
Kenzo Pov
Setelah mengunci kamar, aku mengambil ponsel yang aku letakan di atas nakas. Dugaanku tidak salah, memang papa yang menelfonku.
"Ya pah,,,"
"Kenapa belum pulang kerumah.? Kita harus bicara Ken. Pertunangan kamu satu bulan lagi, tapi kamu masih santai saja,,," Suara papa terdengar kesal.
Aku memang mengabaikan acara pertunangan resmi yang akan di publikasikan. Bahkan kalau aku bisa, aku ingin membatalkan acara pertunangan yang sudah dilangsungkan untuk kedua kalinya ini.
"Nanti sore ajak Nadine ke butik dan cari cincin lagi yang cocok untuk cara besar kalian,,,"
"Setengah jam lagi aku pulang." Ujarku singkat, segera ku matikan sambungan telfonnya.
Aku hanya bisa menghela nafas berat.
Pertunangan ku dengan Nadine memang sudah terjadi lebih dari satu tahun yang lalu. Pertunangan yang hanya di hadiri oleh pemegang saham di perusahan papa dan om Bastian, papa Nadine.
Pertunangan yang bertujuan untuk memperbesar kedua perusahaan. Dengan menyatukan pewaris tunggal dari masing - masing perusahaan.
Awalnya aku memang tidak keberatan dengan perjodohan yang dilakukan oleh papa dan om Bastian.
Jujur saja, dulu aku sempat mengagumi Nadine dan memiliki perasaan padanya.
Siapa yang tidak suka dan tergila - gila pada wanita cantik seperti Nadine yang begitu sempurna.
Sebagai seorang model internasional, tentu saja Nadine memiliki tubuh sempurna dan proporsional yang banyak di inginkan oleh semua kaum hawa.
Tak hanya itu, dia juga pintar dan sangat dewasa.
Hubungan kami berjalan normal layaknya sepasang kekasih selama 5 bulan pertama pertunangan kami.
Aku begitu mendambanya. Memperlakukannya bak putri raja. Aku menuruti semua keinginannya. Bahkan aku sering mengunjunginya ke Amerika hanya untuk menemuinya. Secinta itu aku padanya. Tapi ternyata cinta ini hanya membuatku seperti orang bodoh dimatanya.
Selama 4 bulan itu, aku baru menyadari kalau ternyata hanya aku saja yang mencintainya. Cintaku tidak terbalas. Dia menganggap ku hanya sekedar budak cintanya, tanpa memiliki perasaan sedikitpun padaku.
Dan yang membuatku semakin terlihat bodoh, ternyata selama ini dia menjalin hubungan dengan beberapa laki - laki di belakangku.
Saat itu juga rasa cinta untuknya mati dan tumbuh kembali dengan rasa benci.
Setelah mengganti baju, aku segera keluar dari kamar. Ku hampiri gadis cantik itu yang masih serius menonton kartun. Wajah polos itu, aku tidak sanggup untuk melihatnya terluka.
Entah bagaimana jika dia tau kalau aku sudah bertunangan, dan akan mempublikasikan pertunanganku 1 bulan lagi. Bahkan pernikahanku dan Nadine akan di gelar 2 bulan mendatang.
Ini menjadi pilihan yang sulit untukku. Jika aku mengakhiri pertunangan ini, nasib Felicia dan mama akan menjadi taruhannya. Papa akan melakukan apapun untuk menghancurkan hidup mereka, bahkan bisa memisahkan kami kembali.
Aku memang lemah, tidak bisa berbuat apapun untuk diriku sendiri. Bahkan untuk mempertahankan kebahagiaanku.
"Jangan ngelamun om.! Nanti kemasukan baru tau rasa,," Teguran dari Jeje membuatku tersadar. Aku tersenyum kaku padanya, lalu duduk disebelahnya.
"Om Ken ganti baju.? Emangnya kita mau pergi kemana.? Mending disini aja om,,," Dengan suara khasnya yang cerewet, dia terus berbicara.
Aku tidak tega mengubah tatapan berbinar menjadi tatapan sedih. Dia begitu menikmati kebersamaan kami, tapi aku justru harus bertemu dengan papa untuk membahas pertunanganku dengan Nadine.
Aku hanya bisa memberikan tatapan teduh untuknya, agar dia tidak kecewa karna kebersamaan ini terlalu singkat. Ku usap lembut kepalanya. Matanya semakin berbinar saja, dipenuhi banyak cinta di dalamnya.
"Papa sedang menunggu ku dirumah, ada yang harus kami bicarakan." Ujarku lembut, agar tidak membuat suasana hatinya memburuk.
Tapi selembut apapun aku bicara, tetap saja membuatnya terlihat sedih.
Untuk beberapa saat di terdiam, tapi tiba - tiba seulas senyum terbit dari bibirnya.
"Lama nggak om.? Apa aku boleh nunggu disini,?
Ucapnya dengan mata berbinar penuh permohonan.
Aku harus jawab apa.? Sedangkan sore ini aku harus pergi bersama Nadine. Kemungkinan akan pulang malam. Aku tidak akan tega membuatnya menungguku sendirian disini.
"Aku nggak pulang kesini lagi Je. Besok saja kita ketemu lagi, aku jemput kamu nanti,," Ujarku untuk menghiburnya.
Meskipun dia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, namun dia masih bisa berusaha untuk tersenyum padaku. Dia mengangguk pelan.
"Ya udah, kalau gitu aku pulang dulu om,,," Ucapnya masih dengan senyum yang dipaksakan.
Pasti dia kecewa, dia sudah berharap bisa menghabiskan waktu bersamaku, tapi kebersamaan kami hanya 2 jam saja.
