Betsu No Sekai No Sekandoraifu

Betsu No Sekai No Sekandoraifu
eps. 249 Pertarungan



"Ada yang menunggu apa maksud mu, Alencia.....?" ucap Iseria. "Kalau kalian perkuat Indra kalian, kalian akan tau apa yang aku rasakan" ucap Alencia.


"Hohoho..... tak ku sangka akan diketahui dengan mudah seperti ini" ucap assassin yang berada di tengah gerbang dan menapakkan diri yabg sebelumnya menggunakan sihir Stealth untuk membuat dirinya tak terlihat. "Benar.....!! ada orang di gerbang" ucap Iseria. "Ya..... kalian akan berakhir di sini, aku akan membunuh kalian semua karena akan menggangu" ucap assassin itu.



"Hmm.... sepertinya kau cukup kuat, aku yang akan menghadapi mu...." ucap Sasaki yang berniat untuk menghadapi assassin itu. "Aku saja, kalau dia menggunakan sihir Stealth dan kau tidak bisa mendeteksi itu sama saja seperti bunuh diri" ucap Alencia. "Tenang saja, kalau tidak ada kau di perjalanan ke istana dan tidak ada yang tau apakah di istana tidak ada assassin" ucap Sasaki.


"Meski begitu jangan melakukan hal bodoh....." ucap Alencia. "Percaya saja padaku, aku pasti akan mengalahkannya" ucap Sasaki. "Apakah kau sungguh sungguh.....?" ucap Alencia. "Ya.... aku sungguh sungguh, tak perlu khawatir, setelah aku maju kalian pergilah" ucap Sasaki. "Baiklah kalau begitu, Pastikan dirimu kembali dengan selamat" ucap Alencia. "Ya.... Aku akan selamat" ucap Sasaki.


"Wush....." Sasaki langsung melesat ke arah assassin itu sambil menarik pedangnya. Assassin itu pun juga menarik pisaunya yang ada di samping pahanya. "Ting....." pedang Sasaki dan pisau milik assassin itu saling bertabrakan. "Akulah yang akan jadi lawan mu, jangan segan segan, karena aku juga tidak akan segan segan juga...." ucap Sasaki.


Sasaki pun kemudian mengangkat pedangnya ke atas dan kemudian melesatkan tendangan ke arah assassin itu. "Duuuakkk......" Sasaki menendang assassin itu dengan cukup keras sehingga assassin itu terlempar cukup jauh, akan tetapi assassin itu menahan tendangan Sasaki dengan menyilangkan kedua tangannya. "Apa apaan itu.....? reflek nya sangat bagus dan juga ringan sekali" batin Sasaki.


"Apa apaan itu.....? tendangan yang sangat kuat dan berat, dia akan jadi lawan yang cukup sulit kalau berlama lama" batin assassin itu. "Wush....." assassin itu langsung melesat ke arah Lena dan ingin membunuh Lena dengan cepat. "Wush...." akan tetapi sasaki yang menyadari kalau assassin itu akan menyerang ke arah Lena itu pun melesat untuk menghadang.


"Ting....." assassin itu menyerang dengan kedua pisau di tangan, dan Sasaki menahan serangan dari assassin itu dengan pedangnya. "Iseria, Cerise, Shiko, Asami, Cisa, Rin, Alencia, Carl, Lena dan Viora pergilah, aku akan menghentikan dia di sini" ucap Sasaki. "Baiklah, kalau begitu kami akan pergi...... ayo cepat......." ucap Iseria. Mereka pun kemudian berlari meninggalkan Sasaki yang dengan assassin itu.


"Minggir kau, jangan menghalangi.....!!" ucap assassin itu. "Tidak akan, aku akan mengalahkan dirimu di sini, jangan banyak omong" ucap Sasaki. "Ting.... Ting.... Ting.... Ting.... Ting.... Ting.... Ting....." Sasaki dan assassin itu beradu pisau dan pedang. Mereka bertarung dengan seimbang, dari kekuatan maupun kecepatan.


"Kalau sudah seperti ini, ayo gunakan itu dan kemudian menyusul putri Lena" ucap pemimpin assassin itu. "Baik.....!!" ucap serentak para assassin itu. "Sihir kegelapan: Dark Side" pemimpin assassin itu menggunakan sihir dan kemudian semua assassin yang di lawan Rei itu seketika menghilang tanpa keberadaan maupun wujud mereka.


