
"A.... Apa-apaan itu.....?!! pohon itu langsung jadi abu.....?!! bagaimana mungkin....!!!" ucap bocah itu. "Apakah dengan ini kau bisa melihat perbedaan kekuatan....?" ucap Rei. "Aku mohon ampun....." ucap bocah itu dengan bersujud. "Oh ya.... aku hampir lupa.... bisakah aku mengambil beberapa senjata dan cincin yang kau curi.....?" ucap Rei.
"Tapi kenapa....?" ucap bocah itu. "Ya... karena cincin dan dua pedang yang kau curi itu milik tunangan ku...." ucap Rei. "Baiklah, silahkan anda ambil...." ucap bocah itu. "Kau bisa berdiri, dan aku ada beberapa pertanyaan untuk mu..." ucap Rei. "Pertanyaan.....? silahkan katakan...." ucap bocah itu.
"Ya... yang pertama, siapa namamu....?" ucap Rei. "Namaku Frans, memang nya ada apa....?" ucap Frans. "Ya, tidak ada apa apa, namaku Rei...." ucap Rei yang juga memperkenalkan diri. "Baiklah, tuan Rei...." ucap Frans. "Panggil aja dengan panggilan yang lebih akrab" ucap Rei. "Kalau begitu, kak Rei....?" ucap Frans. "Ya... lumayan" ucap Rei.
"Oh ya, kata kau tadi, beberapa pedang dan cincin adalah milik tunangan mu, ada beberapa tunangan mu.....?" ucap Frans. "Hmm.... satu.... dua.... tiga.... empat.... delapan, ada delapan...." ucap Rei. "Eh..... delapan.....? banyak sekali...." ucap Frans. "Hehehe.... tanpa sadar aku sudah memiliki mereka, dan aku juga sangat menyayangi mereka semua" ucap Rei.
"Apakah aku masih seperti mu ya..... yang hidup enak....?" ucap Frans yang iri kepada Rei. "Kenapa kau iri dengan ku....? tidak ada yang istimewa dari ku...." ucap Rei. "Karena kau bisa menghidupi Banyak orang itu membuatku iri" ucap Frans. "Oh ya, Frans apa alasan kau mencuri....?" ucap Rei. "Hmm....." Ucap Frans.
"Kalau itu masalah pribadi aku tidak akan menyuruh mu untuk menjawabnya...." ucap Rei. "Tidak, semua orang juga tau..... sebenarnya aku memilih ibu yang sedang sakit keras dan aku mencuri untuk biaya pengobatan ibu" ucap Frans. "Sakit apa....?" ucap Rei. "Bukan sakit sih, lebih tepatnya adalah kutukan" ucap Frans.
"Hmm... kutukan kah..... kalau itu aku bisa membantu menyembuhkan nya...." ucap Rei. "Kak Rei mau menyembuhkan nya....? bagaimana mungkin banyak penyihir hanya bisa menghambat kutukan nya saja" ucap Frans. "Kau kira siapa aku....? akan ku katakan salah satu dari tunangan ku ada yang menderita kutukan yang membuat nya terancam kematian" ucap rei.
"Terus apa yang terjadi.....?" ucap Frans. "Aku menghilangkan kutukannya" ucap Rei. "Apakah benar....? aku tidak percaya...." ucap Frans. "Kalau tidak percaya ya sudah, apakah aku bisa menemui ibumu....?" ucap Rei. "Ya.... kalau menemui saja tidak apa apa...." ucap Frans. "Ya... tapi sebentar aku akan membawa ini...." ucap Rei yang membawa pedang dan Cincin milik Iseria, Cerise, Shiko, Sasaki, Asami, Cisa, Rin dan Alencia.
"Eh.... kak Rei mau membawa itu....? bukankah sulit untuk membawa semua itu....?" ucap Frans. "Tidak, aku akan memasukkan nya ke sihir penyimpanan" ucap Rei. Dan Rei pun memasukkan itu ke dalam space dimension. "Eh.....?!! si— Sihir dimensi.....? jarang ada yang memiliki elemen dimensi...." ucap Frans.
