Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 144 - Penyesalan Lucy



Di kota Century, yaitu di rumah Lucy.


Lucy terlihat sedang duduk di tepi kasurnya, memegangi handphonenya ketika dia menunggu balasan dari Arya.


Ekspresinya terlihat cemas dan jejak khawatir melintas di matanya yang indah.


Lucy kini sadar, apa saja yang dia katakan tadi malam pada Arya terlalu kejam dan tidak berperasaan. Dia terlalu sensitif tadi malam karena dia sedang datang bulan, jadi dia tidak berpikir dua kali dalam berbicara.


Sekarang, setelah merenung dan mendapat nasehat dari David, Lucy menyadari semua ucapannya pada Arya.


Dia sudah mengirimi Arya pesan dan meneleponnya berkali-kali dari tadi malam, namun sayangnya handphone Arya tidak dapat dihubungi karena mati.


Pagi ini, Lucy mengecek handphone dan mengetahui jika semua pesan yang dia kirim pada Arya telah terkirim, namun yang membuatnya kecewa adalah Arya hanya membaca pesannya tanpa membalas.


Lucy mau tak mau merasa sangat bersalah di sini.


Arya sedang menghadapi masalah yang tidak dia ketahui, namun bukannya membantu, dia malah bertengkar dengan kekasihnya tadi malam.


Lucy ingat jelas apa saja yang dia katakan pada Arya tadi malam, berharap jika dia bisa kembali ke masa lalu untuk mencegah apa yang sudah dia katakan.


Memeriksa handphonenya lagi, Lucy menghela napas karena Arya tidak membalas pesannya.


Mencoba keberuntungan, Lucy menelepon Arya dengan harapan kekasihnya itu akan mengangkat teleponnnya.


*****


Di kota Bern.


Arya yang sedang mengobrol dengan Rosa itu tiba-tiba diam saat mereka mendengar suara dering handphone.


"Siapa yang menelepon, Nak?"


Arya kemudian mengambil handphonenya yang tergeletak di meja.


Melihat jika yang menelepon adalah Lucy, Arya mengerutkan dahinya. Rasa kesal dan marah seketika muncul di hatinya.


Dia ingat apa saja yang gadis itu katakan padanya tadi malam dan itu membuatnya marah hingga hampir menamparnya.


"Arya, kamu tidak mau menerima telepon itu? Mungkin saja itu penting, Nak."


"Tidak, Ma. Sama sekali tidak penting."


Arya menggeleng, meletakkan kembali handphonenya ke meja.


"Siapa yang menelepon itu, Nak?"


"Lucy, Ma."


"Eh? Bukankah seharusnya kamu menerima teleponnya? Apakah kalian jangan-jangan bertengkar?"


Rosa terkejut dengan pernyataan Arya.


Dia tahu betapa Arya mencintai Lucy, jadi tidak ada alasan bagi Arya menganggap telepon dari Lucy tidak penting. Hanya ada satu jawaban jika sudah seperti ini, mereka bertengkar.


"Arya, kamu tidak pulang ke sini hanya karena kamu bertengkar dengan Lucy, kan?" Tanya Rosa.


"Tidak, Ma. Aku memang bertengkar sedikit dengan Lucy, tapi itu tidak parah. Aku masih sedikit kesal padanya, jadi daripada aku bertengkar lagi dengannya, lebih baik mengabaikannya sejenak hingga rasa kesalku hilang, baru aku akan bicara dengannya lagi."


Arya menjelaskan sedikit.


"Selain itu, aku lebih suka mengobrol dengan Mama saat ini daripada mengobrol dengan Lucy."


"Ya ampun, kamu tidak kasihan dengan kekasihmu? Yah, tidak masalah juga, jarang bagimu untuk bisa menghabiskan waktu bersama Mama."


Rosa tersenyum lembut pada Arya. Melihat Arya yang mengabaikan Lucy membuatnya kurang nyaman, namun karena putranya telah berkata seperti itu, dia tidak bisa melakukan apapun.


Lagipula, melihat Arya yang bertingkah manja itu sedikit menggemaskan baginya. Sudah sangat lama sejak Arya seperti ini.


*****


Lucy hampir meneteskan air matanya ketika panggilannya diabaikan kekasihnya. Dia menelepon sekali lagi, namun hasilnya sama.


Setelah diabaikan beberapa kali, Lucy menemui kakaknya yang sedang libur kerja itu.


"Kak, Arya tidak mengangkat teleponku. Apa yang harus aku lakukan?!"


