
"Oh... begitukah, kalau begitu kita tidak perlu khawatir" ucap Rei. "Tentang apa.....?" ucap Viora. "Biasanya kalau di tempat lain, mengambil seperti ini bisa kena marah atau harus ganti rugi" ucap Rei. "Ya... aku pernah mendengar itu" ucap Iseria. "Eh.... begitukah....? kalau di sini semua yang ada di dalam hutan milik para elf, tidak ada pertengkaran soal pemilik" ucap Viora.
"Ternyata seperti itu, itu sebabnya aku tidak pernah melihat seperti pertengkaran kecil" ucap Rei. "Pertengkaran itu merupakan hal yang tabu bagi para elf" ucap Viora. "Berarti semua yang orang yang tinggal di dalam hutan rukun rukun semua, berbeda dengan yang di luar hutan" ucap Rei.
"Apakah memang seperti itu....? bukankah di luar hutan juga damai....?" ucap Viora. "Ya.... damai tanpa perang, tapi kebanyakan hanya mementingkan ego mereka dan akan merelakan segalanya demi apa yang mereka ingin capai, baiklah bicaranya cukup kita harus memetik beberapa dedaunan" ucap Rei.
"Baiklah, tapi aku tidak tau mana yang ingin Rei ambil" ucap Iseria. "Kalian ambil semuanya saja, tapi sisakan bagian atas seperti daun muda" ucap Rei. "Baiklah, kami akan mengambil nya" ucap Iseria. "Ya.... tenang saja, kamu tidak perlu khawatir" ucap Cerise. "Ya.... aku juga akan sedikit berkeliling untuk melihat ada apa saja di sini" ucap Rei.
"Papa.... Yuna dan Nina ikut papa...." ucap Yuna dan Nina. "Ya.... Yuna dan Nina ikut, dan kalian hati hati dengan tanaman beracun atau hal sebagainya" ucap Rei. "Ya.... terima kasih telah mengkhawatirkan kami" ucap Cisa. "Ya... kalau begitu aku akan pergi" ucap Rei yang kemudian pergi bersama Yuna dan Nina.
Rei, Yuna dan Nina pergi sedikit menjauh dari tempat itu, Rei ingin melihat lihat apakah ada hal yang bagus di desa yang telah di tinggal itu. "Eh.....? bukankah ini hawa keberadaan makhluk hidup, dan juga ini bukan hawa keberadaan Monster" batin rei. "Papa....." ucap Yuna dan Nina yang sambil melihat ke arah Rei dan mereka seperti mengatakan kalau mereka juga merasakan hawa keberadaan tersebut.
"Jadi kalian merasakannya juga, bagaimana kalau kita cari.....?" ucap Rei. "Tapi, kalau itu monster bagaimana....?" ucap Yuna. "Tenang saja, tidak ada monster di tempat ini dan juga ini hawa keberadaan makhluk hidup yang sepertinya itu elf" ucap Rei. "Oh.... begitukah, kalau begitu kita cari papa...." ucap Yuna. "Ya.... papa ayo kita cari, bagaimana kalau membutuhkan bantuan.......?" ucap Nina. "Ya.... kalian ada benarnya, kalau begitu kita cari" ucap Rei.
Kemudian Rei, Yuna dan Nina pun mencari orang yang memiliki hawa keberadaan yang mereka rasakan. "Hmm.... sudah cukup lama tapi belum ketemu sama sekali" ucap Rei yang telah melihat lihat rumah yang telah di tinggalkan dan mereka pun sampai di rumah terakhir. "Papa.... ini yang terakhir" ucap Yuna dan Nina. "Ya.... dan juga aku merasakan hawa keberadaan yang lebih kuat dari sini" ucap Rei.
"Kreeekkk....." Rei membuka pintu rumah terakhir yang ada di desa tersebut. "Permisi......" ucap Rei sambil membuka penuh pintu tersebut dan terlihat seseorang dari balik pintu yang Rei buka.
