
Jeje menepuk pelan pundak Karin. Sahabatnya itu terus saja menatap kepergian Reynald dengan sorot mata sendu.
Karin menoleh dan melempar senyum pada Jeje. Senyum yang terlihat dipaksakan dalam keadaan hatinya yang sedikit teriris karna melihat perbedaan sikap Reynald dan Kenzo seperti bumi dan langit.
Tidak sedikitpun Karin bermaksud untuk membandingkan suaminya dengan laki - laki lain. Karin sadar, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini termasuk dirinya sendiri dan juga Reynald.
Karin tidak menuntut kesempurnaan pada diri Reynald, seperti yang dia lihat dalam diri Kenzo saat memperlakukan Jeje dengan semestinya.
Apa salah jika dia mengharapkan perlakuan yang baik dari suaminya.? Apa salah jika dia berharap Reynald lebih bisa menghargainya sebagai seorang istri.?
Tidak masalah jika memang tidak bisa merubah sikap dinginnya, tapi tidak bisakah dia memberikan sedikit kelembutan untuk istrinya.?
Tidak ada wanita manapun yang mau diperlakukan dingin dan sekaku itu oleh pasangannya. Berbicara ketus dan berbuat sesukanya.
Kalaupun belum ada cinta di hatinya, setidaknya sebagai laki - laki harus bisa memperlakukan wanita dengan semestinya.
"Kamu harus tegas Karin."
"Setidaknya kamu harus tau lebih dulu perasaan kak Reynald padamu saat ini. Dan ambilah keputusan setelahnya."
"Kamu masih saja terlihat sedih dan tertekan. Dan kak Reynald masih saja menyebalkan seperti itu."
Jeje makin tersungut - sungut saat mengucapkan kalimat terakhir. Dia sembari membayangkan sikap Reynald yang pastinya akan membuat wanita di manapun merasa jengkel padanya.
"Aku yang tidak bisa memahaminya Je,," Ucap Karin pasrah. Dia tidak mungkin terus menyudutkan Reynald di hadapan Jeje. Karin juga sadar, mungkin dia juga memiliki kesalahan.
Jeje menarik tangan Karin, dia duduk di sofa dan di ikuti oleh Karin yang duduk di sebelahnya. Raut wajah Jeje terlihat serius. Jeje terlihat sangat memikirkan persalahan rumah tangga Karin dan Reynald.
"Bukan kamu yang tidak bisa memahami kak Reynald. Tapi sikapnya yang sudah keterlaluan."
"Seharusnya dia bisa menghargai kamu sebagai istri dan ibu dari calon anaknya."
"Kamu sedang mengandung anaknya Rin,,,!" Nada bicara Jeje semakin meninggi. Dia merasak kesal sendiri dengan permasalahan yang sedang di hadapi oleh sahabatnya.
Memang tidak sepantasnya dia ikut campur terlalu jauh dalam mencampuri urusan rumah tangga mereka. Tapi sebagai sahabat, rasanya sangat kejam jika tidak melakukan apapun untuk membantu Karin.
"Dia dengan mudah berlaku dingin dan kaku padaku, tapi aku tidak bisa melakukan hal yang sama." Karin menundukan kepalanya. Dia merasa bodoh karna tidak bisa mengendalikan perasaannya. Membiarkan hanyut begitu saja hingga Reynald dengan mudahnya berbuat seenaknya.
"Sejak awal aku sudah bilang bukan.? Singkirkan dulu perasaan cinta kamu padanya, bukan malah sebaiknya."
"Kamu akan lebih mudah melakukan perlawanan kalau tidak perpegang pada perasaan kamu padanya."
Jeje menarik napas dalam. Serba salah memang berada di posisi Karin. Cintanya terhadap Reynald mungkin terus bertambah seiring berjalannya waktu, sedangkan dia belum bisa membuktikan seperti apa perasaan Reynald padanya.
"Kamu tau Je, aku tidak pernah menyukai laki - laki manapun sebelumnya. Aku belum pernah merasakan ketertarikan terhadap laki - laki, dan saat keadaan mengharuskan aku menikah dan tinggal bersama kak Reynald, perasaan itu tiba - tiba saja hadir." Karin mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia menyembunyikan matanya yang mulai berkabut.
