My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Bab 95. Kalian sama saja



Nicho beranjak dari duduknya, dia langsung menghampiri Jeje dan menariknya dalam dekapan. Nicho mengacak gemas rambut adiknya itu.


Dia tidak menyangka adiknya akan menikah secepat ini. Adik yang sejak dulu selalu dia jaga, meski tidak terlahir dari rahim yang sama.


Nicho kecil yang saat itu berusia 7 tahun begitu senang dan antusias dengan kehadiran Jeje di rumahnya. Jeje berusia 1 tahun kalau itu, dia begitu menggemaskan hingga membuat Nicho menangis saat Jeje akan di ambil kembali oleh ibu kandungnya. Hingga terjadi perjanjian antara papa Alex dan ibu kandung Jeje, yang pada akhirnya, Jeje tatap tinggal bersama mereka hingga saat ini.


"Diam - diam adik kecilku ini menjalin hubungan, dan sekarang sudah menjadi seorang istri." Ujar Nicho. Dia melepaskan pelukannya.


"Dasar bandel.! Kenapa melanggar perintah kakak,," Tegurnya. Padahal sejak dulu dia selalu memperingatkan Jeje untuk tidak berpacaran sebelum lulus kuliah.


"Tadinya kakak sempat mendukung hubungan kalian, membiarkannya untuk datang menjemputmu ke New York. Tapi sepertinya kakak berubah pikiran,,,"


Jeje mengerutkan keningnya, merasa bingung dan penasaran dengan perkataan kakaknya itu.


"Memangnya kenapa.?"


"Karna suami kamu sangat menyebalkan.!" Ujarnya penuh penekanan, dia melirik sinis ke arah Kenzo, yang kemudian di balas juga oleh Kenzo dengan tatapan tajamnya.


Keduanya sudah seperti singa akan saling bertarung. Jika Jeje tidak datang, mungkin mereka sudah berkelahi.


"Sekali lagi kamu bicara seperti itu, jangan harap aku akan membiarkanmu bertemu dengan Felicia lagi.!" Tegas Kenzo.


Nicho mendelik menatapnya, dia hampir saja membalas perkataan Kenzo, namun Jeje sudah lebih dulu bersuara.


"Jangan seperti itu by. Kak Nicho sangat mencintai kak Fely, dia nggak akan sanggup kalau nggak ketemu sama kak Fely,," Ujarnya memohon


Jeje memeluk Nicho dengan erat.


"Kak Nicho cepat berdamai sama papa. Bujuk papa agar mau merestui hubungan kalian. Apa kakak nggak mau nikah,,?"


"Kalau kakak tau rasanya,,,


"Kamu ini sedang apa,," Tiba - tiba Kenzo menarik Jeje untuk menjauhkannya dari Nicho.


Sejak tadi dia menahan kesal melihat kakak beradik itu berpelukan.


"Cihh,,,!" Nicho berdecih melihat kelakuan Kenzo.


"Kamu cemburu melihat istrimu memeluk kakaknya sendiri.?" Ledeknya.


"Gayanya saja sok cool, tapi bucin akut,,!"


"Nggak bisa membedakan yang mana rival dan bukan,,"


Sebelum Kenzo menjawabnya, Nicho sudah lebih dulu berlalu dari hadapan pasangan pengantin baru itu.


"Awas saja kalau sampai menyakiti adikku, jangan harap kamu bisa bersamanya lagi,,!" Ancam Nicho sambil terus berlalu menuju dapur.


"Kenapa kamu punya kakak angkuh seperti itu,," Geram Kenzo.


"Sebaiknya hubby berkaca, karna kalian berdua sama saja,,," Ledek Jeje.


"Kamu ini, bukannya membela suami malah membela kakakmu,,," Kenzo mencubit gemas pipi Jeje, lalu mengecup singkat bibirnya.


Keduanya terkekeh. Jeje melingkarkan tangan di leher Kenzo, bergelayut manja dengan raut wajahnya yang menggemaskan.


Hal itu memancing Kenzo hingga dia kembali mengecup bibir Jeje berkali kali. Hingga akhirnya kecupan itu berubah menjadi ciuman panas.


Mereka seolah lupa akan keberadaan Fely dan Nicho di sana.


Sementara itu, Fely berniat untuk memanggil Jeje. Karna makanan yang sedang Jeje buat belum selesai, sedangkan Fely tidak paham cara membuat makanan yang biasa dimakan orang kaya itu.


"Mau kemana.?" Tiba - tiba Nicho datang dan menghalangi jalannya. Pandangan mata Nicho tak lepas dari bibir Fely yang terlihat lebih merah karna ulahnya. Nicho bahkan mengulas senyum puas, karna bisa membuat bibir Fely memerah seperti itu.


Jika tidak jeli, orang akan mengira kalau Fely mengoleskan lipstik tipis di bibirnya.


"Minggir Nich, aku mau memanggil Jeje,,"


Fely menyadari jika saat ini Nicho sedang memperhatikan bibirnya. Gadis itu seketika menunduk malu. Apa yang baru saja mereka lakukan, adalah ciuman terpanas mereka selama 1 tahun berpisah. Hal itu mampu menimbulkan gejolak luar biasa dalam dirinya. Seakan rasa cintanya pada Nicho kian bertambah.


"Jangan ganggu mereka,," Ujar Nicho datar.


Fely mengangkat kepalanya untuk menatap Nicho.