"Sriing......" seketika setelah Rei membuka pintu rumah tersebut, ada sebuah pedang yang mengarah langsung ke arah telernya. "Hey.... hey.... tenang, aku tidak bermaksud melukaimu, jadi simpan pedang mu itu" ucap Rei. "Apakah aku bisa percaya dari kata kata milikmu....?" ucap elf berambut hitam tersebut. "Apakah kak elf ini adalah orang jahat....?" ucap Yuna dan Nina. "Jangan berkata seperti itu Yuna Nina" ucap Rei.
"Kami....? berarti kau tidak sendirian.....?" ucap Rei. "Ya... aku tinggal bersama dengan kakak ku, ups.... kenapa aku mengatakan hal itu....?" ucap elf tersebut. "Tenang saja, aku tidak ada niatan selain mencari pemilik hawa keberadaan yang membuatku, Yuna dan Nina penasaran" ucap Rei. "Hawa keberadaan.....? sepertinya aku telah menyembunyikannya dengan baik" ucap elf tersebut.
"Mana ada......? aku merasakan hawa keberadaan yang cukup tajam dan bisa ku rasakan seperti seseorang tanpa menyembunyikan hawa keberadaan mereka" ucap Rei. "Ya.... kata papa memang benar" ucap Yuna dan Nina. "Eh.....? berarti aku masih belum bisa menyembunyikan dengan baik" ucap elf tersebut. "Ya.... meski beberapa orang tidak akan sadar" ucap Rei.
"Apa maksud dari perkataanmu barusan....?" ucap elf tersebut. "Ya.... hanya beberapa orang yang bisa tau hawa keberadaan milikmu, akan tetapi beberapa juga tidak bisa merasakan samasekali hawa keberadaan milikmu" ucap Rei. "Oh.... begitukah" ucap elf tersebut. "Siapa kau....?" ucap seorang perempuan yang ada belakang Rei sambil membawa panah.
"Kakak...... bagaimana kak.....?" ucap elf laki yang merupakan adik dari elf perempuan. "Yah.... aku hanya mendapatkan beberapa dedaunan yang bisa di makan" ucap elf perempat. "Oh.... begitukah, baiklah kalau begitu" ucap elf laki laki. "Oh ya, aku hampir lupa, siapa orang ini.....?" ucap elf perempuan.
"Maaf aku belum memperkenalkan diri, namaku Rei dan mereka Yuna dan Nina" ucap Rei yang juga memperkenalkan Yuna dan Nina. "Salam kenal juga, dan apa yang kau lakukan di sini.....?" ucap elf perempuan. "Aku ke sini untuk mencari beberapa tanaman tadi" ucap Rei. "Jadi begitu, kalau begitu kami juga akan memperkenalkan diri, namaku Claire dan ini adikku yang bernama Delp" ucap Claire.
"Ya.... salam kenal juga Claire dan Delp" ucap Rei. "Ya... salam kenal juga, aku Delp" ucap Delp. "Oh... ya, kenapa kalian tinggal di tempat yang tidak di tinggali ini....? bukankah para elf sudah memiliki desa di tempat lain" ucap Rei. "Ya.... bagaimana mengatakannya, karena rambut kami berwana hitam kami kurang percaya diri untuk bertemu dengan elf lainnya" ucap Claire.
"Kalau kau bersikap seperti tidak akan ada kemajuan, kalau ada kemauan lakukan saja, kau lakukan saja asalkan itu tidak membuat elf lainnya terganggu" ucap Rei. "Ya.... hanya dengan rambut hitam kami sudah di asingkan oleh para elf...." ucap Delp. "Elf mana yang membuat mengasingkan elf lainnya.....? padahal mereka mempersilahkan Lena yang merupakan dark elf masuk ke dalam hutan" ucap Rei.
"Da.... dark elf.....?! tapi bukankah itu tidak mungkin....?" ucap Claire dan Delp. "Kalau tidak percaya kau bisa ikut denganku menemuinya" ucap Rei. "Baiklah aku akan melihatnya" ucap Claire dan Delp. Dan mereka pun pergi ke tempat Iseria dan yang lainnya berada.