
Karin terus menatap kepergian mobil Reynald yang perlahan hilang dari pandangan matanya.
Sudah 2 minggu ini mereka baru bertemu kembali. Setelah Jeje bilang akan membantunya agar bisa terbebas dari jerat nafsu Reynald, saat itu juga Reynald benar - benar melepaskannya tanpa syarat.
Dia tidak lagi menghubunginya untuk bertemu.
Sejujurnya Karin merasa ada perasaan yang tiba - tiba hilang saat Reynald memutuskan perjanjian tertulis di antara mereka.
Selama 1 bulan lebih menghabiskan banyak waktu bersama Reynald di atas ranjang, entah kenapa mampu menghadirkan perasaan aneh yang belum pernah Karin rasakan sebelumnya.
Remaja itu memang tidak pernah membalas cumbuan Reynald, dia hanya menjadi pemain pasif. Namun dia juga tidak memberikan penolakan atas apa yang dilakukan Reynald saat di atas ranjang.
Reynald memang sedikit kasar dalam bermain, dia juga selalu berbuat seenaknya dan bersikap datar pada Karin, selain di atas ranjang.
Namun hal itu justru membuat Karin terus memikirkan Reynald saat mereka tidak bertemu lagi.
Karin memang membenci laki - laki yang sudah merusak masa depannya itu, tapi dia tidak bisa memungkiri ada perasaan yang berbeda setiap kali bersamanya.
"Neng buruan masuk, udah malem,,," Teriakan Ibu membuat Karin beranjak dari sana, dia segera masuk kedalam rumah.
"Kamu beneran neng nggak kenapa - napa kalo nikah sama si aa kaku itu,,?"
Pertanyaan Ibu membuat Karin mengerutkan keningnya.
"Kenapa aa kaku bu,,?"
"Terus apa atuh neng kalo bukan kaku.? Dia tuh lempeng - lempeng aja waktu ngomong sama kita. Nggak ada basa - basinya neng." Keluh Ibu Karin.
"Masa mau nikahin anak orang kaya mau ngawinin kucing peliharaan neng,,"
Karin terkekeh geli, memang benar seperti itu gambaran Reynald saat bicara pada kedua orang tuanya.
"Iya Bu, dia memang kaku. Tapi dia baik bu, Ibu nggak usah khawatir. Kalo dia jahat pasti nanti Karin ngadu Ibu sama Bapak,,,"
"Ya sudah. Ini juga demi kebaikan kamu dan anak kamu,," Ibu mengusap lembut perut Karin.
Wanita paruh baya itu hanya bisa pasrah menerima kenyataan pahit yang menimpa anak perempuannya.
Kecewa dan marah tentu ada, namun beliau enggan merasakan kecewa dan kemarahan yang tidak bisa menyelesaikan masalah.
"Kita masak dulu buat makan malam Bu. Kata aa kaku di dapur udah ada bahan makanan,,"
Tutur Karin. Ibu mengangguk, keduanya langsung menuju ke dapur.
Sementara itu, Bapak dan Radit tengah menata baju mereka di kamar masing - masing.
Saat ini mereka sudah berkumpul di meja makan. Karin dan Ibunya baru saja selesai memasak.
"Bapak takut neng,,," Bapak mulai bersuara setelah sejak tadi terlihat diam dan murung.
"Takut kenapa Pak,,,?"
"Eta si belegug, kok kayak yang mencurigakan ya neng. Masa ngasih rumah sebagus ini dengan cuma - cuma. Perabotnya juga mahal loh neng. Ini lagi, makanannya enak - enak begini,,"
Keluh Bapak dengan kecemasan yang tidak bisa dia sembunyikan. Bapak khawatir kalau Reynald punya rencana jahat pada Karin dan keluarga mereka.
"Bapak bener de, mana ada orang ngasih rumah cuma - cuma begini."
"Kalo dia bisa ngasih rumah mahal ini buat kita, kenapa waktu itu dia jadiin kamu sebagai jaminan karna nggak bisa bayar ganti rugi yang nilainya berkali - kali lipat lebih kecil dari harga rumah ini."
Penjelasan Radit memang masuk di akal.
Harga rumah ini tidak sebanding dengan uang 50 juta yang diminta oleh Reynald.
Karin hanya menghela nafas, dia sama sekali tidak terpengaruh pada opini Bapak dan kakaknya. Karna Karin tau, Reynald menjadikan dirinya sebagai jaminan untuk ganti rugi hanya karna laki - laki itu ingin merenggut kesuciannya.
"Bapak sama aa nggak boleh gitu, kak Reynald tulus kok kasih rumah ini buat kita."
"Mungkin dia benar - benar merasa bersalah pada kita,," Tutur Karin, dia ingin membuat keluarganya tidak curiga pada kebaikan Reynald.
Meski keluarga Karin masih curiga, namun mereka mencoba untuk berfikir positif dan mempercayai ucapan Karin.
Reynald memang sangat kaku dan terkesan sombong, tapi dari raut wajahnya, dia tidak menunjukan akan berbuat jahat pada keluarga mereka.
Selesai makan, Karin langsung menuju ke kamarnya. Dia memiliki kamar yang berada di lantai dasar. Kedua orang tuanya pun tidak menyarankan Karin untuk sering bolak - balik menaiki tangga.
