Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 48 - Nia



Kembali ke kelas setelah istirahat, Arya yang sedang berjalan berdampingan bersama Lucy merasakan bahwa dirinya diikuti lagi.


Dia mengabaikan orang yang mengikutinya ini dan sesekali melirik ke belakang untuk melihat siapa sebenarnya yang terlalu bosan sehingga mengikutinya seperti ini.


Setelah beberapa kali melirik ke belakang, Arya menyadari bahwa yang mengikutinya sebenarnya adalah seorang gadis berusia lima belas atau enam belas tahun.


Arya yang mengetahui hal ini mau tak mau tersenyum masam. Dia agak takut bahwa apa yang dikatakan Lucy di kantin tadi menjadi kenyataan.


'Gadis ini... Dia tidak menyukaiku, kan? Aku sudah memiliki Lucy, jadi sebaiknya kau menjauh, Gadis Kecil.' Pikir


Ketika Arya dan Lucy tiba di kelas, gadis yang mengikuti Arya meninggalkan mereka dan kembali ke kelasnya sendiri.


Gadis tersebut memasuki kelas 1-2, menunjukan bahwa dia adalah tahun pertama dan merupakan seorang adik kelas.


"Ah, Nia. Dari mana saja kamu?"


Salah seorang gadis menghampiri gadis bernama Nia itu.


"Aku baru saja dari kantin tadi. Maaf, sepertinya aku melupakan janji kita."


Gadis itu, yang bernama Nia, yang mengikuti Arya tadi menjawab dan meminta maaf.


Gadis lainnya menghela nafas dan memaafkan Nia dengan mudah. Keduanya kemudian mengobrol sedikit sebelum akhirnya kelas di mulai.


Nia sendiri merupakan seorang siswa tahun pertama dan merupakan gadis yang cukup cantik. Dia memiliki rambut hitam dan mata hitam juga. Tubuhnya cukup ramping tapi dia terkadang memiliki tatapan tajam pada beberapa pria, membuatnya agak susah didekati oleh pemuda seusianya.


*****


Di dalam kelasnya, Arya dan Lucy duduk di bangku mereka yang bersebelahan.


Ekspresi Arya terlihat rumit dan agak bermasalah. Dia jelas sedang memikirkan tujuan gadis yang mengikutinya tadi.


Dia mengetahui bahwa gadis itu sepertinya merupakan adik kelasnya, tapi mengapa dia diikuti?


Seharusnya, dengan rumor buruk tentang Arya yang sering berkelahi, dia akan dipandang berbeda dan takut oleh para adik kelasnya dan seharusnya tidak ada yang tertarik padanya.


Terlebih lagi, dia sangat yakin jika wajahnya tidak memiliki ketampanan yang cukup untuk menarik perhatian gadis lain.


Jika gadis itu mengikutinya karena memang menyukainya, maka dia akan mendapat masalah.


Akan lebih baik jika gadis itu tidak mengungkapkan perasaannya pada Arya. Tapi jika gadis itu melakukannya, maka dia hanya bisa menolak dengan sopan.


Selain itu, Arya juga takut Lucy benar-benar membuat gadis yang mengikutinya ini dihajar babak belur olehnya.


Lucy benar-benar serius saat dia mengatakan kalau dia akan membuat babak belur wanita manapun yang tertarik dengannya.


*****


Di dalam kelas 1-2, tampak beberapa gadis sedang bergosip ria. Nia juga merupakan salah satu orang yang ikut bergosip. Mereka semua bergosip dengan asik dan berbisik satu sama lain seakan sedang berbagi rahasia.


"Oh, ya. Apakah kalian mengenal Kak Lucy?"


"Bukankah dia kakak kelas kita? Aku pernah mendengar rumor kalau dia itu adalah yang paling cantik di sekolah ini!"


"Kau benar! Kak Lucy itu benar-benar cantik! Aku sudah pernah melihatnya sekali dan dia benar-benar membuatku iri! Rambutnya yang hitam, tubuhnya yang ramping dan wajahnya yang cantik benar-benar sesuai untuk menjadi yang paling cantik di sekolah ini!"


Para gadis itu menggosipi Lucy, tapi itu bukan gosip buruk, melainkan hanya gosip ringan.


