Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 9 - Rencana



Saat kembali ke rumahnya, Arya disambut oleh seorang pria paruh baya.


"Oh, kau sudah pulang? Dari mana saja kau hingga pulang telat begini?"


Pria paruh baya itu bertanya dengan rasa ingin tahu. Arya jarang pulang telat, jadi ini membuatnya sedikit terkejut.


"Aku pergi ke rumah temanku sebentar, Kek."


Arya menjawab dengan ringan.


Pria paruh baya di hadapannya ini adalah kakeknya, Erwin. Meski dia sudah berusia lebih dari enam puluh tahun, dia tidak terlihat seperti orang seusianya. Tubuhnya masih gagah dan kokoh, menunjukan bahwa dia dulunya merupakan seseorang yang rajin berolahraga sehingga dia masih terlihat awet muda.


Arya tinggal bersama kakeknya di kota Century ini.


Kota Century, merupakan nama dari kota yang menjadi tempat tinggal Arya saat ini. Dia sebenarnya bukan dari kota ini tapi sejak kecil dia sudah tinggal di kota ini. Jadi, bisa dikatakan bahwa kota ini menyimpan banyak kenangan bahagia maupun buruknya.


Setelah bertukar beberapa kata dengan Erwin, Arya kembali ke kamarnya dan meletakkan tasnya sebelum pergi mandi agar terasa lebih segar.


Di dalam kamarnya, Arya yang sedang duduk di meja belajarnya tampak mengerutkan dahinya ketika dia menatap bukunya. Dia sedang mengerjakan tugasnya sebagai seorang siswa dan saat ini dia sedang mengalami sedikit kesulitan karena pertanyaan yang tertulis di bukunya tidak dia pahami sama sekali.


Pada akhirnya, dia menghela nafas dan menatap langit-langit.


"Bagaimana caraku menyelesaikan masalah dengan Roy dan kelompoknya?"


Arya bergumam pelan. Dia kini memikirkan rencana untuk membalas perbuatan Roy pada Niko.


Sebenarnya, dia sedikit tidak peduli dengan Niko tapi dia tidak bisa mengabaikannya begitu saja.


Alasan utama dia mau menyelesaikan masalahnya dengan Roy adalah karena mereka menggunakan Niko untuk memanggilnya keluar tapi sayangnya Niko menolak dan berakhir seperti saat ini.


Ini membuat Arya sedikit tidak senang karena pada dasarnya, Roy bisa saja mengajak kelompoknya untuk menghadangnya di suatu tempat dan mengeroyoknya.


Selain itu, ada satu hal lagi yang membuatnya tidak senang. Yaitu Niko dan Roy menggunakannya sebagai alat tawar-menawar.


Niko menawarkan dirinya untuk menjadi budak Roy dengan imbalan yang terakhir tidak menggangunya.


Baginya, Niko tidak harus berbuat sejauh itu hanya untuk dirinya. Di titik ini, Arya sedikit menyalahkan dirinya.


"Tampaknya ini akan menjadi pembunuhan berantai."


Arya menghela nafas panjang dan merasa malas.


Tentu, dia berencana membunuh Roy dan kelompoknya untuk menyelesaikan masalahnya. Lagi pula, dia adalah seorang pembunuh berdarah dingin.


Yang membuat Arya malas adalah, ketika dia membunuh maka dia harus membersihkan mayat orang-orang yang dia bunuh. Ini sedikit merepotkan baginya.


Kemudian, Arya menguatkan tekadnya untuk membunuh Roy dan kelompoknya. Dia berdiri dari tempatnya duduk dan menuju lemari pakaiannya.


Di dalam lemari pakaiannya, Arya meraba-raba selama beberapa saat sebelum akhirnya dia mengeluarkan sepasang benda panjang dan melengkung yang memiliki gerigi di satu sisi. Sepasang benda ini memiliki warna perak layaknya besi pada umumnya.


Ya, yang Arya keluarkan dari lemari pakaiannya adalah sepasang belati. Dia membeli belati ini secara illegal setahun yang lalu.


Belati miliknya memiliki gerigi di mata pisaunya dan belati tersebut sedikit melengkung dari bagian tengah hingga ujungnya.


Belati tersebut memiliki panjang sekitar tiga puluh centimeter dan berat yang lebih dari satu kilogram.


Kemudian, Arya mengambil jaket hitam panjang dan mengenakannya. Dia menyembunyikan sepasang belatinya dibalik jaket tersebut.


*****


Saat ini, Arya berada di depan rumah Niko. Dia awalnya tidak berencana kemari tapi dia memiliki suatu hal yang perlu dibicarakan dengan Yuki.


