seseorang dan ini jelas merupakan pembunuhan berencana.
Hal itu wajar karena Arya sudah cukup ahli dalam hal menyembunyikan bukti pembunuhan yang dia lakukan.
*****
Ketika Arya tiba di rumah Lucy, dia disambut oleh David yang terlihat sudah menunggunya. Dia memiliki beberapa noda darah di tangan dan bajunya.
David memiliki tatapan dingin dan ada sedikit kebencian di matanya.
Arya menghela nafas pelan. Dia jelas menyadari mengapa David menatapnya dengan dingin. Dia yakin Lucy pasti sudah menceritakan apa yang terjadi pada David
Perlahan, David menghampiri Arya dan suara pukulan terdengar.
Arya merintih kesakitan saat dipukul oleh David. Mudah baginya untuk menghindar, tapi dia tidak melakukannya karena dia tahu bahwa dirinya salah.
"Apa kau tahu apa yang telah kau lakukan dirumah ini?" Tanya David dengan nada dingin.
"Ya, aku tahu, Kak."
"Kau sudah mengetahuinya, tapi kau masih berani datang dan meletakkan kakimu di sini?"
Nada David semakin dingin, membuat Arya bergidik.
Tidak pernah dia mendengar David sedingin ini padanya.
"Maaf, aku terpaksa melakukannya karena keadaannya mendesak..."
Arya berusaha menjelaskan tapi tiba-tiba, dia dicekik oleh David.
"Terpaksa? Omong kosong! Aku tahu kau pandai dalam berkelahi, tapi kau tidak mengulur waktu dan membawa preman itu menjauh. Sebaliknya, kau malah membunuhnya tepat di depan mata Lucy! Apakah kau tahu seberapa takutnya Lucy saat ini?"
David tidak menggunakan seluruh kekuatannya tapi itu sudah cukup untuk membuat Arya kesulitan bernafas. Dia bisa melawan, tapi dia tidak melakukannya karena orang di hadapannya adalah seseorang yang sudah ia anggap sebagai seorang kakak.
Memelototi Arya, David kemudian menghela nafas pasrah dan menarik kembali tangannya, membuat Arya batuk beberapa kali.
"Jika kau ingin bertemu dengan Lucy, dia ada di kamarnya. Tapi sebelum itu bersihkan dulu dirimu, ada banyak bercak darah ditubuhmu. Satu lagi, jika kau berani membunuh seseorang di rumah ini lagi, maka aku akan membunuhmu!"
David mengingatkan.
Rumah ini merupakan peninggalan dari ayah dan ibunya yang sudah meninggal, jadi dia tidak ingin mengotori rumah ini dengan darah.
"Maaf..." Arya meminta maaf dengan tulus.
"Pergilah, kau bau darah."
David menutup hidungnya dan menatap jijik Arya.
*****
"Lucy, kamu ada di dalam?"
Setelah membersihkan tubuhnya dari noda darah, Arya langsung ke kamar Lucy dan mengetuk pintu. Tapi sayangnya, tidak ada jawaban dari gadis tersebut.
Arya kemudian mencoba membuka pintu kamar Lucy dan sebagai hasilnya, itu terbuka.
Sesaat setelah masuk ke kamar, Arya melihat Lucy berdiri dipojokan kamarnya, ketakutan melihat dirinya
Arya sudah biasa melihat darah saat membunuh. Tapi bagi Lucy, itu adalah hal yang baru dan sangat mengerikan. Ini membuat mentalnya agak goyah.
"Pergi! Keluar dari kamarku! Dasar kau pembunuh!"
"Lucy, tenang. Dengarkan dulu penjelasanku."
Arya perlahan mendekati Lucy yang melemparinya berbagai macam benda yang berada didekatnya agar dia menjauh.
Tapi bukannya menjauh, Arya malah semakin dekat.
Arya langsung memeluk Lucy dengan erat dan meminta maaf dengan tulus dan penuh penyesalan.
Lucy melebarkan matanya saat merasakan kehangatan dari Arya. Dia segera mendorong pemuda tersebut, membuatnya melepaskan pelukannya dan menamparnya dengan keras.
Ekspresi Arya menggelap setelah ditampar.
Lucy tersentak dan menyadari bahwa dia terlalu kasar.
Melihat Arya, dia mengangkat tangannya seakan siap menampar balik.
Lucy memejamkan matanya karena takut.
Tapi setelah menunggu beberapa saat, Lucy tidak merasakan sakit akibat tamparan. Dia perlahan membuka matanya, terkejut ketika dia merasakan sebuah cubitan hangat di pipinya.
Menatap Arya, Lucy melihat senyuman hangat di wajah pemuda itu.
"L-lepas!"
Lucy langsung menepis tangan Arya dengan wajahnya yang tampak memerah.
Membelai wajah Lucy, Arya menciumnya.
Lucy ingin mendorongnya agar menjauh, tapi anehnya tenaganya menghilang.
'Apa ini? Aku ingin mendorongnya tapi kenapa tenagaku tiba-tiba hilang?' Pikir Lucy.
Setelah beberapa saat ciuman hangat, Arya menarik bibirnya dan menahan Lucy dalam pelukannya.
"Maaf. Aku menyesal melakukan itu di depanmu. Aku berjanji, aku tidak akan membunuh lagi di depan matamu."
Arya menjalinkan jari-jarinya ke jari Lucy dan menatapnya dengan penuh kasih sayang.
Lucy mendengus dan melepaskan tangan Arya, berbalik dan memasuki selimutnya.
"Untuk kali ini, aku memaafkanmu! Tapi jika kamu melakukannya lagi, aku tidak akan pernah memaafkanmu!"
Arya tersenyum mendengar ini. Sepertinya Lucy sudah tidak marah lagi padanya, tapi dia yakin kalau gadis tersebut pasti masih ketakutan dan merasa trauma.
Berpikir sejenak, Arya kemudian memasuki selimut juga dan memeluk Lucy dari belakang.
"Ka-kamu, apa yang kamu lakukan?!"
Lucy terkejut.
"Tenang, aku tidak akan melakukan apapun. Aku hanya akan menemanimu sampai kamu tertidur lalu aku akan pulang. Kejadian tadi pasti membuatmu takut, bukan? Maka dari itu, biarkan aku menemanimu sejenak."
Setelah mendengar penjelasan Arya, Lucy berbalik dan membenamkan wajahnya ke dada Arya. Dia memiliki wajah yang merah padam saat ini.
Mengelus kepala Lucy, Arya menemaninya hingga gadis tersebut tidur lelap.
Awalnya, dia hanya berencana untuk menemaninya. Tapi melihat Lucy yang tertidur lelap, membuatnya ikut mengantuk.
Menutup matanya, Arya ikut tidur sambil memeluk Lucy dengan erat, tidak ingin melepaskannya.
Dengan begitu, keduanya tidur di atas ranjang yang sama dan di bawah selimut yang sama.