Nia juga terlihat bersemangat saat bergosip bersama teman-temannya.


"Tapi, kalau tidak salah Kak Lucy sudah punya pacar, kan? Siapa nama pacarnya itu? Aku lupa."


"Bukannya Kak Arya adalah pacar Kak Lucy? Ugh, aku pernah mendengar kalau Kak Arya itu hobi berkelahi dan dia sering membuat masalah. Aku heran, kenapa Kak Lucy mau berpacaran dengannya?"


"Apakah Kak Lucy diancam?! Bukankah itu agak berbahaya?!"


Ketika membahas Lucy, semuanya baik-baik saja. Tapi ketika para gadis ini menyebutkan nama Arya, gosip mereka segera menjadi buruk.


Tentu saja, semua itu terjadi karena Arya memang memiliki banyak rumor buruk tentang dirinya karena dia sering berkelahi dan membuat masalah. Tapi itu semua dulu. Kini dia sudah jarang membuat masalah, tapi rumor buruknya tetap banyak.


Ekspresi Nia yang mendengar nama Arya segera berubah. Dia terlihat agak kesal dan tidak senang.


Menghela nafas, dia pergi meninggalkan teman-temannya karena jam istirahat akan dimulai lima menit lagi.


Keluar dari kelas, Nia langsung menuju kelas 3-3, yang merupakan kelas Arya dan Lucy.


Ketika dia tiba di sana, bel istirahat sudah berbunyi dan para siswa mulai keluar dari kelas mereka masing-masing.


Nia mengerutkan dahinya dan segera tersenyum saat dia melihat sepasang kekasih keluar dari kelas 3-3.


Sepasang kekasih ini jelas adalah Arya dan Lucy.


Mereka berdua berjalan berdampingan menuju kantin sambil mengobrol dengan ringan. Lucy akan terlihat sekali menempel pada Arya seperti magnet sepanjang koridor.


Nia yang mengikuti dari belakang menjadi agak kesal dan jejak kecemburuan melintas di matanya.


Setelah jam makan siang selesai, Nia masih tetap berada di kantin. Dia terus menatap ke arah Arya dan Lucy yang berada tidak jauh dari tempatnya.


Dia terus-menerus menatap sepasang kekasih ini dengan erat dan setiap kali Arya dan Lucy melakukan kontak fisik, Nia akan mendecakkan lidahnya dengan kesal.


Nia bergumam pelan saat wajahnya berkedut karena melihat Arya tersenyum hangat pada Lucy. Matanya yang indah menatap dengan cemburu dan agak tidak senang.


*****


Beberapa hari kemudian, Nia selalu mengikuti Arya ataupun Lucy secara diam-diam jika dia memiliki kesempatan.


Bahkan hari ini, saat dia sedang ingin menuju toilet, dia secara tidak sengaja melihat Arya di koridor. Nia secara alami segera mengikutinya dengan perlahan dan terus-menerus menatap punggung Arya dengan matanya yang indah.


Berpindah pada Arya, wajahnya dipenuhi kedutan saat ini. Dia dengan jelas merasakan bahwa dia seorang diri dan merasa nyaman beberapa detik yang lalu. Tapi sekarang, dia merasa diikuti oleh gadis kecil yang dia curigai tempo hari.


'Ya ampun, apa yang sebenarnya gadis ini inginkan dari? Kenapa dia terus-menerus mengikutiku? Dia tidak benar-benar jatuh cinta padaku, kan?'


Apa yang paling Arya takuti adalah Nia jatuh cinta padanya dan gadis ini terus-menerus mengikutinya agak merasa dekat.


Arya tidak terlalu mempermasalahkan hal ini karena dia sudah memiliki Lucy sebagai kekasinya dan dia juga tidak tertarik pada gadis lain. Apa yang membuatnya takut adalah Lucy yang mengetahui hal ini.


Jika Lucy tahu seseorang jatuh cinta padanya dan mengikutinya terus-menerus, Lucy mungkin akan membuat Nia babak belur dan Arya tidak menginginkan hal tersebut.


Lucy benar-benar menakutkan jika sudah marah.


‍‍Perlahan, ketika Arya sedang berjalan, dia tiba-tiba berbalik dan dengan cepat meraih pergelangan tangan Nia yang tidak jauh di belakangnya.


