
Pagi itu Karin bangun lebih awal. Mentari bahkan belum menampakkan sinarnya saat dia membuka mata. Reynald pun masih damai dalam tidurnya. Nafasnya berhembus teratur, terlihat begitu tenang.
Karin turun dari ranjang dengan perlahan agar tidak menimbulkan gerakan yang bisa membangunkan reynald. Balkon kamar menjadi tujuannya saat ini. Karin mendorong pintu kaca, membukanya sedikit dan keluar ke balkon. Udara segar yang pertama kali dia hirup mampu membuat pikirannya jauh lebih tenang. Sesak di dadanya bahkan perlahan memudar.
Tadi malam dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Tiba - tiba saja semua perasaan berkecambuk jadi satu hingga membuat dadanya terasa sesak. Ada banyak pertanyaan dan kekhawatiran yang terus muncul dalam hati dan pikirannya. Pertanyaan dan kekhawatiran yang hanya bisa di atasi oleh 1 orang, yaitu Reynald. Dia adalah kunci dari semua pertanyaan dan kekhawatiran yang tak berujung.
Sudah sejauh ini dia menjalani pernikahan dengan Reynald, dan sudah banyak perubahan yang terjadi dalam diri suaminya. Laki - laki itu sudah lebih banyak menunjukan perhatian dan sikap manisnya. Tapi masih ada 1 hal yang mengganjal pikirannya. Tentang bagaimana perasaan Reynald yang sebenarnya.
Jujur saja, sampai saat ini Karin masih ragu dengan perasaan Reynald. Dia hanya ingin mendapatkan kepastian tentang perasaan Reynald padanya. Ingin tau sepenting apa dia dalam kehidupan Reynald tanpa memandang anak yang ada di dalam kandungannya.
Selama ini Karin hanya merasa jika dia saja yang memiliki perasaan lebih, bukan hanya karna Reynald adalah ayah dari anak yang ada di dalam kandungannya, melainkan karna sikap Reynald yang dia yakini sangat bertanggung jawab dan bisa menjadi suami sekaligus ayah yang baik untuk anaknya.
Karin hanya ingin mendengar ungkapan cinta Reynald terhadapnya yang sampai saat ini belum pernah keluar dari mulutnya.
"Kamu sudah bangun,? Kenapa berdiri disini.?" Suara serak Reynald terdengar jelas di telinganya. Lamunannya seketika buyar saat melihat Reynald yang ternyata sudah berdiri di belakangnya.
Reynald mengulurkan kedua tangannya. Dia memeluk Karin dari belakang.
"Dingin, sebaiknya masuk saja,,," Ujarnya lagi.
Karin. masih diam dengan tatapan bingung. Dia ingin mengungkapkan apa yang di rasakan selama ini, namun terlihat ragu untuk memulai. Karin juga takut akan kecewa nantinya kalau ternyata Reynald tidak memiliki perasaan lebih padanya. Takut kebaikan dan perhatian Reynald hanya karna memandangnya sebagai ibu dari anaknya.
Reynald menarik nafas dalam karna mendapati Karin terus diam sejak tadi. Bahkan tidak memberikan respon apapun. Hanya menatapnya dengan tatapan datar namun sedikit terlihat sendu.
"Kamu mau di gendong atau jalan sendiri.?" Tawar Reynald. Dia sudah melepaskan pelukannya terlihat bersiap untuk mengendong Karin.
"Baru setengah 4, kamu itu kecepatan bangunnya." Reynald hampir mengangkat rubuh Karin, namun langsung di tolak dengan gelengan kepala oleh Karin.
"Kalau begitu jalan sendiri." Kata Reynald. Dia masih bersikeras untuk mengajak Karin masuk ke kamar.
"Kak,,," Karin mencekal pergelangan tangan Reynald. Kali ini Karin menatap Reynald penuh harap. Dia ingin mendengarkan isi hari Reynald padanya dan mendengarkan ucapan yang selama ini dia harapkan keluar dari mulut Reynald.
"Maaf kalau aku menanyakan hal ini lagi,," Karin menundukan pandangan.
"Aku hanya ingin ini tau bagaimana perasaan kakak selama menjalani pernikahan ini." Perlahan Karin menatap Reynald. Laki - laki itu menatapnya datar.
Kali ini Karin akan memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang sudah mengganjal hatinya selama ini.
"Apa kak Rey masih menganggap pernikahan ini hanya sebatas untuk mempertanggung jawabkan perbuatan kakak saja.?" Suara tegas Karin membuat wajah Reynald berubah serius.
"Apa tidak ada sedikitpun perasaan yang kakak miliki untukku.?" Mata Karin berkaca - kaca. Suaranya bergetar di akhir kalimat. Rasa sesak mulai kembali menyeruak. Dia khawatir akan mendapatkan kenyataan pahit dari Reynald.
"Apa kakak hanya ingin menjadi ayah dari anakku saja tanpa menganggapku sebagi bagian dari hidup kakak.?" Buliran bening menetes dari pelupuk mata Karin. Jika memang benar itu yang selama ini Reynald inginkan, makan pilihan terbaik yang akan dia ambil adalah dengan mengakhiri pernikahan mereka.
