My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Bab 77. Kericuhan



Sudah hampir 1 minggu sejak aku dan kak Fatih jalan berdua. Dia jadi lebih sering datang ke apartemen kak Nicho, dan lebih sering pula menasehati ku. Aku jadi merasa seperti anak gadisnya saja.


Usia kami hanya terpaut 3 tahun, tapi kak Fatih sangat dewasa, cara berpikirnya pun sangat baik.


Wajar saja kak Nicho dekat dengannya meski kak Fatih juniornya di kampus.


Malam minggu ini, teman - teman kak Nicho mengadakan acara barbeque di apartemen kak Nicho. Aku si chef handal, sudah pasti ikut berpartisipasi dalam acara makan besar itu.


Sepertinya kak Edwin sayat loyal. Dia membawa banyak beef slice juga daging dengan potongan besar untuk steak.


Daging itu dia berikan padaku. Sedangkan di tangan satunya, ada paper bagian berisi minuman alkohol.


Tidak heran orang seperti kak Edwin hobby minum.


"Panggang yang enak ya calon istri,,," Seloronya.


Aku menerima daging itu sembari mendengus kesal.


"Sebelum lu jadi adik ipar gue, gue pastiin lu udah nggak bernyawa,,!" Tukas kak Nicho.


"Haha,, bajingan emang lu.! Sama temen sendiri bukannya di restuin, malah di tolak mentah - mentah,,!"


Kak Edwin mulai bergabung bersama kak Nicho dan 3 orang lainnya. Termasuk kak Fatih yang sejak tadi hanya diam saja.


"Justru karna lu temen gue, gue tau kebusukan lu sampe ke akar - akarnya,,!"


Aku memilih untuk mulai memanggang, agar mulut mereka tidak berkicau terus menerus.


"Calon istriku yang paling cantik, tolong ambilin gelas kecil dong,,! Seru kak Edwin.


" Sekali lagi lu manggil adik gue calon istri, gue lempar lu dari jendela balkon.!!" Ancam kak Nicho. Rupanya bukan hanya aku saja yang kesal karna panggilan calon istri dari kak Edwin, tapi kak Nicho lebih terlihat kesal dariku.


"Iya,, iya.! Gitu doang ngamuk. Bercanda gue,,"


Malas meladeni mereka, aku menurut untuk mengambil gelas kecil yang diminta oleh kak Edwin.


"Biar aku aja,," Suara kak Fatih dari arah belakangku, membuatku langsung menengok padanya.


Tanpa melihat ke arahku, kak Fatih mengambil gelas di dalam kitchen set yang terletak di atas kepalaku. Aku reflek menunduk agar tidak terkena pintu saat kak Fatih membukanya.


Jarakku dan kak Fatih sangat dekat. Aku bisa merasakan aroma parfum maskulin dari tubuhnya.


Aroma parfum yang hampir mirip dengan parfum milik om Kenzo.


Hufftt,, kenapa aku masih ingat padanya.


"Baju kamu terlalu rendah Je, orang bisa melihatnya kalau kamu menunduk,,"


Setelah mengucapkan itu, kak Fatih pergi dari hadapanku. Aku segera memastikan, mungkin memang benar yang kak Fatih bilang. Bagian leher kaos yang sedang aku pakai terlalu lebar.


Setalah mematikan alat pemanggang, aku beranjak dari dapur untuk pergi ke apartemenku.


Aku harus mengganti baju kalau tidak mau kak Edwin menatap kedua asetku dengan mata yang melotot. Di antara ke empat teman kak Nicho, hanya kak Edwin saja yang terlihat mata keranjang.


Saat aku kembali ke tempat kak Nicho, rupanya kak Fatih yang melanjutkan memanggang.


Bau alkohol sudah menguar, padahal hanya kak Edwin saja yang minum.


"Eh,, calon istri abis ganti baju. Padahal lebih cocok baju yang tadi,,,"


Plakkk,,,!


Kak Edwin mendapat tamparan kecil di bagian pipi kirinya. kedua teman kak Nicho tertawa melihatnya.


"Lama - lama gue lempar juga nih.! Jangan godain adik gue mulu, dasar buaya gila,," Gerutu kak Nicho.. Kak Edwin hanya tertawa.


"Emang suka cari gara - gara nih berandalan." Celuk kak Felix.


"Bosen hidup dia Nich,,," Kak Marchel ikut menanggapi dengan menahan tawa.


Aku berlalu dari meja makan, lalu menghampiri kak Fatih.


"Sini kak biar aku lanjutin,,," Aku hendak mengambil alih, tapi kak Fatih mencegahnya.


"Aku aja yang bakar. Kamu ambil piring buat tempat, sebentar lagi mateng nih,," Katanya tanpa beralih menatapku.


Aku segera mengambil piring besar, lalu mengambil piring berukuran kecil sebanyak 6 buah.


Aku kembali menghampiri kak Fatih. Harum beef slice dan steak yang hampir matang, sangat menggoda.


"Eummm,, harum banget baunya,," Gumamku.


"Mau coba.?" Tawar kak Fatih padaku. Aku mengangguk cepat.


"Boleh,,," Ucapku.


"Buka mulutnya,," Ujarnya sembari menyodorkan gading itu ke mulutku. Tanpa basa basi, aku langsung melahapnya.


"Delicious,,,! Perfecto,,!" Ucapku sembari mengacungkan dua jempolku padanya.