Aku memperhatikannya yang sedang mengambil tas dan memasukan ponselnya.
Dia sudah mengalami banyak kesedihan selama hidupnya, hingga mengatakan kalau pertemuan kami adalah kebahagiaan terindah baginya.
Aku hanya akan membuatnya semakin sedih dan terluka jika pernikahan ku dan Nadine tidak bisa batalkan.
"Aku pulang ya om,,," Meski dia terlihat biasa saja, namun ada gurat kesedihan di matanya.
Dengan gerakan cepat, dia mencium pipiku.
Wajahnya terlihat merona. Aku menahan tangannya saat dia akan beranjak.
Aku meraih tengkuknya, lalu meraih bibir mungilnya dan melu*"tnya dengan durasi yang cukup lama.
"Selama om ada disisiku, aku akan bahagia,," Ucapnya penuh keyakinan.
Dia memelukku, begitu erat seakan takut untuk melepaskanku. Terdengar hirupan nafasnya yang dalam
"Wangi, nyaman sekali,," Gumamnya. Rupa dia sedang merasakan aroma tubuhku yang ternyata membuatnya nyaman.
Sudah sejauh itu perasaannya terhadapku. Aku semakin takut saja membuatnya terluka.
Aku hanya bisa menatap kepergiannya dengan rasa bersalah yang besar. Mungkin tidak seharusnya aku membuatnya bertahan di sisiku. Tidak seharusnya aku mengatakan cinta yang justru membuatnya semakin berharap padaku. Namun aku juga tidak bisa membiarkannya pergi dari kehidupan ku.
Nasib mama dan Felicia ada di tanganku, jika aku membatalkan pernikahan ini, maka hal buruk akan terjadi pada mereka.
Papa bukan orang yang bisa bermain - main dengan ucapannya.
Kehidupan mama dan Felicia yang sulit, semua itu juga karna campur tangan papa.
Dia enggan melihat mereka hidup bahagia, sedangkan dia tersiksa selama belasan tahun.
...****...
Saat aku pulang, papa sudah menungguku di ruang kerjanya. Dari tatapannya yang tajam sejak aku masuk dan duduk di depannya, aku tau bahwa dia sedang menyimpan kekesalannya terhadapku.
"Sampai kapan kamu mau memprioritaskan mereka Ken.! Dengan kamu membantunya secara materil, itu sudah lebih dari cukup.! Tidak perlu terus menemui mereka dan mengabaikan hal yang jauh lebih penting,,!"
Papa memang selalu tegas, lebih tepatnya setelah dia berpisah dengan mama. Sepertinya perpisahan itu cukup mengubah kepribadian papa.
"Tidak ada yang jauh lebih penting dari keluarga pah. Saat kita jatuh dan seluruh dunia menjauh, hanya mereka yang akan tetap berada di samping kita,,,"
"Tau apa kamu tentang keluarga Ken.! Mama mu bahkan lebih memilih anak haram itu dari pada memilih kita,,!" Geram papa.
Terkadang aku heran dengan sikap papa. Kejadian itu sudah 20 tahun berlalu, tapi dia selalu saja mengingatnya. Tak jarang terus mengungkitnya seperti saat ini.
"Sampai kapan papa akan hidup dengan rasa dendam, dan membenci anak yang tidak bersalah.
Tidak ada anak yang mau terlahir akibat perbuatan bejad seseorang. Mungkin jika dia bisa memilih, dia pasti memilih papa sebagai orang tuanya,,"
"Apa yang mama lakukan sudah benar. Dia bukan lebih memilih Felicia daripada kita, tapi papa sendiri yang sudah memberikan pilihan sulit untuknya.
Tidak ada seorang ibu yang tega membuang darah dagingnya sendiri, sekalipun anak itu berasal dari perbuatan kejam seseorang."
"Aku justru akan membenci mama jika dia lebih memilih tinggal bersama kita dan membuat Felicia ke panti asuhan. Itu artinya mama tidak punya hati."
Papa terlihat diam, nampak mencerna ucapanku dengan baik. Aku yakin didalam hatinya, dia masih ingin kembali bersama mama. Namun kebencian terhadap Felicia, membuat papa lebih memilih untuk bertahan sendiri dengan keegoisannya.
"Papa tidak mau tau Ken.! Mulai detik ini kamu harus mengurangi interaksi dengan mereka.!"
"Jangan karna papa memberikan kebebasan untuk berhubungan dengan mereka, kamu jadi seenaknya seperti ini.!"
Papa bangun dari duduknya dengan eskpresi wajah yang sulit di artikan.
"Ingat baik - baik ucapan papa.! Atau mereka akan pergi selamanya dari negara ini,,!" Geramnya Kesal.
Papa berlalu dari hadapanku.
"Mama sudah melewati masa kritisnya.!" Teriakku. Papa langsung menghentikan langkahnya di ambang pintu.
"Mama akan segera pulih beberapa bulan kedepan. Apa papa tidak berniat untuk menemuinya,,?"
Tanpa memberikan komentar apapun, papa kembali melangkahkan kakinya dan keluar dari ruang kerja tanpa menoleh padaku.
Papa terlalu gengsi untuk mengakui perasaannya. Dia lebih memilih bertahan seperti ini dengan menyiksa perasaannya sendiri.
...*****...
Happy reading para pambaca setia 🥰
sempatkan like setelah baca ya.
Udah hari Senin, Jangan lupa vote yah,,,
Makasih🥰
Yang belum tau caranya vote, liat gambar di bawah 👇
Klik Detil,,
Klik VOTE,,
Terakhir klik vote lagi🥰