Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 111 - Lucy Pasti Mau Mendengarkanku!



Arya yang berlari ke toilet itu muntah di dalam sana. Dia mengeluarkan semua isi perutnya. Ketika dia keluar, wajahnya pucat dan tubuhnya gemetar. Matanya agak redup dan kehilangan semangatnya.


Lylia yang melihat Arya segera menghampirinya, mengangkupkan tangannya ke wajahnya Arya dan membelainya.


"Arya, kamu masih merasa sakit? Apakah kamu ke rumah sakit? Kita ke rumah sakit, ya?"


"Tidak, Lylia. Aku hanya tidak enak badan. Aku akan absen dan pulang saja untuk hari ini."


"Tapi wajahmu sangat pucat! Lihat, bibirmu saja pucat begini! Bagaimana bisa ini disebut tidak enak badan? Kamu jelas sakit, Arya!"


Lylia menatap Arya dengan melankolis. Dia benar-benar cemas tentang keadaan kekasihnya saat ini. Padahal, dua hari yang lalu Arya baik-baik saja dan sehat, namun saat ini dia pucat dan berkeringat dingin.


"Arya, ke rumah sakit, ya? Kamu mengkhawatirkanku. Kumohon, kita ke rumah sakit saja, ya?" Lylia sedikit memaksa.


"Tidak, Lylia. Biarkan aku pulang ke rumah dulu. Jika keadaanku semakin memburuk besok, maka kamu boleh membawaku ke rumah sakit."


Lylia ragu mendengar ini. Namun, karena Arya sudah berkata demikian, maka dia tidak boleh menarik kembali kata-katanya.


Memeluk tangan Arya, Lylia berjalan bersamanya.


Ketika kembali ke kelas, semua orang duduk rapi di bangku masing-masing saat dua orang polisi berdiri di depan papan tulis.


Kedua polisi tersebut menatap Arya dan Lylia yang baru saja memasuki kelas.


"Halo, anak muda. Apakah benar kau yang bernama Arya?"


Salah satu polisi itu bertanya.


Arya menatapnya dengan tatapan kosongnya, mengangguk ringan.


"Baiklah, Arya. Kami dengar dari beberapa temanmu jika kau mengetahui ke mana hilangnya William. Bisakah kau ceritakan sedikit tentangnya?"


Arya tertegun dan wajahnya semakin memucat, keringat dingin memenuhi dahinya. Dia melirik ke kiri dan kanan, seakan meminta pertolongan. Pertanyaan itu benar-benar pertanyaan yang tidak pernah ingin dia dengar saat ini.


Polisi tersebut mengerutkan dahinya melihat perubahan ekspresi Arya.


"Bolehkah aku bertanya, siapa yang bilang jika Arya ada hubungannya dengan hilangnya William?"


Lylia tiba-tiba berkata, menatap polisi tersebut dengan tidak senang. Kekasihnya saat ini sakit tapi malah ada orang-orang yang menuduhnya terlibat dengan William, membuatnya tersinggung.


Polisi tersebut lalu menunjuk beberapa orang sebagai tanggapan.


Lylia menatap mereka semua dengan tajam, lalu berkata.


"Bisakah kalian tidak beromong kosong? Bagaimana mungkin Arya terlibat dengan hilangnya William? Apakah kalian punya bukti, selain mulut sampah kalian itu?"


Suara Lylia menggema di kelas, membuat semua orang terdiam.


Adapun mereka yang menuduh Arya, mereka menundukkan kepala.


Arya menghela napas karena penyelamatan dari Lylia yang tepat waktu.


Polisi yang bertanya pada Arya tadi menggelengkan kepalanya melihat Lylia yang membela Arya.


"Nona, mereka mungkin tidak punya bukti, tapi kami bisa mencari bukti. Kami..."


Polisi yang bertanya pada Arya tadi tiba-tiba terdiam saat rekannya menepuk pundaknya dari belakang. Dia segera berbalik dan bertanya.


"Ada apa?"


"Tidak, tapi lebih baik kita tidak menyinggung gadis itu lagi. Aku sepertinya tidak asing dengan wajahnya." Bisik polisi lainnya.


"Apa yang kau katakan? Bagaimana bisa kita diam ketika kita hampir menemukan bukti?"


"Sudah, diam saja. Gadis itu sepertinya putri dari Tuan Gerald, si CEO itu. Aku ingat wajahnya. Aku pernah melihatnya bersama Tuan Gerald baru-baru ini. Jika gadis itu membela pemuda bernama Arya ini, aku yakin mereka memiliki semacam hubungan khusus. Lebih baik kita tidak mengganggu mereka." Kata polisi lainnya, berbisik.


Polisi yang bertanya tadi mengangguk dengan serius


Setelah perbincangan singkat mereka, keduanya tersenyum pada Arya dan Lylia.


