Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 145 - Semua Karena Alice!



Malam hari, di kota Bern.


Rosa yang tengah duduk di ruang keluarga itu menonton TV dan bersandar di sofa.


Andhika sedang mengerjakan tugas dari sekolah, jadi dia tidak bisa menemani Rosa menonton TV. Arya sendiri sedang berada di kamar mandi, membersihkan tubuhnya alias mandi.


Ketika sedang asik menonton, Rosa tiba-tiba mendengar suara dering handphone Arya di meja. Handphonenya berdering beberapa kali, menunjukkan jika ada notifikasi yang masuk.


Karena penasaran, Rosa mengecek handphone Arya. Dia memasukkan pin handphone putranya itu, yaitu pinnya adalah tanggal lahir Lucy.


Setelah itu, Rosa mengetahui jika notifikasi yang masuk disebabkan seseorang mengirimi Arya pesan.


"Sepertinya Lucy mengambil inisiatif untuk minta maaf. Ini kabar baik untuk Arya."


Rosa membaca pesan yang Lucy kirimkan, tertulis jika Lucy meminta maaf karena telah mengatakan banyak hal kasar pada Arya.


Beruntung, di dalam pesan yang Lucy kirimkan tidak ada satupun kata 'bunuh', jadi rahasia Arya aman sentosa.


Setelah melihat pesan yang Lucy kirim, Rosa bermain sebentar dengan handphone Arya. Dia melihat kontak handphone Arya dan dengan siapa saja putranya bertukar pesan.


"Tante Yuki? Siapa dia ini? Apakah putraku sekarang mulai bermain-main dengan tante-tante? Huh, sepertinya aku perlu mengintrogasi Arya setelah ini!"


Rosa terkejut ketika melihat Arya menamai salah satu kontaknya dengan nama 'Tante Yuki'. Dia kemudian membaca pesan yang dikirimkan Yuki pada Arya, begitu juga sebaliknya.


"Arya, apa kabarmu?"


"Kapan kamu datang ke rumah? Tante merindukanmu, tahu?"


"Berkunjunglah jika kamu senggang, kita nonton film lagi seperti minggu lalu."


Semakin Rosa membaca pesan yang Yuki kirimkan pada Arya, semakin suram ekspresinya. Dia mengutuk wanita bernama Yuki ini karena bersikap centil pada putranya. Dia juga menyalahkan Arya karena putranya bisa mengenal wanita tak tahu diri ini!


Tidak mau membaca lebih banyak, Rosa melihat-lihat kontak handphone Arya dan menemukan salah satu kontak tanpa nama.


Rosa heran karena kontak ini adalah satu-satunya yang tidak diberi nama. Meng-klik kontak tersebut, dia membaca isi pesan yang kontak tanpa nama ini kirimkan pada Arya.


"Hai, Bocah. Perkenalkan, aku Alice, istri pertama ayahmu. Aku yakin kau sudah mengenalku karena kita memiliki permusuhan yang tidak bisa didamaikan.


Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu dan ini adalah tentang Vicky, ayahmu. Apakah kau tahu, jika ayahmu sebenarnya lebih bajingan dan lebih brengsek dari yang kau tahu? Ayahmu tidak hanya selingkuh dan menikah dengan ibumu tanpa sepengetahuanku, lalu setelah itu dia menikah lagi, kan? Dia memiliki tiga istri kala itu.


Tapi, apakah kau tahu jika Vicky tetap tidak puas dengan tiga istri? Ayahmu, setelah menikah dengan istri ketiganya, dia masih selingkuh di mana-mana asal kau tahu. Faktanya, selama dia memiliki aku dan ibu sebagai istri pertama dan kedua, dia masih bermain-main dengan lima hingga enam wanita lain, tahu?


Tidak masalah jika dia hanya bermain-main dengan mereka, tapi masalahnya adalah dua di antara mereka hamil anak Vicky. Itu benar-benar gila.


Vicky benar-benar sampah, bukan? Dia tidak hanya memiliki tiga istri, tapi dia juga menghamili dua wanita di luar nikah dan masih punya selingkuhan empat orang lagi.


Bocah, aku hanya ingin menyampaikan ini padamu, karena aku yakin ibumu ataupun kakekmu, atau siapapun di dalam keluargamu tidak memberitahu dirimu tentang fakta ini, kan? Tidak perlu berterima kasih padaku, aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan.


Oh, ya. Aku hanya ingin memperingatimu. Jangan pernah jadi seperti Vicky! Dia adalah sampah dan jangan sampai kau menjadi sampah juga! Dunia ini sudah penuh dengan sampah, jadi jangan menambahkannya lagi!"


Ternyata, kontak tanpa nama ini adalah nomor Alice. Wanita itu mengirimkan pesan seperti di atas pada Arya.


Rosa yang membacanya terkejut, tidak menyangka jika pelacur itu akan begitu berani membocorkan rahasia yang tidak seharusnya diketahui oleh Arya.


