My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Bab 44. Seenaknya



"Bangun Je,,,"


Aku menggeliat, tapi mataku masih rapat terpejam. Sejak tadi memang samar - samar aku mendengar suara yang terus mencoba untuk membangunkanku. Namun karna masih sangat mengantuk, suara mama bagaikan angin lewat saja bagiku. Setelah itu aku akan kembali terlelap. Masuk ke alam mimpin yang seakan menjadi zona ternyamanku.


"Jeje masih ngantuk mah,,," Gumamku. Dengan mata yang masih terpejam, tanganku mencoba meraba guling dan mendekapnya erat. Memang paling enak kalau tidur sambil memeluk guling. Apalagi kalau gulingnya sangat wangi seperti ini. Tidur ku akan semakin nyenyak saja.


Merasa guling dalam dekapan ku bergerak, aku langsung memberingsut untuk menjauh. Dengan jantung yang berdetak kencang karna kaget sekaligus takut, aku menatap guling itu dengan samar. Pandangan mataku masih terasa berkabut karna baru saja bangun.


"Ya ampun om.! Kenapa om tidur di kamarku.?" Tanyaku panik. Om Kenzo terlihat santai berbaring dengan posisi menyamping, menghadap ke arahku. Dia seperti menahan tawa melihatku yang sedang panik.


"Pelupa kayak gini pengen cepet nikah.? Nanti baru sehari nikah, bisa - bisa kamu nggak inget kalau udah nikah."


Aku diam mencerna ucapan om Kenzo.


"Ayo bangun, kita harus pulang satu jam lagi,," Om Kenzo akan beranjak, aku segera menahan tangannya. Aku baru ingat sekarang, kalau saat ini aku dan om Kenzo sedang berlibur dan kami tidur satu ranjang. Bahkan tadi malam aku memeluknya dengan sangat erat sebelum akhirnya terlelap.


"Nggak bisa di tunda jadi dua jam lagi om.?" Tawarku dengan nada memohon.


Kami baru saja datang kemarin sore, dan pagi - pagi begini sudah harus pulang. Tentu saja aku tidak rela. Rasanya baru sebentar menghabiskan waktu bersama om Kenzo, tapi sudah harus berakhir saja.


Waktu terasa berlalu sangat cepat jika berada di sampingnya.


Om Kenzo tersenyum tipis, dia membelai lembut pipiku dengan sebelah tangannya lagi. Aku sempat memejamkan mata saat tangan om Kenzo menyentuh kulitku, nyaman sekali rasanya. Juga menghantarkan gelayar yang terasa hangat hingga kedalam hatiku.


"Nanti kita liburan lagi selesai kamu wisuda. Aku harus berangkat ke Singapur jam sepuluh Je." Ucapnya dengan suara yang amat lembut. Saking lembut nya, aku sampai meleleh hingga terus menatap om Kenzo tanpa berkedip.


"Ayo bangun, kita mandi dulu,," Katanya lagi.


Dasar otakku.! Hanya karna mendengar kata 'kita mandi dulu'', pikiranku jadi melayang kemana - mana. Jantungku pun berdetak kencang, entah kenapa aku jadi semangat sekali.


"Ma,,mandi bareng, om,,?" Tanyaku lirih.


Om Kenzo tidak bisa menyembunyikan tawanya. Dia terbahak - bahak namun masih tetap terlihat cool dan tampan. Entah apa yang membuat om Kenzo menertawakanku begitu renyah. Apa ada yang salah dengan ucapanku.? Atau mungkin ekspresi wajahku sangat lucu.?


"Kok ketawa sih om.? Ada yang lucu.?" Sambil bertanya, aku terus menatapnya yang masih saja tertawa. Aku sangat senang setiap kali melihatnya tertawa tanpa beban seperti itu.


"Kenapa ada bayi semesum ini,,?" Ujarnya sambil menarik gemas hidungku. Kemudian langsung turun dari ranjang. Aku reflek mengikuti om Kenzo.


"Mau ngapain kamu.? Ada kamar mandi lagi di kamar sebelah dan bawah,," Katanya setelah berbalik badan. Aku menyengir kuda padanya.


"Mau bareng sama om aja,," Entah setan apa yang mendorongku sampai berani meminta untuk mandi bersama om Kenzo. Lagipula kami sudah pernah mandi bersama waktu itu. Apa salahnya kalau sekarang kami juga mandi bersama. Toh om Kenzo tidak akan melakukan sesuatu yang melampaui batas padaku.


