
Cinta itu seperti angin, kamu tidak bisa melihatnya tapi bisa merasakannya.
..."Nicholas Sparks"...
Author pov
Pertemuan yang berawal dari hubungan kerja sama sebagai sugar baby dan sugar daddy, pada akhirnya berujung menjadi sebuah hubungan suci nan sakral dalam ikatan pernikahan.
Baik Jenifer dan Kenzo, keduanya sama - sama memendam perasaan yang mulai tumbuh seiring dengan kebersamaan mereka yang semakin intens.
Hingga pada akhirnya mereka saling mengungkapkan rasa.
Disitulah kebahagiaan terbesar yang mereka rasakan.
Pernikahan ini akan menjadi wadah bagi keduanya untuk saling menunjukan cinta dan kasih sayang mereka.
Meski awalnya masih ada sedikit rasa kecewa di hati Jenifer, perlahan kekecewaan itu mulai memudar dan kembali menimbulkan cinta yang sempat terkubur dalam.
Begitu besar cinta Jenifer terhadap laki - laki dewasa yang usianya terpaut cukup jauh dengannya. Hingga kekecewaan yang dia rasakan tidak mampu menghapus perasaan cinta terhadapnya.
Malam ini, seharusnya mereka mengulang kembali malam nan indah berselimut kenikmatan sebagai pasangan halal. Namun, tamu tak terduga membuat kenikmatan yang seharusnya mereka rasakan harus tertunda sementara.
Sebagai pria dewasa, tentu saja Kenzo sangat menantikan malam indah ini. Bayangan saat pertama kali dia mengambil kesucian Jenifer, terus muncul di kepalanya.
Kecewa sudah pasti, tapi apa boleh dikata. Dia hanya bisa pasrah dan sabar menunggu sampai hari itu tiba.
Dia bahkan rela membelikan pembalut untuk istrinya yang masih remaja itu. Kegiatan yang belum pernah dia lakukan seumur hidupnya.
Sedikitpun Kenzo tidak menolak saat Jenifer meminta tolong padanya.
"Makasih hubby,,,!. Saranghae,,,!" Teriak Jenifer.
Saat itu juga Kenzo menghentikan langkah dan berbalik badan. Dia tersenyum lebar pada Jenifer dengan hati berselimut kebahagiaan.
Kenzo memang sudah menanti saat dimana Jenifer akan memanggilnya dengan panggilan sayang, bukan lagi menyebutnya 'om'.
Kenzo menggeleng pelan saya melihat Jenifer menghilang dibalik pintu kamar mandi. Istri remajanya itu terlalu menggemaskan di matanya.
Tingkahnya selalu membuat dirinya terus merasa bahagia.
Dia tidak menyangka ternyata mencintai dan menikahi wanita yang usianya jauh dibawahnya, bisa membuatnya sebahagia ini.
Sekitar 10 menit Jenifer masih setia di dalam kamar mandi untuk menunggu Kenzo membawakan pembalut yang dia minta.
Di dalam sana Jenifer terus memikirkan reaksi Kenzo setelah dia memanggilnya dengan sebutan hubby. Entah Kenzo akan berbicara apa padanya nanti.
Sejak tadi siang sebelum acara pernikahan di mulai, Kenzo terus meminta Jenifer untuk merubah panggilannya. Sampai akhirnya Jenifer memutuskan untuk memanggilnya hubby.
Dia bisa melihat rona bahagia di wajah Kenzo saat memanggilnya dengan sebutan hubby. Jenifer seolah bisa ikut merasakan kebahagiaan Kenzo saat itu.
Suara ketukan pintu membuat Jenifer segera membukanya. Dia sengaja tidak membuka pintu seluruhnya karna malu untuk melihat wajah Kenzo.
"Mana pembalutnya,,?" Jenifer hanya menjulurkan satu tangannya dari balik pintu kamar mandi.
"Tunjukin wajah kamu,,"
Kenzo mendorong pelan pintu itu agar terbuka lebih lebar. Dia ingin melihat wajah wanita cantik yang sudah membuatnya senyum - senyum sendiri saat keluar membeli pembalut.
Namun Jenifer berusaha manahan pintu dari dalam untuk membuat pintu tidak terbuka seluruhnya.
"Om,, buruan. Aku harus pake pembalut. Celana da**mku jangan lupa ya,,"
Pinta Jenifer sedikit memohon.
"Om.? Kenapa manggilnya om lagi.?" Protes Kenzo.
"Panggil aku seperti tadi, baru aku kasih roti tawarnya,,"
Di dalam sana, jantung Jenifer berpacu cepat. Bagaimana mungkin dia akan memanggilnya hubby dalam jarak yang sangat dekat seperti ini. Jenifer semakin malu dibuatnya. Dia seperti baru pertama kali jatuh cinta pada Kenzo.
"Je,, mau rotinya atau nggak.?" Tawarnya lagi.
Jenifer tidak punya pilihan lain. Dia tidak mungkin keluar tanpa memakai pembalut. Dengan malu - malu Jenifer kembali memanggilnya hubby.