Kini, Rosa tahu kenapa Arya tiba-tiba pulang ke rumahnya tengah malam dan langsung menangis serta meminta maaf tanpa henti. Ternyata semua karena Alice!


'Pelacur, beraninya kau memberitahu putraku tentang Vicky yang memiliki selingkuhan lagi! Kau mencari kematianmu!' Rosa mengutuk.


Dia sangat tahu jika Arya begitu peduli padanya dan Andhika. Jadi, mengetahui fakta tentang ayahnya yang menyakiti hati ibunya lebih dari yang dia ketahui pasti merupakan pukulan berat bagi Arya.


*****


Arya yang baru saja keluar dari kamar mandi itu memiliki wajah cerah dan sedikit beruap karena air panas. Rambutnya belum kering sepenuhnya, membuat air menetes di setiap langkahnya.


Di leher Arya, ada handuk kecil menggantung di sana.


Ketika Arya melewati ruang keluarga, dia terkejut melihat Rosa memiliki ekspresi suram di wajahnya. Mata ibunya itu dipenuhi kemarahan dan kebencian yang tak tertahankan.


"Ma?" Arya memanggil dengan lembut.


Rosa tersentak, menoleh pada Arya dan tersenyum yang dipaksakan pada putranya.


"Kamu sudah selesai mandi, Nak? Keringkan rambutmu dengan benar, airnya menetes ke mana-mana."


Rosa menggeleng pada Arya yang rambutnya masih basah itu.


Arya tertawa kecil dan mulai mengeringkan rambutnya menggunakan handuk di lehernya. Dia kemudian duduk tidak jauh dari Rosa.


"Ma, apakah Mama membacanya?"


Arya bertanya, ekspresi serius terlukis di wajahnya. Dia memiliki dugaan jika Rosa sudah mengetahui alasannya tiba-tiba pulang. Terlebih lagi, tatapan kebencian Rosa diperlihatkan ketika ibunya sedang memegang handphonenya.


Jadi, Arya jelas mengetahui jika Rosa sudah membaca pesan dari Alice.


Selain itu, Alice sendiri merupakan orang yang membuat Arya banyak diam dan menyendiri selama beberapa hari terakhir. Ini juga yang menyebabkannya mengalami depresi selama beberapa hari ini karena memikirkan betapa sakit hati ibunya ketika masih menjadi istri dari Vicky.


Arya merasa tidak berguna karena tidak mengetahui masalah sebesar itu dihadapi seorang diri oleh Rosa. Dia merasa dirinya hanya beban bagi Rosa karena tak mampu berbagi beban dengan ibunda tercinta.


Menundukkan kepalanya, Arya terisak.


Rosa menggigit bibirnya saat hatinya sakit melihat putrinya begitu depresi hanya untuk memikirkan dirinya. Dia merasa sangat beruntung memiliki putra yang begitu penuh perhatian dan sangat peduli padanya.


"Tak apa, Nak. Tidak apa. Semuanya sudah berlalu, jangan pikirkan yang tidak perlu. Jangan buat dirimu stres hanya karena ucapan tidak mendasar dari wanita itu. Semua hanya kebohongan, jangan pikirkan semua itu..."


Rosa menepuk pundak Arya, tidak tahan melihat Arya yang terlihat sedih itu.


"Tidak, Ma. Bagaimana mungkin aku tidak memikirkan itu semua itu dan membiarkan Mama menanggung semuanya sendirian? Aku tidak berguna karena tidak bisa berbagi beban dengan Mama. Aku tidak berguna karena tidak mengetahui itu semua. Aku benar-benar minta maaf, Ma..."


Arya meringkuk, tidak berani menatap Rosa karena rasa bersalahnya.


Rosa tidak tahu harus berbuat apa. Dia menyuruh Arya bangkit dan menangkupkan kedua tangannya di wajah Arya yang menangis itu. Sudah sangat lama sejak dia melihat Arya yang begitu kuat menangis seperti anak kecil.


"Arya, Putra Mama, dengarkan Mama. Kamu tidak perlu merasa bersalah atas apa yang telah terjadi. Semua bukan salahmu, semua salah Vicky. Jangan terlalu diambil pusing, Nak. Kamu sudah cukup berbagi beban dengan Mama. Kamu banyak membantu Mama ketika kita ditinggalkan oleh Vicky dulu. Jika bukan karenamu dan Andhika, Mama tidak tahu hidup ini harus dibawa ke mana. Kamu adalah cahaya di gelapnya hidup Mama."


Rosa berkata dengan lembut, senyum hangat menghiasi wajahnya, membuat Arya terenyuh.


Dia bisa membayangkan berapa kali Rosa menangis di malam hari ketika semua orang tidur, karena memikirkan sikap bajingan Vicky.


Melihat Arya tidak merespon, Rosa merasa jika apa yang dia katakan tidak dapat menghibur Arya. Dia menyeka air mata putranya dan menariknya ke dalam pelukannya.


Rosa mengelus punggung Arya dan membiarkannya menumpahkan semua tangisnya di pundaknya.