My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
5. Season2



Sampainya di rumah sakit, Kenzo langsung mengajak Jeje ke ruangan Clara. Di sana seorang perawat tengah membantu membereskan baju miliknya.


Clara tampak diam melihat kedatangan Kenzo dan Jeje. Wanita itu hanya melirik sekilas, lalu menundukkan pandangannya.


Dia tidak beranjak sedikitpun dari atas bangsal.


"Kamu sudah boleh pulang besok pagi. Aku akan menyuruh orang untuk menjemput kamu besok."


"Dan setelah ini jangan pernah muncul lagi di hadapanku, juga istriku."


"Kamu sudah salah paham dengan kerjasama kita dulu. Sedikitpun aku tidak memiliki perasaan apapun padamu,,"


Penuturan Kenzo seakan menjadi tamparan keras bagi Clara. Hingga mampu membuat Clara sadar siapa dirinya, yang hanya sebagai wanita malam.


Clara harusnya menyadari posisinya. Dia tidak sebanding jika harus berdampingan dengan Kenzo.


Obsesinya untuk mendapatkan Kenzo terlalu besar, hingga sangat percaya diri kalau Kenzo menyukainya.


"Maafkan aku Ken,," Ucap Clara lirih.


"Dan makasih sudah mau membantuku,,,"


"Aku juga minta maaf pada istrimu karna sudah menghinanya,," Clara menatap Jeje.


"Memang sudah seharusnya begitu,," Ujar Jeje datar.


Kenzo melirik istrinya yang terlihat kesal. Tangan besarnya dia gunakan untuk memberikan ketenangan pada Jeje dengan mengusap punggungnya berkali - kali.


"Hendrik sudah di tangkap, kamu akan aman tinggal di apartemen untuk sementara, sebelum ke luar negeri,," Tutur Kenzo.


"Kami pulang dulu,,"


Clara mengangguk pelan, tak lupa mengembangkan senyum tulusnya pada Kenzo dan Jeje.


Keduanya keluar dari ruangan Clara, Kenzo menyelesaikan administrasi lebih dulu.


Jeje yang sedang duduk menunggu, sejak tadi terus menatap suaminya dari samping.


Laki - laki itu terlalu baik dan peduli pada orang lain.


Bagaimana mungkin Jeje tidak jatuh cinta saat dulu menjadi sugar babynya.


Jeje selalu tersenyum penuh simpul setiap kali mengingat awal pertemuan mereka yang sangat mengesankan.


Banyak drama menggemaskan dan menguras rasa penasarannya kala itu. Rasa penasaran pada sosok Kenzo yang sangat tertutup dan terkesan misterius itu.


Jeje juga selalu merindukan saat dimana dia ingin bermesraan dengan Kenzo. Bahkan dia sampai menggoda Kenzo lebih dulu agar bisa di sentuh oleh cumbuan hangatnya. Tapi kini, Kenzo selalu melahapnya meski dia tidak menggodanya sedikitpun.


"Kamu nggak pernah berubah. Apa enaknya melamun,,," Tegur Kenzo yang sudah berdiri di hadapannya.


Dia menggeleng melihat istrinya yang sedang melamun. Kegiatan yang sering di lakukan Jeje sejak awal dia bertemu dengan remaja itu.


Jeje menyengir kuda, tersenyum kikuk pada suaminya.


"Nggak ngelamun by, lagi inget sama pertemuan awal kita,," Ujar Jeje dengan senyum yang mengembang penuh. Dia seakan sangat bahagia saat ini. Jeje berdiri, mendekap erat lengan besar suaminya.


"Ayo pulang,," Pintanya.


Kenzo mengacak gemas rambut istrinya, perlakuan yang sering dia lakukan pada bayi gulanya.


"Masih jam 8 Je. Kamu nggak mau balik ke mall lagi atau pergi ke tempat lain,,?" Tawar Kenzo.


Jeje nampak sedang memikirkan tawaran Kenzo.


"Oke,, ke mall lagi by. Kita nonton plus cari makanan,," Seru Jeje. Dia belum puas juga setelah makan malam.


...**...


Sepasang suami istri yang usianya terpaut cukup jauh itu terlihat bergandengan mesra di dalam mall. Jeje terlihat kembali bersemangat, tidak lagi kesal karna tadi harus pergi ke rumah sakit untuk menemui Clara.


"Jeje,,,!!" Teriakan suara yang terdengar familiar itu, membuat Jeje langsung menoleh ke belakang.


"Aaa,,, Cecel,,," Seru Jeje dengan mata yang berbinar. Dia langsung melepaskan gandengan tangan Kenzo, kemudian langsung berlari menghampiri Celina. Sahabat dekatnya yang hampir 2 bulan lebih tidak dia temui.


Keduanya saling berpelukan erat, melepas rindu yang sudah lama tertahan. Jeje bahkan melompat - lompat karna terlalu bersemangat dan senang bertemu Celina.


"Onty,, onty,,," Suara anak kecil itu membuat Jeje langsung melepaskan pelukannya.


Di tatapnya anak perempuan yang masih berumur sekitar 4 tahun itu, dia sedang menarik baju Celina. Disebelahnya, berdiri laki - laki gagah dengan postur tubuh yang sama tinggi seperti Kenzo.


"Itu anak siapa Cel,,?" Tanya Jeje.


"Sebentar ya Naura cantik,,," Celina melepaskan lembut tangan Celina dari bajunya.


Dia langsung mendorong Jeje agara sedikit menjauh dari mereka.


"Anak sugar daddy gue yang baru,," Bisik Celina.


Mata Jeje langsung membulat sempurna.


"What.?!!" Pekiknya kaget.


"Kamu makin gila aja ya Cel." Protes Jeje.