"My hubby,, aku minta pembalutnya,," Ucap Jenifer lirih dengan suara khas remajanya. Saat ini wajahnya merona karna menahan malu.
"Buka dulu pintunya. Bilang sambil menatapku,,"
Permintaan Kenzo semakin membuat Jenifer semakin malu.
"Aku hitung sampai 3. Satu,,, dua,, ti,,,
"Iya,, iya,,," Jenifer Menyerah, dia harus bisa mendapatkan pembalut itu.
Namun yang ada, Jenifer justru merebut pembalut dan celana da**m dari tangan Kenzo, kemudian menutup pintu kamar mandi dan menguncinya.
"Makasih hubby,,!! love you more,,,!!"
Teriak Jenifer dari dalam sana.
Lagi - lagi Kenzo hanya bisa mengulum senyum, dengan tingkah menggemaskan yang dilakukan istrinya.
"I love you even more and more,,!!" Balas Kenzo.
Di dalam sana Jenifer membisu dengan debaran jantung yang berdetak kencang. Sepertinya dia memang kembali merasakan jatuh cinta pada Kenzo untuk kedua kalinya.
Atau mungkin dia akan selalu merasa jatuh cinta setiap saat.
Kenzo beranjak, dia menunggu istrinya di atas tempat tidur. Tidak masalah kalau malam ini dia harus menunda malam pertama setelah menikah. Asal dia bisa tidur sambil mendekap istrinya sepanjang malam hingga pagi menjelang.
Keluar dari kamar mandi, Jenifer pergi ke walk in closet untuk mengganti bajunya dengan baju tidur.
Setelah itu, dia berjalan menghampiri Kenzo yang sedang berbaring di ranjang dengan mata yang terpejam.
Lagi - lagi rasa bersalah dan tidak enak hati kembali di rasakan oleh Jenifer. Untuk malam ini sampai satu minggu ke depan, dia tidak bisa memberikan kepuasan pada suaminya.
Jenifer langsung bergabung di sebelah Kenzo, saat itu juga Kenzo membuka mata karna merasakan pergerakan di ranjang. Keduanya saling pandang beberapa saat.
"Maaf by,,," Ucap Jenifer tulus.
Kenzo langsung membawa Jenifer kedalam pelukannya.
"Nggak masalah,,," Sahutnya.
"Tapi kamu harus membayarnya berkali - kali lipat setelah selesai haid."
"Satu hari penuh kita akan melakukannya,," Bisikan Kenzo di telinga Jenifer. Dia bahkan sedikit menjilat dan memberi gigitan kecil disana. Tubuh Jenifer meremang seketika. Dia langsung memeluk Kenzo dengan erat, membenamkan wajahnya disana.
"Dengan senang hati,," Jawabnya malu - malu.
Pasangan pengantin baru yang sedang di mabuk cinta itu, harus melewati malam pernikahan tanpa melakukan kegiatan panas yang biasa dilakukan oleh kebanyakan pengantin baru.
Tapi hal itu tidak membuat kebahagiaan mereka berkurang. Keduanya sudah cukup bahagia bisa tidur bersama seperti itu.
Esok harinya, Jenifer yang bangun lebih dulu memutuskan untuk langsung membuat sarapan sebelum membangunkan Kenzo.
Dia ingin saat suaminya bangun, sudah ada makanan yang tersedia di meja makan.
Selesai memasak dan menata makanan di atas meja makan, Jenifer langsung pergi ke kamar untuk mandi.
Dia menatap Kenzo sekilas, pria tampan itu masih tertidur pulas sambil memeluk guling.
Guling yang Jenifer letakan sebagai pengganti dirinya saat dia turun dari ranjang.
Wanita cantik itu mengulas senyum, sebelum akhirnya memutuskan untuk mandi.
Jenifer tersentak saat keluar dari kamar mandi dan mendapati Kenzo tengah berdiri di depannya.
"Ya ampun,,, bikin kaget aja by,,!" Protesnya dengan mencebikan bibir.
"Kenapa nggak bangunin,,?" Tanya Kenzo.
"Kan bisa mandi bareng,,"
"Iihh mana bisa begitu.! Aku kan lagi haid,,"
Kenzo hanya mengulas senyum, lalu berjalan mendekat dan langsung melu**t bibir Jenifer sambil mendorong pelan tubuhnya hingga bersender pada dinding.
Jenifer yang awalnya kaget karna mendapat ciuman mendadak, kini justru membalas ciuman panas itu.
"Morning kiss sayang,," Bisik Kenzo setelah melepaskan ciumannya.
Jenifer mengulum senyum malu.
"Mandi dulu by,, aku udah buat sarapan,,"
Jenifer mendorong pelan dada Kenzo, kemudian beranjak dari sana.
Bahagia itu sederhana, hanya satu ciuman di pagi hari saja sudah membuat keduanya terus tersenyum.
...****...
Novelnya lanjut dengan kemasan berbeda melalui sudut pandang author.