Om Kenzo tidak menjawabnya, dia juga tidak menolak. Aku kembali mengikuti langkah om Kenzo yang masuk ke dalam kamar mandi. Bibir ini terus mengulum senyum sambil terus berjalan di belakangnya.


"Kamu mandi di bathtub aja,,," Katanya. Om Kenzo masuk kedalam ruangan kaca yang buram jika dilihat dari luar. Dia sama sekali tidak mau mandi berdua seperti saat di apartemen waktu itu.


Akhirnya kami mandi dalam satu ruangan, namun terpisah.


Mungkin saja dia tidak mau mandi bersama karna teringat pada kak Fely. Terlebih dia akan bertemu dengan kak Fely beberapa jam lagi. Jika membayangkan hal itu, aku selalu kesal dibuatnya. Kenapa aku tidak bisa menerima kenyataan kalau mereka menjalin hubungan yang serius. Harusnya logika ku sadar akan posisiku, namun rasa yang tumbuh di dalam hatiku sudah menutupi logika.


Kami pulang setelah sarapan pagi. Sejak tadi om Kenzo terus mengajakku berbicara. Meski malas, aku mencoba untuk menanggapi pembicaraannya. Kenapa om Kenzo tidak peka kalau aku memiliki rasa padanya. Atau aku saja yang memang bodoh karna terlalu berharap pada sesuatu yang tidak mungkin menjadi kenyataan.


Bisa memiliki om Kenzo hanyalah sebuah angan - angan. Angan - angan yang terlampau tinggi untuk di gapai.


Aku ingin mencoba merelakan om Kenzo bersama kak Fely, namun terlalu sulit. Ada kebencian juga yang menyelimuti hatiku. Membuatku semakin berat saja untuk membiarkan kak Fely hidup bahagia bersama laki - laki sebaik om Kenzo.


Ponselku bergetar, aku langsung mengeluarkannya dari dalam tas kecil yang ada di pangkuan ku.


Aku membuka chat dari nomor yang tidak di kenal.


"Kamu udah pulang atau masih honey moon.?.


.


Gerald."


Aku membulatkan mata membaca pesan masuk dari kak Gerald. Apa - apaan kak Gerald ini.? Seenaknya saja bilang aku honey moon. Dia pikir aku sudah menikah.?


Pacar saja tidak punya, apa lagi punya suami. Bagaimana aku bisa honey moon. Emang dasar kak Gerald, paling bisa melucu.


"Bercandanya nggak lucu kak,,"


Balasku dengan memberikan emoticon lidah yang menjulur.


"Lagi jalan pulang nih,,"


Tak berselang lama, kak Gerald menelfon ku. Aku segera mengangkatnya. Entah dapat dari mana nomor ponselku. Apa mungkin om Kenzo yang memberikannya.?


Tapi melihat ekspresi kak Gerald tadi malam, sepertinya tidak mungkin kalau om Kenzo menuliskan nomor ponselku di ponsel kak Gerald.


Lagian mana mungkin om Kenzo hapal nomorku.


"Hallo Je. Kamu beneran udah pulang,,?" Kak Gerald nampak tidak percaya dengan balasan chatku tadi.


"Ya hallo,,," Sahutku.


"Kak Gerald masih disana ya.?"


Aku terus berbicara tanpa menghiraukan keberadaan om Kenzo di sampingku yang sedang fokus menyetir.


"Masih. Tadinya mau tanya langsung sama kamu, aku pikir kamu masih disini. Aku sampe bergadang loh cari sosmednya Celina buat minta nomor hape kamu ke dia. Eh baru di kasih tadi,," Jelas kak Gerald dengan suara yang lesu.


Ternyata kak Gerald tau nomorku dari Celina. Berarti benar, bukan nomorku yang om Kenzo ketik di ponsel kak Gerald. Lalu apa.? Aku benar - benar penasaran. Kak Gerald sampai terkejut melihatnya.


"Haha,, kasian banget kamu kak,," Ledekku.


"Emangnya mau tanya apaan kak.?"


"Ni anak, malah ketawa di atas penderitaan orang lain. Untung cantik.!" Keluhnya, tapi masih sempat - sempatnya ngegombal.


