
"Aduhh......" ucap Carl yang sambil memegang kepalanya. "Meski rasanya enak kalau dimakan secara terus menerus membuat kepala sakit...." ucap Iseria. "Ya...." ucap Cerise, Shiko, Sasaki, Asami, Cisa, Rin, Alencia dan Carl. "Kenapa tidak makan seperti Yuna dan Nina....?" ucap Rei.
Sedangkan Yuna dan Nina mana es serut secara perlahan. Mereka pun menghabiskan es serut mereka, dan setelah itu mangkuk es serut terkumpul di atas meja. "Aku yang akan menaruhnya di dapur...." ucap Iseria. "Ya.... baiklah...." ucap Rei. dan Iseria pun mengambil mangkuk itu dan membawanya ke dapur. "Oh... ya Rei...." ucap Carl.
"Apa....?" ucap Rei. "Ya.... sebentar lagi ada pertunjukan pertarungan sihir...." ucap Carl. "Pertarungan sihir....? seperti apa itu ...?" ucap Rei. "Ya.... seperti namanya, berbagai penyihir akan melakukan pertandingan dan yang bisa menjatuhkan lawan atan membuat lawan menyerah akan menang...." ucap Carl. "Kalau kau apakah akan ikut....? dan kapan itu di laksanakan....?" ucap Rei.
"Kalau tidak salah empat hari lagi, besok pasti hampir semua orang akan melakukan persiapan, dan yang berjualan senjata sihir yang paling di untungkan...." ucap Carl. "Hmm... seperti menarik" batin Rei. "Kalau aku tidak akan ikut...." ucap Carl. "Kenapa....?" ucap Cerise.
"Ya.... aku ada sebagai memberi hadiah kepada yang menang...." ucap Carl. "Oh.... kalau sihir aku bisa ikut" ucap Asami. "Aku juga bisa ikut...." ucap Shiko. "Kalau sihir pemanggilan apakah boleh ikut....?" ucap Rei. "Seingat ku tidak, pertarungan sihir adalah pertarungan sihir elemen, tapi setelah pertarungan sihir berakhir masih ada pertarungan pemanggilan" ucap Carl.
"Kalau begitu Iseria bisa ikut yang itu...." ucap Rei. "Aku....? apa yang sedang di bicarakan....?" ucap Iseria yang baru saja sampai sana. "Ya.... kau bisa ikut pertarungan pemanggilan" ucap Rei. "Sihir pemanggilan maksud Rei....?" ucap Iseria. "Ya..... apakah kau tertarik....?" ucap Rei. "Kalau ada aku ingin ikut..... aku juga ingin tau seperti apa penyihir pemanggilan yang di atas ku..." ucap Iseria.
"Ya.... nantikan saja...." ucap Rei. "Apakah tidak ada pertarungan pedang atau yang lainnya...?" ucap Sasaki. "Tidak ada, sebagian besar penyihir memiliki fisik yang sangat lemah" ucap Carl. "Eh....." ucap Sasaki yang sangat kecewa mendengar nya. "Tidak ikut, kita bisa melihat...." ucap Cerise. "Ya.... aku akan menonton saja...." ucap Sasaki.
"Papa..... Yuna dan Nina ikut...." ucap Yuna dan Nina. "Apakah Yuna dan Nina bisa menggunakan sihir....?" ucap Carl. "Ya.... kami bisa menggunakan sihir...." ucap Yuna dan Nina. "Ya.... mereka bisa, dan mereka sangat ahli dalam sihir elemen air" ucap Rei. "Palingan hanya menyemprotkan air dan sebagainya...." ucap Carl.
"Eh..... kalau mereka mau mereka bisa menciptakan sebuah danau sendiri" ucap Rei. "Da–Danau.....?!" ucap carl yang terkejut. "Ya.... danau yang lumayan besar" ucap Rei. "Danau....? apa danau itu papa....?" ucap Yuna dan Nina. "Kolam air yang sangat besar...." ucap Rei. "Kolam besar....?" ucap Yuna dan Nina. "Ya...." ucap Rei.
"Tapi aku masih tidak percaya" ucap Carl. "Terserah saja, aku tidak akan membiarkan mereka berdua menggunakan sihir sekarang" ucap Rei. "Kenapa....?" ucap Carl. "Mereka tidak bisa mengendalikan sihir mereka, dan kalau mereka menggunakan sihir aku tidak tau kapan mereka akan lepas kendali" ucap Rei.