Dadanya terasa sesak. Ini pertama kalinya dia merasakan jatuh cinta, pertama kalinya merasakan begitu mengharapkan seseorang. Namun yang dia harapkan terasa sulit untuk di dapatkan.
"Kita akan buktikan sekarang.!" Seru Jeje dengan suara tegas dan terdengar bersemangat.
"Kita akan buktikan seperti apa perasaan kak Reynald padamu.!" Ujarnya lagi.
Karin langsung menatap Jeje, merasa penasaran dengan pembuktian seperti apa yang akan dilakukan oleh Jeje untuk mengetahui perasaan Reynald.
"Pembuktian seperti apa Je.? Sikap kak Reynald saja masih seperti itu padaku."
Jeje langsung mendekat, dia membisikan rencana yang akan dia jalankan untuk mengetahui seperti apa perasaan Reynald pada Karin yang sebenarnya.
Karin terlihat membulatkan matanya mendengarkan ide gila yang di rencanakan oleh Jeje.
"Jangan main - main Je.!" Seru Karin. Jeje langsung membungkam mulut Karin dengan telapak tangan.
"Sssttt,,," Jeje menempelkan telunjuk di bibirnya, memperingatkan Karin untuk tidak bersuara.
"Jangan kencang - kencang, bisa - bisa kak Reynald curiga." Ujar Jeje pelan.
"Tapi Je, kak Reynald akan semakin dingin padaku kalau dia tau aku membohonginya." Karin terlihat cemas. Rencana Jeje memang tepat untuk membuktikan bagaimana perasaan Reynald padanya, tapi juga terlalu beresiko jika Reynald tau semua itu hanya rekayasa.
"Percaya padaku, kak Reynald tidak akan tau asal kamu melakukannya dengan baik."
"Bukannya kamu ingin tau bagaimana perasaan kak Reynald.? Aku yakin ini akan berhasil." Ujar Jeje penuh keyakinan. Karin yang awalnya ragu, kini mulai ikut yakin.
"Baiklah, aku akan melakukannya." Ujarnya cepat.
Jeje tersnyum senang karna Karin mau menjalankan rencana yang dia buat.
"Ok, kita mulai sekarang. Tapi aku harus telfon kak Shela dulu, semoga saja dia tidak sibuk sekarang."
Karin mengangguk, dia menatap Jeje yang merogoh ponsel di kantong celananya.
"Siang kak,,," Sapa Jeje ramah.
"Ah tidak, aku baik saja. Hanya saja aku ingin meminta bantuan kak Shela."
"Apa kak Shela sibuk sekarang.?"
Mata Jeje berbinar setelah tau jika Shela tidak sibuk. Dia langsung menatap Karin dan mengacungkan jempol padanya.
Jeje mulai menjelaskan rencana itu pada Shela. Obrolan itu terjadi cukup lama karna Shela sempat menolak ide konyol Jeje.
"Thank you kak Shela cantik,,," Seru Jeje senang.
"Tenang saja, my hubby yang akan jadi penanggung jawabnya." Ujarnya lagi untuk meyakinkan Shela.
"Bye kak, sampai jumpa 30 menit lagi. Tolong persiapkan semuanya yah,,"
"Ok, semuanya sudah siap. Tinggal eksekusi saja."
"Kamu sudah siap.?" Tanyanya pada Karin.
"Aku gugup Je, bagaimana kalau nanti aku ketahuan." Karin merasa tidak yakin bisa melakukannya dengan baik.
Jeje menggengam tangan Karin, menatapnya dengan sorot mata dalam untuk memberikan sangat dan keyakinan pada Karin.
"Kamu pasti bisa melakukannya. Semua ini untuk menjawab rasa penasaran kamu, jadi kamu harus melakukannya dengan baik." Tegas Jeje.
"Aku akan mencobanya."
"Ok,, kamu siap - siap seperti apa yang aku bilang tadi. Aku akan memberi tahu kak Reynald sekarang."
Karin mengangguk paham. Jeje beranjak dari sana dan pergi keruang kerja Kenzo.
"Hubby..!!! Hubby..!!" Teriak Jeje sembari menggedor pintu berkali kali.
"Kak Rey cepat buka pintunya.!!!" Teriak nya sekali lagi. Kalo ini suara Jeje lebih kencang.
Kenzo dan Reynald langsung beranjak dari duduknya begitu mendengar teriakan Jeje.