Setelah menekan bel, sosok Niko yang babak belur membukakan pintu dan menyambutnya.


"A-Arya...?!"


Niko tampak terkejut ketika tahu yang bertamu ke rumahnya adalah Arya.


Dia sedikit takut dengan tatapan dingin Arya, jadi dia dengan cepat mengajaknya masuk agar tidak mendapat tatapan dingin terlalu lama.


"Oh, Arya?"


Yuki yang sedang duduk di ruang keluarga juga tampak sedikit terkejut ketika melihat Arya bertamu di waktu yang sedikit tidak tepat ini. Lagi pula ini sudah hampir jam sepuluh malam, jadi agak kurang wajar jika seseorang bertamu.


"Maaf karena bertamu di waktu yang sedikit tidak tepat ini. Tante, aku memiliki beberapa hal yang ingin kubicarakan denganmu."


Arya langsung pada intinya. Dia memasang ekspresi serius.


Ini sudah malam, jadi dia tidak ingin terlalu lama berada di sini.


Melihat Arya yang begitu serius, Yuki mengerutkan dahinya.


"Apa yang ingin kau bicarakan denganku?"


"Ini tentang Niko."


Arya melirik Niko sejenak, membuat yang terakhir terkejut.


Segera, Niko menyadari sesuatu.


"Arya, jangan katakan apapun pada ibuku!"


Niko langsung panik. Dia tentu menyadari apa yang ingin Arya sampaikan pada ibunya.


Jelas, ini tentang dirinya diganggu oleh Roy dan kelompoknya untuk waktu yang lama. Arya terlihat jelas ingin membongkar semua rahasia yang dia sembunyikan dari ibunya selama ini.


Niko tidak mengatakan apapun tentang dirinya diganggu oleh Roy, jadi jika Arya mengatakan yang sebenarnya, Yuki mungkin akan sangat terkejut. Kemungkinan besar, dirinya akan dimarahi Yuki dan dimusuhi selama beberapa hari sampai suasana hati ibunya membaik.


Selain itu, jika Arya benar-benar mengatakan tentang Roy, maka semua luka babak belur yang dia terima selama dua minggu ini juga akan diketahui.


Dan juga, alasan dirinya yang sering tidak hadir di kelas juga akan terbongkar.


Banyak rahasia yang Niko sembunyikan dari ibunya akan terbongkar semuanya tanpa terkecuali. Dia langsung berkeringat dingin dan menatap Arya dengan memohon.


Melihat reaksi Niko, Yuki langsung menjadi curiga dan menatap Arya.


"Jika itu tentang Niko, maka bicaralah. Aku akan mendengarkannya."


Mendengar ini, Niko langsung merasa lemas dan wajahnya memucat. Sekarang, dia hanya bisa berharap kalau Arya tidak mengatakan semuanya.


Kemudian, Arya duduk dihadapan Yuki sementara Niko ingin pergi agar tidak terkena masalah. Tapi sayangnya, ibunya menyuruhnya tetap tinggal dan mendengarkan.


Jadi, pada akhirnya Niko duduk di sebelah Yuki dengan patuh.


Setelah itu, Arya menceritakan semua tentang Niko yang diganggu oleh seseorang bernama Roy dan kelompoknya.


Arya bilang pada Yuki kalau Niko sudah diganggu cukup lama dan bukan hanya diganggu, tapi Niko juga sering diperas untuk membelikan Roy makan siang di kantin sekolah.


Dan Niko melakukan itu hampir setiap hari.


Arya juga mengatakan kalau dirinya pernah terlibat beberapa kali dengan Roy karena membela Niko yang dibully. Dia juga bilang bahwa dirinya terkadang berkelahi dengan Roy agar Niko tidak diganggu lagi.


"Dan bukan hanya itu. Aku juga sudah menyuruh Niko untuk berhenti menuruti permintaan Roy. Aku sudah bilang pada Niko kalau seandainya Roy mencari masalah dengan Niko, maka aku yang akan maju. Aku sudah mengatakan itu padanya berulang kali tapi dia tidak mendengarkan sama sekali."


Arya menjelaskan dengan serius saat menatap tajam Niko. Dia tampak tidak senang karena Niko tidak mendengarkannya meski dia sudah berbuat banyak.


"Baiklah, teruskan." Kata Yuki dengan ekspresi bermasalah.


Dahinya berkerut dengan dalam. Bahkan alisnya terlihat akan menyatu.


Selanjutnya, Arya menceritakan semuanya termasuk kejadian yang terjadi dua minggu terakhir.