Suara dering ponsel miliknya menjadi sambutan saat dia masuk ke dalam kamar. Di ambilnya tas kecil yang ada di atas ranjang, Karin mengeluarkan ponsel dari tasnya.
Ada belasan panggilan masuk dari Reynald.
Dengan gugup, Karin langsung mengangkatnya.
"Kenapa baru di angkat.?!" Tanya Reynald ketus. Dia sedikit menggeram. Kesal karna panggilannya tak kunjung tersambung.
"Maaf, aku baru selesai makan. Ponselnya ada di kamar,," Sahut Karin sedikit takut.
"Obatnya sudah kamu minum.?!" Tanyanya masih dengan suara ketus dan datar.
Karin diam membisu, lagi - lagi dia di buat terpaku pada sikap Reynald yang menurutnya perhatian dan peduli pada calon anak mereka.
Reynald bahkan sampai menelfonnya bela dan kali hanya untuk menanyakan hal itu padanya.
"Ekhemm,,,!" Deheman Reynald membuyarkan lamunan Karin.
"Ya sudah,," Ujar Reynald.
Karin hanya bengong karna Reynald memutuskan panggilan telfonnya begitu saja.
Karin mendengus kesal, calon suaminya itu benar - benar sekaku kanebo kering.
...****...
Sementara itu, Jeje terus memasang wajah kesal saat keluar dari mall. Moodnya seketika memburuk setelah Kenzo mendapat telfon dari pihak rumah sakit yang memberitahukan kalau Clara sudah di perbolehkan pulang.
Saat itu juga Kenzo mengajak Jeje untuk pergi ke rumah sakit. Padahal mereka belum selesai makan malam.
Rencana Jeje untuk menonton dan shopping pun terpaksa harus di batalkan karna harus mengurus Clara.
"Cuma sebentar Je, aku harus mengurus administrasi dan membawanya pulang ke apartemennya,," Tutur Kenzo lembut.
Laki - laki itu merasa punya tanggung jawab atas kejadian yang sudah menimpa Clara. Karna pada saat kejadian, Clara baru saja menemuinya.
"Terserah hubby saja,," Jawab Jeje cuek. Dia langsung masuk ke dalam mobil, di susul oleh Kenzo.
"Kamu marah atau cemburu.?" Goda Kenzo untuk mencairkan suasana.
Jeje mengangkat kedua bajunya acuh.
"Keluarga Clara di luar negeri tidak ada yang bisa di hubungi, dia juga tidak memiliki keluarga di sini."
"Kita orang terakhir yang dia temui, kalau bukan kita yang menolongnya lalu siapa lagi,,,?"
Kenzo mencoba memberikan pengertian pada istrinya.
"Pelaku penusukan sudah tertangkap,,"
Ucapan Kenzo berhasil menarik perhatian Jeje.
"Siapa.?" Tanyanya penasaran.
"Kenapa baru di tertangkap sekarang,,,"
"Pelaku kabur ke luar negeri, jadi polisi kesulitan mencarinya."
"Dia kekasih Clara yang tidak terima karna diputuskan,," Tutur Kenzo.
Jeje berdecak kesal, merasa geli dengan Clara.
"Dia memutuskan pacarnya untuk mengejar suami orang.?" Gumam Jeje.
"Tragis sekali nasibnya,,"
"Suami siapa.?" Goda Kenzo.
Jeje melirik kesal ke arahnya.
"Kamu nyebelin banget by.!!" Rengeknya sembari memukul lengan Kenzo.
Laki - laki tampan itu hanya terkekeh, merasa senang sudah membuat pipi Jeje merona.
Mobil Kenzo menembus ramainya jalanan ibu kota. Suasana di dalam mobil sejak tadi hening.
"Kamu mau bulan madu,,?" Tawar Kenzo.
Jeje menoleh cepat.
"Apa kita belum bulan madu.?" Tanya Jeje heran.
"Aku pikir setiap hari kita itu sudah bulan madu,,"
Ucapnya malu - malu.
Jeje membayangkan dirinya dan Kenzo yang tidak pernah melewatkan hari tanpa melakukan kegiatan panas. Bahkan mereka melakukannya berulang kali dalam sehari. Apa itu bukan disebut bulan madu.?
Kenzo mengulum senyum. Dia tau apa yang ada di dalam pikiran istrinya.
"Itu baru pemanasan, saatnya kita melakukan bulan madu yang sesungguhnya,,"
Goda Kenzo dengan mengedipkan sebelah matanya.
Jeje terperangah, dia terlihat syok mendengar penuturan Kenzo.
Jika selama ini yang mereka lakukan hanya pemanasan, lalu akan seperti apa bulan madu yang di maksud oleh Kenzo.?
Jeje bahkan sampai bergidik ngeri, sudah di pastikan Kenzo tidak akan membiarkannya turun dari ranjang sedikitpun.
...***...
Maaf kalau upnya nggak tentu. Bener² lagi sibuk.
Ngetik pun curi - curi waktu.
Mohon di maklumi kalau upnya lama, karna buat bikin 1 bab itu memakan banyak waktu. Kalau di buru - buru pun hasilnya kurang enak di baca.
Othor masih usahain untuk up tiap hari.