"Ada apa.?!" Tanya Reynald pada Kenzo. Dia mengikuti langkah Kenzo yang akan membukana pintu.
"Mana aku tau." Sahut Kenzo cepat, tapi dia juga tidak bisa menyembunyikan kecemasannya. Dia membayangkan telah terjadi sesuatu pada Jeje.
"Ada a,,,
Ucapan Kenzo terpotong karna Jeje langsung memeluk erat tubuhnya.
"Hubby,, Karin pingsan,," Seru Jeje dengan isak tangis.
"Apa.?!!" Reynald yang masih berada di belakang Kenzo langsung mendorong tubuh Kenzo untuk menyingkir.
"Dimana Karin.?!!" Serunya.
"Di ruang tamu,," Setelah mendengar jawaban dari Jeje, Reynald langsung berlari cepat.
"Ayo by,,," Jeje melepaskan pelukannya dan ikut mengejar Reynald. Dia tidak mau melewatkan waktu sedetikpun untuk melihat seperti apa reaksi Reynald saat mengetahui Karin pingsan.
"Apa yang terjadi.?" Tanya Kenzo.
"Kau tidak tau by, tiba - tiba saja dia pingsan."
Reynald lebih dulu sampai di ruang tamu, dia terlihat syok melihat Karin yang bersender di sofa dengan mata terpejam.
Reynald menghampirinya, duduk disebelah Karin dan membawa Karin ke dalam dekapannya.
"Karin bangun,,!" Suara Reynald terdengar panik. Dia menepuk - nepuk pelan pipi Karin.
Reynald langsung menatap Jeje saat mendengar isak tangisnya.
"Apa yang sudah kamu lakukan padanya.?!!" Seru Reynald dengan mata yang melotot tajam.
"Rey.! Kenapa menyalahkan istriku.!" Kenzo yang terlihat tidak terima.
"Kamu pikir istriku tega membuat istrimu seperti itu.!"
"Kak Rey yang sudah membuat Karin seperti itu.!" Jeje berjalan mendekat, dia menatap Reynald dengan sorot mata yang tajam meski matanya terus menitikan air mata.
"Apa kakak tau kalau selama ini Karin tertekan dengan sikap dingin kak Rey.?!"
"Kak Rey sudah membuatnya sulit dalam menjalani kehamilannya."
"Dia baru saja bercerita padaku, dia bilang tidak yakin dengan pernikahan kalian.!"
Karin mendengar jelas perdebatan di antara mereka. Dia sedikit khawatir Jeje akan banyak berbicara pada Reynald tentang rumah tangganya.
"Aku saja tidak tega saat melihatnya menangis, kenapa kak Rey tega membuatnya menangis.?!" Jeje terus saja memojokan Reynald. Dia berharap Reynald bisa menyadari perasaannya dan menyadari kesalahannya selama ini.
"Ken.! Tolong bawa mobilku." Reynald mengeluarkan kunci mobil dari saku jaketnya dan melemparklnya pada Kenzo.
"Kita ke rumah sakit sekarang.!" Tegasnya.
Reynald langsung mengangkat tubuh Karin dan membawanya keluar. Kenzo dan Jeje berjalan cepat di belakangnya.
"Hubby bawa ke rumah sakit xxx saja. Aku sudah menelpon kak Shela tadi, dia sudah menyiapkan semuanya." Ujar Jeje tanpa sadar, namun dia langsung membungkam mulutnya sendiri dan melotot tajam. Beruntung jaraknya dan Reynald terbilang jauh, dia yakin Reynald tidak akan menedengarkan karna laki - laki itu juga sibuk menyebut nama Karin.
"Apa yang kalian rencanakan.?!" Tanya Kenzo tegas.
Jeje menempelkan telunjuknya di bibir Kenzo.
"Aku akan jelaskan nanti, anggap saja ini benar - benar terjadi. Jangan sampai kak Reynald curiga nantinya." Pinta Jeje memohon.
"Apa imbalannya.?" Tanya Kenzo dengan senyum smirknya yang mampu membuat bulu kuduk meremang.
"Ini,,, ini,, dan ini,,,"
Jeje menunjuk bibir, dada dan daerah intinya secara berurutan. Kenzo tersenyum puas mendengarnya.
"Ok.! Deal.!" Seru Kenzo cepat.
...****...