Lucy panik, air mata hampir menetes saat hatinya dipenuhi rasa bersalah. Jika dia tahu semuanya akan begini, dia tidak akan mengatakan banyak hal buruk pada Arya tadi malam.


David yang mendengarnya menghela napas. Dia mendekati Lucy dan menyeka air matanya.


"Aku sudah bilang, kan? Jangan bicara sembarangan ketika Arya sedang menghadapi masalah. Ingatlah jika Arya pasti akan menceritakan masalahnya padamu ketika dia mau. Sekarang, semua jadi kacau, kan?"


"A-aku tidak bermaksud, Kak... Aku hanya ingin mengetahui masalahnya, jadi aku bisa membantunya..."


Air mata Lucy menetes deras ketika dia tidak bisa menahannya lagi. Dia menjatuhkan diri ke pelukan David.


"Tenanglah, Lucy. Ayo kita ke tempat kakek. Mungkin saja Arya ada di sana."


David mengelus kepala Lucy.


Setelah itu, keduanya pergi ke tempat Erwin dengan harapan Arya berada di sana.


Tiba di sana, David dan Lucy bertamu sejenak dan mengobrol dengan Erwin.


Erwin menyambut mereka dengan ramah, namun di dalam hatinya, dia kebingungan. Seharusnya keduanya tidak di sini, karena cucunya sendiri berada di rumah mereka berdua.


Lucy yang mendengarkan David dan Erwin mengobrol menjadi gelisah setiap detiknya. Mulutnya menggeliat berkali-kali, ingin menanyakan keberadaan Arya.


Dia ingin segera mengetahui di mana Arya berada, namun kakaknya malah terlalu lama berbasa-basi.


Melirik Lucy, David bisa melihat kegelisahan dan kecemasan di mata Lucy. Dia menghela napas pelan dan menatap Erwin.


"Kek, kami datang ke sini sebenarnya memiliki tujuan. Jika boleh tahu, apakah Arya ada di sini?" David bertanya.


"Bukankah Arya seharusnya berada di rumah kalian? Apakah terjadi sesuatu pada Arya?"


Erwin mengerutkan dahinya, sepertinya dugaannya benar.


Ketika dia melihat David dan Lucy berkunjung, dia sudah bisa mencium aroma masalah akan datang.


David tersenyum canggung mendengarnya. Dia bingung harus menjelaskan bagaimana. Arya kemungkinan besar belum menceritakan masalahnya pada kakeknya, jadi tidak nyaman baginya untuk menceritakan masalah orang lain tanpa seizinnya.


Memutar otak sejenak, David pasrah dan meminta Lucy untuk pergi keluar sebentar karena dia ingin mengobrol empat mata bersama Erwin. Dia tidak ingin Lucy mengetahui masalah yang sedang Arya hadapi, karena dia ingin Arya menceritakan masalahnya pada Lucy secara langsung, bukan dari dirinya.


Lucy menolak awalnya, namun karena paksaan dari David, dia menurut.


Karena hanya ada dirinya dan Erwin, David bisa bercerita secara leluasa. Dia menceritakan apa yang Arya ceritakan tadi malam padanya.


Erwin yang mendengarnya terkejut, tidak menyangka jika Arya akan mengetahui rahasia yang selama ini dia dan Rosa sembunyikan dari Arya. Semua ini jelas tentang sikap bajingan Vicky.


"Dari mana Arya bisa tahu semua itu?"


"Arya bilang dia tahu semua itu dari Alice, istri pertama Vicky. Selama beberapa hari terakhir Arya juga selalu menyendiri, Kek. Sepertinya semenjak dia menyendiri itu, dia mengetahui itu semua."


"Huh, wanita murahan itu benar-benar tidak bisa menjaga rahasia! Apakah dia berniat mencari masalah meski putriku sudah bercerai dari suaminya? Dia benar-benar cari mati!" Erwin tidak bisa menahan diri untuk tidak mengutuk.


David tersenyum pahit mendengarnya. Ketika mendengar akhir kalimat Erwin, dia merasa seperti sedang mendengar Arya mengutuk seseorang yang menyinggungnya.


Menggeleng pelan, David berkata.


"Jadi, Kek. Apakah Kakek tahu di mana Arya sekarang? Dia bertengkar dengan Lucy tadi malam dan sekarang dia mengabaikan Lucy. Lucy jadi khawatir seharian ini."


"Menurutmu, ke mana lagi Arya bisa pergi selain kembali ke rumah ibunya?"


Erwin menghela napas panjang.