
"Tap...." Rei berhenti di depan pemimpin yang memimpin para monster tersebut. "Hmm.... jadi ini yang bisa memimpin para monster itu" ucap Rei.
"Litch, tidaklah mustahil untuk Litch untuk memimpin para monster ini, tapi sepertinya dia sangat kuat bahkan bisa menyamai raja jerangkong" ucap Rei. "Kyahahaha..... manusia tunduklah di hadapanku" ucap Litch itu kepada Rei. "Tidak, buat apa....?" ucap Rei. "Manusia rendahan beraninya kau" ucap Rei. "Tidak tidak tidak, bukankah kau sama.....? kau dulu kan manusia dan sekarang menjadi tulang hidup" ucap Rei.
"Ya.... aku ada benarnya, aku dulu manusia tapi karena dikhianati, dan aku mati oleh orang yang palingku percaya, dan pada akhirnya aku hidup kembali" ucap Litch. "Tapi buat apa kau memberitahu ku itu......? aku tidak ada hubungannya dengan mu dan juga para elf juga" ucap Rei. "Ya.... memang, tapi Aku buruk menyerap jiwa jiwa dengan membunuh agar aku menjadi lebih kuat" ucap Litch.
"Tapi bukankah itu adalah hal buruk.....? kalau kau ingin kekuatan bukankah kau bisa melatih sihir dan yang lainnya" ucap Rei. "Aku Litch tidak bisa berkembang seperti diriku yang dulu, karena sekarang aku adalah makhluk immortal dan hanya bisa berkembang dengan menyerap jiwa" ucap Litch. "Ya.... kalau begitu kehidupanmu akan berakhir dan hiduplah lebih baik di nanti hari" ucap Rei.
"Sihir es: freeze" Rei menggunakan sihir es dan membuat bagian bawah Litch terkurung dalam es. "Ck, beraninya kau, tapi ini bukanlah masalah besar" ucap Litch. "Sihir api: Hell Flame" Litch menggunakan sihir api, Litch tersebut menciptakan bola api di tangannya dan sihir es yang mengurungnya itu pun mencair. "Wow.... hebat bisa menggunakan sihir api tingkat atas" ucap Rei.
"Wursh......." Litch pun menyerang Rei dengan sebuah gelombang api berwarna kehitaman ke arah Rei. "Sihir es: Eternal ice" Rei menggunakan sihir es dan membekukan api milik Litch tersebut. "Ba.... bagaimana bisa.....? bukankah mustahil untuk membekukan api....?" ucap Litch. "Tidak, hell Flame milikmu itu memiliki molekul yang lebih padat dari api biasa, dan itu juga hampir mencapai zat padat, karena itu aku bisa membekukan nya" ucap Rei.
"Molekul.....? zat padat.....? apa yang kau bicarakan....?!" ucap Litch tersebut yang tidak paham dengan apa yang di katakan Rei. "Lebih mudahnya, kekuatan milikku lebih kuat dari pada kekuatan ku yang hanya secuil kertas" ucap Rei. "Sialan kau.....!! akan ku habisi kau dan aku akan membakar dagingmu" ucap Litch. "Itu jelas tidak mungkin, kau tidak akan bisa, percayalah padaku" ucap Rei. "Belum tentu, sebelum aku mencobanya tidak akan pernah tau" ucap Litch.
"Wow.... kata kata yang hebat, tapi bukankah seperti terbalik percakapan tadi....?" ucap Rei. "Siapa peduli, lebih baik kau pikirkan bagaimana kau hidup" ucap Litch. Dan di belakang Rei terdapat dia monster yang berlari ke arah Rei.