"Arya, benar? Maaf sebelumnya karena sudah menyinggungmu. Kami hanya mendengarmu terlibat dengan William dari teman-temanmu. Maafkan kami karena sudah menuduhmu tanpa bukti. Kami akan mencari buktinya lebih dulu."


Arya tidak menanggapi mereka dan hanya melewati keduanya, pergi ke bangkunya, mengambil tasnya lalu pergi meninggalkan kelas.


*****


Tiba di rumahnya, Arya segera memasuki kamarnya dan duduk di tepi kasur. Pakaiannya basah karena keringat dingin dan wajahnya pucat.


Lylia yang melihat itu mau tak mau menjadi semakin khawatir. Dia tidak tahu penyakit macam apa yang diderita Arya. Jika itu demam, Arya sama sekali tidak menunjukkan gelaja demam. Batuk dan pilek pun tidak.


"Arya, kita ke rumah sakit saja, ya? Aku tidak mau melihatmu sakit begini." Lylia terisak.


"Tidak, Lylia. Aku hanya tidak enak badan. Aku yakin aku besok sudah sembuh. Juga, bisakah kamu tinggalkan aku seorang diri dulu? Aku ingin sendiri saat ini."


Arya mencoba tersenyum, terpaksa.


Lylia menatapnya ragu, namun dia keluar dari kamar Arya setelahnya.


Di luar, Lylia bertemu dengan Erwin.


Erwin juga terlihat cemas saat melihat Arya yang pucat dan berkeringat dingin itu.


"Bagaimana kondisi Arya? Apa yang dia katakan tadi?" Tanya Erwin cemas.


"Arya mengatakan jika dia sedang ingin sendiri, Kek."


"Begitu, ya? Baiklah, serahkan saja padaku. Lylia, kembalilah ke sekolah. Ini masih jam pelajaran, kan?"


"Tapi Kek..."


Lylia tampak enggan. Dia tidak ingin kembali ke sekolah. Dia ingin tetap di sini, menemani Arya.


Melihat keengganan gadis itu, Erwin menghela napas pelan dan menggeleng. Dia membiarkan Lylia tetap di rumahnya dan menemani Arya.


Setelah itu, Erwin menemui Arya di kamarnya.


"Arya, bagaimana kondisimu?"


"Aku baik, Kek." Jawab Arya tanpa menatap Erwin.


"Baik? Wajahmu pucat dan kamu berkeringat dingin, tapi kamu bilang dirimu baik? Jangan bercanda, Arya. Kamu terlihat sakit, tapi sebenarnya kamu menderita sakit apa? Jangan buat orang lain khawatir, Arya. Bagaimana jika ibumu mendengarmu jatuh sakit? Ingat, ibumu menitipkanmu padaku karena dia yakin aku bisa merawatmu dengan baik. Jika dia tahu kamu sakit, bagaimana reaksinya, menurutmu?"


Arya terdiam. Jika Erwin sudah menyinggung Rosa, maka Arya tidak memiliki apapun untuk dikatakan.


Melihat Arya terdiam, Erwin menghela napas.


*****


"Ahh!"


Arya berteriak terkejut dan segera duduk di kasurnya. Wajahnya sangat pucat dan dahinya penuh keringat dingin. Ekspresi wajahnya juga menunjukan ketakutan yang mendalam.


Dia sedang tertidur tadi, tapi dia tiba-tiba mendapat mimpi buruk dan segera terbangun. Di dalam mimpinya itu, dia melihat William dan lainnya hidup kembali dan melaporkannya pada polisi. Setelah itu, dia ditangkap dan diberi hukuman mati oleh kepolisian.


Arya benar-benar takut ketika dia mengalami mimpi seperti ini. Dia takut mimpinya menjadi kenyataan.


Arya sangat ingin berbagi rasa takutnya pada seseorang. Namun, dia tidak bisa bercerita pada sembarang orang.


Jika dia bercerita pada Lylia jika dia membunuh William dan lainnya, dia yakin kekasihnya itu pasti sangat terkejut dan menjadi takut padanya. Lylia juga kemungkinan akan memutus hubungan mereka dan Arya tidak ingin hal itu terjadi.


Adapun bercerita pada Erwin, kakeknya itu jelas akan sangat marah dan mengabaikannya untuk waktu yang lama. Belum lagi jika Erwin mengadu pada Rosa. Jika itu terjadi, Arya benar-benar tamat.


"Lucy... Lucy... Lucy pasti mau mendengarkanku!"


Wajah Lucy tiba-tiba melintas di benak Arya.


Dia segera beranjak dari kasurnya, keluar dari kamarnya dan segera menuju rumah Lucy.


"Hei, Arya! Ke mana kamu akan pergi malam-malam begini?!"


Erwin terkejut karena Arya tiba-tiba meninggalkan rumah tanpa berpamitan. Juga, Arya saat ini sedang sakit, tapi dia malah pergi di malam hari seperti ini, membuat Erwin semakin cemas dan agak kesal.


‍‍‍