"Semua elemen aku bisa menggunakan nya...." ucap Rei. "Se–Semua....?!" ucap Iseria, Cerise, Shiko, Sasaki, Asami, Cisa, Rin, Alencia dan Carl yang terkejut mendengar kalau Rei bisa menggunakan segala elemen Sihir. "Kenapa kalian juga terkejut.....?" ucap Rei yang tertuju ke Iseria, Cerise, Shiko, Sasaki, Asami, Cisa, Rin dan Alencia. "Tapi kami baru mendengar nya..." ucap mereka.
"Bukankah kalian sering melihatnya....? seperti menghilang kutukan, mengembalikan hutan, Bertarung melawan pedang dengan ranting, membuat es, menyiramkan air, terbang, dan lain lain...." ucap Rei. "Eh.... kalau di pikir pikir iya sih...." ucap mereka. "menghilang kutukan, mengembalikan hutan, Bertarung melawan pedang dengan ranting, membuat es, menyiramkan air dan terbang....? apa yang kalian katakan...?" ucap Carl.
Hampir semua itu awal pertemuan kami...." ucap Rei. "Ya.... aku ingat kalau aku pernah bertarung dengan darling dan kau kalah dengan sebuah ranting" ucap Alencia. "Oh.... pertemuan kalian dengan Rei tidak seperti pertemuan biasa" ucap Carl. "Ya.... tidak ada pertemuan yang biasa saja, aku bertemu dengan Rei saat dalam masa masa akhir hidupku...." ucap Iseria.
"Bukan masa akhir, kau hanya terlalu lemah karena kutukan....." ucap Rei. "Dan karena itu kami sangat menyayangi Rei....." ucap Asami. Dan mereka pun memeluk Rei secara bersamaan. "Hey.... hentikan.... hawa udaranya sudah panas dan kalian seperti ini jadi sangat panas...." ucap Rei. "Tidak apa apa...." ucap Iseria. "Kau tidak apa apa, aku merasa sangat panas....." ucap Rei.
"Gludug.... gludug... gludug....." suara guntur di luar mansion. Seketika cuaca yang panas langsung berubah menjadi gelap karena awan hitam. "Jress....." di luar langsung terjadi hujan yang sangat deras. "Eh... hujan....?" ucap Rei. "Ya.... karena hujan kami tidak apa apa seperti ini...." ucap Iseria. "Duuaarrrr....." seketika terjadi petir dengan suara yang sangat keras.
"Kyaaa.....!!!" ucap Iseria, Cerise, Shiko, Sasaki, Asami, Cisa, Rin, dan Alencia. mereka pun langsung memeluk Rei dengan sangat keras. Yuna dan Nina juga langsung memeluk Rei karena takut. "Papa...." ucap Yuna dan Nina. "Sudah... sudah.... aku ada di sini, kalian tidak perlu takut" ucap Rei. Sementara itu Carl menutup telinga dengan tangan nya, ia juga menutup mata.
"Sepertinya hujan akan berlangsung lama...." ucap Rei. "Berlangsung lama....?" ucap Iseria. "Ya.... akan lama kalau di lihat dari derasnya" ucap Rei. "Kalau hujan bagaimana kalau aku ceritakan cerita seram....?" ucap rei. "Cerita seram....? seperti pembunuhan....?" ucap Cerise. "Tidak, tidak jadi...." ucap Rei yang sambil melihat Carl. "Carl.... apakah kau juga takut petir....?" ucap Carl. "Si–siapa yang takut...." ucap Carl. "Duuuaarrr...." suara petir yang keras terjadi lagi.
"Kyaaaa...." ucap Carl. "Ya... seperti iya....." ucap Rei. Dan Rei pun menghidupkan pencahayaan yang ada di mansion. Mereka di sana hingga Waktu makan malam tiba, sedangkan hujan tidak berhenti meski sudah menjelang malam. "Waktunya makan malam, kita pergi...." ucap Rei. "Ya.... baiklah" ucap mereka. Mereka berjalan menuju ke ruang makan sambil memegang tangan, dan jubah yang digunakan Rei.