Nia terkejut dan tidak bisa merespon dengan cepat. Dia berakhir ditangkap dan ekspresinya berubah.


"Hei, apa yang kau inginkan dari mengikutiku beberapa hari ini? Akan kukatakan sekali padamu, jika kau mengikutiku sekali lagi, aku tidak akan segan padamu!"


Dengan nada dinginnya dan tatapan tajam, Arya berkata demikian.


Ekspresi Nia berubah menjadi agak ketakutan. Dia ingin mundur, tapi tangannya dipegang oleh Arya.


Arya kemudian melepaskan lengan Nia dan berbalik. Dia sudah puas dengan memperingatkan Nia. Adapun jika gadis ini benar-benar mengikutinya lagi, maka dia tidak akan segan lagi.


Nia terdiam untuk beberapa saat karena masih terkejut dan agak takut. Dia langsung mengejar Arya yang sudah menjauh darinya ketika dia mendapat ketenangannya kembali.


Arya yang menyadari kalau ancamannya pada Nia tidak berlaku menjadi kesal dan wajahnya dipenuhi kedutan. Baru saja, dia memperingati gadis ini tapi sepertinya dia sepenuhnya diabaikan.


"Argh, sebenarnya apa yang kau inginkan?!"


Arya tiba-tiba berbalik dan berteriak kesal pada Nia.


Nia agak terkejut, namun dia segera mendapat ketenangannya kembali. Dia lalu mengerutkan dahinya pada Arya, sedikit tidak senang.


Arya menatap Nia dengan dingin dan menunggu jawabannya.


Menghela nafas panjang, Nia mengepalkan kedua tangannya dan dengan mantap berteriak.


"Kapan kau akan putus dengan Kak Lucy?!


Gadis tersebut berteriak kencang dan suaranya menggema di sepanjang koridor.


Arya terkejut. Dia tidak mengharapkan gadis ini akan berteriak. Selain itu, kata-kata gadis ini benar-benar membuatnya semakin terkejut.


Dia segera menjadi merinding ketika membayangkan Lucy mendengar ucapan Nia.


"Apa itu? Perselingkuhan?"


"Wah, keterlaluan. Bukankah itu Arya? Dia sudah pacaran dengan Lucy, tapi masih selingkuh? Sungguh, semua pria sama saja!"


Beberapa gadis yang mendengar teriakan Nia segera berbisik satu sama lain. Mereka jelas curiga dan segera menganggap Arya selingkuh karena mendengar ucapan Nia.


Arya langsung mengalihkan pandangannya ke beberapa gadis yang berbisik. Dia kemudian berkata dengan panik.


"Tidak, kalian salah paham! Aku tidak selingkuh!"


Arya berkeringat dingin dan panik. Jika dia mendapat rumor berselingkuh dari Lucy, dia yakin dirinya akan mendapat masalah yang tidak habisnya.


Mengalihkan pandangannya ke Nia, gadis itu menatapnya dengan serius dan matanya tampak agak berharap.


Arya kewalahan dengan ini. Dia sekarang yakin kalau sebenarnya gadis ini benar-benar jatuh cinta padanya. Ini membuat kepalanya sakit.


Tapi, meski begitu, Arya sebenarnya agak bangga pada dirinya sendiri karena ada seseorang yang jatuh cinta padanya dengan sendirinya, tanpa dia perlu melakukan apapun.


Menghela nafas pelan, Arya menatap Nia dengan tajam dan nadanya dingin.


"Gadis, dengarkan aku. Aku tidak akan pernah putus dari Lucy dan kami tidak akan pernah putus. Jadi, berhenti berharap dan pergilah sejauh mungkin. Jangan ganggu hubunganku dengan Lucy."


Sudut mulut Nia berkedut mendengar jawaban ini. Ekspresinya terlihat kesal.


"Aku Nia dari kelas 1-2! Aku akan kembali lagi nanti!"


Setelah mendecakkan lidahnya dengan kesal, Nia berteriak pada Arya sambil memperkenalkan dirinya. Setelah itu, dia berbalik dan pergi meninggalkan Arya dengan menghentakkan kakinya.


Arya terkejut dan linglung untuk beberapa waktu.


"Apa-apaan, gadis ini?" Gumam Arya bingung.