"Wah.... ke mana mereka menghilang.....?" ucap Yuna dan Nina yang melihat lewat pintu Mansion. "Mereka sembunyi di bayang bayang, nona Yuna dan nona Nina" ucap Luna. "Apa maksudnya kak Luna.....?" ucap Yuna. "Ya.... bisa di bilang mereka bersembunyi di bayang dan saat mereka berada di bayangan mereka tidak akan bisa di lihat maupun dirasakan" ucap Luna.


"Bagaimana kak Luna bisa tau seperti itu.....?" ucap Yuna. "Ya.... bagaimana kak.....?" ucap Nina. "Ya.... karena kak Luna adalah seseorang yang ahli dalam hal seperti itu, nona Yuna dan nona Nina" ucap Vivi. "Vivi....?! sejak kapan kau ada di sini......?" ucap Luna. "Ya.... dari tadi, dari kau membicarakan sihir bayangan itu...." ucap Vivi. "Apakah kak Vivi juga tau.....?" ucap Yuna.


"Ya.... tentu saja, nona Yuna, karena saya juga teman dari Luna" ucap Vivi. "Oh.... begitukah, kalau begitu kak Vivi juga bisa menggunakan juga.....?" ucap Yuna. "Hmm.... yah, tapi tidak sehebat kak Luna" ucap Vivi. "Bagitukah, kalau begitu apakah papa bisa menang.....?" ucap Nina. "Tentu saja, dengan sangat mudah bahkan" ucap Luna. "Kenapa.....? apa alasannya.....?" ucap Nina.


"Tuan adalah ahli sihir, tuan sangat kuat dan bahkan kami saja bisa mengetahui itu" ucap Luna. "Ya.... tuan itu sangat kuat, bahkan mereka bukan tandingannya" ucap Vivi. "Kenapa.....? apakah hanya karena itu.....?" ucap Nina. "Kalau anda tidak percaya, anda tinggal lihat saja nona Yuna dan nona Nina" ucap Vivi.


"Sihir cahaya: Eliminating the Darkness" Rei menggunakan sihir cahaya dan seketika muncul kilapan cahaya yang hanya sebentar. "Apa itu tadi.....?" ucap Yuna dan Nina. "Tuan menggunakan sihir dan sudah berakhir" ucap Luna. "Apakah benar.....? dari mana kamu tau kak Luna....?" ucap Yuna. "Lihatlah nona Yuna" ucap Luna. "Bruakk.... bruuak.... bruuakk.... bruuakk.... bruak...." Para assassin yang menghilang kemudian muncul dan jatuh tak sadarkan diri satu persatu.


..."Apa apaan tadi itu....." ucap pemimpin assassin itu yang kemudian terjatuh tak sadarkan diri. "Yosh.... selesai, Yuna Nina.... ayo apakah kalian mau ikut atau tidak....?" ucap rei. "Baik papa....." ucap Yuna dan Nina yang kemudian berlari ke arah Rei. "Luna dan Vivi kalian urus mereka, aku tidak membunuh mereka" ucap Rei. "Baik tuan, kami akan kerjakan apa yang anda perintahkan" ucap Luna dan Vivi....


Rei, Yuna dan Nina pun kemudian berjalan menyusul Iseria dan yang lainnya. "Hmm...... sihir hipnotis yang cukup membingungkan, siapa yang memberi mereka hipnotis sampai mereka terlihat tidak seperti di hipnotis" batin Rei. "Ada apa papa....?" ucap Yuna dan Nina. "Tidak ada apa apa, tidak perlu di pikiran, aku hanya mengkhawatirkan Iseria, Cerise, Shiko, Sasaki, Asami, Cisa, Rin, Alencia, Carl, Lena, dan Viora" ucap Rei.


"Bagitukah, kalau begitu kita harus bergegas ke sana papa" ucap Yuna dan Nina. "Ya tidak perlu bergegas seperti itu, dan juga nanti kalian akan capek kalau berlarian" ucap Rei. "Baiklah papa" ucap Yuna dan Nina, mereka pun berjalan ke arah pertarungan Sasaki dan assassin.