"Gombal aja terussss,,"


"Tiap cewe yang kakak liat juga di bilang cantik."


"Kakak mau tanya apa.? Bikin orang penasaran aja,,"


"Kamu beneran udah ni,,,


"Om..!!l" Teriakku. Aku kaget sekaligus kesal karna om Kenzo tiba - tiba merampas ponselku dan mematikan sambungan telfonnya.


Aku cemberut menatapnya. Aku jadi tidak tau apa yang akan kak Gerald tanyakan padaku.


"Balikin hape aku om.! Aku belum selesai nelfonnya."


Om Kenzo tidak menghiraukan ucapanku. Sambil menyetir, dia mengotak atik ponselku.


Setelah beberapa saat, dia memberikan kembali ponselku tanpa berkata apapun.


Om Kenzo memasang aerphone, lalu menyambungkan nya dengan ponsel miliknya.


Menyebalkan sekali om Kenzo, wajahnya tanpa dosa setelah tadi mengacaukan pembicaraan ku dengan kak Gerald.


Karna kesal, aku memilih untuk membuang pandangan ke arah jendela, sambil mengotak atik ponselku untuk menghubungi kak Gerald. Aku penasaran dengan pertanyaan yang akan dia tanyakan padaku.


Aku semakin kesal saja begitu mendapati tidak ada lagi chat dari kak Gerald, begitu juga dengan history panggilannya. Semuanya hilang tanpa jejak.


Aku segera melirik om Kenzo dengan tatapan tajam.


"Om.!!" Ketusku. Om Kenzo hanya melirikku sekilas, pandangannya kembali lurus ke jalan.


"Kenapa di hapus.? Ngeselin banget sih.!" Protesku kesal.


"Inget sama perjanjian. Dilarang menjalin hubungan dengan laki - laki lain.!" Jawabnya tegas dan jelas. Sedikitpun om Kenzo tidak melihat ke arahku.


"Siapa yang menjalin hubungan.? Aku sama kak Gerald aja baru ketemu tadi malem, itupun nggak di sengaja. Lagian kita cuma komunikasi doang." Ujarku untuk memberikan pembelaan.


"Om nggak bisa bedain yah.? Yang namanya menjalin hubungan dan mana yang cuma komunikasi.! "


Aku terus menyerocos karna kesal. Seenaknya saja om Kenzo melarangku berkomunikasi.


"Berawal dari komunikasi, maka terjalin hubungan" Sahutnya datar.


Aku menghela nafas kasar. Memilih bersandar dan memejamkan mata. Percuma saja menanggapi ucapan om Kenzo, hanya membuatku semakin kesal saja dengan jawabannya.


Alhasil kami terus diam sepanjang perjalanan.


Aku mengambil tas milikku di jok belakang, saat kami hampir saja sampai di rumahku.


Sebelum om Kenzo menghentikan mobilnya, aku menarik nafas dalam untuk menghilangkan rasa kesal akibat ulah om Kenzo yang seenaknya sendiri.


"Makasih om,," Ucapku tulus.


Semenyebalkan apapun sikapnya padaku, aku tetap merasa senang saat menghabiskan waktu bersamanya.


"Tetap dirumah, jangan keluar malam. Aku usahakan pulang sebelum kamu wisuda,," Ucapan om Kenzo membuatku bengong hingga terus menatapnya.


Setelah tadi terlihat ketus dan cuek padaku, kini dia bersikap biasa saja. Seolah tidak terjadi apapun sebelumnya.


Aku semakin bengong saat om Kenzo mendekat dan mengecup singkat bibirku. Kemudian mengusap lembut pipiku. Om Kenzo paling bisa mengaduk - aduk perasaanku.


"Waktuku nggak banyak Je." Om Kenzo melirik jam di tangannya.


Begitu tersadar, aku segera keluar dari mobilnya.


Aku sempat tersenyum tipis padanya.


Aku berjalan masuk kedalam rumah sambil terus memegangi dadaku yang berdetak kencang. Kenapa harus om Kenzo yang membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya. Kenapa cinta pertamaku adalah laki - laki yang sedang menjalin hubungan dengan kak Fely.


Pada akhirnya aku nasibku akan seperti kak Nicho. Cepat atau lambat, jika aku tidak bisa membuat om Kenzo berpaling, maka aku akan kehilangan cinta pertamaku.