
"Hah.... hah.... hah..... apa apaan tadi.....? mimpi buruk dari yang terburuk yang pernah aku lihat......" ucap Rei yang bangun dari tidurnya. Rei pun membuka tirai kamar dan melihat ke arah luar. "Huh..... masih gelap....." ucap Rei yang terbangun tengah malam.
"Tapi apa yang di maksud dewa naga apakah api yang berwarna putih itu.....?" ucap Rei. "Sihir api: Pure Fire" Rei menggunakan sihir dan membuat kobaran api berwarna putih di tangannya. "Jadi ini kah, tapi api ini hanya bisa di gunakan untuk melukai jiwa dan juga bisa di gunakan untuk menyembuhkan" ucap Rei. "Tunggu dulu..... jiwa....." ucap Rei yang sambil berpikir.
[Note: Api putih adalah api pada tingkat tinggi dan ada juga api yang setara dengan api putih ini adalah api hitam pekat].
"Dewa tidak memiliki tubuh fisik, mereka hanya memiliki tubuh spiritual, berarti api ini yang bisa di gunakan untuk membunuh dewa,tapi bagaimana mungkin aku bisa membunuh dewa sesungguhnya, aku hanya setengah dewa bahkan tidak memiliki senjata dewa" ucap Rei.
[Note: Senjata dewa adalah senjata milik dewa yang hanya bisa di gunakan oleh dewa yang memiliknya. Senjata Dewa naga adalah sebuah sepasang sayap yang bisa berubah ubah dan memiliki efek regenerasi mana dan luka].
"Huh..... dan juga aku yang hanya setengah dewa bisa dengan mudah di kalahkan bahkan hanya itu dengan dewa paling lemah" ucap Rei. Rei pun kemudian berbaring dan berpikir sesuatu. "Hmm.... apakah aku memiliki senjata dewa akan tetapi itu akan keluar saat berhadapan dengan dewa..... tidak.... tidak.... itu pasti mustahil" batin Rei dan Rei pun memiliki hal yang sepertinya tidak akan terjadi sampai pagi hari.
Saat sudah pagi Rei pun bangun dan pergi mencuci muka, saat menuju ke ruang makan ia bertemu dengan Yuna dan Nina yang juga sedang menuju ke ruang makan. "Yuna.... Nina.... Kalian berdua bangun cukup pagi" ucap Rei. "Papa..... selamat pagi....." ucap Yuna dan Nina. "Ya.... selamat pagi, apakah Iseria dan yang lainnya sudah duluan....?" ucap Rei.
"Sepertinya tidak, aku juga tidak tau papa...." ucap Yuna. "Begitukah, Kalau begitu kita ke ruang makan, dan kalau mereka belum datang kita tunggu" ucap Rei. "Baik papa...." ucap Yuna dan Nina, mereka pun berjalan menuju ke ruang makan. Setelah mereka sampai di ruang makan mereka duduk sambil menunggu Iseria dan yang lainnya datang.
Para pelayan sedang menyiapkan makanan untuk sarapan dan tak lama Iseria, Cerise, Shiko, Sasaki, Asami, Cisa, Rin, Alencia, Carl, Lena dan Viora pun datang ke ruang makan. Mereka pun duduk dan juga makanan untuk sarapan sudah siap. Mereka pun sarapan bersama, setelah sarapan mereka bersantai di ruang tengah.
"Sudah tinggal enam hari lagi, sudah tak lama lagi Kuro akan menikah" ucap Rei. "Ya.... dulu tidak terlalu dekat dengan para bangsawan dan Sekarang menjadi lebih dekat kerena dia merupakan teman Rei" ucap Iseria. "Papa.... apakah papa juga nanti akan menikah....?" ucap Yuna dan Nina. "Hmm.... tentu saja, nanti aku juga akan menikah" ucap Rei.