"Apakah sangat jarang....? tapi aku bisa menggunakan semua elemen...." ucap rei. "Bercanda kak Rei sudah sangat kelewat...." ucap Frans. "Aku tidak bercanda" ucap Rei. dan Rei pun menunjukkan semua elemen Kepada Frans. "Benar.... kak Rei bisa menggunakan semua elemen, dan tidak berbohong" ucap Frans.
"Ya.... jadi ini rumah mu...." ucap rei. mereka berhenti di sebuah rumah yang kumuh dan hampir ambruk. "Silahkan masuk, maaf kalau tempat ini sangat kotor...." ucap Frans. "Tidak apa apa, tenang saja" ucap Rei. Dan mereka pun masuk ke dalam. "Aku pulang...." ucap Frans. "Selamat datang...." ucap ibu Frans yang berbaring di atas tempat tidur di kamar nya.
Frans pun masuk ke dalam kamar ibunya. "Kak Rei silahkan masuk" ucap Frans. "ya.... permisi...." ucap Rei yang masuk ke dalam kamar ibunya Frans. "Siapa dia Frans....?" ucap ibu Frans. "Dia adalah kak Rei, dia....." ucap Frans yang bingung hubungan apa yang ia miliki dengan Rei.
"Aku dan Frans berteman...." ucap Rei. "Ya.... ibu" ucap Frans. "Hmm,... kutukan yang lumayan, tapi lebih rendah dari kutukan milik Iseria dulu" batin Rei. "Frans apakah aku bisa ke dapur mu....?" ucap Rei. "Dapur....? kak Rei mau melakukan apa....?" ucap Frans. "Aku mau memasakkan makanan untuk ibumu agar cepat sembuh" ucap Rei.
"Ya..... kak rei hanya perlu berjalan lurus saja" ucap Frans. "Ya...." ucap Rei, dan Rei pun langsung berjalan menuju ke dapur. Saat sampai di dapur, ia melihat ke sekeliling. "Hmm.... bahan bahan yang kualitasnya tidak terlalu baik, aku pernah merasakan seperti ini" ucap Rei. Dan Rei pun langsung memasak.
Ia memasak masakan yang paling simpel yaitu bubur. "Hmm.... kalau bubur kurang lebih dari cukup" ucap Rei. Setelah bubur yang Rei buat itu matang dan Rei menggunakan sihir ke dalam bubur tersebut. "Sihir penumbuhan\= removal" Rei mengunakan sihir ke dalam bubur yang ia buat itu.
Setelah itu Rei membawa bubur itu ke kamar ibunya Frans. "Ini sudah jadi, silahkan di makan" ucap Rei yang memberikan bubur itu ke ibunya Frans. "Kenapa anda repot repot membuatkan makanan....?" ucap ibunya Frans. "Tidak apa apa, aku minta maaf karena hanya bisa membuat bubur tanpa daging" ucap Rei.
"Bubur....? makanan dari mana....?" ucap ibunya Frans. "Itu makanan dari tempat ku berasal" ucap Rei. "Baiklah akan aku cicipi rasanya...." ucap ibunya Frans yang memakan sesuap. "Hmm..... apa ini....? rasanya sangat enak, apakah benar kamu menggunakan bahan di dapur kami...?" ucap ibunya Frans. "Ya benar" ucap Rei.
"Tapi rasanya sangat berbeda dengan yang biasanya" ucap ibunya Frans. "Aku menggunakan metode pemasakan tersendiri" ucap Rei. "Oh... ada metode tersendiri saat kamu masak...." ucap ibunya Frans. "Oh ya... bagaimana rasa tubuh anda....?" ucap Rei. "Eh.... sudah mendingan, dan juga tubuhku rasanya ringan" ucap ibunya Frans. "Syukurlah kalau begitu, tapi anda harus tetap istirahat terlebih dahulu" ucap Rei.
"Kak Rei... apa yang kakak lakukan...?" ucap Frans "tadi aku kan bilang kalau aku bisa menyembuhkan ibumu" ucap Rei. "Kalau begitu apakah ibu sudah sembuh....?" ucap Frans. "Kita keluar terlebih dahulu, akan ku bicarakan di luar" ucap Rei. "Baik kak" ucap Frans. Dan mereka pun keluar dari kamar.