Betsu No Sekai No Sekandoraifu

Betsu No Sekai No Sekandoraifu
eps. 252 Pertarungan



"Baiklah kalau begitu akan aku lakukan lagi seperti dulu" ucap Rei. "Tidak akan aku biarkan kau melakukan hal yang sama untuk dua kalinya, untuk sekarang hanya kau yang akan menghalanginya jalanku jadi akan ku bunuh kau dulu" ucap dewa naga.


"Tidak akan semudah itu, aku tidak akan membiarkan diriku di bunuh" ucap Rei yang kemudian ia langsung berada di depan dewa naga. "Duuuakkk......!!" Rei menendang dagu dewa naga ke atas dan membuat dewa naga terlempar ke atas. Akan tetapi setelah berada di atas, dewa naga terbang di langit.


"Oh..... terakhir kali aku bertemu denganmu kau tidak seperti ini, sekarang kau sangat agresif sekali Rei....." ucap dewa naga. "Wush....." Rei pun terbang ke atas dan berada di depan dewa naga dengan jarak sekitar tiga meter. "Sepertinya tidak, aku tidak berubah sama sekali itu paling cuma perasaan mu saja" ucap Rei. "Ayolah Rei.... jangan dingin seperti itu, bukankah kita sudah kenal lama.....?" ucap dewa naga.


"Ya.... aku sudah kenal lama dengan dewa naga yang asli, dan untuk mu aku tidak terlalu mengenal dirimu" ucap Rei. "Apakah kau pikir aku ini palsu.....? ayolah..... jangan bercanda, dewa naga yang asli itu aku dan dia itu cuma seperti pengganti untuk sementara" ucap dewa naga. "Ya.... sepertinya, kita harus menghentikan pembicaraan tidak berguna ini" ucap Rei.


"Ya.... kau benar sekali, kalau begitu aku akan serius bertarung kalau kau sangat ingin menghalangi ku" ucap dewa naga. "Bagitukah, kalau begitu jangan menahan diri, dan lakukan dengan serius menggunakan tubuh baru mu itu" ucap Rei. "Ya.... sambil menyesuaikan diri dengan tubuh ini" ucap dewa naga. "Sihir cahaya: Light Bullet" dewa naga menembakkan peluru cahaya secara terus menerus ke arah Rei.


Sementara itu, Iseria dan yang lainnya berada di dalam mansion dan Mansion di kelilingi oleh sebuah Barier yang sangat kuat dan bahkan sulit untuk menembus dari luar atau dalam. "kenapa kita ada di mansion.....? bukankah tadi ada di belakang kastil.....?" ucap Iseria. "Ya.... sepertinya Rei mengirim kita ke sini, karena ada sesuatu yang berbahaya" ucap Alencia.


"Tapi, bukankah lebih baik kalau Rei juga ikut" ucap Iseria. "Tidak akan seperti itu, Rei pasti akan berada di sana untuk menghentikan kejadian yang ada di sana" ucap Sasaki. "Kalau begitu papa dalam bahaya....." ucap Yuna dan Nina. "Ya.... sepertinya begitu" ucap Iseria. kemudian mereka pun keluar dari mansion dan menuju keluar. Akan tetapi mereka tidak bisa keluar dari area mansion karena sebuah Barier yang di pasang Rei.


"Kenapa.....? kenapa Rei membuat Barier di sini.....?'' ucap Iseria. "Sepertinya ini Barier yang sangat kuat, bahkan hampir tidak mungkin untuk di tebus" ucap Shiko. "Nona.... di luar sepertinya bahaya, ada baiknya anda sekalian masuk ke dalam" ucap Luna. "Tapi.... tapi Rei....." ucap Iseria. "Tuan Rei ada di atas dan sedang bertarung, daripada anda berniat untuk keluar dan membuat tuan rei khawatir dan itu akan menyebabkan sesuatu kepada tuan Rei" ucap Luna.