Karna Karin sadar, hidup bersama seseorang tanpa di cintai tidak akan membuat kita merasa tenang dan bahagia seutuhnya. Rasa takut dan gundah itu akan muncul saat kita benar - benar merasa lelah dengan keadaan.
Air mata Karin semakin bercucuran. Dia tidak berani lagi menatap Reynald. Tidak siap rasanya mendengar jawaban darinya yang mungkin saja akan menyakitkan.
Reynald langsung membawa Karin ke dalam dekapannya. Dia menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Hatinya ikut sakit melihat Karin meneteskan air mata. Dia seolah merasakan sakit dan kehancuran yang di rasakan oleh Karin saat ini.
"Maaf,,," Ucap Reynald Lirih. Satu kata yang terdengar begitu tulus dan menyentuh.
"Apa pengakuan jauh lebih berarti dari sikapku selama ini.?" Reynald berbicara lembut dengan intonasi yang pelan. Usapan di punggung Karin dan kecupan dia berikan di kening wanita yang akhir - akhir ini mengisi hati dan pikirannya.
"Aku pikir kamu bisa menilai bagaimana perasaanku padamu, bagaimananya berartinya kamu untukku."
Reynald mendorong perlahan bahu Karin, melepaskan dia dari dekapannya, lalu menghapus air mata di pipi Karin.
"Aku tidak pernah main - main dengan pernikahan ini. Seperti yang sudah aku katakan dulu. Mungkin saat itu aku hanya ingin bertanggung jawab dan menjadi ayah yang baik untuk anakku. Tapi tidak untuk saat ini. Karna kamu juga akan menjadi bagian dari hidupku." Reynald menatap Karin dengan sorot mata yang dalam.
"Kamu ingin mendengar pengakuan.?" Tanya Reynald. Dia mengangkat dagu Karin agar wanita itu menatap lekat matanya.
"Aku mencintaimu,,," Ucap Reynald dengan sorot mata yang begitu dalam.
"Sangat mencintaimu,,," Ujarnya lagi. Kali ini Reynald mendekatkan wajahnya dan ******* singkat bibir Karin.
Karin yang tidak bisa berkata - kata setelah mendengarkan ungkapan cinta dari Reynald, hanya bisa menangis. Menangis bahagia tentunya.
"Sudah puas sekarang.?! Kenapa malah menangis lagi.!" Seru Reynald. Dia mencubit gemas kedua pipi Karin. Karin langsung menepis tangan Reynald dengan bibir yang mencebik.
"I love you,," Ucap Karin malu - malu. Dia mengalungkan tangan di leher Reynald dan mencium bibirnya. Ini pertama kalinya Karin mencium lebih dulu. Tidak mau menyia - nyiakan kesempatan, Reynald langsung membalasnya dan menciumnya tanpa henti.
"Nanti keterusan.!" Ujar Reynald setelah melepaskan ciumannya.
"Kamu cuci muka dulu, kita jalan - jalan ke taman sebenar sebelum aku siap - siap ke kantor."
"Udaranya segar kalau masih gelap seperti ini,," Reynald menggandeng Karin masuk ke dalam kamar.
Keduanya sudah bersiap untuk pergi ke taman. Pagi ini akan menjadi salah satu pagi terindah bagi Karin. Setelah sekian lama, akhirnya dia bisa mendengarkan ungkapan cinta dari mulut Reynald.
Tidak akan ada lagi kekhawatiran yang akan menghantui dirinya. Karin sudah bisa bernafas lega setelah ini. Pada akhirnya dia bisa menjalani pernikahan dengan semestinya.
Akan ada banyak kebahagiaan dan cinta yang bisa dia rasakan.
Karin terus mendekap lengan besar Reynald. Keduanya menyusuri jalan setapak yang ada di tengah - tengah taman. Setelah mengetahui perasaan Reynald terhadapnya, Karin semakin merasa tidak ingin jauh darinya.
"Ada kabar baik,,," Suara besar Reynald memecah keheningan dan suasana yang begitu sunyi di taman yang masih gelap.
Karin menatap Reynald dengan mata yang berbinar.
"Apa Bapak sudah sadar.?" Tanyanya antusias.
Reynald mengangguk dengan seulas senyum.
"Makasih kak,,," Karin langsung memeluk Reynald. Dia kembali menangis dalam dekapan suaminya.
Kebahagiaan Karin terasa lengkap dengan kabar baik tentang kondisi Bapaknya.
"Tapi masih harus melewati proses pemulihan, jadi tidak bisa pulang dalam waktu dekat."
"Bapak harus benar - benar sehat sebelum kembali ke sini,,," Jelas Reynald. Karin mengangguk paham. Tidak masalah jika harus butuh waktu lama untuk bertemu kembali dengan Bapaknya, asal Bapaknya bisa sehat kembali seperti dulu.
"Kita belum sempat ke dokter lagi untuk cek kehamilan kamu. Kita ke dokter hari ini. Aku akan pulang saat jam makan siang nanti,,"
Karin melepaskan pelukannya, dia menetap Reynald dengan seulas senyum.
Kebahagiaan apa lagi yang dia inginkan sekarang.? Senyumnya sudah dia dapatkan. Saat ini hanya tinggal menunggu anak yang ada dalam kandungannya terlahir ke dunia, dan dia akan memiliki keluarga yang lengkap.
...*****...