"Ya.... tentu saja, Yuna dan Nina tidak akan di tinggalkan" ucap Shiko. "Ya....." ucap Yuna dan Nina yang sambil tersenyum lebar. Beberapa hari pun terlewat, Rei, Yuna, Nina, Iseria, Cerise, Shiko, Sasaki, Asami, Cisa, Rin, Alencia, Carl, Lena dan Viora menghabiskan lima hari seperti biasa. Dan besok harinya adalah hari pernikahan Kuro.
Di malam hari sebelum pernikahan Kuro, Rei dan yang lainnya sudah makan malam dan kembali ke kamar mereka masing masing. "Hah..... tidak ku sangkar lima hari bisa terasa sangat cepat dan juga besok pernikahan Kuro" ucap Rei. "Halo...... apakah kamu belum tidur.....?" ucap Valentine yang masuk ke kamar Rei dengan menembus tembok.
"Tidak, aku sudah tertidur pulas" ucap Rei kepada Valentine. "Dari mana.....? aku melihat mu kamu masih belum tidur" ucap Valentine. "Lah.... kau sudah tau kenapa bertanya lagi....?" ucap Rei. "Ya..... padahal aku hanya ingin mengawali pembicaraan" ucap Valentine. "Ya.... ya.... aku paham, dan apa yang kau bicarakan....?" ucap Rei.
"Hmm..... entahlah, aku juga belum tau akan membicarakan apa" ucap Valentine. "Begitukah, kalau begitu aku akan tidur saja karena kau tidak ada yang di bicarakan" ucap Rei. "Eh..... tunggu Rei..... jangan tidur dulu" ucap Valentine. "Hmm.... baiklah, aku tidak akan tidur dulu, apakah ada yang akan kau bicarakan.....?" ucap Rei. "Ya..... aku akan bertanya, kamu bisa menjawab atau tidak menjawabnya, aku tidak masalah" ucap Valentine.
"Ya..... katakan apa yang akan kau tanyakan.....?" ucap Rei. "Rei.... apakah kamu tau tentang para dewa dan Dewi.....?" ucap Valentine. "No comment..... tapi aku hanya tau beberapa dewa dan Dewi saja, seperti dewa naga, dewa Manusia, dan Dewi cinta" ucap Rei. "Hmm.... bagitukah, kalau aku bertanya apakah kamu seorang dewa.....?" ucap Valentine. "Tidak, aku bukanlah seorang dewa tapi itu tidak sepenuhnya salah" ucap Rei.
"Apa maksudnya.....? kau bukan dewa dan juga dewa......?" ucap Valentine. "Lebih tepatnya aku setengah dewa, ayahku mantan dewa dulunya, dan apakah ada pertanyaan lain.....?" ucap Rei. "Ya.... terakhir, apakah yang kamu maksud harus membunuh dewa naga.....?" Valentine. "No Comment, aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu karena itu bukanlah hal yang bisa di dengar oleh makhluk dunia" ucap Rei.
"Baiklah, aku itu sudah menjawab pertanyaan ku, dan bagaimana rasanya menjadi setengah dewa.....?" ucap Valentine. "Tidak ada yang spesial, tapi aku memiliki kekuatan keberuntungan dan kesialan" ucap Rei. "Berarti kamu bisa mengatur keberuntungan atau kesialan orang lain, begitu....?" ucap Valentine. "Yap.... tapi aku tidak bisa menggunakan kekuatan dewa sesering mungkin" ucap Rei.
"Kenapa.....? apakah ada konsekuensi sendiri.....?" ucap Valentine. "Tidak ada konsekuensi, tapi tubuhku ini tidak terlalu kuat untuk menggunakan kekuatan dewa sesering mungkin" ucap Rei. "Begitukah, dan bagaimana dengan senjata mu.....? apakah berbentuk petir, tombak atau perisai.....?" ucap Valentine. "Dari mana kau tau kalau dewa mempunyai senjata sendiri....?" ucap Rei.
"Hampir semua orang tau, apalagi orang iman yang menyembah salah satu dewa, mereka tau spesifikasi dan bentuk senjata dewa yang mereka sembah" ucap Valentine. "Sayang sekali aku tidak memilikinya, mungkin karena aku bukan dewa sejati jadi aku tidak memilikinya" ucap Rei.