"Ya.... sepertinya begitu, kalau kita keluar dari sini kita hanya akan menjadi beban dan menjadi incaran empuk untuk musuh" ucap Rin. "Ya.... sepertinya kita harus masuk dan menunggu Rei menyelesaikannya" ucap Iseria. "Ya...." ucap Cerise dan yang lainnya. Kemudian mereka pun masuk ke dalam mansion.


Sementara itu, Rei dan dewa naga. Rei menangkis semua serangan dari dewa naga. "Apakah cuma segitu.....?" ucap Rei yang heran melihat serangan yang dilancarkan oleh dewa naga. "Maaf.... maaf..... aku cuma mengetes dan untuk bisa membiasakan diri dengan tubuh ini" ucap dewa naga. "Hmm..... begitukah, kalau begitu sebelum kau bisa membiasakan diri dengan tubuhmu itu, akan aku kalahkan dirimu" ucap Rei.


Mereka berdua beradu pukulan di langit yang cukup gelap. "Wush...." Rei mundur dan mengambil jarak dari dewa naga. "Kenapa kau mengambil jarak......? apakah tekad mu untuk mengalahkan diriku ini sudah hilang.....? kalau begitu akan menjadi lebih mudah untuk menghancurkan dunia ini" ucap dewa naga.


"Tidak, aku tidak akan kehilangan tekad dengan mudah seperti itu dan juga aku sudah di beri kepercayaan untuk mengalahkan dirimu" ucap Rei. Rei pun kemudian mengepalkan tangan kanannya. "Burn....." setelah mengepalkan tangannya, di kepalan tangan kanan Rei terselimuti oleh api berwarna putih. "Ho.... api itu, cukup berbahaya kalau sampai kena" ucap dewa naga


"Burn,..." kepalan tangan dewa naga pun ikut terselimuti oleh api berwarna hitam pekat. "Wush......" Rei langsung melesat ke arah dewa naga. "Wush ... wush.... wush.... wush.... wush..... wush....." Rei melakukan pukulan dengan sangat cepat secara beruntun. "Burn.... burn.... burn.... burn.... burn.... burn....." dewa naga menangkis semua pukulan Rei dengan pukulan.


Pukulan mereka saling menghantam satu sama lain dan menciptakan percikan api. Saat mereka beradu pukulan, Rei tanpa di ketahui menyelimuti kakinya dengan api. "Wush.... buakk....." Rei langsung melesat tendangan ke samping di dada dewa naga. "wush....." dewa naga pun mundur ke belakang setelah menerima serangan dari Rei.


"Ugh..... sudah aku duga itu sangat berbahaya" ucap dewa naga sambil memegang luka bakar yang ada di dadanya. "Sial..... serangan api putih menyebabkan luka di tubuh dan jiwa, kalau di tubuh itu tidak akan berpengaruh akan tetapi kalau di jiwa tidak akan bisa di sembuhkan, sama seperti terkena senjata dewa" batin dewa naga.


"Sihir api: Fire Breath......" Rei menyemburkan api berwarna putih ke arah dewa naga. Karena area semburan itu sangat luas, dewa naga tak berdaya dan terkena serangan api itu. "Kuhh..... arrrggg...... siiiaaallllaaaannnnnn........" ucap dewa naga yang berada di tengah kobaran api. Tak lama Rei pun menghentikan semburan, setelah semburan berhenti terlihat dewa naga dengan luka di seluruh tubuh akan tetapi ia masih hidup.


"Huh.... huh.... huh..... tadinya aku ingin menahan diri dan tidak akan menggunakan itu, tapi sepertinya tidak masalah karena aku lebih mendominasi tubuh ini" ucap dewa naga. "Prak....." dewa naga pun mengembangkan sayapnya. Bersamaan dengan itu, luka luka di tubuh dewa naga langsung menghilang akan tetapi tidak untuk jiwanya.


Setelah mengepakkan sayapnya, bulu berwana putih jatuh dari langit dan turun ke bawah secara pelan. "Inilah senjata milikku, Feather of Pain" ucap dewa naga.