"Silahkan saja, kalahkan" ucap Litch yang kemudian memudar menjadi asap. "Eh.... dia kabur, dan aku harus melawan monster ini" ucap Rei. "Wush... monster tulang melompat ke udara dan berniat mendarat di tempat Rei batasan. "Duaar......" suara ledakan yang sangat keras akibat hantaman monster tersebut. sementara itu di tempat Iseria dan yang lainnya yang juga sedang melawan monster, mereka langsung teralihkan karena suara hantaman tersebut, mereka pun memalingkan ke arah suara monster tersebut yang menghantam tanah.
"Wow..... hantaman yang sangat keras" ucap Rei yang berada di atas kepala monster tulang tersebut. Monster yang menghantam tanah itu pun bingung kerena keberadaan Rei menghilang dari atas tanah. "Ah..... apakah monster ini sangat bodoh" ucap Rei. "Sihir air: Waterdrop Slash" Rei langsung meletakkan tangannya di atas kepala monster tersebut. Dan tak lama Rei meletakkan tangannya, monster tersebut langsung basah oleh air.
"Tap...." Rei langsung melompat menjauh dari monster tersebut. Dan saat monster tersebut melihat Rei, monster tersebut langsung mengarahkan serangan pukulan ke arah Rei. Akan tetapi saat pukulan monster tersebut hampir mencapai Rei, tangan monster tersebut langsung terpotong kecil kecil, dan pada akhirnya tubuh monster tersebut berubah menjadi tumpukkan kepingan tulang.
"Hmm.... aku sudah mengira setiap tetesan air akan memotong, tapi aku tidak mengira kalau akan menjadi kecil kecil seperti ini" ucap Rei. Saat Rei melihat kepingan tulang monster tulang, monster yang satunya sudah berada di belakang rei dan berniat menusuk Rei dari belakang. "Sringg....." monster tersebut mengarahkan pedangnya ke atas Rei. Akan tetapi Rei bisa menghindar ke arah samping kanan.
"Masih terlalu awal untukmu mengenai ku" ucap Rei. Dan Rei pun memegangi pedang yang di bawa monster itu. "Sihir es: Freeze" Rei menggunakan sihir es dan membekukan monster tersebut. "Kratak..... tyiiarr....." es itu pun langsung hancur bersama monster di dalamnya. Dan di tempat yang cukup jauh dari area pertempuran. "Sialan.....!! dia mengalahkan monster terkuat ku, dan sekarang aku harus kabur" ucap Litch itu.
"Sihir tumbuhan: Tree" Rei menggunakan sihir dari jarak jauh. Dan Litch yang mau kabur itu menabrak pohon yang di ciptakan Rei dan terjatuh ke belakang. "Sihir angin: Wind Step" Rei menggunakan sihir angin dan langsung tiba di depan Litch yang jatuh tersebut. "Yo.... bertemu kembali" ucap rei. "Mau apa kau....?!" ucap Litch tersebut. "Jangan galak galak seperti itu, aku hanya mau memberikan saran" ucap Rei.
"Saran.....?! tidak mungkin, Pasti kau akan mengirimku ke alam baka dan kalau aku menolak pasti aku akan di paksa menggunakan sihir" ucap Litch. "Ya.... begitulah, karena kalau kau hidup terlalu lama aku hanya akan merusak dan membunuh orang orang yang tak bersalah demi belas dendam kepada orang yang sudah tidak ada" ucap Rei. "Itu bukan urusanmu, aku akan Pastikan membalaskan dendam ku ini, dan akan ku pastikan kalau dia masih ada di dunia ini" ucap Litch. "Sebaiknya kau mengurungkan niat balas dendam itu" ucap Rei.
"Kenapa.....? kenapa kau berkata seperti itu.....? apakah kau melindungi orang itu.....?" ucap Litch. "Tidak, aku tidak kenal siapa yang kau maksud, tapi sifat manusia itu adalah cahaya, kegelapan, kebaikan, kejahatan, kebohongan, kejujuran, kemunafikan, cerdas, bodoh, kemalasan, dan rajin menjadi satu, setiap orang bisa berubah karena keadaan lingkungan yang mereka miliki" ucap rei.