Kak Fatih hanya mengulum senyum sembari menggelengkan kepalanya.


Aku menghidangkan sepiring besar beef slice dan di steak di meja makan. Setelah itu ikut bergabung bersama mereka, disusul kak Fatih yang juga ikut duduk di sebelah ku.


Suasana semakin ricuh. Kak Edwin yang menjadi biang kerok kericuhan. Dia yang banyak berkicau di banding yang lainnya, dan kak Fatih yang paling banyak diam. Tak jarang dia mendapat ledekan dari kak Edwin, menyebut kak Fatih seperti kanebo kering. Di sebut seperti kanebo kering, kak Fatih hanya menatap tajam si pelaku, tanpa membalas ucapannya.


Menurutku kak Fatih tidak kaku, hanya saja dia pendiam dan kalem. Tidak seperti kak Edwin yang banyak tingkah dan banyak bicara.


Suara bel membuat suasana yang tadinya gaduh berubah sepi. Mereka langsung diam.


"Siapa tuh Nich.? Lu manggil orang lagi.?" Tanya kak Marchel. Kak Nicho hanya mengangkat kedua bahunya.


"Biar aku yang buka,,," Kak Fatih beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari dapur. Suasana kembali riuh.


Aku pikir hanya perempuan saja yang kalau berkumpul akan serame ini, ternyata kali - laki juga sama. Terlebih jika ada yang sejenis kak Edwin yang hobby bicara.


Kak Fatih tidak kunjung kembali setelah beberapa menit beranjak dari duduknya. Aku yang penasaran memilih untuk menyusul kak Fatih ke depan. Sebenarnya sedikit takut juga, khawatir kalau ternyata yang datang orang jahat dan terjadi sesuatu dengannya.


"Minggir,, kamu itu terlalu banyak mengintrogasi ku."


Suara yang tidak asing bagiku. Aku menghentikan langkah, rasanya saat ini juga aku ingin menghilang dari sini untuk menghindar. Saat aku hendak kembali, tiba - tiba saja dia masuk dan mencegahku.


"Tunggu Je,,,!" Serunya. Aku hanya diam mematung, dalam posisi yang sama seperti tadi. Ku tatap wajah laki - laki yang selama 3 minggu ini berusaha untuk aku lupakan.


"Ayo pulang,,," Katanya sambil mendekat ke arahku dan memelukku begitu saja.


"Aku sudah berjanji akan menjemputmu."


"Kamu tau, aku sangat merindukanmu. 3 minggu ini terasa begitu berat tanpa kehadiranmu,,,"


"Lepasin om,,!" Ku dorong pelan badan om Kenzo agar melepaskanku. Selama 3 minggu ini aku kesulitan melupakan bayang - bayangnya, aku pikir karna aku masih mencintainya dan merindukannya. Nyatanya saat dia sudah ada di hadapanku, aku tidak merasakan apapun selain rasa kecewa. Aku bahkan tidak ingin dia memelukku. Aku sadar, luka yang dia goreskan padaku memang mampu membuat hati ini tak lagi mencintainya.


"Kamu masih marah padaku.? Aku minta maaf, aku nggak bermaksud menyembunyikan hubunganku dengan Nadine. Aku cuma nggak mau kamu pergi karna tau kebenarannya."


"Aku berencana memberi tau kamu setelah aku berhasil menggagalkan pernikahan kami, tapi,,,


"Tapi pada akhirnya om tetap membuatku kecewa.! Bahkan aku sangat kecewa karna tau semua itu bukan dari mulut om langsung.!"


"Sebaiknya om pergi saja,,"


Aku berjalan menghampiri kak Fatih yang sejak tadi mematung di ambang pintu dan terus menatap kami. Ku gandeng tangan kak Fatih dan menariknya untuk masuk kedalam.


"Ayo kak, kita lanjutin aja makannya. Tamunya biar kak Nicho yang urus,,"


Kak Fatih tidak bicara apapun, tapi dia juga tidak menolak saat aku menarik tangannya.


"Je,,!" Om Kenzo memegang tanganku saat aku berjalan melewatinya.


"Siapa dia.?"


"Dan ini,," Om Kenzo menarik paksa tangan kak Fatih hingga lepas dari gandenganku.


"Jangan coba - coba menyentuhnya.!" Geram om Kenzo pada kak Fatih.


"Om.!!" Seruku kesal.


"Kalian kenapa lam,,,


"Ken,, kamu udah dateng."


Aku melongo melihat kak Nicho yang berbicara santai pada om Kenzo. Dia bahkan seolah mengetahui kalau om Kenzo akan datang kesini.


Kenapa kak Nicho bersikap biasa saja pada om Kenzo.? Padahal 1 minggu yang lalu kak Nicho bilang akan menghajar om Kenzo jika bertemu dengannya. Tapi sekarang.??


...****...


Sabar ya,, nggak perlu nuntut buat up banyak. Kalau ada stok, pasti othor up banyak kok. 😊Othor juga penginnya up banyak biar cepet selesai novelnya.


Tapi untuk saat ini bener - bener nggak ada. Othor lagi usahain biar bisa tetep up tiap hari.


Bikin 1 bab tuh nggak cukup 2 sampai 3 jam langsung jadi.


Othor pikir mateng - mateng kata - katanya biar nggak asal dan enak di baca, jadi lama bikinnya.


Belum buat bolak balik koreksi lagi.


Nih si Fatih. Galau - galau dah tuh 🤣