"Ganggu.? Memangnya mereka sedang bicara apa.?" Tanya Fely dengan wajah polosnya.


Nicho tersenyum geli. Dia mendekat, meraih pinggang Fely dan memeluknya erat. Fely hanya diam dengan mata yang membulat sempurna. Jantungnya kembali bergemuruh, sama seperti tadi saat Nicho memeluknya.


"Bukan bicara, tapi mereka sedang seperti ini,,,"


Nicho langsung melahap bibir Fely, melu**tnya tanpa henti. Sampai akhirnya Fely mendorong badan Nicho karna mendengar suara ocehan Jeje yang terdengar sedang berjalan ke arah dapur.


Fely langsung berlari ke arah kompor, berpura - pura mengaduk masakan yang masih berada di atas kompor. Padahal masakan yang dia buat sudah matang, tapi dia belum sempat menuangkannya ke piring.


Berbeda dengan Nicho yang masih berdiri di tempat. Dia terlihat santai saja, seolah dia tidak melakukan apapun tadi.


"Sudah,, tapi baru punyaku. Aku malah lanjutin masakan kamu, tapi nggak tau caranya,," Sahutnya tanpa menoleh pada Jeje. Dia langsung berpindah untuk mengambil piring.


Saat itu juga, tatapan Fely dan Nicho beradu. Gadis itu langsung menunduk malu. Nicho hanya menggeleng, lalu duduk di depan meja makan.


...***...


Kini ke 4 orang itu tengah duduk di ruang tamu setelah tadi makan siang.


Jeje dan Fely sedang membicarakan perihal kesehatan ibu Grace yang kian membaik. Dan sekitar 1 bulan lagi, ibu Grace di perbolehkan pulang setelah melewati masa pemulihan pasca koma karena operasi.


Jeje terlihat senang mendengarnya, dia sudah tidak sabar untuk ikut menjemput ibu Grace yang sekarang sudah menjadi mama mertuanya.


Kedua laki - laki yang sejak tadi terus berdebat, kini terlihat serius membicarakan perihal bisnis mereka yang entah bagaimana nasibnya. Karna Nicho sudah memutuskan untuk pergi dari rumah, dan otomatis dia tidak lagi ikut campur perihal bisnis sangat papa.


Dibalik sikap mereka yang sama - sama tidak mau kalah, keduanya bisa menjalin pertemanan dengan baik tanpa mencampur adukan masalah internal dan eksternal.


"Sudah sore Je,, kita pulang sekarang,,"


Suara tegas Kenzo langsung membuat obrolannya terhenti. Jeje mengangguk patuh, meski sebenarnya masih ingin berkumpul dengan kakaknya dan Fely.


"Kamu juga Nich.! Siap - siap keluar dari sini dan pindah ke hotel.!" Kenzo menatap Nicho dengan tajam.


"Ya aku tau.!" Jawabnya tegas.


Lagipula untuk apa kartu kredit yang kamu berikan tadi kalau aku tidak memakainya.


Nicho beranjak dari duduknya, dia masuk ke kamar Fely untuk mengambil koper miliknya.


Jeje dan Kenzo berpamitan pada Fely. Nicho yang baru keluar dari kamar, menyelonong begitu saja dengan menyeret kopernya.


"Besok ajak mama keluar Je, aku ingin bertemu dengannya. Kita makan siang bareng,," Pintanya.


"Aku kabari nanti malam."


Fely menatap heran pada Nicho yang tidak pamit padanya. Dia mulai berfikir, apa yang sudah dia perbuat pada Nicho sampai Nicho terlihat cuek padanya.


"Biar sekalian aku antar ke hotel,,," Ucap Kenzo.


"Nggak perlu, aku bisa sendiri,,"


Nicho keluar dari apartemen Fely.


"Kamu masih mau berhubungan dengan laki - laki seperti itu.?" Tanya Kenzo pada Fely. Dia bisa melihat Fely yang sejak tadi terus menetap kepergian Nicho.


"Hubby,,,!" Rengek Jeje.


"Memangnya kenapa dengan kakakku.? Dia pintar, tampan dan baik. Jangan seperti itu pada kakakku,,"


Kenzo hanya diam, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Rupanya dia sudah salah bicara.


Fely hanya menggelengkan kepala sambil mengulas senyum. Pasangan pengantin baru di depannya membuatnya iri.


Mereka berdua juga keluar dari apartemen Fely.


"Hati - hati di jalan," Ujar Fely sembari melambaikan tangan.


Cukup lama Fely berdiri di pintu, dia terus melamun memikirkan Nicho yang pergi begitu saja tanpa pamit padanya.


Saat dia akan menutup pintu, seseorang menahannya dari luar dan menarik pintu hingga terbuka seluruhnya.


Fely melongo melihatnya.


"Niii-choo,,," Ucapnya terbata.


"Ada yang ketinggalan.?"


"Nggak ada,," Nicho menyelonong masuk.


"Bukannya aku sudah bilang akan menginap disini selama seminggu,," Ucapnya santai. Dia berlalu, menyeret kopernya kedalam kamar Fely lagi.


Fely diam mematung di tempat, antara senang karna bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan Nicho, dan takut jika nanti ketahuan oleh kakaknya.


...*****...


Gimana ini kok votenya tipis banget kaya kain pembungkus tahu😜


Yang belum mampir ke Novel othor di akun Ratna Wullandarrie, mampir sekarang yuk🥰


Itu akun othor, dukung juga yah😁


Buat yang udah mampir, makasih🥰