"Masa jalan sama sugar daddy sampe bawa anaknya segala.? Kalau anak itu ngadu sama mamanya gimana.? Jangan cari gara - gara kamu,,"


Jeje sedikit khawatir. Dia takut sahabatnya itu akan terkena masalah besar jika ketahuan menjadi simpanan suami orang.


"Ngadu juga percuma Je, orang emaknya udah di surga." Bisiknya.


"Dia itu duren ansa, alias duda keren anak satu,," Seru Celina dengan tawa.


"Ekhemmm,,!!" Deheman laki - laki itu membuat Celina tersenyum kikuk menatapnya. Dia terlihat malu - malu.


Melihat Jeje yang tak kunjung kembali, Kenzo segera menghampirinya.


"Sayang, ayo,,," Seru Kenzo.


"Wah,, kamu langgeng sama si om Je,," Celetuk Celina.


"Dia normal.?" Bisiknya sambil terkekeh geli.


"Iihh,,, Apa sih Cel.!" Ketus Jeje.


"Asal kamu tau, aku sama si om udah nikah 3 minggu yang lalu,,"


"What.?!!" Kini giliran Celina yang melotot kaget.


"Parah kamu Je,, kamu hamil duluan ya,,?" Serunya.


Jeje langsung membungkam mulut Celina.


"Astaga Cel, kamu mau bikin aku malu.?" Keluh Jeje sembari menatap ke sekeliling.


"Aku belum hamil,,"


"Kita memang pacaran dan sepakat untuk menikah. Acaranya dadakan dan tertutup. Jadi aku nggak kasih tau kamu ataupun Natasha."


"Kamu itu kelewatan ya.! Tega nggak ngasih tau sahabat kamu sendiri.!" Geram Celina kesal. Jeje hanya menyengir kuda.


"Kok ganti lagi.? Om Marvin gimana.?" Bisik Jeje.


"Dia udah tobat, balik ke istrinya,," Jawab Celina pelan.


Sementara itu, Kenzo terlihat sedang mengamati laki - laki yang datang bersama Celina. Wajah laki - laki itu seperti tidak asing baginya.


"Vano,,,? Elvano.?" Ujar Kenzo.


Laki - laki itu masih diam sambil terus menatap Kenzo.


"Ken,,?"


"Aku kira siapa, rupanya kamu. Pantes nggak asing wajahnya,,," Serunya.


Keduanya saling mendekat dan berjabat tangan.


Jeje dan Celina hanya bisa bengong melihat keduanya yang ternyata saling mengenal.


"Lama nggak ketemu. Gimana kabarnya Ken,,?" Vano menepuk pelan bahu Kenzo.


Teman kuliahnya dulu. Mereka tidak bertemu sejak 5 tahun yang lalu. Tepatnya saat Vano pindah ke Surabaya.


"Baik bro.!"


"Itu anak kamu sama Jasmin,,?" Tanya Kenzo sambil menatap anak kecil itu yang wajahnya sangat mirip dengan Jasmin, pacar terakhir Vano saat kuliah dulu.


"Ya. Jasmin sudah meninggal 2 tahun lalu karna kecelakaan,," Tutur Vano sendu.


"Sorry bro,," Kenzo terlihat tidak enak hati.


Vano hanya tersenyum dengan anggukan kepala.


"Onty ayo beli es krim,,," Rengek anak kecil itu pada Celina.


"Oke,, oke,, kita beli es krim sekarang. Tapi kenalan dulu sama temen onty yah." Celina sedikit menunduk, mendorong pelan bahu Naura agar mendekat pada Jeje.


"Ini temen onty, namanya onty Jeje,,,"


Celina menjulurkan tangan Naura pada Jeje.


Jeje langsung berjongkok, mensejajarkan diri dengan Naura dan menjabat tangannya.


"Hay onty Jeje, aku Naura,,"


"Hay juga Naura cantik. Senangnya bisa ketemu sama princess,," Ujar Jeje. Ketiga perempuan itu terlihat mengulum tawa.


"Kak, aku ajak Naura beli es krim dulu ya," Pamit Celina pada Vano. Laki - laki itu hanya menganggu.


"Hubby,, aku mau ikut Celina. Jangan kemana - mana yah,," Kini giliran Jeje yang pamit pada Kenzo.


"Ya,, langsung kembali setelah ini,," Sahutnya. Jeje mengangguk cepat.


Naura terlihat senang berada dalam gandengan Jeje dan Celina. Vano nampak mengulum senyum melihat putrinya yang kembali ceria setelah bertemu dengan Celina.


"Dunia sempit sekali Van,,," Gumam Kenzo.


"Wanitamu itu sahabat baik istriku,,,"


"Nikahi saja Van, jangan cuma di pake,," Celetuk Kenzo.


Vano tersedak ludahnya sendiri. Dia batuk hingga beberapa kali.


"Jangan berlagak kaget Van, aku tau siapa kamu,," Ujar Kenzo lagi.


"Aku masih butuh waktu Ken, nggak gampang menjadikan perempuan lain untuk mengganti posisi Jasmin." Tuturnya.


Kenzo menepuk pelan Bahu Vano.


"Aku tau. Aku turut berduka untuk meninggalnya Jasmin."


"Lakukan yang terbaik demi masa depan kamu dan putri kamu,,"


Vano hanya mengangguk.


"Kamu di jakarta sekarang.?" Tanya Kenzo.


"Ya, aku sudah pindah sejak 1 tahun terakhir."


"Terus tinggal di Surabaya hanya membuatku semakin sulit bangkit dari keterpurukan,," Tuturnya.


Kenzo bisa memahami hal itu. Dia pun pasti tidak akan sanggup jika harus kehilangan orang yang paling dia cintai untuk selama - lamanya.


...***...